Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 25 (Pergi Kemah)


__ADS_3

"Mas David yakin mau ikut aku kemah sama teman-teman sekampus aku?" tanya Kanaya kepada suaminya yang tengah mengemas barang dan pakaian yang besok akan dibawanya ke dalam sebuah ransel besar.


Lee menghentikan gerakan tangannya yang sedang melipat baju, ia menaruh baju tersebut di atas karpet lalu menghampiri Kanaya yang memperhatikannya dari atas ranjang. Kemudian ia duduk tepat di sebelah Kanaya, memandang lekat-lekat wajah cantik istrinya itu.


"Aku yakin, yakin seyakin-yakinnya. Aku enggak mau insiden kemarin-kemarin itu terjadi lagi sama kamu, aku bakal jagain kamu dan itu udah menjadi keputusan mutlak aku," jawab Lee dengan mimik serius. Kanaya menatap suaminya tersebut sambil menyunggingkan senyuman penuh arti menyadari perubahan sang suami yang semakin baik kepadanya.


"Tapi ... memangnya kamu enggak sibuk, Mas? Aku dengar beberapa hari lagi DSL beauty care meluncurkan produk skincare terbaru."


"Iya benar, tapi kamu harus ingat satu hal yang penting, Naya. DSL Beauty care itu punya orang-orang hebat selain aku yang bisa menanganinya. Sedangkan kamu cuma punya aku, jadi ... aku harus memprioritaskan kamu ketimbang perusahaan ku itu," kata Lee dengan tatapan tulusnya yang mampu melelehkan hati Kanaya.


"Oke, kalau itu mau kamu, aku nggak bisa cegah." Kanaya turun dari ranjang lalu melanjutkan pekerjaan Lee yang tertunda yakni melipat pakaian dan memasukkannya ke dalam ransel besar. "Kamu harus bawa jaket, soalnya nanti ada kegiatan malam, udara di puncak Bogor itu kan dingin," katanya sambil mencari-cari jaket Lee di lemari besar milik suaminya tersebut.


"Jaketnya udah ada di dalam ransel kok, tadi aku yang masukin sendiri," pungkas Lee. "Sekarang mendingan packing barang-barang sama pakaian kamu," sambungnya.


Kanaya menautkan kedua alisnya lalu menunjuk ke arah pojok kamar mereka, rupanya di sana sudah ada ransel berukuran lebih besar dari yang Lee punya.


"Kamu enggak salah mau bawa ransel sebesar itu?" tanya Lee meragukan Kanaya.


"Perlengkapan aku kan banyak Mas, ada gamis, kerudung panjang, daster, baju olahraga, belum mantel sama selimut, abis itu mukena sama sajadah, di tambah lagi barang-barangnya yang enggak kalah banyak."


Mulut Lee ternganga, ia bingung dengan Kanaya. Sebenarnya istrinya itu mau ikut acara perkemahan atau mau pindah rumah sih? Heran saja karena begitu banyak barang dan pakaian yang mesti di bawa, padahal mereka hanya akan berkemah selama tiga hari di puncak Bogor.


Melihat ekspresi Lee yang menurutnya berlebihan, Kanaya langsung mendekat dan mencubit hidung mancung suaminya itu agar ia tersadar dan segera menutup mulutnya yang masih menganga.


"Naya, kamu enggak ada niatan buat ninggalin aku kan?" selidik Lee dengan ekspresi panik.


"Kamu ngomong apa sih, Mas? Jangan ngelantur deh," balas Kanaya sembari mengacak-acak rambut Lee yang mulai memanjang alias gondrong. Suaminya itu tampak semakin tampan dan itu jelas tak terlalu baik untuk jantung Kanaya.


Lee tersenyum lega. "Syukurlah ... jujur aja, aku takut banget kamu bakal ninggalin aku. Itu mengerikan, aku bahkan enggak sanggup membayangkannya," cetusnya jujur dari hati yang terdalam. Kanaya menatap wajah suaminya itu lamat-lamat, perlahan-lahan bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyuman yang sulit diartikan.


"Aku enggak akan ninggalin kamu meskipun suatu hari nanti kamu menyuruhku untuk pergi. Aku akan tetap berdiri di sebelah kamu meskipun nanti kamu enggak butuh aku lagi...."


"Karena kamu adalah pelangi ku, Mas. Aku membutuhkan mu sejak pertama kali kamu muncul usai hujan mengacaukan hari ku, melunturkan semangat hidupku. Di kala masa suram itu, kamu menunjukkan warna-warni kepadaku, sehingga aku bisa kembali ceria, meskipun aku tahu, ketika hujan reda, pelangi tak selalu muncul di sana."

__ADS_1


Ucapan Kanaya tersebut menembus sampai ke hati Lee, laki-laki itu menundukkan wajahnya, jelas sekali kalau ia merasa bersalah karena dulu ia tak begitu menghiraukan perasaan Kanaya walaupun ia adalah satu-satunya orang yang selalu membantu gadis itu dalam segala hal.


Tangan halus Kanaya mendongakkan wajah Lee. "Mas, aku salah bicara ya? Kenapa kelihatannya murung begitu?" tanya Kanaya bingung.


"Enggak, Naya. Kamu benar kok, pelangi tidak selalu muncul ketika hujan reda, sama halnya sama aku, ada kalanya aku enggak bisa menemani kamu setiap saat. Maafkan aku, ya?" ujar Lee tulus.


"I always forgive you, Mas. Kamu tahu itu kan?"


"Thank you so much, wife."


