Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 1 ( Kanaya's Tears)


__ADS_3

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala alihi sayyidina Muhammad 🤍🤲🏻


 


Air mata itu menetes membasahi mukenah yang Kanaya pakai. Di tengah keheningan malam, wanita berparas ayu itu bersujud, tenggelam dalam kekhusyukan tahajud nya, berpasrah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala persoalan dalam hidupnya.


Sambil menengadahkan tangannya Kanaya berdoa, meminta ketentraman hati serta kesabaran untuk bertahan di sisi suaminya yang masih belum bisa melupakan cinta masa lalunya.


"Aisyah... Aisyah...." Berulang kali Kanaya mendengar Lee menyebutkan nama itu di tengah tidurnya.


Kanaya memejamkan mata, bersamaan dengan itu air matanya meleleh ke pipi. Kanaya menggigit bibirnya guna meredam suara tangis karena tak mau tidur suaminya terusik oleh suara tangisnya.


Setiap malam, hati Kanaya hancur tiap mendengar Lee menyebutkan nama cinta pertamanya, namun sebisa mungkin ia menahan sakit hatinya dan berusaha tampil baik-baik saja ketika Lee membuka matanya di pagi hari nanti.


"Aisyah... Aisyah... Aku mencintai kamu," gumam Lee lagi masih dengan mata yang terpejam.


Kanaya melepas mukenah nya, lalu melipat dan meletakkan perangkat sholatnya tersebut di tempat asalnya. Kemudian ia mendekati Lee yang masih tertidur pulas di atas ranjang, ditatapnya wajah tampan suaminya itu dengan penuh cinta.


Seketika Kanaya merasa sakit dihatinya sedikit berkurang setelah ia melihat betapa damainya wajah Lee saat tertidur. Suaminya itu pasti sedang memimpikan cinta pertamanya, memikirkan hal tersebut membuat hati Kanaya kembali sakit. Namun apa daya, ia tak bisa mengendalikan hati dan pikiran suaminya.


Kanaya naik ke atas ranjang, mengisi tempat kosong di sebelah Lee lalu mengecup kening suaminya itu cukup lama. "Aku mencintaimu Mas, aku harap suatu hari nanti kamu juga bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu," ungkap Kanaya lirih sambil meneteskan air matanya.


Kemudian Kanaya memeluk tubuh atletis Lee dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu seraya memejamkan mata indahnya. Tanpa sepengetahuan Kanaya, Lee terbangun, membuka matanya dan menatap Kanaya yang menjadikan dada bidangnya sebagai sandaran.


Ujung bibir Lee terangkat ke atas, membentuk sebuah senyuman penuh arti. Ia lalu membalas pelukan Kanaya dan mengelus-elus surai lembut istrinya tersebut, mencoba memberikan kenyamanan semampunya.


"Maaf, untuk sementara ini aku hanya mampu menyayangi kamu. Aku harap kamu bisa terus bersabar sampai hatiku bisa mencintai kamu," gumam Lee merasa bersalah.


******


Lee menyipitkan matanya saat Kanaya membuka gorden kamar mereka. Sinar matahari pagi menyoroti muka bantal Lee yang masih tetap kelihatan tampan. Kanaya berjalan ke arah suaminya tersebut sambil tersenyum manis.


"Good morning, Mas David," ucapnya dengan ceria.


Awalnya Lee ingin memprotes Kanaya yang membangunkannya terlalu pagi, namun setelah melihat mata Kanaya sembab ia pun merasa bersalah dan tidak jadi protes.


Lee turun dari ranjang lalu mengecup kening Kanaya. "Good morning too, Naya," balasnya sambil menunjukkan boxy smile yang terlampau manis.


"Mas David ingat enggak ini hari apa?" tanya Kanaya seraya menatap Lee dengan penuh harap.


Lee menyatukan alisnya seperti tengah berpikir. "Hari Jum'at," jawabnya yang membuat Kanaya mendesah kecewa.


"Aku salah ya? Ini bukan hari Jum'at, ya?" tanya Lee.

__ADS_1


Kanaya tersenyum masam lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mas enggak salah kok, aku yang salah," ujarnya menahan rasa kecewa karena Lee tak ingat kalau hari ini adalah hari anniversary pernikahan mereka yang ke dua tahun.


"Ya udah, aku mandi dulu ya." Setelah itu Lee pergi ke kamar mandi meninggalkan Kanaya yang sedang mati-matian menahan rasa kecewa dan juga kesalnya.


"Mana mungkin dia ingat hari pernikahannya denganku, yang ada dipikirannya kan cuma Mbak Aisyah," gumam Kanaya sambil *******-***** ujung jilbab panjangnya.


"Astaghfirullah," sebut Kanaya sambil mengusap dadanya.


Kemudian wanita berparas cantik itu pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk Lee di meja makan yang sudah dirapihkan.


Kanaya mengoleskan selai strawberry di atas roti tawar yang pinggirannya sudah dipisahkan lalu menuangkan jus semangka kesukaan Lee ke dalam gelas yang biasa digunakan oleh suaminya itu.


Setelah berpakaian rapih, Lee keluar dari kamar dan pergi ke dapur atau lebih tepatnya ke meja makan tempat semua menu sarapan pagi ini tersaji.


Sekilas Lee memandang Kanaya yang sedang fokus mengupas buah mangga untuk disuapkan ke mulutnya.


"Naya, sini duduk," pinta Lee sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.


Kanaya pun tersenyum lalu menuruti permintaan suaminya tersebut. "Mas, perut kamu udah mendingan belum?" tanyanya dengan nada lembut.


