Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 07 (Meaning of Love)


__ADS_3

"Halo, ada apa dek?" tanya Lee saat menerima panggilan suara dari adik perempuannya, Steffany.


"Oppa, Kak Naya mana?"


"Dia gak sama Oppa, paling masih di Kampus."


"Ini kan udah jam pulang Kampus, kenapa Oppa enggak susulin Kak Naya?"


"Oppa lagi sibuk banget, Steffy. Kerjaan di kantor masih numpuk, kalau kamu punya waktu mending kamu aja yang jemput Kak Naya," jawab Lee yang memang tengah sibuk menandatangani dokumen-dokumen penting milik perusahaannya.


"Apa di perusahaan lagi ada masalah?"


"Ada tapi belum bisa dipastikan, Oppa sedang menyelidiknya."


"Perlu bantuan ku?" tawar Steffany yang merupakan seorang hacker handal.


"Mungkin nanti."


"Oke, kalau begitu aku mau nyusul Kak Naya dulu ya, bye-bye!"


"Bye."


Lee mematikan panggilannya lalu menaruh ponselnya di atas meja dan kembali berkutat dengan dokumen-dokumen penting yang kadang-kadang membuatnya pusing.


Sementara di tempat lain, Steffany bergegas mandi lalu memakai outfit kesukaannya dan merias wajahnya senatural mungkin, setelah itu ia mengeluarkan mobilnya dari basement lalu meluncur menuju Kampus Kanaya yang sedikit jauh dari apartemennya.


Steffany tak sabar ingin bertemu Kanaya, kakak iparnya yang masih seumuran dengannya itu. "Kira-kira apa reaksi Kak Naya kalau tahu aku bakal pindah kuliah ke Indonesia. Dia bakal seneng gak ya?" Sambil senyam-senyum Steffany mengira-ngira dalam hati.


******


Rintik-rintik hujan mulai membasahi tubuh Azkia yang masih berdiri di rooftop Kampus. Gadis itu menatap ke arah jalan yang ada di bawah sana dengan tatapan kosong. Pada petang hari itu hampir semua mahasiswa sudah pulang, namun dirinya masih tetap berdiam diri di atap gedung seperti patung yang tak bernyawa.


Tak dapat dipungkiri kalau dirinya sangat lemah jika sudah berurusan dengan Nathan, pria yang dia cintai sejak masa putih biru. Selama itu? Ya, tapi anehnya perasaan cinta itu tetap awet bahkan semakin mengakar di hatinya.


Namun miris karena Nathan selalu menjauhinya, memandangnya dengan jijik seolah-olah dirinya adalah sampah. Sakit? Tentu saja, tapi cintanya lebih besar dari rasa sakit itu sendiri.


Terkadang ia bertanya-tanya apa yang membuat Nathan begitu tak menyukainya. Padahal ia sudah berusaha memperbaiki diri, nilai, serta penampilannya. Tetapi tetap saja, Nathan selalu mengusirnya, membentaknya, dan menyuruhnya berhenti mengejar cintanya.


"Nathan, kenapa sih lo selalu perlakuin gue dengan kejam setiap kali gue nyamperin lo? Apa lo enggak punya sedikit aja rasa simpati ke gue yang udah sekian lama mencintai lo."

__ADS_1


Tes.


Air mata Azkia jatuh bersamaan dengan air hujan yang semakin deras. Sehingga tak dapat membedakan mana air mata dan mana air hujan.


"Gue pengen banget benci sama lo supaya gue bisa move on dari lo. Tapi entah kenapa gue enggak mampu ngelakuin hal itu, sebab membenci lo itu sama aja kayak gue membunuh diri gue sendiri."


"Gue cinta banget sama lo, Nathan. Suatu hari gue harap lo mau nerima cinta gue dan stop nyakitin perasaan gue."


Di sisi lain ada Kanaya yang tengah menunggu bus sambil duduk berteduh di halte yang ada di depan Kampusnya.


"Mau pulang?" Kanaya menoleh dan melihat siapa yang baru saja mengajaknya berbicara.


"Iya, kamu juga?"


Laki-laki itu mengangguk. "Mbak Naya enggak dijemput sama suami?" tanyanya.


Kanaya tersenyum masam lalu menggeleng kepalanya pelan. "Suami saya sibuk," katanya dengan nada kurang yakin.


"Sayang banget ya, kalau saya punya istri seperti Mbak Naya pasti sudah saya antar jemput kemanapun itu."


Kanaya menundukkan kepalanya, tak mau memandang wajah laki-laki tampan yang sekarang berdiri tak jauh darinya.


Kanaya mengangguk pelan. "Kamu Nathan yang waktu itu berantem di Kampus kan?" tebaknya yang tak salah.


