
Hasil dari sebuah perjuangan dan kesetiaan, membawa kita pada sebuah kebahagiaan yang diimpikan bersama.
Setelah sembuh dari sakit, kami saling bertukar pikiran dan merencanakan waktu yang tepat untuk menikah.
Seperti biasa jika Thomi datang kerumah pasti hari sabtu sore atau ada tanggal merah, kami tinggal terpisah dan bisa bertemu hanya di akhir pekan.
Malam itu, setelah selesai makan malam kami duduk di teras depan dan dia mengajakku untuk bicara serius.
"Sayang, aku mau bicara serius sama kamu."Kata Thomi padaku.
"Apaan sih Thom, setiap hari juga kita bicara serius."Jawabku sambil tertawa kecil, merasa lucu.
"Suasana hening, hanya terdengar bunyi mobil yang lewat sesekali, dan suara jangkrik."
"Sayang, aku serius mau bicara."Kata Thomi sambil menghadapkan wajahku ke depannya.
"Iya bicara saja aku dengar kok." Jawabku sambil menatap Thomi.
"Ok, bisa kita mulai?"tanya Thomi.
"Apaan sih kamu, emangnya kita lagi belajar, terus kamu tanya seperti itu?"Kataku pada Thomi
"Nggak Sayang ini aku serius."Kata Thomi padaku, dengan nada pelan membuatku tenang dan serius menunggu apa yang akan dia katakan padaku.
"Iya Thom."Jawabku singkat.
"Sayang setelah aku pikir-pikir, aku memutuskan untuk kita menikah bulan depan, menurut kamu gimana?"Kata Thomi, kemudian bertanya tentang pendapat aku.
"Thom, Jika itu keputusan kamu, aku ikut senang mendengarnya."Jawabku pada Thomi.
"Iya Sayang, soal biaya aku sudah menabung, walaupun hanya sedikit, tapi aku rasa itu cukup." Kata Thomi padaku.
"Iya Thom, aku juga punya simpanan, ngga banyak tapi lumayan."Kataku pada Thomi.
"Sayang, kita nikahnya sederhana saja ya, tidak ada acara resepsi ngga apa-apa kan?"tanya Thomi padaku dengan ragu.
"Nggak apa-apa kok, yang penting kita sah menjadi suami istri, itu sudah cukup bagiku."Jawabku.
"Tapi Thom, apakah orangtuamu mau terima aku sebagai menantu mereka, aku kan nggak ada pekerjaan gimana?"tanyaku pada Thomi.
"Sayang, pokoknya semua beres soal orangtuaku, mereka tidak mempermasalahkan hal itu."Jawab Thomi sambil memegang tanganku.
"Aku takut Thom, nanti dikirain aku hanya mengharapkan kamu bekerja sendiri."Kataku pada Thomi.
"Jangan berpikiran seperti itu Sayang, orangtuaku tidak seperti itu, kamu berpikir terlalu jauh Sayang."Kata Thomi padaku sambil tersenyum.
Setelah selesai bercerita, kami meninggalkan teras dan menuju ke kamar untuk beristirahat, karena besok pagi Thomi akan kembali ke kota untuk masuk kantor.
"Sayang masuk yuk, udara semakin dingin."Kata Thomi padaku.
"Iya Thom."Jawabku kemudian melangkah masuk menuju kamar.
Bulan yang dinantikan telah tiba, aku mulai mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk aku, seperti gaun, makeup, dan hiasan rambut, begitu juga Thomi.
Pagi ini aku menelpon Thomi dan memberitahu dia, bahwa aku akan ke kota untuk berbelanja.
__ADS_1
π Tut..... Tut ..... "Terdengar penggilan teleponnya tersambung.
π "Halo Sayang, gimana?"tanya Thomi setelah menjawab telepon dariku.
π"Thom, aku di dalam perjalanan menuju ke kota." Jawabku pada Thomi.
π"Ngapain Sayang?"tanya Thomi padaku.
π"Belanja perlengkapan untuk aku Thom."Jawabku.
π"Iya sudah, hati-hati ya Sayang, jika sudah tiba beritahu aku ya."Kata Thomi padaku.
π"Iya Thom."Jawabku singkat.
π"Aku lanjut kerja ya Sayang, dah..."Kata Thomi padaku.
π"Iya, dah..."Jawabku kemudian akhiri teleponnya.
Dua jam sudah perjalanan ke kota, dan akhirnya aku tiba di terminal kota, dengan semangat aku mengingat apa saja yang akan di beli, agar tidak terlupakan.
Sebelum turun dari angkot, aku mengirimkan pesan untuk memberitahu Thomi jika aku sudah tiba.
βοΈ"Thom, aku sudah tiba di terminal kota, dan aku akan langsung belanja." Kataku dalam pesan yang dikirim untuk Thomi.
βοΈ"Iya Sayang."Balasan Thomi padaku.
Tujuan pertama aku adalah membeli gaun, setelah aku mencari-cari ternyata ketemu satu gaun yang cocok untuk aku.
