
Ternyata saat Aifah dan Panji memasuki ruang rawat disana sudah ada keluarga Panji.
"Om Panji lala rindu" celoteh Lala keponakan Panji, Lala berlari untuk memeluk om tampannya itu.
"Om juga rindu ponakkan om yang cerewet ini" tutur Panji mengendong Lala seraya mencubit hidung mungil bocah itu.
Aifah yang berada di belakang tubuh Panji hanya menunduk dan mendengarkan interaksi Panji dengan keponakannya itu.
Ibu Panji yang melihat anak laki-lakinya itu membawa seorang gadis pun penasaran begitu juga dengan kakaknya pasalnya Panji tidak pernah mengenalkan seorang gadis kepada keluarganya.
"Lo bawa anak siapa ?" tanya Vani penuh curiga.
Panji menggenggam tangan Aifah dan mengajaknya masuk ke ruang rawat untuk memperkenalkannya pada keluarganya.
"Kenalin ini Aifah,,,," ucap Panji memperkenalkan Aifah pada keluarganya.
"Lo culik anak orang dek" tebak Nila kakak ke dua Panji dan ibu dari Lala.
"Wah kakak adik lo bahaya main culik anak gadis orang" timpal Vani menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nak apa kamu di culik sama anak nakal ini ?" tanya ibu Indah dengan lembut pada Aifah.
"Yak ampun, bu apa ibu gak percaya sama Panji ?,,,,ini itu calon mantu ibu sama bapak" tutur Panji geram dengan tuduhan keluarganya.
Aifah begitu terkesiap dengan penuturan Panji akan langsung mengatakan itu pada keluarganya pasalnya ini adalah kali pertama Aifah bertemu dengan keluarga Panji dan dia langsung dikenalkan sebagai calon mantu.
Keluarga Panji membulatkan matanya dengan penuturan pria yang dingin dengan perempuan itu ternyata bisa juga memiliki kekasih.
"Ternyata lo masih normal" ucap Feri kakak ipar Panji suami dari Nila.
"Iya ternyata nih orang masih doyan cewek juga" tambah Rama suami Vani dengan terkekeh.
"Gue juga normal masih suka sama cewek" ketus Panji dengan nada dingin.
__ADS_1
"Nak apa kamu dipaksa sama Panji ?" tanya ibu Indah dengan lembut.
"Astagfirullah, Panji gak pernah memaksa Aifah " ucap Panji ketus.
Semua keluarga Panji terkekeh mendengar kemarahan adik laki-lakinya itu.
"Tante cantik, Lala mau gendong" ucap Lala sambil merentangkan tangannya.
Aifah dengan senang hati mengangkat Lala dan mengendongnya.
"Nak kamu sudah kenal anak bapak yang nakal ini sejak kapan ?" tanya Bapak Hari pada Aifah.
"Saya sudah kenal Panji dari SMK, om " jawab Aifah sopan.
"Kita udah pacaran dari SMK, pak " tambah Panji.
"Kok kamu mau sih sama kulkas kaya dia" timpal Vani pada Aifah.
Aifah yang mendengar pertanyaan dari kakak Panji hanya tersenyum sebagai jawabannya.
"PD banget lo anak onta" cibir Nila yang disambut gelak tawa semua yang ada di ruangan itu.
Mereka semua melanjutkan obrolannya di selingi dengan tawa dari ledekan kakak-kakak Panji untuk meledek adik laki-lakinya itu.
"Maaf semuanya sepertinya saya harus pulang besok saya harus kerja" tutur Aifah sopan.
"Iya pasti orang tua mu sudah mencari nak" ucap Ibu Indah.
"Saya disini tinggal sendiri tante,,,orang tua saya di Kalimantan" tutur Aifah.
"Lah kamu tinggal dimana yank ?" tanya Panji seraya melirik pada Aifah.
"Aku tinggal di apartemennya kak Dinda" ucap Aifah sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kamu kerja atau kuliah disini ?" tanya Vani pada Aifah.
"Aku kerja disini mbak jadi Apoteker dan ini juga hari pertama saya" tutur Aifah sopan dan tak lupa dengan senyum manisnya.
"Ya udah ayo aku antar" ucap Panji.
"Gak merepotkan" tanya Aifah dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Panji.
Aifah berpamitan pada keluarga Panji dengan sopan.
Siapa tau takdir tuhan telah mengatur semua yang ada didunia ini tinggal kita sebagai manusia menyikapinya. Jika kita terlalu lama tenggelam dalam masa lalu maka kita akan terjebak dan tidak akan mengetahui apa yang ada di masa depan kita. Terus lah berjalan kedepan boleh sesekali kita melihat kebelakang agar kita tidak terjebak pada masalah yang sama.
"Fah,,,besok masuk shift apa ?" tanya Panji melirik sekilas pada Aifah lalu kembali fokus kejalan.
Aifah diam sejenak untuk melihat jadwalnya di ponselnya.
"Masuk malam,,,kenapa ?" tanya Aifah sambil memasukkan ponselnya kedalam tas jinjing yang ia bawa.
"Besok pagi temenin kerja bentar mau gak ?" tanya Panji.
Aifah berfikir sebentar " emang boleh ?" tanya Aifah.
"Boleh aja,,,cuman sebentar juga buat ngasih dokumen ke bos setelah itu kita jalan-jalan,,,kan udah lama juga kita gak pergi berdua,,,aku kan juga rindu jalan sama kamu" tutur Panji.
Aifah yang mendengar penuturan Panji seketika menundukkan kepalanya karena merasa bersalah harusnya dulu dia mendengarkan penjelasan Panji bukan malah pergi.
"Maaf ya,,,andai waktu bisa diulang mungkin aku bakal dengerin penjelasan kamu dulu bukan pergi begitu saja" ucap Aifah sendu.
Panji yang melihat ekspresi wajah kekasihnya yang berubah sendu segera meminggirkan mobilnya dan berhenti.
"Sudah lah kita lupakan itu, aku juga salah ambil keputusan secara sepihak,,, besok-besok kita harus saling terbuka,,,dan secepatnya aku bakal halalin kamu kok tenang aja" tutur Panji dengan senyum manisnya
Aifah hanya tersipu mendengar penuturan Panji yang terakhir dan itu sukses membuat wajah Aifah bak kepiting rebus.
__ADS_1
Panji kembali melajukan mobilnya ke apartemen Aifah. Setelah sampai disana Aifah mengucap salam dan turun dari mobil Panji lalu segera masuk kedalam apartemen untuk segera istirahat.