"You don't have to say thank you for me."


****


"Mas, aku speechless banget lihat penampilan kamu sekarang, this is not your style! But honestly, aku suka! Sebab dengan style ini kamu jadi kelihatan seperti mahasiswa yang keren," puji Kanaya saat Lee baru saja keluar dari walk in closet, usai menyesuaikan penampilannya dengan acara kali ini. Yang mana nantinya ia akan bergabung dengan para mahasiswa dan mahasiswi.


Kanaya masih terpana melihat penampilan suaminya yang terlihat asing sekaligus luar biasa. Jujur, baru kali ini Kanaya melihat Lee dengan tampilan keren ala-ala boyband, biasanya suaminya itu selalu memakai kemeja dan jas, atau kaus biasa ketika sedang di rumah saja.


"T-tapi ... sebenarnya aku enggak nyaman mengenakan pakaian seperti ini, tapi ya sudahlah, aku mau bergabung dengan para mahasiswa, itu artinya aku harus jauh lebih keren dari pada mereka," sahut Lee dengan percaya diri. Kanaya hanya tertawa kecil menanggapinya.


"Ini bau apa sih, Nay?" tanya Lee seraya menutup rongga hidungnya dengan telapak tangan.


"Di belakang ada yang muntah-muntah Mas," jawab Kanaya santai, wanita itu masih sempat-sempatnya makan pop mie di saat bau tidak sedap menyebar ke seluruh bagian dalam bus yang sedang melaju sangat lambat, karena di siang itu jalan menuju puncak lumayan macet.


"Sayang, kamu enggak jijik makan sambil menghirup bau seburuk ini?" tanya Lee menatap Kanaya yang tengah mengunyah mie di dalam mulutnya dengan mimik dan gesture tenang.


"Enggak," jawab Kanaya polos seraya menggelengkan kepalanya. "Memangnya kenapa? Aku harus tutup hidung kayak kamu begitu?" tanyanya.


"Ya, ya enggak sih, cuma ... ah udahlah enggak usah di bahas lagi," jawab Lee gelagapan.


"Ya udah ... Hm, ngomong-ngomong, Mas lapar enggak? tanya Kanaya.


Lee yang masih menutup hidungnya hanya menggeleng, memberi isyarat kalau dia tidak ingin makan apapun saat itu. Sebenarnya bukan tidak ingin, melainkan tidak bisa karena ia tidak sanggup makan sambil menghirup aroma yang tidak menyenangkan di hidungnya.

__ADS_1


"Mas mual, ya?" tanya Kanaya dengan nada khawatir.


Lee menganggukkan kepalanya. Melihat itu Kanaya langsung mencari minyak aromaterapi di dompetnya. Setelah menemukan benda itu ia membuka tutupnya dan mengoleskan isinya ke area dahi Lee, lalu ia menyuruh Lee membuka hidungnya, Lee menurut, ia membuka hidungnya dan saat itu pula Kanaya mengoleskan sedikit minyak aromaterapi di ujung hidung mancung Lee, agar suaminya itu tidak lagi mencium bau-bau tidak sedap yang berasal dari belakang.


"Kenapa mahasiswi yang sakit dibolehkan untuk ikut kegiatan kemah?" tanya Lee pada Kanaya yang tengah menikmati kuah pop mie yang di belinya saat bus berhenti di rest area beberapa menit yang lalu.


"Dia enggak sakit, Mas. Dia cuma mabuk perjalanan," terang Kanaya. "Memangnya kamu enggak pernah mengalami mabuk perjalanan yang sama seperti itu?" sambungnya heran.


"Enggak pernah, Nay. Aku baru tahu kalau ternyata perjalanan yang panjang bisa membuat orang mabuk, udah kayak alkohol aja, ya?" kekeh Lee yang tiba-tiba merasa kalau dirinya kurang pengetahuan.


Kanaya hanya mengedikkan bahunya sambil tersenyum, lalu menatap ke kursi depan di mana Steffany duduk berdua dengan Nathan. "Mas, lihat deh adik kamu," bisiknya di depan telinga Lee. Lee segera mengikuti arah pandang Kanaya dan matanya menyipit tak suka ketika melihat adiknya dekat-dekat dengan Nathan.


"Setelah caper sama istriku, sekarang ia mendekati adikku? Tidak bisa di biarkan, aku harus memperingatinya," geram Lee.


"Jangan begitu, Mas. Nathan sama Steffy itu cuma temenan kok," timpal Kanaya yang tak ingin suaminya itu salah paham.


"Terus kamu sama dia apa? Temenan juga?" todong Lee.


"Iya, aku temenan juga sama Nathan, dia laki-laki baik kok, Mas tenang aja," jawab Kanaya santai.


"Nggak! Kamu enggak boleh temenan sama dia, dia itu suka sama kamu, Naya!"


"Ooh gitu, kalau Mas suka enggak sama Naya?" potong Kanaya cepat.


"Jelas suka lah!" jawab Lee tak sadar kalau dirinya baru saja keceplosan.


Bersambung....


Teman-teman, saling follow akun media sosial yuk, biar ada komunikasi di antara kita.


Silahkan kalian follow aku di Instagram @asyiahmuzakir, nanti DM supaya aku bisa follback kalian. Atau kalian bisa berteman dengan Facebook aku : Zzahraa All Khoirr.


Kalau ada komunikasi yang jelas kan enak, kalian bisa teror aku kalau aku enggak update-update.

__ADS_1


Segitu dulu ya, bye!☺️☺️😍😍


__ADS_2