Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 14 (I Know You But, You Don't Know Me)


__ADS_3

"Naya ... udah siap belum?" panggil Lee yang menunggu sang istri di ruang tamu sambil menonton acara berita di televisi.


"Sebentar Mas, aku lagi pakai lipcream!" sahut Kanaya dari dalam kamar.


Lee mematikan televisi lalu pergi ke kamar untuk menengok istrinya, tampaknya ia tak bisa menunggu lebih lama lagi dan ketika masuk ke dalam kamar, Lee kaget melihat penampilan Kanaya yang kali ini tampak modis dan fashion able karena biasanya istrinya itu selalu tampil sederhana karena katanya sederhana itu simpel dan simpel itu sederhana. Itu sudah semacam semboyan dari Kanaya sendiri.


Blouse putih berpadu dengan pasmina sifon berwarna toska membuat Kanaya tampil anggun dan imut di saat yang bersamaan. Dalam hati Lee tak berhenti memuji kecantikan istrinya itu. Lee akui kalau Kanaya jauh lebih cantik dan imut jika di bandingkan dengan Aisyah yang sudah beranak satu, tapi entah mengapa hatinya tak bisa merasakan debaran-debaran cinta saat ia bersama Kanaya. Apa itu karena dia terlalu membatasi dirinya?


"Mas? Mas David? Hei ... kenapa kamu malah bengong?" tegur Kanaya sembari melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Lee yang menatapnya tanpa berkedip.


"Eh, itu, kamu ... kamu cantik banget hari ini," jawab Lee secara spontan. Wajah Kanaya langsung memerah seperti udang rebus, ia tak menyangka Lee akan memuji penampilannya.


"Ooh, berarti hari sebelum-sebelumnya aku gak cantik, gitu?" Kanaya mencebikkan bibirnya, pura-pura merajuk.


"No! you always look pretty, bahkan sejak pertama kali kita bertemu," sela Lee sambil menyentuh semburat merah jambu di pipi mulus Kanaya dengan ibu jarinya, membuat istrinya itu semakin tersipu malu.


Tanpa basa-basi tangan kokoh Lee meraih tangan mungil Kanaya lalu digenggamnya dengan erat, seakan ada yang ingin membawa Kanaya pergi meninggalkannya. Kanaya tak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya saat mendapatkan perlakuan manis yang tak biasa dari suaminya itu. Ia tersenyum seraya memandang wajah tampan Lee yang seperti heroin baginya.



Ketika mereka sudah di depan mobil Lee berinisiatif membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Kanaya masuk ke dalam. Pria itu memperlakukan Kanaya seperti princess, benar-benar tidak seperti biasanya. Kanaya sendiri bingung kenapa suaminya itu tiba-tiba bersikap manis, tapi Kanaya berusaha berpikir positif bahwa mungkin saja Lee ingin berubah dan mau belajar mencintainya.


"Sabuk pengamannya jangan lupa dipake ya, Nay."

__ADS_1


"Iya Mas, ini udah," jawab Kanaya sambil menunjuk-nunjuk sabuk pengaman yang telah melingkar di badannya.


"Smart girl," puji Lee sembari mengecup puncak kepala Kanaya. Jujur Kanaya kaget mengetahui kalau ternyata Lee juga bisa menjadi suami yang romantis seperti dalam impiannya.


"Nanti mau makan apa pas udah sampai pantai?" tanya Lee seraya menjalankan mobilnya keluar dari komplek dimana rumah mereka didirikan.


"Kalau aku mau makan kerang sama salmon, kamu mau apa?" Lee mengulang pertanyaan yang sama.


Kanaya menggigit jari telunjuknya, ia sedang mempertimbangkan seafood apa yang enak dan aman ia konsumsi. "Mau lobster sama cumi deh, Mas. Tapi aku mau kamu yang kupasin cangkang lobsternya. Mau kan? Soalnya aku gak bisa."


Lee menoleh dan menatap Kanaya dengan lembut, senyuman manis muncul di bibirnya, membentuk kotak yang selalu berhasil membuat hati Kanaya berbunga-bunga. "Apa sih yang nggak buat kamu, chagia," ujarnya membuat Kanaya tersipu malu mendengar Lee menyebutnya dengan sebutan chagia yang berarti sayang.


"Thank you," ucap Kanaya diiringi senyuman manis.


"Me too, chagia," balas Lee yang setelah itu kembali fokus menyetiri mobilnya karena telah mencapai area jalan raya yang dipadati pengendara roda dua.


