Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 44 | Anak Itu... Lagi?


__ADS_3

Jantung Georgina berdegub sangat kencang saat matanya memandang ke arah Lee dan Kanaya yang secara kebetulan memasuki kereta yang sama dengannya. Refleks, Georgina langsung memeluk putranya seraya menggenggam tangan bocah berumur 4 tahun itu untuk mengalihkan perhatiannya supaya tak ikut melihat ke arah Lee.


Namun Lee malah menggandeng tangan Kanaya dan berjalan mendekat ke arah Georgina. "Hai, tak di duga kita bertemu di sini," sapa Lee seperti teman akrab yang sudah lama tak berjumpa.


Keramahan yang Lee tunjukkan membuat lidah Georgina kelu. Sulit bagi perempuan itu untuk membalas sapaan laki-laki yang masih ia cintai karena bisa ia lihat dengan jelas dengan matanya sendiri kalau laki-laki itu sudah menggandeng mesra tangan perempuan lain yang ia pilih untuk dijadikan istri.


"H-hai," balas Georgina dengan senyuman kikuknya. "Kalian udah lama di Korea?" tanya Georgina terdengar sangat canggung.


Melihat hal itu Kanaya tidak tinggal diam, ia tidak membiarkan Lee menjawab pertanyaan Georgina. Oleh karena itu dia mendahuluinya. "Enggak kok, kita baru aja sampai."


Diam-diam Lee tersenyum menyadari Kanaya yang secara terang-terangan menunjukkan keposesifan di depan mantan kekasihnya. Ia sangat menyukai tindakan posesif istrinya itu karena jarang-jarang ia bisa melihat Kanaya memberanikan diri untuk melakukan itu di depan matanya.


"Rencananya kita mau honeymoon di sini selama satu bulan, iya kan sayang?"


Lee mengangguk sambil tersenyum, lalu salah satu tangan kekarnya bergerak mengusap puncak kepala Kanaya dengan sayang. "Iya, sayang," jawabnya menambahkan.


Georgina menipiskan bibirnya getir, kemesraan itu tidak seharusnya ia lihat karena sangat tidak baik untuk hatinya yang kebakaran.


"Oh iya, Mommy lupa belum beli stok dapur, nak. Kita balik lagi ke supermarket ya?" Tiba-tiba Georgina mengajak Hyunki putranya untuk keluar dari kereta sebelum kereta itu berjalan. Hyunki dengan tatapan sendunya hanya bisa mengangguk, anak itu tidak membantah karena ia tahu kalau ibunya sengaja menghindar dari lelaki yang mirip dengan ayahnya dan ia tidak mau menyusahkan sang ibu.


"Maaf ya, David, Kanaya, aku nggak bisa jalan bareng kalian, masih ada keperluan lain, permisi," pamit Georgina yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Lee dan Kanaya.


Setelah Georgina dan anaknya pergi dari kereta Lee baru sadar dengan keberadaan anak kecil yang tadi bersama Georgina. Apa benar anak itu adalah anak kandung mantan kekasihnya tersebut?


Ketika Lee ingin memastikan hal itu dengan cara mengejar langkah Georgina dan menanyakan langsung kepada perempuan itu, tanpa permisi Kanaya menyandarkan kepalanya di bahu tegapnya. Oleh karena itu Lee harus memendam rasa ingin tahunya untuk menjaga perasaan Kanaya yang kini kelelahan.


"Duduk dulu yuk, supaya nanti kamu bisa tidur selama perjalanan," ajak Lee sembari menuntun Kanaya ke arah kursi yang telah ia booking. Sementara Kanaya yang sudah sangat kelelahan serta jetlag hanya bisa mengangguk dan menuruti apa kata suaminya itu demi kebaikannya sendiri.


"Pinjam bahu kamu ya, aku capek banget nih, udah nggak karuan rasanya, pusing, mual. Mau cepat-cepat sampai," rengek Kanaya saat ia dan Lee sudah duduk di kursi yang nyaman.


"Enggak perlu pinjam sayang, bahu ini milik kamu, kamu bisa bersandar di sini kapan dan dimana pun kamu mau. I'm yours, baby. Maaf ya udah ngajak kamu ke sini secara mendadak dan bikin kamu capek."

__ADS_1


"It's okey, Mas David. Aku malah senang bisa berkunjung ke negara kelahiran kamu...," ucap Kanaya sebelum akhirnya tertidur dengan pulas. Usapan lembut tangan Lee di puncak kepalanya yang tertutup hijab panjang membuatnya merasa nyaman.


"Selamat tidur sayang, aku bakal bangunin kamu begitu udah sampai ... i love you," bisik Lee seraya menatap wajah damai Kanaya dengan tatapan lembut penuh kasih.


*****


"Lho? Kok kita malah ke sini, Mas?" tanya Kanaya kebingungan karena begitu turun dari kereta, ia malah diajak ke restoran yang menjual odeng dan topokki.


