
Ujung bibir Kanaya terangkat, membentuk senyuman geli saat melihat Lee dan Nathan saling berebut mangkuk bakso untuk di berikan kepadanya. Sedangkan Steffany yang duduk di sebelah Kanaya tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Nathan dan kakaknya yang sangat kekanakan. Gadis itu menyemangati Nathan dengan sorakan, membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Eh, kembalikan bakso saya!" seru Lee kesal.
"Enak aja, ini bakso gue," balas Nathan seraya memegang erat mangkuk bakso yang ada di tangannya.
"Hei! itu saya duluan yang ambil ya, kamu itu main rebut-rebut punya orang aja," serang Lee sambil mencoba merebut kembali bakso yang seharusnya menjadi miliknya.
"Udahlah pak, lo ngalah aja, masih mending bakso lo yang gue rebut, bukan bini lo, ya kan?" ledek Nathan yang membuat Lee meradang dan gemas ingin menendang pelipis bocah itu.
"Kurang ajar kamu ya!" umpat Lee dengan muka merah padam.
Nathan menjulurkan lidahnya. "Enggak papa kurang ajar, yang penting bisa penuh perhatian. Dari pada situ, baik tapi suka nyakitin hati orang," sindir Nathan yang sebenarnya sudah tahu kalau hubungan rumah tangga Lee dan Kanaya tidak berjalan dengan baik.
"Kamu jangan asal bicara ya, saya enggak segan-segan buat tutup mulut kamu pakai bogeman saya!" ancam Lee tak main main. Ia mencengkeram kerah kemeja Nathan. Steffany langsung berlari menuju ke arah mereka untuk menghentikan kakaknya.
"Oppa!" tegur Steffany sembari menarik Nathan menjauh dari Lee, akibatnya mangkuk di tangan Nathan jatuh dan menimpa kaki Lee. Sontak saja pria itu meringis kesakitan seraya melotot ke arah Nathan.
"Aduh panas," keluh Steffany yang ternyata tersiram kuah bakso yang masih panas. Melihat itu Nathan langsung gerak cepat menolong Steffany. ia menuntun Steffany ke tendanya lalu mengambil salep yang ia bawa di tas untuk dioleskan di betis Steffany yang memerah.
"Maafin aku, ya. Aku benar-benar enggak sengaja, tadi itu aku kehilangan keseimbangan," ucap Nathan dengan wajah merasa bersalah. Dengan telaten pria itu mengobati luka di betis Steffany, membuat perasaan gadis itu meleleh seperti butter yang dipanaskan.
Begitu mengetahui Lee terluka, Kanaya bergegas menghampirinya dan membantu suaminya itu berjalan menuju tenda mereka. Lee meringis merasakan linu di punggung kakinya.
"Awas saja kalau tulang kaki ku retak, aku tidak segan-segan mematahkan tangan bocah itu!" ujar Lee dengan ekspresi horor. Kanaya pun mengusap punggung kekar suaminya itu agar merasa tenang.
"Aku yakin kaki kamu nggak akan kenapa-napa Mas." Lee mencebikkan bibirnya saat Kanaya berkata demikian.
"Tapi kenapa sakit?" rengeknya kemudian.
__ADS_1
"Karena kaki kamu abis kejatuhan mangkuk, ya pasti sakit lah Mas, nanti aku pijat supaya sembuh," jawab Kanaya sembari membantu Lee masuk ke dalam tenda besar yang mereka dirikan sendiri.
"Lagian kamu ngapain sih pakai rebutan bakso segala sama Nathan, kayak anak kecil tahu nggak! Tahu gitu, aku nggak akan minta kamu buat ambil bakso di tenda konsumsi," omel Kanaya sembari memijat pelan kaki Lee, merilekskan otot-otot yang tegang usai terhantam mangkuk bakso tadi.
Lee diam saja, tak menanggapi omelan Kanaya. Pria itu malah asyik dengan ponselnya. Dengan geregetan Kanaya merebut ponsel Lee dan menyembunyikan benda pipih itu di belakang tubuhnya.
"Kalau istri lagi ngomong itu di dengerin!" tegurnya jengkel.
"Maaf," cicit Lee sambil mengedipkan matanya seperti anak kecil yang sedang membujuk ibunya.
"Maaf aja terus, nanti juga diulangi lagi," kata Kanaya kesal, ia lalu melihat postingan media sosial yang tadi dilihat oleh Lee.
Lee berusaha merebut ponselnya yang ada di tangan Kanaya, namun ia terlambat, Kanaya lebih dulu melihat postingan yang ia lihat tadi. "Aku pikir kamu serius mau lupain dia, tapi ternyata aku salah, kamu bahkan masih sering melihat dan menyukai postingan instagramnya. Jujur ya, Mas. Aku kecewa untuk kesekian kalinya sama kamu," ujar Kanaya yang kemudian keluar dari tenda.
"Naya! Kamu jangan salah paham dulu, aku bisa jelasin soal ini ke kamu!" sergah Lee.
