Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 41 | Heart Break In Seoul


__ADS_3

Mendengar Adzan subuh berkumandang, Kanaya terbangun dan segera membangunkan Lee untuk mandi dan sholat berjamaah. Saat Lee menjadi imam sholatnya, hati Kanaya merasa gembira, seperti ada bunga yang bermekaran di sana. Padahal, itu bukan pertama kalinya Lee menjadi imam sholatnya. Mungkin karena semalam mereka melakukan ibadah suami istri untuk yang pertama kalinya setelah dua tahun pernikahan mereka. Oleh karena itu Kanaya merasa sholat subuh kali ini sangat berbeda. Ia begitu dilingkupi rasa syukur yang teramat besar sebab doanya yang selama ini ingin menjadi seorang istri seutuhnya untuk Lee, dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa.


Akhirnya hati suaminya itu terbuka untuk menyambut cinta yang tulus darinya. Lee pun sudah melupakan kisah pahit dari cinta masa lalunya bersama Aisyah yang sempat terjalin dalam waktu yang lumayan lama. Kisah pahit yang membuat Lee gagal move on dan akhirnya menjadi bumerang bagi Kanaya dan juga rumah tangga mereka selama ini.


Usai mengaminkan doa-doa yang Lee panjatkan, Kanaya menyalami tangan suaminya itu. Dalam beberapa menit Kanaya tak lekas melepaskan tangan Lee, ia mengecup tangan suaminya itu sambil menggumamkan kalimat syukur yang tak ada habisnya.


Sudut bibir Lee terangkat ke atas, membentuk senyuman haru, ia menggunakan tangan satunya lagi yang menganggur untuk mengusap air mata yang mendesak keluar dari sudut matanya. Cinta itu jauh lebih besar dari yang Lee kira, selanjutnya dengan penuh kasih ia mengusap ubun-ubun Kanaya yang masih mengecup punggung tangannya.


"Terima kasih, Mas," ucap Kanaya seraya mendongakkan wajahnya dan menatap Lee yang tengah terharu melihat ketulusan cintanya.


Tanpa menjawab ucapan Kanaya terlebih dahulu, Lee langsung menerjang tubuh mungil Kanaya dengan pelukan eratnya. Pelukan itu seakan menjadi jawaban atas segala pertanyaan yang dulu sering mencuat di kepala Kanaya.


"Aku yang harusnya bilang terima kasih ke kamu, sayang. Selama ini kamu udah setia menunggu aku benar-benar siap menjadi sosok suami lahir dan batin buat kamu, kamu selalu sabar menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dariku ... aku...."


"Udah ya, Mas. Nggak usah diterusin, nanti dada kamu sesak, dan hati aku bakal sedih kalau sampai itu terjadi," potong Kanaya sambil menepuk-nepuk punggung kokoh Lee yang kini terisak di bahunya.


"Aku mencintaimu, Naya. Aku janji tidak akan pernah menyakiti kamu lagi," ujar Lee sambil mempererat pelukannya lagi. Kanaya tersenyum manis lalu membalas pelukan Lee dengan tak kalah eratnya.


Drrrt...


Getar ponsel memaksa Lee dan Kanaya untuk melepas pelukan mereka. Keduanya serta merta menatap kompak ke arah ponsel Lee. Tertera nama 'nenek' dengan tulisan hangul yang tak Kanaya pahami.


"Siapa Mas?" tanya Kanaya dengan muka penasaran.


"Nenek," jawab Lee sambil mengernyitkan dahinya. Kemudian pria itu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja samping kasur. Ia menjawab panggilan itu dengan rasa heran di hatinya.


'Alhamdulillah, akhirnya nenek mau hubungi aku lagi ... tapi bukannya waktu itu beliau bilang kalau beliau nggak akan anggap aku cucunya lagi kalau aku ngotot masuk islam, ya?' batin Lee bertanya-tanya.


"Iya nek, ada apa?"

__ADS_1


"Ada apa kamu bilang?! Mau jadi cucu durhaka ya, kamu! Kenapa selama ini nggak pernah hubungi nenek?!" teriak suara tua yang serak di seberang telepon.


"Mianhe, aku kira nenek masih kecewa dan benci sama aku. Makanya aku selalu suruh mama buat menanyakan kabar nenek."


"Dasar anak nakal! Mana mungkin nenek sebegitu marah sama kamu, Lee. Asal kamu tahu ya, rasa sayang nenek lebih besar dari pada rasa kecewa nenek."


