
Sesampainya di rumah Kanaya tak langsung menginterogasi Lee, dengan lapang dada ia menyiapkan air hangat untuk suaminya itu mandi. Membiarkan Lee merilekskan badan dan pikirannya terlebih dahulu dengan harapan supaya nanti ketika ditanyai, pria itu akan menjawabnya dengan jujur.
Tak sampai dua puluh menit Lee keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah jauh lebih segar. Kanaya bergegas ke walk in closet, mengambilkan kaos panjang berwarna hitam serta piyama yang diminta oleh suaminya itu.
"Naya, aku mau makan nasi goreng kimchi," pinta Lee sambil memakai kaosnya.
Dengan sabar Kanaya mengiyakan permintaan suaminya tersebut lalu tanpa mengatakan apapun, ia keluar dari kamar dan bergegas menuju ke dapur untuk memasak nasi goreng request-an suaminya.
Kanaya mengaduk nasi goreng kimchi yang sedang ia masak sambil menyeka air matanya. Hatinya benar-benar pedih menerima kenyataan bahwa Lee tidak sedikit pun merasa bersalah kepadanya setelah tadi meninggalkannya di Mall sampai Agoraphobia-nya kambuh.
"Sebegitu tidak berarti kah aku ini, Mas?" gumam Kanaya dengan gamang sebab ketika kalimat itu keluar dari mulutnya ia merasakan pelukan hangat Lee melingkupi tubuhnya dari belakang.
"Sepertinya udah jadi."
"Hm." Kanaya hanya menanggapinya dengan gumaman, membuat Lee mengerutkan dahinya, mulai mempertanyakan kenapa Kanaya tiba-tiba bersikap dingin kepadanya.
"Kamu kenapa, Nay?" tanya Lee seraya membalikkan tubuh mungil Kanaya agar menghadap ke arahnya. Kanaya merasa hatinya seperti ditarik ulur, ingin mengungkapkan semua kekesalannya kepada Lee tapi ia merasa kalau dirinya tidak sanggup melakukannya.
Lee cukup terkejut ketika mendapati air mata yang mengalir di pipi Kanaya. Segera ia menghapus air mata itu menggunakan kedua jempolnya. Dengan wajah tertunduk Kanaya terisak-isak, rasanya tak mau bicara dan hanya ingin menangis saja. Tapi melihat raut kebingungan Lee, Kanaya pun berusaha memberikan pertanyaan yang sejak ingin ia tanyakan kepada suaminya itu.
"Kamu dari mana aja sampai lama banget ninggalin aku di toko pakaian waktu di Mall tadi?" tanyanya dengan sekali tarikan nafas.
Sekilas kepanikan terlihat di wajah Lee, namun pria itu dengan cepat menutupinya dan menjawab pertanyaan Kanaya yang sebenarnya sudah tahu segalanya tersebut, dengan ekspresi tenang. "Aku cuma ke Kafe buat nerima telfon penting dari sekretaris aku. Kurasa sebelumnya aku udah bilang ke kamu, kenapa kamu masih menanyakannya?" Tuh kan, Lee berbohong! Kanaya tahu betul kalau tadi suaminya itu tidak ke Kafe melainkan menghampiri Aisyah yang sedang belanja di lantai satu.
"Ternyata kamu tega bohongin aku ya, Mas. Aku jadi mempertanyakan seberapa penting kah aku di mata kamu?"
"Naya, maksud kamu apa sih? Mana ada aku bohongin kamu," elak Lee yang benar-benar tak mau disalahkan.
__ADS_1
Kanaya menatap nanar wajah tampan sang suami yang selalu menyakiti perasaannya itu. "Apa kamu masih mengelak kalau aku tunjukkin foto ini?" Rupanya Kanaya mengambil gambar Lee ketika suaminya itu sedang menggendong Dasha sambil tertawa bersama Aisyah yang sedang mendorong troli belanjaan di sebelahnya.
"Ka ... kamu dapat foto itu dari mana?" tanya Lee seperti orang bego.
Kanaya tertawa miris. "Aku mendapatkannya sendiri, Mas. Aku melihat dengan mata kepala aku sendiri saat kamu bersamanya...." Cukup! Kanaya tak sanggup melanjutkan kalimatnya. ia ingin buru-buru pergi dari hadapan Lee yang sudah terlalu banyak menorehkan luka di hatinya. Namun tangan kokoh Lee menahannya, menghimpitnya sehingga ia tak bisa bergerak kemana-mana.
