Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 19 (Doa dan Dukungan Seorang Istri)


__ADS_3

Dari sekian banyak kesedihan yang pernah ia rasakan, melihat wajah murung suaminya adalah hal yang paling menyedihkan bagi Kanaya. Dadanya merasa sesak, bukan karena asmanya kambuh melainkan karena tak tak tega melihat Lee terkulai lemah di ranjang, menatap kosong ke arah jendela kamar mereka yang terbuka.


Tanpa pikir panjang Kanaya naik ke atas ranjang lalu memeluk tubuh Lee dari belakang. Beberapa detik kemudian Lee menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan mungil Kanaya sebelum akhirnya membalikkan badannya, membalas pelukan sang istri, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Kanaya, meluapkan air matanya di sana.


Tangan halus Kanaya mengelus rambut hitam Lee, berusaha memberikan kenyamanan untuk suaminya itu. Agar Lee tak lagi bersedih apalagi sampai menitihkan air mata. Sebab ketika melihat butiran air mata suaminya itu jatuh, Kanaya merasa seperti ada ribuan jarum yang berlomba-lomba menusuk sanubarinya. Membuatnya terluka meski tak berdarah.


"Mas, pada dasarnya segala apa yang kita miliki ini adalah titipan dari Allah, jika Allah mengambilnya kembali, kita harus ikhlas. Allah tidak akan mengambil tanpa menggantikannya dengan yang lebih baik. Kita harus percaya bahwa di balik musibah kebakaran yang menimpa pabrik kamu di Sukabumi itu ada hikmah yang bisa kita renungkan." Kanaya mencoba menasehati Lee agar suaminya itu tidak terus-menerus larut dalam kesedihan.


"Jangan terus bersedih hati dan mengabaikan apa yang masih kamu miliki, bangkit dan genggam apa yang sekarang masih kamu miliki sebelum ia juga pergi meninggalkan kamu." Lee terhenyak saat kalimat itu keluar dari mulut Kanaya. Apa maksud istrinya itu? Tidak mungkin Kanaya akan meninggalkannya, bukan?


"Tak terkecuali aku, Mas. Malam ini mungkin aku masih ada di sini, menjadi istri kamu, memeluk tubuh kamu. Tapi besok tidak ada yang tahu, maka selagi aku bernafas dan masih bertahan di sini aku mohon cintailah aku selayaknya seorang istri. Jagalah aku dari semua hal yang aku takuti, sebagai timbal baliknya aku akan memberikan versi terbaik diriku, menyayangi kamu, mencintai kamu, menjadi rumah tempat kamu pulang, aku rela menjadi segalanya untuk kamu." Mendengar Kanaya berbicara seperti itu Lee langsung mempererat pelukannya di tubuh mungil sang istri, seolah tak mau kehilangan.


Ya, dia memang takut Kanaya pergi, dia takut Kanaya menyerah dalam menjalani biduk rumah tangga dengannya. Sebab Lee menyadari kalau selama ini hanya gadis itulah yang mau menerima semua perlakuannya, baik dan buruknya dia, sikap semena-menanya dan masih banyak lagi. Rasanya tak ada lagi perempuan yang bisa sesabar dan sekuat Kanaya dalam menghadapi dirinya yang suram dan kelam.


"Jangan tinggalin aku, Naya. Aku mohon bertahanlah di samping ku apapun yang terjadi, bersabarlah seperti yang kamu lakukan selama ini. Aku janji akan berubah menjadi suami yang lebih baik, yang lebih mengerti kamu, aku janji," ungkap Lee sungguh-sungguh.


Kanaya tersenyum lalu mengecup ujung hidung Lee yang mancung hingga empunya mengerjapkan mata kaget. Saat itu juga Lee merasakan kalau jantungnya memompa darah lebih cepat, jangan-jangan pipinya juga merona. Oh no! Lee langsung menutup pipinya dengan kedua tangan. Kanaya terkekeh melihat kelakuan suaminya yang malu-malu kucing.


"Mas deg-degan ya?" goda Kanaya sambil menaik-turunkan alisnya.


