
Bukan tidak ingin tinggal bersama, tetapi karena tugas dan tanggung jawab yang harus di jalankan.
Ada banyak batasan yang dia pahami, sehingga dia kami harus menjalaninya seperti ini.
Malam itu setelah selesai makan malam, Thomi memilih untuk istirahat terlebih dahulu di kamar aku. Sedangkan aku bersama orangtuaku, memilih untuk duduk bercerita di teras depan.
"Nak, kapan kamu kembali ke tempat kerjamu?" tanya Ibu padaku.
"Aku sudah memutuskan untuk tidak kembali ke sana lagi Buk, aku takut."Jawabku pada Ibu dan Ayahku.
"Kenapa Nak? ada masalah apa?"tanya Ayahku dengan nada panik dan heran.
"Aku tidak ingin kembali lagi ke sana, suatu hari, Kakak pergi untuk menjalankan tugas bersama bos dan beberapa teman kantornya di salah satu kecamatan yg jauh dari tempat tinggal kami. Malam itu hanya ada aku dan Dhea, Kakak berpesan agar aku tidur bersama Dhea, dan sebuah kejadian memalukan menimpa diriku." Jawabku sambil melanjutkan ceritanya kepada kedua orangtuaku.
"Kalau seperti itu ceritanya keputusan kamu sudah benar." Kata Ayah padaku setelah mendengar cerita dariku.
"Aku sudah memutuskan untuk tidak bekerja, Thomi juga sudah tahu tentang masalahku dan dia memintaku untuk pulang." Kataku pada orangtuaku.
"Nak pacarmu ini, kata Nenek mereka sudah saling kenal sejak lama."Kata Ibu padaku.
"Iya Buk, dia juga sudah memberitahu aku sejak awal, aku juga tidak tahu kenapa kami bisa bertemu? semua ini terjadi diluar dugaan aku."Jawabku pada Ibuku.
"Semua itu sudah di atur oleh Yang Kuasa, jalani saja." Kata Ibu padaku.
"Jangan-jangan dia pacari kamu hanya nenek dulu merawat mereka, dan ini imbalan untuk kamu?"tanya Ayah padaku.
"Nggak seperti itu Ayah, dia tulus mencintai aku." Jawabku pada Ayah dan Ibu.
__ADS_1
"Syukurlah Nak." Kata Ayah.
Ayahku sempat memikirkan hubungan kami, takutnya ini sebagai balas budi, tapi aku sangat yakin dengan hubungan yang kami bangun bersama selama ini.
"Kami juga sudah memutuskan untuk menikah, jika dia sudah selesai pengurusannya di kantor." Kataku pada Ayah dan Ibu.
"Memangnya orang tuanya suka sama kamu, dan apakah mereka setuju?"tanya Ayah padaku.
"Iya Ayah, Thomi adalah Anak pertama di keluarga mereka, dia tahu yang terbaik dan harus lakukan apa yang menyenangkan hati orangtuanya." Jawabku pada Ayah.
"Oh, jadi dia Anak pertama?"tanya Ibu padaku.
"Iya Buk." Jawabku.
"Iya sudah, kalau begitu aku ke kamar ya Buk, mau tidur." Kataku, kemudian melangkah masuk menuju kamar.
Hari semakin malam, aku tiba di kamar, dan melihat Thomi sudah terlelap, aku tidak ingin membangunkan dia, aku memilih tidur di sampingnya dengan tenang, agar dia tidak terbangun.
Thomi terbangun dari tidur saat dia merasakan kehadiran aku disampingnya, dan dia mengingatkan aku untuk membangunkan dia.
"Sayang besok bangunkan aku pagi-pagi ya, soalnya aku harus ke kantor." Kata Thomi saat dia terbangun dari tidur.
"Iya Thom."Jawabku singkat.
"Ayo tidur." Kata Thomi sambil memeluk aku.
Pagi itu aku bangun lebih awal aku buatkan secangkir teh hangat, untuk aku juga untuk Thomi, sebagai sarapan pagi sebelum dia berangkat.
__ADS_1
Setelah itu aku membangunkan Thomi, agar bersiap- siap untuk berangkat.
"Thom .. Bangun, sudah pagi." Kataku sambil menggerakkan kakinya.
"Iya Sayang." Jawab Thomi, kemudian bangun dan duduk
"Aku sudah siapkan teh hangat, minum dulu sebelum bersiap." kataku.
"Iya Sayang, terimakasih."Kata Thomi, kemudian minum teh.
Setelah selesai bersiap, waktunya Thomi untuk berangkat, karena pagi ini dia harus ke kantor.
"Sayang aku jalan ya." Kata Thomi padaku.
"Iya Thom." Jawabku singkat.
" Hari sabtu aku akan kesini temui kamu lagi." Kata Thomi padaku.
"Iya." Jawabku singkat.
"Aku jalan ya." Kata Thomi.
Setelah berpamitan pada aku dan kedua orangtuaku, Thomi kahirnya melanjutkan perjalanan ke kota.
Next>>>>>>>>>>
Mohon dukungannya.
__ADS_1
Dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote untuk mendukung karya ini, agar penulis lebih bersemangat.
Terimakasih atas dukungan kalian❤️❤️