Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 20 (Hati Yang Remuk)


__ADS_3

Seusai mendirikan ibadah sholat isya', Lee mengajak Kanaya ke salah satu butik ternama di Jakarta. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk membeli tuksedo dan dress yang akan ia dan Kanaya kenakan di acara syukuran peresmian rumah sakit baru milik papa dan mamanya besok malam nanti.


Kanaya sangat excited begitu sampai di butik, ia mulai berkeliling mencari dress panjang yang kira-kira cocok dengannya. Sedangkan Lee sendiri menuju ke salah satu ruangan yang penuh dengan tuksedo-tuksedo dari brand-brand mahal seperti Louis Vuitton, Armani, dan Gucci.


Kanaya yang tak terlalu mengerti fashion meminta bantuan pegawai butik untuk memilihkan baju, tas, sepatu beserta perhiasan yang sekiranya cocok untuk ia pakai. Karena ia ingin tampil berbeda sekaligus memukau di acara Mertuanya. Untungnya, pegawai Butik yang merupakan seorang perempuan itu mau membantu Kanaya, dia membawa Kanaya ke sebuah ruangan yang di dalamnya bagaikan kerajaan fashion wanita. Segalanya ada di sana, mulai dari dress, gaun, tas branded, sepatu, high heels, dan perhiasan seperti kalung, gelang, cincin yang indah-indah. Ini sih surganya kaum hawa, batin Kanaya yang hatinya kembang kempis melihat bandrol harga barang-barang yang di lihatnya sekarang.


"Mbak, sepertinya ini cocok buat mbak." Kanaya sontak menoleh dan melihat long dress yang di tunjukkan pegawai Butik.


Kanaya menggelengkan kepalanya, kurang suka dengan long dress yang ditunjukkan oleh pegawai tersebut. "Terlalu mewah mbak, saya maunya yang simpel dan elegan," katanya sekaligus mengungkapkan dress seperti apa yang dia inginkan.


"Oh, oke ... sebentar saya carikan dulu," ucap pegawai Butik itu yang kemudian mencari dress yang sesuai dengan permintaan Kanaya tadi.


Tak lama kemudian pegawai itu kembali dan kali ini membawa dress panjang (abaya) berwarna putih gading dengan lapisan brokat warna merah yang menghiasi sisi kanan dan kirinya yang menjuntai ke bawah, perfect! Kanaya menyukainya.



"Gimana Mbak? Suka nggak?" tanya si pegawai.


"Suka, suka banget! Saya mau beli yang ini," jawab Kanaya dengan nada antusias.


Untuk melengkapi outfit syukurannya, Kanaya yang di bantu pegawai Butik akhirnya menjatuhkan pilihannya pada tas Chanel berwarna merah yang serasi dengan long dress nya tadi. Setelah itu ia berjalan ke etalase tempat perhiasan dan memilih sebuah kalung dengan permata merah yang menarik perhatiannya. Masih bersama pegawai Butiknya, Kanaya menelusuri lemari-lemari kaca tempat di mana high heels berjejer rapih.


"Aku mau heels dari Chanel yang warna silver gold itu," pinta Kanaya to the point seraya menunjuk apa yang dia mau.


"Baiklah, nanti saya ambilkan. Mbak silahkan duduk di sofa dulu sementara saya mengemas barang-barang yang Mbak beli," ujar pegawai Butik yang kemudian pergi ke tempat kasir, mengemas dress, tas, high heels, hingga perhiasan yang di beli Kanaya.


"Mas? Kamu udah selesai belum?" Ternyata Kanaya menghampiri Lee yang dari tadi masih bingung memilih tuksedo. Padahal semua tuksedo di Butik itu cocok bila dipakai oleh pria setampan dirinya.


Lee membalikkan badannya, menghadap ke Kanaya sambil menenteng tuksedo berwarna maroon di tangannya. "Bingung aku Nay. Menurut pendapat kamu aku cocok gak pakai yang maroon ini?" tanya Lee meminta pendapat istrinya.

