Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 23 (Terkunci di toilet)


__ADS_3

"NATHAAAN!" Suara Steffany membahana di lorong Kampus yang masih sepi.


Pria yang merasa di panggil namanya hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan langkahnya, tak menghiraukan Steffany yang berlari ke arahnya dengan nafas tersengal-sengal.


"Nathan! Please, tungguin aku!" teriak Steffany setengah memohon. Nathan yang kasihan pun akhirnya berhenti, menunggu gadis itu berhasil menyusulnya.


"Kamu jahat, udah ninggalin aku sendirian di parkiran. Gimana kalau ada mahasiswa iseng yang mau ngerjain aku?" omel Steffany dengan wajah kusut, mengatur nafasnya yang belum beraturan.


Nathan tak mengatakan apapun untuk menanggapi ucapan Steffany, lelaki itu hanya tersenyum lalu merangkul bahu mungil Steffany dengan tangan kanannya yang tadi ia sembunyikan di saku celana jeansnya.


"Gimana olahraganya?" tanya Nathan.


"Hah?" Steffany menatap wajah Nathan dengan raut cengo, antara bingung atau memang bodoh.


"Olahraga apa sih?" tanyanya sambil berpikir keras.


Tanpa di pinta tangan kiri Nathan bergerak mengusap keringat yang muncul di sekitar kening dan dahi Steffany. "Olahraga lari," jawab Nathan yang membuat Steffany langsung paham di detik itu juga.


"Jadi kamu sengaja tinggalin aku di parkiran supaya aku lari, begitu?"


Nathan tak mengelak, ia hanya mengedikkan bahunya sambil tersenyum usil. Steffany mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal karena Nathan berhasil mengerjainya. Tapi kalau di pikir-pikir bagus juga, ia jadi bisa olahraga pagi di tengah kesibukan kuliahnya.


"Jadi gimana olahraga singkatnya tadi?" tanya Nathan sambil melangkahkan kakinya sejajar dengan langkah Steffany.


"Lumayan," jawab Steffany diiringi senyuman jenaka.


"Mau sarapan apa?" tanya Nathan sembari menatap Steffany dengan tatapan teduhnya.


Mahasiswi yang melihat betapa lembutnya Nathan memperlakukan Steffany langsung menjerit iri. Ingin diperlakukan seperti itu juga oleh Nathan yang dijuluki pangeran kutub utara karena sifatnya yang dingin dan tak tersentuh.


"Mau nasi goreng tapi lagi diet, gimana dong?" ujar Steffany dengan wajah lesu.


"Gimana kalau di ganti sama katsu sandwich dan salad stoberi?" tawar Nathan.


Dari ekspresinya terlihat jelas kalau Steffany tertarik dengan dua jenis makanan yang ditawarkan Nathan padanya.


"Aku mau, tapi beli di mana?"


"Nggak usah beli, aku udah bawa dari rumah," bisik Nathan yang membuat Steffany senang bukan main sekaligus tak menyangka kalau Nathan akan berubah perhatian padanya. Padahal di awal-awal mereka kenal Nathan sangat ketus dan sering mengabaikannya. Syukurlah sekarang dia telah berubah seratus delapan puluh derajat.

__ADS_1


"Makannya di rooftop, yuk?" ajak Steffany yang mendapat anggukan dari Nathan.


*****


Langkah Kanaya terburu-buru, ia kebelet buang air kecil sementara jarak kelasnya dengan toilet terbilang lumayan jauh, jadi ia harus mengeluarkan tenaganya untuk berlari. Sesampainya di toilet, Kanaya langsung masuk ke dalam salah satu bilik dan menguncinya dari dalam lalu menuntaskan hajat yang sejak tadi ia tahan.


Selesai dengan urusan hajatnya, Kanaya langsung membuka kunci pintu toilet, namun alangkah cemas nya ia ketika pintu toilet tidak bisa terbuka. Ia segera berteriak meminta bantuan dari orang yang berada di luar, tapi sepertinya tak ada seorang pun yang mendengar suaranya.


Kanaya diam sejenak untuk menenangkan dirinya, setelah itu ia kembali mencoba membuka pintu toilet, namun tetap saja idak bisa, seperti ada yang menguncinya dari luar.


"Tolong! Tolong! Saya terkunci di toilet, tolong bukain pintunya!" teriak Kanaya yang belum menyerah untuk memanggil siapapun yang ada di luar sana.


"Tolong! Bukain pintunya, saya terkunci di dalam toilet bilik dua!" sambung Kanaya dengan suara parau, hampir menangis karena panik.


"Siapapun yang dengar suara saya, tolong bantu saya keluar dari toilet ini!" teriak Kanaya yang mulai putus asa sebab tak ada orang yang menyahutinya. Hal itu menandakan kalau tidak ada siapa-siapa di sekitar toilet Kampus. Wajar saja, di jam segitu para mahasiswa sedang mengikuti pelajaran di kelas masing-masing. Hampir tidak ada yang berkeliaran di luar kelas kecuali mahasiswa seperti Kanaya yang ingin buang hajat.