"Ya, dengan terpaksa saya harus mengakuinya," ujar Nathan dengan malu.


"Karena itu memang perbuatan kamu, iyakan?" kata Kanaya yang sepertinya sudah sedikit lebih enjoy berbicara dengan Nathan.


"Ya, ya ... tapi saya tidak akan berkelahi jika orang itu tidak memulai permasalahan terlebih dahulu."


"Oh ya?"


"Tentu saja."


"Memangnya menurut kamu masalah itu harus diselesaikan dengan adu jotos, ya?"


"Tidak juga, tergantung masalah nya."


Kanaya mangut-mangut lalu memeluk tubuhnya sendiri guna menghalau udara dingin akibat hujan deras yang belum reda.

__ADS_1


Kebetulan saat itu Nathan memakai jaket kulit berwarna coklat yang cukup hangat. Pria itu pun berinisiatif meminjamkan jaketnya kepada Kanaya, ia melepas jaketnya dan mengulurkan jaket itu pada Kanaya.


Namun Kanaya dengan tegas menggelengkan kepalanya, menolak jaket yang diulurkan Nathan kepadanya. "Enggak usah, saya enggak kedinginan kok." Itulah asumsi yang dilontarkan Kanaya saat menolaknya.


"Kamu jelas kedinginan," ujar Nathan yang kemudian memberanikan diri untuk memasangkan jaketnya di bahu Kanaya.


"Jaketnya nggak usah dibalikin, simpan atau nggak dibuang aja."


Kanaya mengedipkan kedua matanya tak percaya dengan perhatian yang diberikan Nathan kepadanya. Padahal setahu Kanaya dirinya tak pernah berteman dekat dengan pria tampan yang dijuluki sebagai mahasiswa abadi di Kampus nya itu.


"Saya duluan ya, Assalamualaikum."


"Wa-waalaikum salam," jawab Kanaya sambil memandangi Nathan yang berlari di tengah hujan deras.


Pria itu rela basah-basahan demi kenyamanannya. "Andai Mas David yang melakukannya, aku pasti bahagia," gumam Kanaya sambil menyentuh jaket pemberian Nathan yang terlampir di bahu mungilnya.


Di atap gedung Kampus seorang wanita yang tak lain adalah Azkia memandangi Kanaya dengan perasaan iri dan juga dengki.


"Harusnya aku yang mendapatkan perhatian dari Nathan, bukannya wanita yang telah bersuami seperti dia!" teriak Azkia tak terima.


"Kamu memang bodoh Nathan! Kamu mengejar sesuatu yang mustahil kamu miliki!" teriak Azkia lagi sambil menyibak rambut basahnya yang menutupi mata.


Tak lama kemudian Nathan berdiri di sebelah Azkia, pria itu datang karena tak tega melihat Azkia menangisi dirinya di atap gedung di tengah-tengah hujan deras yang dinginnya menusuk itu.


"Kita berdua memang bodoh, Azkia. Sama halnya dengan kamu yang sulit melupakanku, aku juga sulit melupakannya sekalipun dia mencintai orang lain, sekalipun dia telah dimiliki oleh orang lain," ungkap Nathan sambil menatap wajah pucat Azkia yang sudah kedinginan sejak tadi. Pantas saja sebab gadis itu sudah berdiri selama satu jam di bawah guyuran hujan yang deras.


"Bukan hanya bodoh, kita juga kejam. Kejam karena tak mau berhenti menyakiti diri kita sendiri dengan cinta yang kita pertahankan. Sometimes, aku ingin pergi selama-lamanya dari muka bumi ini cuma untuk melupakan kamu, tapi jika aku melakukannya aku akan rugi sebab tak ada yang tahu masa depan. Siapa tahu, suatu hari nanti kamu bisa jatuh cinta sama aku," ungkap Azkia sambil menatap wajah tampan Nathan yang basah kuyup diguyur derasnya air hujan dengan tatapan kagum bercampur sendu.


Mendengar ungkapan hati Azkia membuat Nathan merasa bersalah pada gadis itu. Teringat betapa banyaknya kata-kata kejam yang sering ia lontarkan serta hardikan yang pastinya menyakiti perasaan gadis itu.


"Maaf."


"Maaf buat apa?"


"Buat semuanya," ucap Nathan.


"Enggak perlu, gue cuma butuh cinta dari lo, bukan kata maaf dari mulut lo," jawab Azkia dengan tegas meskipun bibirnya bergetar kedinginan.


"Kalau cinta gue nggak bisa," ujar Nathan terang-terangan.

__ADS_1


Azkia mendekati Nathan lalu menyentuh rahang tegas pria itu. "Bukan nggak bisa, tapi belum bisa," koreksinya sembari tersenyum lalu pergi meninggalkan Nathan.


__ADS_2