__ADS_1


"Cocok, tapi terlalu mencolok."


"Kalau yang ini aja gimana?" Kanaya mengambil sebuah tuksedo berwarna hitam.


"Bagus sih, tapi aku tuh udah sering banget pakai tuksedo warna hitam, Nay."


Kanaya memutar bola matanya lalu menaruh kembali tuksedo warna hitam yang tadi ia ambil. Setelah itu ia berkeliling dan menemukan tuksedo berwarna merah gelap, ia pun segera mengambilkannya dan menghampiri Lee. "Mas, lihat deh. Ini kayaknya cocok sama kamu, warna merahnya juga oke, gak terlalu terang kayak tadi," ujarnya.


Lee mengangguk setuju lalu mengecup kening Kanaya dan tersenyum ke arah istri cantiknya itu. "Ya udah aku beli yang itu," sahut Lee yang tertarik dengan tuksedo yang Kanaya temukan.


"Eh, coba pakai dulu deh, Mas." Lee tak menolak, ia melepaskan jaketnya lalu memakai tuksedo pilihan Kanaya. Benar saja, Lee terlihat jauh lebih tampan memakai tuksedo berwarna merah tua itu, sampai-sampai terbesit rasa takut di hati Kanaya, ia takut akan semakin banyak wanita yang menyukai suaminya itu. Ia takut pelakor-pelakor di luar sana mengincar suaminya.


"Nay, pakaikan dasinya dong," pinta Lee seraya memindahkan dasi yang dipegangnya ke tangan Kanaya.


"Nunduk Mas, kamu gak lupa kan kalau tinggi badan kamu itu 180 senti sedangkan tinggi badan aku cuma 160 senti?"


Boxy smile seketika muncul di bibir Lee ketika Kanaya mengingatkannya tentang seberapa jauh perbandingan tinggi badan mereka. "Kamu sih gak tinggi-tinggi," ceplosnya bercanda.


"Iya, kamu tinggi kok, tinggi heels nya maksudku." Lee kembali berulah, ia menjahili Kanaya dan membuat gadisnya itu cemberut.


Akhirnya Lee juga yang gemas, ia mencuri kecupan di bibir Kanaya dan membuat gadis itu mematung di tempatnya berdiri. Kemudian dengan raut tak percaya ia memegang bibirnya yang baru saja di kecup oleh Lee. Melihat reaksi polos Kanaya, Lee jadi malu, ia mengalihkan pandangan ke arah tuksedo-tuksedo yang terpajang di lemari kaca. Meskipun hanya sekilas, tapi mampu mendebarkan hati Kanaya, menimbulkan euforia kebahagiaan, sehingga Kanaya merasakan seperti ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.


Lee pun merasakan hal yang sama, pria itu sangat nervous setelah mengambil first kiss istrinya sendiri. Tindakan itu sungguh di bawah kendalinya, di luar dugaannya, rasanya terjadi begitu saja sampai ia pun heran. Ada apa dengan hatinya? Apakah ia mulai jatuh cinta kepada Kanaya? Lee masih menangkalnya dengan mengatakan tidak mungkin.


Suasana di sekitar Lee dan Kanaya berubah jadi canggung, mereka tak tahu harus ngomong apa atau memulai pembicaraan seperti apa. Jadinya mereka hanya bungkam dan sama-sama melangkah menuju kasir untuk membayar dan setelah itu pulang ke rumah.


Baru setelah di mobil, Kanaya memberanikan diri untuk mengajak Lee bicara. "Mas ... lain kali kalau di tempat umum gak boleh kaya tadi, ya," cicitnya dengan semburat merah yang muncul menghiasi pipinya.


"A ... aku ... aku minta maaf, aku gak sengaja ngelakuin itu. Aku nyesel. Maafin aku ya. Kamu pasti marah ya? Malu ya? Aku juga sama, malu udah ngambil first kiss kamu." Kalimat yang keluar dari mulut Lee ternyata sangat jauh dari ekspektasi Kanaya. Gadis itu tidak menduga kalau suaminya itu baru saja mengakui kalau dirinya menyesal telah mengecup bibirnya. Padahal mereka sudah menikah, mereka sah menurut agama maupun negara. Tapi kenapa Lee harus menyesali tindakan yang semestinya tidak perlu dia sesalkan? Kenapa? Kenapa?!