Kemudian Lee mendekatkan wajahnya sampai Kanaya bisa merasakan hembusan nafas pria itu yang beraroma mint. "Kamu berhak cemburu karena kamu adalah istri aku, tapi kamu nggak berhak larang aku buat nolongin dia yang sangat berharga buat aku," ucap Lee yang sepertinya tak peduli kalau kata-katanya akan semakin menyakiti hati Kanaya.
"Asal kamu tahu, dari dulu dia yang selalu support aku, dia yang selalu membuatku bangkit dari kegagalan. Bahkan DSL beauty care yang dulu hampir bangkrut kini bisa sukses besar berkat bantuannya," ungkap Lee berapi-api.
"Aku tahu, Mas. Aku tahu itu, selama dua tahun ini kamu selalu mengatakannya sampai aku hapal dan hampir muak kalau aja aku egois. Coba sekarang aku mohon, sekali aja pikirin gimana perasaan aku, siang tadi sebelum kita ke Mall, kamu udah janji sama aku kalau kamu bakal selalu di samping aku dan beberapa menit kemudian kamu malah mengingkari janji kamu dan lebih milih bantuin istri orang lain dari pada istri kamu sendiri. Apa kamu nggak merasa bersalah sedikitpun sama aku?"
"Naya, cukup! Kenapa kamu selalu nyalahin aku?! Niat aku cuma bantuin Aisyah yang kerepotan, tolong jangan menambahkan opini hingga seolah aku ini jahat sama kamu!" bentak Lee dengan suara keras yang membuat Kanaya tersentak. Setelahnya pria itu pergi meninggalkan Kanaya yang kemudian tersungkur di lantai meratapi kesedihannya.
******
"Ini rumah lo?" tanya Nathan sembari melihat betapa cantiknya tampilan rumah yang ada di depan matanya.
"Bukan, ini rumah kakak gue ... btw makasih ya udah anterin gue ke sini," jawab Steffany seraya berterima kasih kepada Nathan yang tumben hari ini baik kepadanya.
"Ooh ... sama-sama. Kalau gitu gue cabut ya."
"Nggak mau mampir dulu?" tanya Steffany sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
"Nggak! Gue ada jadwal latihan basket," jawab Nathan dengan hati yang berdebar kencang.
"Sial! Hati gue mulai gak waras! Nggak mungkin kan gue suka sama dia yang genit dan petakilan itu?" batin Nathan sambil tancap gas meninggalkan Steffany yang menatap punggungnya sambil tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Aaaa, kenapa dia nunjukin ekspresi cute kayak tadi? Aku kan jadi susah buat move on ke lain hati," ucap Steffany sambil senyam-senyum sendiri.
Setelahnya gadis berambut ombre itu memasuki rumah kakaknya yang tidak di kunci. "Kak Naya, kakak di mana?" panggil Steffany sembari menelusuri setiap ruangan.
"Kak Naya, aku bawa cake kesukaan Kakak lho."
"Kak Naya di dapur ya?" tebak Steffany yang kemudian berjalan ke dapur dan ketika sampai di sana. Mulut gadis itu menganga melihat kakak iparnya tergeletak di lantai dengan wajah yang sudah pucat.
"ASTAGA! KAK NAYA!" teriak Steffany yang segera mengecek denyut nadi Kanaya.
"Ya tuhan! Kak Naya, bangun kak! Kakak kenapa bisa sampai seperti ini?" tangis Steffany pecah. Padahal gadis itu bukan tipe yang mudah menangis, tapi saat melihat kakak ipar yang disayanginya terbujur kaku di lantai air matanya langsung mengalir begitu saja.
Dengan kekuatan yang dimilikinya, Steffany menggendong tubuh mungil Kanaya menuju ke kamar lalu membaringkan tubuh kakak iparnya itu di atas kasur dan menyelimutinya. Kemudian ia menelfon dokter keluarganya untuk datang memeriksa kondisi Kanaya secepatnya.
"Kak Naya, aku mohon bertahan lah."
Bersambung....
Di sini kekejaman Lee mulai meresahkan hati ya, bun? Rasa ingin menghujat!π₯Ίπ₯²π€¬
Ayo komentarnya mana, komentarnya mana? βΊοΈβΊοΈ
Jangan lupa untuk like, komentar, vote, share dan follow aku ya.ππππ
Thank you for reading my novel! I hope you like this part! Bye bye!β€οΈβ€οΈ
Kalau part ini tembus 20 komentar, sore ini aku update lagi. Janji!
__ADS_1