Suara deburan ombak dan indahnya lautan lepas memanjakan mata Kanaya dan Lee yang baru saja sampai di pantai Ancol. Kenapa mereka memilih pantai Ancol? Sebab hanya pantai itulah yang jaraknya paling dekat dari tempat tinggal mereka sekarang.


"Kapan-kapan kita harus ke Bali supaya bisa melihat pantai yang jauh lebih indah daripada ini," ucap Lee sembari memeluk tubuh mungil Kanaya dari belakang, melindungi gadis itu dari dinginnya hembusan angin laut.


Bibir ranum Kanaya membentuk senyuman bahagia, ia merasa nyaman berada di pelukan Lee sebab pelukan itu dapat menghangatkan relung hatinya yang selama ini beku.


Bukan hanya memeluk, Lee juga menyandarkan dagunya di bahu mungil Kanaya, mencuri kesempatan mengecup pipi gadis yang dua tahun lalu telah dinikahinya itu.

__ADS_1


"Kapan mau makan seafood nya?" tanya Lee sambil menempelkan ujung hidungnya di pipi kanan Kanaya yang sejak tadi kesulitan bernapas karena saking nervous nya.


"Se... Sekarang juga boleh. Hm... Mas, boleh jauhkan sedikit wajah kamu dari pipiku? Mereka melirik ke arah kita." Mereka yang Kanaya maksud adalah orang-orang yang juga tengah mengunjungi pantai Ancol.


"Mereka terus melihat ke arah kita, Mas. Sepertinya kita harus berhenti mengumbar kemesraan di sini," cetus Kanaya.


Lee menggelengkan kepalanya tak setuju dengan permintaan kedua Kanaya. Pria itu malah semakin mempererat pelukannya di tubuh Kanaya. "Kamu nggak perlu malu Naya, aku ini suami kamu. Kita udah halal mau ngelakuin apa aja, jangan hiraukan mereka," tegasnya tak terbantahkan.


Akhirnya Kanaya pasrah dan memilih untuk menikmati perlakuan romantis Lee yang sejujurnya jarang ia dapatkan. "Mas, kamu masih ingat nggak momen pertama kali kita ketemu dulu?" tanya Kanaya yang tiba-tiba ingin bernostalgia.


Suara kekehan keluar dari mulut Lee, pria itu mengingat betapa lucunya kejadian waktu ia pertama kali bertemu Kanaya di pesantren dulu. "Aku masih ingat dan mustahil bisa lupa, itu momen yang lucu yang selalu bikin aku ketawa setiap kali mengingatnya," jawab Lee seraya memberikan kecupan kecupan kecil di puncak kepala Kanaya yang tertutup pasmina.


"Waktu itu aku kesal banget sama Bang Robbie, habis bisa-bisanya dia ngasih aku kado yang isinya pakaian dalam. Yang bikin aku kesal adalah dia bohongin aku dengan bilang kalau kado yang dikasihnya lewat kamu itu merupakan barang spesial yang aku idam-idamkan. Jadi waktu itu aku excited banget sampai langsung unboxing kadonya di depan kamu. Hahaha, aku malu banget sama kamu waktu itu sampai rasanya mau pindah ke planet lain."


"Aku pun merasakan hal yang sama waktu itu, aku malu dan takut kamu bakal gimana-gimana, jujur aku juga marah sama Robbie sampai aku berniat buat mukulin dia sepulang dari pesantren kamu," timpal Lee diiringi tawa kecil.


"Kayaknya Bang Robbie sengaja ngerjain kita supaya kita bisa deket, tapi bukannya malah deket, aku jadi malu banget kalau ketemu kamu," aku Kanaya sambil menatap pantulan wajah Lee di atas air laut yang lumayan tenang.


"Tapi kita harus berterima kasih sama Robbie karena berkat dia kita bisa mengenal satu sama lain sampai sejauh ini," ucap Lee yang kemudian menenggelamkan wajah tampannya di tengkuk Kanaya.


"Apa benar kita mengenal satu sama lain, Mas? Aku meragukan perkataan mu. Bukan kah selama ini hanya aku yang mengenal kamu sementara kamu tak tahu banyak tentang aku?" Kanaya membatin seraya mengigit bibir bawahnya menahan kesedihan yang sudah dua tahun dia pendam sendirian.


Ternyata di balik momen manisnya bersama Lee, kesedihan masih tetap merundung hati Kanaya, menjadikan senyuman manis yang semula terukir kini menghilang dari bibirnya.

__ADS_1


...Bersambung.......


...Hayo siapa yang nungguin? Absen pakai 🥰🥰 yuk! Buruan like dan komentar ya. See you soon!...


__ADS_2