
Setelah setengah jam Panji memacu kendaraannya akhirnya dia sampai di rumah sakit tempat dimana bapaknya sedang dirawat dia berjalan dilorong rumah sakit mencari ruang rawat orang tuanya setelah menemukannya Panji segera masuk untuk melihat keadaan ayahnya dan disitu sedang ada dokter yang memeriksa keadaan ayahnya.
"Dok bagaimana keadaan bapak saya ?" tanya Panji sopan pada dokter yang memeriksa bapaknya.
Dokter itu keluar bersama Panji untuk menerangkan bagaimana keadaan pasien.
"Begini,,,,tuan kondisi jantung pak Hari semakin hari semakin menurun darah yang dipompa oleh jantung sangatlah sedikit dan itu membuat pasokan darah ke otak menurun hal itu sangat berbahaya bagi kesehatan bapak anda tuan" tutur Dokter pada Panji.
"Jadi bapak tuan harus dirawat disini terlebih dahulu agak kondisinya bisa sedikit membaik" imbuh Dokter tersebut dan segera mengundurkan diri dari hadapan Panji.
Panji hanya terdiam setelah mendengarkan penjelasan dokter tersebut mengenai kondisi bapaknya sekarang.
Panji membuka ruang rawat ayahnya terlihat seorang lelaki paruh baya yang sedang terbaring lemas tak berdaya diatas kasur rumah sakit.
Tak ada lagi sosok lelaki yang kuat dan tangguh yang menjadi panutan Panji sejak kecil sekarang yang ada hanya sosok lelaki yang rapuh dan lemah tak terasa bulih bening mulai membasahi wajah tampannya tapi dia segera menyeka air matanya agar tidak terlihat sedih saat didepan ibunya karena dia harus menjadi kuat di depan ibunya untuk menguatkan wanita paruh baya itu.
"Apakah ibu sudah makan ?" tanya Panji sambil mengelus pundak ibunya.
__ADS_1
"Belum" jawab ibu Panji sendu.
"Mau Panji belikan apa ?" tanya Panji.
"Tidak usah ibu tidak lapar"
"Jangan seperti ini bapak sudah sakit,,,jadi ibu harus jaga kesehatan biar bisa jagain bapak" ujar Panji berjongkok disamping tempat duduk ibunya.
"Ya sudah terserah kamu saja" putus Ibu Panji.
Terlihat sekali dari wajahnya ada rasa cemas, khawatir, lelah dan sedih bercampur menjadi satu tapi dia harus menutup semua rasa itu saat berada di depan ibunya yang sedang menangis itu sungguh menyakitkan bagi Panji.
Setelah membeli makanan Panji segera memberikannya pada ibunya dan menyuruh ibunya untuk istirahat sedangkan dirinya sendiri sibuk dengan pekerjaannya yang tadi belum sempat ia bereskan.
Hari hari sudah berlalu dan sudah satu minggu ini bapak Panji dirawat sedangkan Panji tetap mengambil cutinya tapi tidak untuk kembali ke kota asalnya melainkan untuk membantu merawat bapaknya yang masih berada dirumah sakit kondisinya beberapa hari yang lalu sempat membaik dan pagi tadi saat dia pulang pihak rumah sakit memberi kabar kalau bapaknya mengalami penurunan pada kesehatannya karena detak jantungnya mulai melemah dikarenakan adanya penyumbatan.
Di sisi lain pagi ini Aifah menuju bandara untuk pergi ke kota Bandung untuk menerima tawaran pekerjaan dan dia hanya diantar oleh Fajar dan Dinda karena sahabatnya sedang sibuk membantu Perpindahan rumah barunya Putri dan Raka. Aifag juga tidak mempermasalahkan hal itu.
__ADS_1
"Fah,,,lo hati-hati disana kalau ada apa-apa cepet kabarin gue" ucap Fajar dengan nada khawatir.
"Iya dek,,,di sana jaga diri baik-baik" ucap Dinda dan disambut Aifah dengan sebuah pelukan hangat.
"Siap kak,,,ya udah aku masuk dulu,,bay kalian juga jangan pada berantem dan baik-baik disini" teriak Aifah meninggalkan kedua sejoli itu.
Aifah menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kasar, selama berada di awan Aifah hanya fokus pada pemikirannya sediri.
Aifah sudah melangkahkan kakinya di Bandung dengan rasa sedih, senang dan kecewa bercampur menjadi satu.
"Gue harus bisa,,,gue disini buat kerja bukan buat yang lain-lain" gumam Aifah saat sudah sampai di dalam apartemen milik Dinda.
Aifah segera bersiap untuk memberikan surat kerjanya ke rumah sakit yang akan dia jadikan tempat kerja.
"Bismillah " ucap Aifah saat masuk kedalam rumah sakit yang beras dan mewah menurutnya memang rumah sakit itu sangatlah bagus karena, rumah sakit itu adalah rumah sakit terbesar di kota itu dan tidak sembarang orang yang bisa bekerja disitu.
Setelah memberikan surat kerjanya Aifah segera pulang karena esok pagi dia sudah harus bekerja menjadi kepala apoteker di ruang Farmasi.
__ADS_1