
Keesokan paginya Panji susah berdiri di depan pintu warna hitam yang terdapat angka 20 di pintu tersebut. Sebelum dia mengetuk pintu terlihat dia merapikan pakaiannya terlebih dahulu baru dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Terlihat ada gadis cantik yang masih mengunakan piama tidurnya yang dipadukan dengan jilbab instan tengah menunjukkan raut wajah bingung dengan pria yang sedang ada dihadapanya pagi ini.
"Hemm,,,gak disuruh masuk nih ?" tanya Panji yang membuyarkan lamunan Aifah.
"Ngapain kesini ?" tanya Aifah polos.
Panji mengerutkan keningnya pasalnya dia bingung dengan pertanyaan polos dari gadis pujaan hatinya ini bukankah dia sudah berjanji akan menemaninya ke kantor.
"Kamu gak inget " ucap Panji yang berhasil membuat Aifah bingung.
"Inget apa sih ?" tanya Aifah balik pada Panji dengan menautkan kedua alisnya.
"Kan kamu semalam dah janji mau nemenin aku ke kantor pagi ini" ucap Panji kesal dengan Aifah.
Aifah hanya menepuk jidatnya pasalnya dia sudah melupakan hal itu karena, terlalu senang dengan pertemuannya kembali dengan Panji.
"Oh iya,,,lupa" ucap Aifah cengengesan.
"Cepet siap-siap sana,,,aku nunggu kamu disini" kata Panji masih sedikit kesal.
"Kamu udah sarapan, yank ?" tanya Aifah tersenyum manis agar Panji tidak merajuk lagi karena sifat pikunnya ini.
Panji menyungingkan senyum di bibirnya dengan kata terakhir yang Aifah ucapkan karena kata itu tidak akan kekasihnya itu ucapkan kalau tidak untuk membujuknya.
"Belum" ucapnya.
"Ya udah kamu sarapan aja dulu sambil nungguin aku siap-siap,,,,tuh di meja makan udah ada " ucap Aifah sebelum masuk kedalam kamarnya untuk bersiap-siap.
Panji menatap makanan yang sudah tersaji di meja makan tak terasa dia menarik ujung bibirnya hingga membentuk senyum "Calon istri idaman" gumamnya pelan setelah itu ia melahap sarapannya itu.
Aifah sudah keluar dari kamarnya dengan menggunakan baju gamis warna marun dipadukan dengan jilbab yang senada tidak lupa make up tipis tapi tetap terkesan anggun dan cantik.
"Sudah siap ?" tanya Panji yang sensasi tadi melihat Aifah yang keluar dari kamarnya.
Aifah hanya memberikan anggukan kecil dan tersenyum sebagai jawabannya.
__ADS_1
Setelah itu mereka berdua pergi ke tempat kerja Panji saat ini.
Tampak semua orang melihat kearah Panji dan Aifah banyak yang mengagumi kecantikan Aifah tapi banyak juga yang menatap dia dengan sinis pasalnya mereka tidak rela jika lelaki pujaannya itu bersama perempuan lain.
Aifah hanya menundukkan kepalanya sambil mengikuti Panji dari belakang karena dia merasa begitu risih dengan tatapan orang-orang kantor tempat Panji bekerja itu seperti mengintai mangsanya dan akan secara tiba-tiba menerkamnya.
Akhirnya Aifah bisa bernafas lega pada saat sudah masuk kedalam lift yang memang khusus menuju ruangan paling atas yang digunakan sebagai ruangan CEO.
"Uluh-uluh calon isteriku sampai keringat dingin" goda Panji sambil mencolek dagu Aifah.
"Ih ngeselin banget sih,,,tatapan mereka itu lo menakutkan" tutur Aifah bergidik ngeri.
Panji hanya tersenyum dan mengelus puncak kepala kekasihnya agar tidak terlalu kesal lagi.
Setelah beberapa menit akhirnya lift yang mengangkut sepasang kekasih itu akhirnya sampai di tempat tujuan.
