Jodoh Tak Akan Kemana

Jodoh Tak Akan Kemana
"Episode 54"


__ADS_3

"Baiklah ifah akan kuliah di Yogyakarta tapi ifah akan disini selama kuliah belum dimulai" putus Aifah dengan penuh keyakinan.


"Kita semua akan mendukung apa pun keputusan mu kak" ucap Bowo memberi semangat pada kak perempuannya itu.


Setelah pembicaraan itu mereka melanjutkan obrolan mereka sambil sesekali tertawa tapi tidak dengan Aifah sekarang ada kegelisahan yang membuat hatinya bersedih kembali.


Merasa hatinya tak tenang Aifah memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya. Di dalam kamar gadis itu melihat ponselnya yang tidak diaktifkannya sejak dia mau berangkat ke Kalimantan.


Pikirannya melayang bertanya tanya tantang keadaan Panji yang dia tinggalkan tanpa ada kata perpisahan sedikit pun, sedang apa dia ? apakah dia bahagia bisa kembali dengan Mella ? apa dia mencariku ?apa dia merindukanku seperti aku merindukannya saat ini ? banyak pertanyaan yang muncul menganggu Pikirannya saat ini.


Dia begitu takut akan kenyataan yang ia alami saat ini kenyataan jika pria yang sudah bersamanya selama dua tahun belakangan ini pergi dari hidupnya dan kenyataan itu sekarang sudah terjadi dalam hidupnya tak terasa bulog bening mulai menetes membasahi pipi mulus gadis cantik itu.


Bowo yang berjalan di depan kamar kakaknya itu mendengar suara isak tangis dari dalam kamar kakaknya dia mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya dan masuk kedalam kamar kakaknya duduk disebelah kakaknya untuk menayakan apa yang membuat kakak kesayangannya bersedih.


"Kak,,,kakak kenapa ? apa yang membuat kakak bersedih ceritalah jangan dipendam sendiri ?" tanya Bowo hati-hati dengan nada khawatir dengan keadaan kakaknya.

__ADS_1


Aifah yang mengetahui jika adiknya itu khawatir pada dirinya segera mengusap air matanya dan menampilkan senyum manisnya seolah-olah tidak ada kesedihan.


"Kakak gak apa-apa kamu gak usah khawatir" ucap Aifah seraya tersenyum.


"Baiklah,,,jika kakak belum mau bercerita,,,tapi jika sudah siap cerita,,,ceritakan lah semua kesedihanmu itu pada adikmu ini kak" tutur Bowo pada kakaknya, pria kecil itu memang memiliki pemikiran lebih dewasa walaupun usianya empat tau dibawah Aifah.


Aifah hanya diam sambil menganggukan kepalanya karena dia belum siap menceritakan kepada siapa pun apa yang membuat dirinya begitu sedih hingga memutuskan kembali ke kota kelahirannya ini.


"Ifah,,,,kamu dicari tuh sama bu Siti,,,dia ada didepan" tutur Bu Aini diambang pintu kamar anak gadisnya.


"Iya,,,tetangga sebelah kita itu lo masak kakak lupa sama bu Siti" ucap Bu Aini mencoba mengembalikan ingatan anaknya.


"Oh,,,Bude Siti ibunya kak Fajar itu" ucap Aifah semangat setelah mendapatkan ingatannya kembali.


Ibu Aini hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.

__ADS_1


Aifah langsung beranjak dari duduknya dan berlari menuju ruang tamu untuk menyapa tamunya itu.


Ibu Aini dan Bowo hanya bisa mengelengkan kepalanya melihat Aifah berlari seperti anak kecil.


"Assalamualaikum,,,bude apa kabar,,,ifah kangen banget sama bude ?" tanya Aifah antusias sambil memeluk wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri itu masih terlihat cantik dan awet muda.


"Walaikumsalam,,,kabar bude baik,,,bude juga kangen sama anak gadis bude ini yang cengeng" tutur bu Siti sambil tersenyum bahagia.


"Tenyata gadis kecilku dulu udah jadi remaja yang cantik ya" imbuh Bu siti sambil mencubit hidung pesek Aifah.


"Ih,,,Bude bisa aja" ucap Aifah tersipu malu.


"Oh,,,iya bude mas Fajar gak ikut ?" tanya Aifah melihat sekitar tidak bisa menemukan sahabat kecilnya itu.


"Aku disini kenapa mencatiku ? kangen ya" ucap laki-laki tampan, tinggi, bertubuh atletis, berkulit putih mulus dan terlihat dewasa dari belakang Aifah.

__ADS_1


__ADS_2