"Hiks, aku mau keluar dari sini, tolong." Air mata Kanaya jatuh ke lantai toilet yang dingin.


Di tengah tangisannya Kanaya tiba-tiba ingat kalau sebenarnya ia membawa ponsel. Lantas ia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Astrid, tapi nomor sahabatnya itu tidak aktif, mungkin sengaja di matikan karena sedang menyimak mata kuliah dari Dosen.


"Huft, siapa lagi yang bisa aku hubungi?" ujar Kanaya yang telah kehilangan separuh semangatnya.


"Halo? Ada apa Nay?" Lee mengangkat panggilan dari Kanaya.


"Mas, hiks ... aku, a-aku...."


"Nay, bicara pelan-pelan, jangan gagap begitu, nanti Mas enggak ngerti apa yang kamu katakan kalau kamu gagap."


"Mas, hiks ... hiks, aku ke kunci di kamar mandi, hiks."


"Hah? Kok bisa?! Di kamar mandi mana? Nanti Mas ke sana."


"Di kamar mandi Kampus, hiks ... hiks," jawab Hilsya sambil terus menangis.


"Ya udah, Mas ke sana sekarang juga, kamu yang tenang ya, jangan panik dan stop nangis. Everything will be fine, okay?"


"Mas cepetan ke sini, ya?"


"Iya sayang, ini Mas lagi menuju ke basement buat ambil mobil, pokoknya kamu jangan panik ya, berdoa aja. Sekitar lima belas menit lagi Mas sampai ke Kampus kamu."

__ADS_1


"Aku tungguin ya, Mas."


"Iya sayang, kalau begitu udah dulu ya, Mas enggak bisa nyetir sambil telponan. Ingat, jangan nangis lagi, yang tenang ya."


"Iya, Mas."


*****


"Parah lo! Cewek sebaik Kanaya lo kunci di kamar mandi, gila ya lo?! Salah apa dia sama lo, anjir?!" Teman satu gengnya memarahi Azkia, pelaku yang telah mengunci Kanaya di toilet.


"Gue itu iri sama dia, kenapa dia selalu mendapatkan perhatian khusus dari Nathan yang nggak pernah gue dapetin, selama ini gua nahan diri buat nggak gangguin dia, tapi sekarang gue nggak bisa nahan diri gue lagi, gue mau dia tahu kalau gue benci sama dia," ujar Azkia dengan kedengkian yang menggerogoti hatinya.


"Lo goblok, Kia. Yang seharusnya lo benci itu Nathan, bukan Kanaya yang nggak tahu apa-apa!"


"Hahaha, gue emang goblok. Kalau lo capek temenan sama gue, lo boleh pergi kok." Azkia semakin ngawur, itu karena rasa bencinya pada Kanaya yang berawal dari rasa cemburu dan iri.


"Gue kecewa sama lo, mulai detik ini gue bukan teman lo lagi, dan lo bukan siapa-siapa gue lagi!"


Azkia tertawa terbahak-bahak. "Bagus! Gue juga enggak butuh teman yang hatinya masih baik kayak lo!" teriaknya seperti orang gila.


"Lo bakal nyesel udah mengusik Kanaya. Sebab yang di cintai Nathan bukan Kanaya, tapi gadis lain, dan yang pastinya bukan lo."


"Gue enggak percaya!" sela Azkia.


"It's okey, tunggu aja nanti, lo bakal tahu sendiri siapa yang sebenarnya Nathan cintai."


*****


Di toilet Lee dan Security Kampus sedang berusaha mendobrak toilet karena sepertinya lubang kunci di pintunya sengaja di rusak oleh tangan jahat. Saat pintu berhasil terbuka, Lee langsung mendekap tubuh Kanaya, memberikan kehangatan yang tidak ada duanya di dunia ini, Kanaya kembali menangis kencang, ia menyembunyikan wajah sembabnya di dada bidang Lee.


"Makasih, Mas. Makasih udah datang tepat waktu," ujar Kanaya sambil sesenggukan.


Lee mengecup kening Kanaya cukup lama. "Maafin Mas, ya sayang. Mas nggak bisa terus stand by di sisi kamu, tapi Mas janji akan selalu ada di setiap kamu butuh," ungkap Lee yang sedih karena tak bisa menjaga istrinya setiap saat. Ia juga marah dan meminta Security Kampus untuk memperlihatkan kepadanya rekaman Cctv di depan toilet tempat Kanaya terkunci tadi.


"Aku akan menghukum siapapun yang sudah berani mengusik Kanaya."



Bersambung....

__ADS_1


Setelah berhari-hari akhirnya bisa update juga, semoga masih ada yang mau baca.🥲😢


__ADS_2