Dan ia menemukan sebuah bukit yang landai, di sana tak ada orang selain dirinya. Ia pun duduk di bukit itu, termenung dalam kesendirian, mengisi kembali energinya yang terkuras emosi, menata kembali pecahan-pecahan hatinya. Membangun lagi tembok kepercayaan yang beberapa saat lalu dihancurkan oleh suaminya sendiri.
"Kenapa kamu selalu begini, Mas? Memberi harapan semu yang pada akhirnya mengecewakan aku. Apa salah kalau aku berharap kamu serius ingin melupakan masa lalu kamu?" Kanaya merasa miris karena telah berharap terlalu tinggi. Sejak Lee meminta maaf kepadanya di hari itu, ia mulai berangan-angan kalau Lee akan sepenuhnya melupakan Aisyah. Namun ia salah besar, suaminya itu hanya menipunya dan mungkin akan selalu seperti itu sampai seterusnya.
"Apa kurangnya aku Mas? Aku sudah berusaha menjadi menjadi yang terbaik untuk kamu, tapi kamu selalu memandang remeh usahaku, seolah itu adalah hal yang mudah dilakukan. Aku sedih, Mas. Selama dua tahu kita menikah, kamu tidak pernah menyentuh ku...."
"Orang lain pasti akan menertawakan aku apabila mereka tahu aku masih gadis meskipun sudah bersuami. Aku lelah, Mas. Lelah mengharapkan sesuatu yang semestinya tidak ku pedulikan lagi. Masa lalu itu masih melekat di otak mu entah sampai kapan, seharusnya aku tidak peduli itu, seharusnya aku mengacuhkannya." Kanaya meluapkan kekecewaan dan kesedihannya. Tangannya mengepal erat saat air bening menetes dari pelukan matanya, tanpa bisa ditahan ia pun menjerit sekencang-kencangnya. Tak peduli ada orang yang akan mendengar jeritan frustasinya.
"Kasihan, ternyata hubungan lo sama suami lo yang tampan itu enggak harmonis, ya?" celetuk seseorang yang entah sejak kapan berdiri di belakang tubuh Kanaya.
Tubuh Kanaya menegang mendengar celetukan orang yang tiba-tiba ada di belakangnya, ia pun menoleh dan menemukan Azkia sedang berdiri sambil melipat tangannya di depan dada.
"Gue bakal sebarin berita soal pernikahan lo yang nggak harmonis ke sosial media, kayaknya seru deh, bisnis suami lo pasti tercemar. Ah, benar-benar menarik," cetus Azkia dengan nada mengancam.
__ADS_1
"Memang kamu punya buktinya?"
Azkia menyetel rekaman di ponselnya, ternyata itu berisi video Kanaya yang sedang mencurahkan isi hatinya tadi. Azkia memang licik, ia sengaja mengikuti Kanaya ke bukit untuk mencari tahu apa yang selama ini dicurigai olehnya.
"Sorry ya, gue udah rekam curhatan lo diam-diam. Hahaha," kata Azkia yang membuat Kanaya panik, ia tak mau citra Lee jadi buruk di hadapan publik. Apalagi suaminya itu adalah publik figur sekaligus pengusaha yang sedang dalam masa keemasan. Ia tidak mau merusaknya.
"Jangan! Kamu jangan sebarkan rekaman itu, cukup kamu aja yang tahu masalah rumah tangga aku, please, jangan kasih tahu siapapun."
Azkia menyeringai kejam. "Gue bakal tutup mulut asal lo mau lakuin sesuatu buat gue," katanya licik.
"Apa? Apa yang harus aku lakuin?"
"Kamu harus jauhi Nathan, bukan cuma itu, kamu juga harus bisa memisahkan Nathan dan Steffany dalam waktu seminggu, kalau enggak berhasil ... dengan terpaksa aku harus sebarkan rekaman ini ke media sosial."
"Oke, aku bakal lakuin itu asal kamu menjaga rahasia ini," jawab Kanaya memenuhi syarat yang diajukan Azkia.
Azkia tersenyum puas mendengarnya. "Bagus, Kanaya. Semoga berhasil ya, hahaha," ucapnya sebelum pergi meninggalkan Kanaya yang diterpa kegelisahan.
"Kanaya! Kanaya! Kamu di mana?!" teriak Lee yang secara tak sadar telah memicu perhatian semua mahasiswa dan mahasiswi yang sedang duduk-duduk di sekitar tenda.
"Saya lihat Kanaya tadi berlari ke bukit sebelah sana, Mas." Salah satu mahasiswa memberitahu Lee.
"Terimakasih ya," ucap Lee sebelum akhirnya menyusul Kanaya ke bukit yang ditunjukkan mahasiswa tadi.
Tapi sesampainya di sana Lee hanya melihat kekosongan, tidak ada siapa-siapa di sana. Saat itulah hatinya merasa terguncang, ia berteriak sekeras mungkin memanggil nama Kanaya, ia sungguh-sungguh ingin meluruskan kesalahpahaman Kanaya atas dirinya beberapa waktu yang lalu.
Bersambung....
Guys, bisa kasih tahu perasaan kalian saat baca part ini? Dan tolong mention nama akun medsos kalian, ya? Biar nanti kita bisa saling follow. Bye-bye.😍😘🥰
__ADS_1