Panji menggenggam tangan Aifah dengan erat agar gadis itu tidak selalu menjadi ekornya yang berjalan dibelakangnya.
Mereka berdua melewati meja Celin tampak gadis cantik itu menatap sinis pada Aifah yang berani-beraninya merebut cowok yang selalu ia kejar itu.
"Hmm,,,emang gak apa,,,aku ikut kamu ?,,,gak lebih baik nunggu diruangan kamu aja ?" tanya Aifah dengan sedikit berbisik pada Panji karena, merasa tidak pantas.
"Udah tenang aja,,,dia juga sahabat gue disini,,,gue juga mau ngenalin kamu sama dia,,,,tapi inget jangan sampai suka" tutur Panji tersenyum seraya mengetatkan gengaman tangannya.
Aifah hanya menurut apa yang diucapkan Panji walau, dengan berat hati.
Tok,,,tok,,,tok
Panji mengetuk pintu ruangan bosnya sekaligus sahabat nya itu. Setelah mendapatkan ijin Panji segera memasuki ruangan itu bersama Aifah kekasihnya.
"Ngapain lo kesini,,,bukannya lo masih minta cuti ?" tanya Firman bingung mendapati sekertaris pribadinya yang sekaligus sahabatnya itu ada di depannya.
"Eh,,,lo bawa anak gadis siapa tuh, nji ?,,,boleh dong kenalin sama gue,,,lumayan juga tuh cewek bisalah gue jadiin bini" tutur Firman cengengesan.
"Enak aja lo ngomong ini calon istri gue" ketus Panji pada bosnya itu.
"Hah,,,jangan bercanda deh lo " ucap Firman terkekeh.
__ADS_1
"Gak percaya terserah,,,,oh iya gue mau bilang besok gue kerja lagi tapi minggu depan gue mau ambil sisa cuti gue" ucap Panji datar.
"Terserah lo,,,tapi inget jangan lama-lama" ucap Firman.
Panji hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Eh ,,, emang lo mau cuti minggu depan buat apa ?" tanya Firman penasaran.
"Kepo lo jadi orang " ucap Panji acuh.
"Lo gak mau gitu ngenalin dia sama gue" ucap Firman sambil melirik Aifah yang sendari tadi hanya diam dan menundukkan kepalanya.
"Ini namanya Aifah kekasih gue dari SMA sebentar lagi bakal jadi istri gue dan ibu dari anak-anak gue" ucap Panji penuh penekanan.
Aifah mendengar penuturan Panji segera mengangkat kepalanya menghadap Panji dan membelalakan matanya.
"Wau jadi ini alasan lo gak mau sama Celin ternyata cewek lo lebih cantik" tutur Firman sambil manggut-manggut.
"Bisa lo kontrol gak tuh mulut" ketus Panji sambil melirik Aifah yang masih setia menundukkan pandangannya.
"Gue kasih tau fah sama lo kalau Panji itu jadi idola mulai dari di kampus sampai di kantor gue" ucap Firman terkekeh.
Aifah hanya menanggapi dengan senyum kecilnya dia mulai tidak percaya diri untuk bersanding dengan Panji.
"Jangan di dengerin yank" ucap Panji dengan hangat seraya menggenggam tangan kekasihnya itu.
Firman yang melihat sikap hangat dari Panji hanya bisa ternganga tidak percaya.
"Kenapa lo mangap kaya gitu keselek lalat baru tau rasa lo" ketus Panji.
"Gue gak percaya aja sama sikap lo barusan si gunung es bisa jadi air hangat" ucap Firman terkekeh.
"Udah ah gue mau kencan dulu sama tuan putri" tutur Panji menarik Aifah meninggalkan ruangan bosnya.
"Oke bos,,,oh iya uang kencan lo bakal gue transfer" ucap Firman pada tangan kanannya itu.
Panji hanya menganggukan kepalanya tanpa melihat atasannya itu tanda dia berterimakasih.
__ADS_1