Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 34 (Kedamaian Cinta)


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim....


Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


___


"Nanti Mas mau stay berapa lama di Surabaya?" tanya Kanaya sambil melipat kemeja punya Lee yang mau ia masukkan ke dalam koper milik suaminya yang akan pergi keluar kota untuk kepentingan bisnis itu.


"Kira-kira tiga sampai empat harian, maunya sih lebih cepat dari itu, tapi kayaknya enggak bisa deh. Soalnya aku harus survei lahan yang nantinya akan dijadikan tempat proyek," jawab Lee tak begitu bersemangat karena sebenarnya ia tidak mau meninggalkan Kanaya di saat hubungan mereka baru saja membaik.


"Yang semangat dong, Mas. Kamu kerja kan buat nafkahi aku, jadi harus semangat, oke?"


Lee mengangguk pasrah lalu membantu Kanaya mengemas pakaian dan barang-barang yang akan ia bawa seperti baju, celana, jas, kaus lengan panjang, dan alat sholat berupa kupluk, sarung, dan sajadah. Setelah semua barang itu masuk ke dalam koper, Lee beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Kanaya pergi ke dapur guna menyiapkan sarapan untuk suaminya yang tinggal ia hangatkan di dalam microwave.


"Sarapan dulu, Mas. Supaya enggak masuk angin pas di perjalanan nanti," titah Kanaya sambil menggiring Lee ke meja makan yang terletak di dapur.


Lee menurut saja, ia duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan lalu mengambil sendok dan mulai melahap perkedel daging dan salad buah buatan Kanaya.


"Gimana rasanya? Keasinan enggak?" tanya Kanaya meragukan hasil masakannya sendiri, sebab ia belum sempat mencicipinya.


Lee menyunggingkan senyuman tipis, "Aman, enggak keasinan kok, enak malah," puji Lee jujur. Lelaki itu mulai kecanduan dengan masakan Kanaya yang semakin hari tingkat kelezatannya semakin meningkat. Mengalahkan masakan warteg yang biasa Lee sambangi sepulang dari kantor waktu masih bujangan dulu.


"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa masak makanan yang sesuai sama selera kamu," timpal Kanaya senang, ia pun ikut sarapan di samping Lee.


"Hari ini kegiatan kamu apa aja?" tanya Lee ingin tahu apa saja yang Kanaya lakukan setelah ia pergi ke Surabaya.


"Hm ... ngerjain tugas kuliah, makan siang, terus pergi ke majelis taklim, itu aja sih," jawab Kanaya polos.


"Kalau ada masalah cepat hubungi aku, ya?"


"Iya suamiku," sahut Kanaya sambil mencubit gemas pipi Lee yang menatapnya dengan tatapan khawatir.


Sebagai balasan Lee mencium kening Kanaya lumayan lama, membuat hati Kanaya berbunga-bunga. "Hati-hati ya, Mas. Doaku selalu mengiringi kamu," bisik Kanaya sambil melingkarkan lengannya di leher Lee dan Lee pun menyambut Kanaya dengan senang hati, ia menarik tubuh mungil istrinya itu hingga duduk di pangkuannya.


"Kalau udah sampai di Surabaya, jangan lirik-lirik sana sini, ya? Meskipun di sana banyak cewek cantik, kamu harus selalu ingat sama aku," titah Kanaya sambil menyentuh ujung hidung mancung Lee dengan jari telunjuknya.


Lee terkekeh geli lalu mencium sekilas bibir Kanaya sampai membuat istrinya tersebut terpaku. "Seberapa cantik pun wanita di luar sana, aku cuma tertarik sama wanita imut di pangkuan ku ini," ungkap Lee yang membuat pipi Kanaya memerah secara alami, wanita itu benar-benar dibuat tersipu malu.

__ADS_1


*****


Dua orang muda mudi tengah bersembunyi di balik pohon, mengamati seorang perempuan yang sedang duduk di bangku taman Kampus sambil menelepon seseorang.


"Kira-kira dia lagi nelpon siapa ya?"


"Mana gue tahu, gue bukan cenayang!"


"Ish, jangan kencang-kencang ngomongnya!"


"Lo sendiri kencang ngomongnya."


"Syuuut, jangan berisik! Nanti ketahuan kalau kita lagi nguping!"


"Steffy...."


"Apa lagi?"


"Itu di kaki lo ada ulat bulu," lapor Nathan setengah berbisik.