"Maafin Lee ya, nek. Maaf banget, Lee juga sayaaang banget sama nenek."


"Geure, kalau kamu sayang sama nenek, kamu kunjungi nenek di Seoul hari ini juga. Tapi jangan pergi sendiri, ajak juga istri kamu. Nenek mau tahu wanita seperti apa yang bisa menaklukkan hati cucu nenek yang keras seperti batu itu."


"Harus hari ini, nek?" tanya Lee dengan nada setengah keberatan.


"Iyalah, kalau kamu nggak mau bikin nenek kecewa lagi," jawab Sang Nenek yang setelahnya memutuskan panggilan secara sepihak karena tak mau mendengar penolakan dari cucunya.


"Naya...." Belum sempat Lee bilang apa-apa, Kanaya langsung mengangguk seolah sudah tahu apa yang akan Lee bicarakan.


"Tapi kuliah kamu gimana sayang?" tanya Lee cemas.


"Serius nantinya nggak jadi masalah?" tanya Lee seperti meragukan.


"Kalau jadi masalah pun aku mah tenang aja, kan ada kamu yang bakal beresin masalahnya. Hihi," jawab Kanaya sambil tersenyum jahil.


Lee terkekeh karena gemas dengan tingkah istrinya itu. Lalu dengan sengaja ia menyentil ujung hidung mungil Kanaya dengan jari jempol dan telunjuknya. Kemudian ia berlari menjauhi Kanaya.


"Ih! Sakit tahu! Sini nggak!" teriak Kanaya sambil mengejar Lee yang lari ke arah dapur sambil tertawa terbahak-bahak.


"Ih, Mas nyebelin deh!" teriak Kanaya karena kesal tak kunjung berhasil menangkap Lee dan membalas suaminya itu.


Dengan iseng Lee menjulurkan lidahnya sambil terus tertawa meledek Kanaya yang masih mengejarnya sembari membawa bantal sofa sebagai senjata.

__ADS_1


Suasana apartemen yang bisanya sepi kini ramai karena suara tawa mereka berdua yang membawa kesan harmonis dan hangat.


*****


"Alhamdulillah, akhirnya kita tiba di Seoul!" teriak Kanaya dengan sumringah. Wajah cantiknya tampak berseri-seri, apalagi saat melihat Lee berjalan menghampiri dan menggandeng tangannya.


Pasutri itu berjalan di pinggir jalanan kota yang ditumbuhi banyak pohon bunga sakura yang sedang bermekaran cantik. Warnanya merah merona seperti pipi Kanaya yang tersipu malu mendengar kata-kata romantis dari Lee yang seakan tak ada habisnya.


"Kamu pernah nonton drama Korea yang pria dan wanitanya berciuman di bawah bunga sakura nggak?" tanya Lee tiba-tiba.


Kanaya jadi gelagapan, "Ih, kenapa sampai bahas drama Korea sih, Mas?"


"Jawab aja, pernah apa enggak?"


"Nggak tuh," jawab Kanaya berbohong. Padahal waktu SMA dia pernah satu kali melihat drama romantis semacam itu bersama temannya.


"Dulu aku pernah punya keinginan seperti itu dengan wanita yang aku nikahi," ucap Lee yang membuat Kanaya ketar-ketir. Tidak mungkin Lee akan menciumnya di tempat umum seperti ini kan?


"Jangan aneh-aneh ya, Mas. Enggak boleh tahu umbar kemesraan di tempat publik," peringat Kanaya sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Lee.


Raut muka Lee berubah cemberut namun beberapa saat kemudian pria itu kembali tersenyum dan berbisik di depan telinga Kanaya. "Berarti kalau di tempat private, boleh dong ya?"


"Boleh, sih. Ta-tapi...."


Bruk....


Sosok bertubuh mungil tak sengaja menabrak kaki jenjang Lee dan jatuh terjerembab ke tanah. Spontan Lee dan Kanaya membantunya berdiri, namun wajah imut anak itu tercengang begitu melihat paras Lee.


"Daddy," ucapnya membuat Lee dan Kanaya membeku di tempat.

__ADS_1


Bersambung....


Assalamualaikum, teman-teman pembaca yang setia. Sebentar lagi kita akan menjalani ibadah puasa, saya selaku penulis novel yang jarang update ini ingin meminta maaf mana kala ada kata-kata saya yang tidak berkenan di hati kalian. And thank you so much all. See you on the next part. Insyaallah bulan puasa bakal sering update.😊🌹😍🥰☪️✨🙏☪️🤍❤️


__ADS_2