Dengan spontan Lee menggeleng namun sedetik kemudian ia menyesal telah membohongi Kanaya karena istrinya itu tidak langsung percaya dan malah membuktikannya sendiri. Kanaya menempelkan telinganya di dada Lee, memeriksa detak jantung suaminya itu yang ternyata berdetak dengan kencang.

__ADS_1


"Hayo ngaku, Mas David tadi bohong ya?" todong Kanaya sambil menatap wajah Lee yang bersemu-semu merah.


Lee membalikkan badannya membelakangi Kanaya karena merasa jantungnya sudah tak aman lagi apabila melihat wajah cantik sang istri yang tengah menggodanya. Jangan sampai dia khilaf dan ekhem! Tapi kalau khilaf pun tidak apa-apa sih, dia dan Kanaya kan sudah menikah.


"Yah, balik badan. Aku jadi gak bisa lihat rona merah jambu di pipi kamu lagi, deh."


"Aku lapar!" Lee sengaja mengalihkan topik pembicaraan dan Kanaya tahu alasan suaminya itu. Apalagi kalau bukan karena malu.


"Mau dimasakin apa suamiku?" tanya Kanaya berbisik lembut di telinga Lee, menciptakan desiran aneh di dada suaminya yang berwajah tampan seperti pangeran komik itu.


"A-aku, ma-mau ... pasta tapi pakai bumbu Ramyun," jawab Lee gagap. Membuat Kanaya tertawa di dalam hati, bibir gadis itu membentuk senyuman lalu dengan iseng ia mencium pipi Lee sebelum berlari ke arah dapur.


Sudut bibir Lee terangkat ke atas, membentuk senyuman kasmaran. Tanpa pria itu sadari, dirinya telah jatuh hati kepada istrinya sendiri. Ya, pada Kanaya. Gadis yang selalu sabar menghadapi segala bentuk sikap dan perlakuannya selama dua tahun terakhir.


Semangat Lee kembali berkobar, ia melupakan kesedihannya pasca pabrik induk perusahaan DSL beauty care nya terlalap api. Ia meninggalkan peraduannya lalu berjalan ke dapur, menghampiri Kanaya yang tengah menyajikan pasta bumbu Ramyun permintaannya di atas meja makan.


"Selamat makan suamiku," ucap Kanaya seraya menuntun Lee untuk duduk di kursi yang bersebelahan dengannya.


"Enak," kata Lee jujur ketika mencicipi pasta hasil masakan Kanaya. Kanaya yang mendapat respon positif dari Lee tersebut langsung merasa berbunga-bunga. Ia memandangi wajah Lee yang herannya tetap tampan walaupun mulutnya penuh dengan pasta.


"Tapi pedas! Hah!" Lee mengerutkan keningnya seraya menjulurkan lidah kepedasan. Dengan sigap Kanaya mengambilkan segelas yogurt cair dingin.

__ADS_1


"Ah, segarnya..., terimakasih istriku." Jujur itu pertama kali Kanaya mendengar Lee memanggilnya dengan sebutan "istriku" karena biasanya pria itu hanya memanggil namanya saja.


"Sama-sama, Mas. Oh iya Mas, tadi papa telepon aku, katanya besok malam kita harus datang ke acara syukuran peresmian rumah sakitnya papa yang di Bandung."


"Oh ya? Kok papa gak ngundang kita dari jauh-jauh hari ya?"


"Memangnya kenapa? Kamu gak bisa dateng?" tanya Kanaya penasaran.


"Seharusnya besok itu aku mau ke Sukabumi, aku mau selidiki sendiri penyebab kebakaran pabrik, tapi karena papa undang kita ke acaranya, ya udah ... aku cancel aja rencana ke Sukabumi nya."


"Aku curiga kalau pabrik aku itu kebakaran bukan karena korsleting listrik melainkan ada yang memang sengaja membakarnya."


"Tapi kamu gak boleh su'udzhon sama orang dulu lah, Mas," peringat Kanaya yang khawatir kalau suaminya akan berprasangka buruk ke orang yang salah.


"Bukannya su'udzhon, aku cuma ngerasa ada yang janggal aja belakangan ini," ungkap Lee dengan sedikit kegelisahan di wajahnya.


"Semoga aja kecurigaan kamu itu gak benar ya Mas."


"Aamiin."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2