"Nathan! Tolong buang ulat bulu di kaki gue sekarang juga!" teriak Steffany sambil mengacungkan kaki kirinya ke arah Nathan yang sedang mati-matian menahan tawanya agar tidak meledak melihat ekspresi geli Steffany yang terlampau kocak.


Mendengar suara ribut-ribut, Azkia yang sedang menelpon temannya pun menoleh dan mendapati Nathan berjongkok di depan Steffany. Pria itu tampak sedang menyingkirkan sesuatu dari kaki mulus Steffany.


Hati Azkia langsung terbakar cemburu. Ia bangkit meninggalkan taman Kampus dan menuju ke kelasnya. Dari ekspresi wajahnya, kentara sekali kalau perempuan itu menahan kekesalannya. Ia cemburu, kesal, dan iri kepada Steffany yang hanya dalam sekejap mampu memperoleh perhatian dari Nathan.


Sedangkan dirinya yang sejak dulu berusaha keras sampai sekarang tak pernah dilirik oleh Nathan. Bahkan pria itu sengaja menjauhinya setelah tahu bagaimana perasaannya. Benar-benar tidak adil!


"Yah ... dia jadi pergi deh!" keluh Steffany yang lelah menguntit Azkia sepanjang hari. Ia sudah seperti seorang stalker saja. Mengikuti kemana pun kaki Azkia melangkah dari pagi sampai sore hari.


"Gue udah menebak kalau cara stalker lo ini enggak akan berhasil, Nath! Udah deh, sekarang pakai cara gue aja, lo deketin Azkia sampai dia percaya banget sama lo, terus lo ambil Handphone-nya diam-diam. Lebih gampang dan simpel kan?"


"Gampang dan simpel kata lo?" Nathan menghela nafas berat, "Susah iya!" jawabnya ketus.


"Di mana letak kesusahannya? Azkia itu bucin banget sama lo, pasti dia gampang luluh kalau lo deketin dia. Beda ceritanya kalau Azkia itu gue yang enggak cinta-cinta banget sama lo," ujar Steffany ngegas.


"Coba sekarang lo masih mau bantuin gue sama Kak Naya enggak?"

__ADS_1


"Ya masihlah, Steffy."


"Ya kalau masih lo harus mau deketin Azkia demi menghapus video Kak Naya di Handphone-nya."


"Gimana kalau dia baper dan tambah cinta sama gue? Gue enggak mau jadi pemberi harapan palsu, ya!"


Steffany tersenyum miring. "Kalau enggak mau kenapa enggak jadian beneran aja sama dia, gue enggak papa kok, serius!" cetusnya dengan enteng.


Nathan melotot tak percaya, ia kira selama ini ia telah berhasil meluluhkan hati Steffany. Namun ternyata ia salah besar, gadis itu malah terang-terangan menyuruhnya jadian dengan perempuan lain.


"Mana tahu Azkia berubah kalau cintanya diterima sama lo," sambung Steffany dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Jangan ngaco! Sampai kapan pun, gue enggak akan mau jadian sama Azkia, gue yakin perasaannya ke gue itu enggak tulus, cuma sekedar obsesi, bukan cinta yang murni," pungkas Nathan tegas. Wajahnya tampak mengeras menahan kesal karena Steffany tak peka terhadap perasaannya.


"Jadi gimana? Lo mau enggak pakai cara gue?" tanya Steffany memastikan.


"Oke, gue bakal lakuin apa pun yang lo suruh, tapi ada syaratnya."


Nathan menatap lekat wajah Steffany, membuat matanya bertemu dengan mata beriris coklat milik gadis itu yang juga tengah menatapnya.


"Syaratnya lo harus mau jadi pacar gue setelah masalah ini berakhir, setuju?"


Steffany tersenyum malu-malu, hatinya berdebar-debar. Permintaan Nathan sungguh diluar ekspektasinya, meski demikian ia sama sekali tak merasa keberatan.


"S-setuju...."


Bersambung....


Jangan lupa like, komentar, vote, sama share cerita ini ke teman-teman kalian ya? Aku mohon bantuan dukungannya supaya aku semangat buat garap cerita ini.πŸ˜½πŸ˜½πŸ™πŸ™


Love you all❀️


follow my media sosial here ↙️


Instagram : asyiahmuzakir


Facebook : Zzahraa All Khoirr

__ADS_1


__ADS_2