
"Mau kemana kamu?" Tatapan tajam Nyonya Lee Nina seakan menusuk sampai ke tulang punggung Steffany yang terpaksa menghentikan langkahnya di tengah-tengah tangga.
"Kenapa? Aku juga punya hak untuk pergi ke mana pun aku mau, Ma," jawab Steffany lantang. Ia tak bermaksud kasar hanya saja ia terlampau kesal karena terus di atur-atur dan di awasi oleh ibunya sendiri.
"Kamu mau ketemu wanita itu kan?!"
"Dia punya nama ma, dan dia menantu Mama, bisa nggak sekali aja Mama anggap dia sebagai anggota keluarga kita." Steffy membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah sang ibu.
"Nggak akan pernah Steffy. Mama nggak akan pernah sudi menganggapnya sebagai menantu Mama!"
Steffy tersenyum kecut, "Suatu hari nanti aku yakin Mama akan menarik semua perkataan Mama itu!"
"Mulai berani kamu ya mencerca Mama!" bentak Nyonya Lee Nina marah kepada anak gadisnya yang mulai memberontak.
"Maaf Ma, tapi aku nggak seperti Mama, aku udah menganggap Kak Naya seperti Kakak aku sendiri dan aku sayang sama dia. Udah cukup selama ini aku nurut sama Mama dan terpaksa jauhin Kak Naya...," ujar Steffany dengan nada dingin.
"Aku kangen sama dia dan aku mau ketemu sama dia, tanpa seizin mama sekalipun aku nggak peduli," imbuhnya dengan nafas memburu menahan kekesalan di dadanya agar tak membludak. Kemudian gadis berparas cantik itu menuruni tangga melanjutkan langkahnya keluar dari rumah, mengabaikan sang ibu yang berteriak melarangnya.
"STEFFY! JANGAN PERGI KAMU! HEI!"
Steffany menghapus kasar air mata yang keluar dari ujung matanya, ia benci sikap egois Mamanya, meskipun begitu ia tetap menyayangi wanita yang sudah melahirkannya itu. Hatinya berdenyut sakit ketika mendengar teriakannya, tapi ia tetap pada niatnya untuk mengunjungi rumah kakak dan kakak iparnya.
******
Baru saja Kanaya ingin menutup pintu rumahnya seusai kepergian Lee, seketika gerakannya terhenti melihat Steffany berlari menuju ke arah pintu rumahnya. Sejenak Kanaya terkesima bahkan sampai pangling melihat adik suaminya itu memakai penutup kepala.
"Assalamualaikum," ucap Steffany tergesa-gesa.
"Wa'alaikumsalam," balas Kanaya membuka pintu selebar-lebarnya, menyambut sang adik ipar yang ia rindukan.
"Masyaallah, Steffy, hampir aja kakak nggak ngenalin kamu," tutur Kanaya sembari memeluk Steffany hangat.
"Cocok nggak aku pakai hijab?" tanya Steffany menginginkan pendapat kakak iparnya.
"Masyaallah, Steffy, kamu dan semua wanita di dunia ini cocok memakai hijab."
"Alhamdulillah kak, aku lagi belajar membiasakan diri untuk memakai hijab."
"Alhamdulilah, kakak happy banget dengernya. Semoga kamu bisa semakin istiqomah, ya?"
"Aamiin."
"Ya udah ayo masuk, jangan berdiri depan pintu."
"Nanti jodohnya balik lagi ya kak?" canda Steffany diiringi tawa renyah.
"Memang kamu mau jodoh kamu balik lagi."
"Ih jangan dong! Aku nggak rela kalau sampai Nathan gagal nikahin aku," balas Steffany cepat.
__ADS_1
"Haha, kamu sih ngapain bahas mitos itu, dek. Udah jangan khawatir, mana bisa Nathan lepasin gadis sebaik kamu," kelakar Kanaya tak berniat menakuti adik iparnya tersebut.
"Hmm, aku tuh kangen banget tahu sama suasana rumah ini," ungkap Steffany sambil menjatuhkan badannya di atas sofa empuk di depan televisi.
Kanaya ikut duduk di sofa tepatnya di sebelah Steffany, "Jadi cuma gara-gara kangen sama suasananya aja nih kamu main ke sini?"
"Nggaklah! Aku lebih kangen sama penghuninya, terlebih Kak Naya."
"Aduh manis banget sih adik ipar aku ini," ujar Kanaya sembari mencubit pelan pipi Steffany.