Refleks, Lee memegang perut kotak-kotaknya. "Kayaknya udah sembuh deh," jawabnya sambil menepuk-nepuk perutnya yang kemarin sempat melilit.


"Alhamdulillah, berarti kamu udah bisa berangkat ke kantor lagi."


"Naya...."


"Maaf ya, aku selalu nyusahin kamu, kemarin aja kamu sampai bolos kuliah demi ngurusin aku," ungkap Lee sambil menatap mata Kanaya yang juga tengah menatap matanya.


"Mas David nggak perlu minta maaf, aku cuma melaksanakan tugas dan tanggung jawab aku sebagai seorang istri, itu aja," terang Kanaya sambil mengelus pipi kanan Lee dengan tangan halusnya.


Bibir Lee membingkai senyuman manis, pria itu tak memungkiri bahwa dirinya suka dimanjakan oleh Kanaya. "Hari ini kamu kuliah enggak?" tanya Lee yang dibalas gelengan oleh Kanaya.


"Ikut aku ke kantor yuk?" ajak Lee yang biasanya melarang Kanaya datang ke kantornya.


"Emang ada acara apa, Mas?" tanya Kanaya sambil menatap Lee.


"Enggak ada, aku cuma mau ngajak kamu aja," jawab Lee santai sambil mengaduk-aduk jus semangka nya.


"Tumben Mas, biasanya kamu malah ngelarang aku buat dateng ke sana," ujar Kanaya.


Lee menatapnya dingin, Kanaya pun menunduk menyembunyikan kesedihan yang tergambar jelas di wajah cantiknya.


"Aku larang kamu karena aku menyayangi kamu," ungkap Lee sambil meraih tangan Kanaya dan mengelusnya dengan lembut.

__ADS_1


Dalam hati Kanaya merasa miris. Dulu saat belum mengetahuinya, ia selalu percaya saat Lee mengatakan alasan tersebut. Namun sekarang Kanaya sudah tahu alasan sebenarnya kenapa Lee melarang dirinya ke kantor. Itu tidak lain karena suaminya itu tidak suka melihatnya berbincang-bincang dengan Aisyah.


"Kamu siap-siap ya, aku tunggu kamu di halaman," pesan Lee yang kali ini menatap Kanaya dengan tatapan hangat.


"Oke, tunggu bentar ya, Mas," sahut Kanaya lalu melesat pergi ke kamar untuk berganti pakaian dan kerudung.


Dress floral panjang dan blazer warna pink serta kerudung berwarna senada menjadi pilihan Kanaya. Begitu selesai memakai pakaian berserta kerudung, aksesoris, dan sepatunya, Kanaya memoles sedikit bibirnya dengan lip gloss yang warnanya sama persis dengan warna bibirnya yang asli.


Lalu, Kanaya mengambil tas selempangnya yang hanya diisi ponsel dan dompet. Kemudian ia pergi menemui Lee yang masih setia menunggunya di halaman depan rumah mereka.


"Mas, lihat deh, aku udah kayak wanita karir yang kerja di kantoran, kan?" ujar Kanaya meminta pendapat Lee tentang penampilannya yang kali ini jauh berbeda.


"Ya." Setelah mengucapkannya, Lee mengisyaratkan kepada Kanaya untuk masuk ke dalam mobilnya.


******


Karena bosan jika terus berada di dalam ruangan Lee, Kanaya pun meminta izin kepada suaminya itu untuk ikut meeting, meskipun nanti ia hanya akan mendengarkan tanpa tahu apa-apa soal DSL beauty care.


Saat meeting, Kanaya melihat Aisyah melakukan presentasi yang luar biasa sehingga membuat Lee dan semua orang termasuk dirinya yang ada di ruang meeting tersebut merasa kagum.


Dari sana Kanaya bisa melihat dengan jelas perbedaan cara Lee memandang Aisyah dan dirinya. Suaminya itu selalu memandang Aisyah dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan, sementara saat memandangnya, yang tampak hanyalah secuil kasih sayang.


"Enggak papa, Mas. Aku enggak cemburu kok, justru aku semakin tertantang untuk berusaha menjadi istri yang lebih baik lagi agar kamu bisa mencintaiku dan melupakan cinta pertamamu," batin Kanaya sambil berusaha menyamarkan raut sedihnya dengan senyuman.


"Lihat Naya, Aisyah hebat banget kan? Aku mau kamu seperti dia, Naya," bisik Lee yang tak sadar telah menyinggung perasaan Kanaya sebagai istrinya.


"Maaf Mas, aku ya aku, dia ya dia. Kita berdua memang sama-sama perempuan, tapi bakat dan kelebihan kita berbeda dan tidak bisa disama-samakan," tandas Kanaya yang langsung membuat Lee sadar akan kesalahannya.


"Lain kali, jangan ajak aku ke kantor kamu lagi kalau ternyata kamu cuma ingin menunjukkan seberapa hebat perempuan yang kamu cintai itu," sarkas Kanaya sambil meneteskan air mata yang sejak tadi ditahannya.


Kemudian Kanaya bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan meeting, semua orang termasuk Aisyah yang sedang presentasi di depan bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang terjadi sampai Kanaya keluar dari ruangan meeting sambil menangis seperti itu.


Sedangkan Lee hanya diam sambil menundukkan wajahnya, tidak berniat mengejar Kanaya atau menjelaskan apa yang barusan terjadi diantara dirinya dengan sang isteri.


C A S T




To be continued....


Gimana pengalaman pertamanya?

__ADS_1


Nyesek nggak?


Jangan lupa untuk komentar, like, vote novel ini, bagikan ke teman kalian, oke?😍😊🤗


__ADS_2