"Makan malam dulu ya, aku enggak tega lihat kamu lemas kayak gitu."


"Masyaallah, kamu pengertian banget sih, Mas. Makasih ya." Hati Kanaya begitu bahagia mendapatkan perhatian dari sang suami.


"Sama-sama sayang, ya udah ayo cari tempat duduk, kamu mau pesan apa?"


Kanaya tampak berpikir, sejujurnya seumur-umur ia belum pernah mencoba makanan khas Korea sebab berdasarkan pengalamannya, lidahnya tidak ramah dengan makanan-makanan luar negeri. Jadi, selama ini ia terlalu enggan bahkan untuk sekedar mencicipi.


"Gimana kalau topokki?" tawar Lee yang peka kalau sang istri tengah kebingungan.


"Yang pedas itu ya?" tanya Kanaya.


"Enggak deh, aku lagi nggak mau makan yang pedas-pedas dulu, perutku masih mual, Mas."


"Ya udah, gimana kalau odeng? Tenang, ini enggak pedas kok. Rasanya mirip otak-otak, kamu pasti suka."


"Oke, boleh deh yang itu, minumannya yang segar-segar ya, Mas."


"Jus jeruk keprok khas Jeju?"


"Serius minuman itu ada di sini?!"


"Ada dong, sayang. Biarpun ini Daegu, tapi minuman itu pasti ada di sini, karena banyak peminatnya. Lihat deh di buku menunya," jawab Lee yang langsung membuat wajah Kanaya tampak bersemangat, mata yang tadi terlihat lelah kini berbinar terang.

__ADS_1


"Ya udah Mas, buruan pesan minuman itu sekarang juga! Jangan sampai kehabisan, soalnya aku penasaran banget sama rasa aslinya," titah Kanaya antusias.


"Siap ratuku, akan aku pesankan apa yang kamu inginkan itu." Setelah berkata demikian, Lee langsung berbicara dengan waitersnya dan tak lama kemudian datanglah dua mangkuk odeng, serta jus jeruk keprok Jeju yang Kanaya idam-idamkan.


"Selamat makan, jangan lupa berdoa dulu sayang."


Sebagai suami yang baik Lee memimpin doa, "Allahumma bariklanaa fiima rozaqtanaa, wa qina adzabannar, aamiin."


"Aamiin," jawab Kanaya mengamini setelah tadi ia ikut berdoa di dalam hati.


"Deg-degan nih, Mas. Soalnya dulu aku pernah cobain makanan khas Cina dan enggak cocok di lidah aku sampai aku ngerasa kapok."


"Yang ini beda sayang, odeng ini khas Korea, dan rasanya enggak beda jauh sama otak-otak yang sering kamu makan di Indonesia. Kuahnya juga enak dan bisa menghangatkan perut kamu yang lagi enggak nyaman, coba deh, cicipi dulu."


"Oke, bismillahirrahmanirrahim," dengan sedikit ragu Kanaya menyeruput kuah odeng yang masih agak panas.


"Hmm, basta," komentar Kanaya memakai bahasa Korea. Lee tersenyum lega mendengarnya. Kemudian laki-laki itu mengusap pipi Kanaya dan ikut makan bersama istrinya itu.


"Syukurlah kamu suka, kalau enggak aku bakal bingung cari penjual makanan Indonesia di mana," ujar Lee diiringi tawa leganya.


"Hehe, berarti lidah aku enggak se-anti yang aku kira, ya?" balas Kanaya yang telah kembali ceria karena energinya sudah terisi penuh.


Setelah menghabiskan makanan mereka Kanaya dan Lee tidak langsung bergegas, mereka menyempatkan untuk saling bertukar cerita terlebih dahulu.


Tiba-tiba terbersit sebuah pertanyaan di benak Kanaya, karena merasa penasaran ia pun memutuskan untuk melontarkan pertanyaan tersebut kepada Lee.


"Mas, kamu tahu enggak apa hubungan anak kecil itu sama Georgina? Kok tadi Georgina menyebut dirinya sebagai 'Mommy' di depan anak itu? Memang mantan kamu itu udah nikah ya? Itu beneran anak kandungnya atau anak hasil adopsi?" tanya Kanaya secara beruntun. Lee sampai bingung akan menjawab pertanyaan yang mana dulu. Terlebih ia juga tidak tahu pasti tentang apa yang tadi Kanaya tanyakan kepadanya. Ia sendiri menemukan kebingungan tentang siapa anak itu.


Seneng nggak aku update?


Kalau seneng, yuk komentar yang banyak! Biar aku semangat buat update lebih cepat dari biasanya.🥰🥰

__ADS_1


Semangat ya, puasanya.🙏☪️✨🤍


Semoga berkah selalu menyertai kita semua, aamiin.


__ADS_2