"Sebentar, kakak punya sesuatu buat kamu," sambung Kanaya sebelum beranjak pergi ke dapur, entah ingin mengambil apa.
Sementara menunggu, Steffany yang tak bisa diam kala bosan pun memutuskan untuk menghidupkan televisi dan memilih untuk menonton film yang belum rampung ia tonton semalam.
Sekitar 15 menit kemudian Kanaya kembali membawa dua mangkuk berisi bakso dan sosis kuah tomyam yang terlihat menggiurkan.
"Wah-wah pantesan harumnya bikin perut keroncongan. Kak Naya tahu aja aku belum makan siang," ucap Steffany dengan mata berbinar tak sabar ingin mencicipi bakso + sosis kuah tomyam buatan kakak iparnya yang keahlian memasaknya semakin lama semakin berkembang pesat.
"Silahkan dicoba, kalau nggak enak dihabisin aja." Steffany tergelak mendengar penuturan Kanaya yang terlampau rendah hati. Padahal ia yakin masakan iparnya itu sudah pasti enak.
"Apaan sih Kak, di mana-mana kalau nggak enak itu jangan dilanjutin, kalau enak baru dihabisin."
"Hahaha... Kakak bercanda Steffy. Udah ayo dimakan, nanti keburu dingin lagi, rasanya lumayan enak kok," usul Kanaya.
Setelah makan-makan dan berbincang-bincang asyik, tak terasa hari sudah semakin sore, Kanaya berinisiatif untuk mengajak Steffany sholat ashar bersama-sama.
Dengan rasa penasaran ia berjalan ke kamar kecil untuk meminta penjelasan kakak iparnya tentang buku hasil penemuannya itu. Apa benar ia akan menjadi seorang bibi?
"Eh, Steffy wajah kamu ... kenapa?"
Steffany yang berwajah tegang memperlihatkan penemuannya di hadapan Kanaya, "Apa ini kak?"
"Kenapa Kak Naya nggak ngasih tahu aku kalau kakak hamil?!" nada suara Steffany terdengar agak kecewa.
Kanaya menghela nafas panjang lalu menggandeng tangan Steffany dan menyuruhnya untuk duduk di sofa. "Sebenarnya kakak mau kasih tahu soal ini dari sebulan yang lalu."
"Oppa tahu soal ini?"
Kanaya menggeleng murung sambil menatap lantai. "Andai permasalahan rumah tangga kakak nggak serumit sekarang, mungkin kakak akan antusias dan langsung memberitahunya kalau ia sebentar lagi akan jadi seorang ayah."
"Aku khawatir kalau aku ngasih tahu kamu, kamu bakal ngomong ke Mas David, jadi aku merahasiakannya sampai bertemu waktu yang tepat."
Steffany membalas genggaman Kanaya ditangannya dengan erat lalu menatap kakak iparnya itu. "Aku nggak tahu persis gimana masalah kalian. Tapi yang jelas, Mas David harus tahu kalau kakak lagi hamil anaknya."
Kanaya menggeleng kokoh pada pendiriannya. "Sementara ini jangan kasih tahu Mas David dulu ya, Steff. Biarkan dia menyelesaikan urusannya terlebih dulu."
Steffany terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk untuk ikut merahasiakan kehamilan kakak iparnya terutama dari sang kakak yang kini sedang berada di luar negeri.
"Oke kak, aku bakal lakukan sesuai kemauan kakak."
__ADS_1
"Makasih ya," ucap Kanaya sembari memeluk adik iparnya yang selalu berpihak kepadanya itu.
"Maaf kak, tapi aku nggak janji bakal terus diam kalau keadaannya mendesak," batin Steffany berbeda.
******
"Hasilnya menyatakan bahwa sembilan puluh sembilan persen Ananda Lee Hyunki adalah anak kandung Pak David Steven Lee."
"Hah? Nggak mungkin dok, coba saya lihat." Lee merebut kertas hasil pemeriksaan DNA yang dipegang oleh Dokter kepercayaan rumah sakit itu.
"Kenapa David? Kamu nggak terima kalau memang Hyunki itu darah daging kamu?" tuduh Georgina yang berdiri di samping Lee dengan nada menohok.
Dengan perasaan berkecamuk Lee merobek dan melempar kertas hasil tes DNA itu ke tong sampah. Disaksikan oleh Georgina yang menganga tak percaya melihat tindakan itu dan Dokter James yang hanya bisa mengelus dada.