__ADS_1


Dengan mata berkaca-kaca Kanaya memfokuskan pandangannya ke wajah Lee yang sekarang sedang fokus menyetiri mobil yang sedang mereka kendarai.


"Mas, kenapa kamu nyesel?" tanya Kanaya dengan rasa kecewa di hatinya.


Lee tak menjawab pertanyaan Kanaya, pria itu lebih memilih untuk diam seribu bahasa. Melirik Kanaya pun tidak. Memang dasarnya tidak peka dengan perasaan istrinya sendiri.


"Kenapa kamu gak jawab? Kenapa kamu diem aja?! Mas ... yang kamu cium itu aku, istri sah kamu, mestinya kamu gak nyesel Mas. Jujur aku kecewa sama kamu, tapi aku ingat kalau kamu gak cinta sama aku. Jadi kayaknya aku harus bisa memaklumi sikap kamu." Setelah meluapkan kekecewaannya, Kanaya memalingkan wajahnya ke samping, menghadap jendela mobil yang sengaja ia buka supaya hembusan angin malam bisa menerpa wajahnya yang kini dibasahi air mata.


'Salah aku apa sih, Mas? Kenapa kamu begitu enggan sama aku? Kenapa kamu mesti menyesal setelah mencium ku? Apa karena aku tidak semenarik perempuan yang pernah kamu kencani?' batin Kanaya seraya menitihkan air mata sendunya. Semilir angin malam dengan cepat mengeringkan air mata yang mengalir di sekitar pipinya hingga hanya menyisakan bekas yang samar.


"Sikap kamu selama ini sering bikin aku bertanya-tanya, kekurangan apa lagi yang belum aku perbaiki dalam diri ini? Kelebihan apa lagi yang harus aku punya supaya kamu jatuh cinta sama aku. Dan akhirnya kini aku sadar kalau semua usahaku itu sia-sia, aku tetap gadis yang biasa-biasa aja di mata kamu, gak lebih berarti dibandingkan sama wanita-wanita yang mungkin sampai sekarang masih singgah di hati kamu." Air mata Kanaya terus bercucuran hingga bukan saja membasahi pipinya melainkan juga ikut membasahi kerudung yang saat ini dia kenakan.


Sedangkan Lee tetap diam, memandang lurus ke arah jalanan di depannya dengan ekspresi datar, tak memperdulikan Kanaya yang sedang menangis tanpa suara di sampingnya. Sungguh tak punya hati? Kemana kah perginya sosok Lee yang dulu penuh perhatian itu?


Bahkan sesampainya di rumah pun, Lee tak membukakan pintu mobil untuk Kanaya, pria itu keluar dari mobil begitu saja tanpa meninggalkan sepatah kata pun pada Kanaya, membuat hati gadis itu semakin remuk.


Kanaya membuka pintu mobil lalu keluar dan menutup pintunya dengan kuat, sehingga menimbulkan bunyi yang keras. Kemudian Kanaya masuk ke dalam rumah, berlari ke kamarnya dan meluapkan rasa sakit yang begitu dalam di hatinya.


"Ya Allah, aku mohon kuatkan hati, mental, dan fisikku untuk mempertahankan pernikahan ini," pinta Kanaya sebelum terlelap karena kelelahan menangis.



Bersambung.....


Bagaimana perasaan kalian?πŸ₯²


Tolong tulis di kolom komentar karena aku penasaran banget.


Sampai di sini ada yang mau kasih saran buat kedepannya?☺️

__ADS_1


Tolong tulis juga di kolom komentar ya gaes!πŸ€—


Jangan lupa untuk like, komentar, vote cerita ini, share ke teman-teman kalian dan please follow aku ya, ladies.πŸ˜˜πŸ‘πŸ₯°


__ADS_2