"Silahkan masuk Mbak, lihat-lihat di toko kami."Kata seorang wanita penjaga toko padaku.
"Iya Ibu."Jawabku sambil tersenyum, kemudian mata memandang gaun-gaun yang tertata rapi.
"Iya Bu, acara nikahan."Jawabku.
"Ini Mbak, ada satu gaun berwarna pink, silahkan di coba"Kata penjaga toko sambil menyerahkan satu gaun berwarna pink padaku.
"Boleh juga, aku coba ya."kataku pada penjaga toko.
"Silahkan Mbak."Jawab penjaga toko.
"Wow, cantik juga nih gaun, beli ah, daripada nanti di beli sama orang lain."Kataku dalam hati sambil memandang gaun itu di cermin.
"Gimana, cocok kan?"tanya penjaga toko padaku.
"Iya cocok, aku suka."Jawabku.
"Berapa harganya Buk."tanyaku pada Ibu penjaga toko.
"Harganya tiga ratus ribu rupiah, Mbak."Jawab Ibu itu padaku.
"Iya sudah dibungkus ya Buk."Kataku pada Ibu penjaga toko.
"Ini uangnya Buk."Kataku pada Ibu penjaga toko sambil menyerahkan tiga lembar uang masing-masing bernilai seratus ribu rupiah.
"Terimakasih telah berbelanja di toko kami."Kata Ibu penjaga toko padaku setelah menyerahkan kantong plastik berisi gaun padaku, kemudian aku meninggalkan toko itu.
__ADS_1
Gaun selesai di beli, begitu juga dengan beberapa perlengkapan lainnya, aku sudah kelelahan berjalan dan aku memutuskan untuk beristirahat di dalam angkot, sambil mengirimkan pesan untuk Thomi.
βοΈ "Thom, aku sudah selesai belanja, dan angkotnya akan kembali ke kampung, kamu nggak usah kesini lagi ya, soalnya angkot sudah mau berangkat."Kataku dalam pesan yang dikirim.
βοΈ" Iya sudah, kamu hati-hati di jalan ya, oh iya Sayang kamu beli apa saja ?"tanya Thomi padaku dalam pesan.
βοΈ"Nanti aja baru kamu lihat, aku pusing mau strahat." Balasku.
βοΈ"Iya Sayang."Balas Thomi.
Di dalam perjalan ke desa, aku kelelahan hingga tertidur di angkot, sesekali kepalaku terbentur kaca dan membuatku sadar.
Dua jam melewati perjalanan dari kota ke desa, akhirnya tiba juga dirumah.
Hari ini tepat di tanggal 23 Desember 2018 kami memutuskan untuk mengikat janji suci dengan cincin sebagai tanda di jari kami masing-masing.
Thomi dan keluarganya tina di rumahku, dan menjemput aku untuk menuju ke gereja, tempat kami akan menikah.
βοΈ"Sayang kamu sudah selesai makeup kan, aku dan orangtuaku hampir tiba di rumah kamu."Kata Thomi dalam pesan.
"Ida ayo cepat, mereka akan tiba." Kataku dengan suara panik pada Ida agar mempercepat menata rambut aku.
"Iya Kak, tenang nanti bulu mata kamu lepas loh."Kata Ida padaku.
"Jangan dong Ida, ini kan hari spesial aku."Kataku pada Ida.
"Iya Kak, kamu sudah cantik sekarang, selamat ya Kak." Kata Ida sambil memeluk aku.
"Terimakasih ya Dek." Kataku pada Ida.
Aku keluar dari dalam kamar lalu bertemu Thomi dan orangtuanya kemudian kami melanjutkan perjalanan ke gereja.
Kami tidak punya cukup uang untuk sewa mobil, makanya kami menggunakan motor untuk ke gereja.
"Sayang maaf ya kita naik motor saja ke gereja."Kata Thomi padaku.
"Nggak apa-apa Thom, yang penting semuanya lancar, jalannya pelan ya, takut bulu mataku terlepas."Kataku pada Thomi dengan suara pelan.
"Iya Sayang."Jawab Thomi singkat.
Kedua orangtua dari keluarga kami sudah tiba di gereja dan siap menanti kami. Setelah prosesi pemberkatan dan sarung cincin selesai, dan Pendeta berkata: pengantin pria dipersilahkan mencium pengantin wanita, karena mereka sudah sah menjadi suami istri.
Sambil berjabat tangan Thomi berbisik padaku.
"Aku akan mencium kening mu."Kata Thomi dengan suara bisik.
Aku tersenyum saat melewati momen itu.
"Akhirnya sah, dan selesai juga."Kataku dalam hati.
Setelah selesai, kami berjabat tangan dengan keluarga, dan juga Pendeta, kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang.
~Bersambung~
Mohon dukungannya.
__ADS_1
Dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote untuk mendukung karya ini, agar penulis lebih bersemangat.
Terimakasih atas dukungan kalianβ€οΈβ€οΈ