Lee membalikkan badannya dan bergerak menarik lengan Georgina dengan kasar, menyeret perempuan gila itu keluar dari kantor Dokter James. Dengan emosi tak terkendali Lee mencengkeram bahu Georgina dan menatap tajam mata yang mulai ketakutan itu dengan mata elangnya yang berapi-api.
"Ini pasti ulah kamu lagi kan?! Ngaku! Aku tahu kamu bisa melakukan apapun untuk menghancurkan rumah tanggaku dan Kanaya. Sekarang lebih baik mengaku, kamu kan yang memalsukan hasil tes DNA itu! Jawab?!"
Georgina memberontak dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Lee. "Lepasin aku dulu! Baru aku mau bicara."
Lee mengalah sejenak dan menarik tangannya dari bahu Georgina. Membebaskan wanita yang sepertinya ingin mengakui perbuatannya itu. Tapi dugaan Lee ternyata salah, Georgina malah mengeluarkan skill aktingnya, air mata buaya mulai membasahi pipi tirus wanita itu.
"Tega-teganya kamu mengelak dan menuduh aku memalsukan bukti, jelas-jelas kamu ayah dari anak aku, Lee! Hyunki darah daging kamu itu alasannya aku kasih dia nama marga kamu."
"Aku nggak akan bisa percaya lagi sama ucapan perempuan yang pernah menyepelekan kepercayaan terbesar yang pernah aku beri." Mata Lee menggambarkan kebencian dan luka yang tak dapat dijelaskan saat ia menatap Georgina.
Flashback.
Masa SMA adalah masa yang berbunga-bunga bagi sebagian remaja. Tak terkecuali Lee si anak broken home yang menjadi korban perceraian kedua orangtuanya sejak SMP. Lee remaja belum bisa menerima kehadiran Mama dan adik tirinya yang lahir beberapa hari setelah perceraian kedua orangtuanya, ia terluka dan menjadi pemurung saat itu.
Namun kehadiran seorang gadis ceria yang menyukai seni terlebih menyanyi dan menari membuat hidupnya jauh lebih baik, ia merasa terhibur dan merasa kalau hanya Georgina lah yang mengerti apa yang ia rasakan.
Di saat suram ada Georgina yang menawarkan cahaya warna-warni di hari-harinya. Hingga Lee remaja pun jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Seiring kebersamaannya dengan Georgina, Lee menjadi ketergantungan akan kehadiran gadis itu, ia tak bisa sehari saja tanpa gadis itu, seakan ia akan mati kesepian.
Suatu hari mereka berjanji akan selalu ada untuk satu sama lain. Namun saat kelulusan tiba, orang tua Georgina menawarkan kesempatan kepada anaknya untuk mendalami seni dan memulai karir di Rusia tepatnya di negera asal ibunya. Georgina yang waktu itu baru lulus ingin sekali mewujudkan impiannya menjadi seorang aktris.
Tanpa memikirkan Lee ia pun memutuskan untuk mengambil kesempatannya dan meninggalkan Lee. Padahal waktu itu Lee benar-benar sudah ketergantungan padanya. Georgina pergi secara diam-diam mendadak tanpa sepengetahuan Lee, jelas itu membuat Lee terluka dan merasa amat kehilangan hingga mengalami depresi.
"Asal kamu tahu, kamu adalah bagian dari kisah masa lalu yang tak pernah ingin aku ingat apalagi ulang." Setelah mengatakan itu Lee kembali ke ruangan Dokter James dan berbicara empat mata dengan Dokter yang diam-diam mendukung Georgina tersebut.
Sekian menit kemudian Lee memutuskan untuk enyah dari rumah sakit usai dikecewakan. Di dalam mobil sakit kepalanya kambuh dan ia mulai membentur-benturkan kepalanya di stir mobil sebelum menjernihkan pikirannya dan meminta hasil tes DNA dari rumah sakit lain. Tanpa sepengetahuan siapapun Lee yang sudah berjaga-jaga rupanya meminta rumah sakit lain untuk memeriksa DNA-nya dengan DNA Hyunki.
"Baiklah, hasil pemeriksaan yang Pak David minta adalah negatif."
Bersambung....
Lega? Plong? Gimana rasanya para pembaca?
Aku sih campur aduk. Semoga kalian puas ya sama part ini.
__ADS_1