Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 11 (Cinta Pada Pandangan Pertama)


__ADS_3


"Pak, parkirin mobil saya ya, ini upahnya." Steffany memberikan uang tiga ratus ribuan kepada tukang parkir Kampus Bina Nusantara, tempat menuntut ilmunya yang baru.


"Dasar anak orang kaya, parkir mobil aja nyuruh orang lain," dumel tukang parkir setelah menerima upah tiga ratus ribu dari Steffany.


Steffany tak meladeni dumelan tukang parkir itu, toh uang upahnya sudah ia berikan. Jadi setelah kunci mobilnya kembali, Steffany langsung pergi memasuki gedung Kampus barunya, ia melewati koridor demi koridor dengan ekspresi datar tanpa senyuman. Tapi itu tak lantas menutupi daya tariknya yang mampu membuat para mahasiswa dan mahasiswi memperhatikannya.


"Siapa dia?"


"Pasti Mahasiswi baru, eleh-eleh geulis pisan."


"Gue kayak kenal jaketnya. Enggak mungkin jaket itu jaketnya Nathan kan?"


Steffany tak menghiraukan bisikan-bisikan yang mengarah kepadanya. Dia terus berjalan dengan santai sambil mengemut permen jahe di dalam mulutnya. Ketika ia berbelok ke arah kantor seseorang menarik tangannya dan menyeretnya ke ruangan kosong yang biasa digunakan untuk yoga bersama.


"Lepasin tangan aku!" teriak Steffany. "Kamu siapa sih? Main narik tangan aku, kenal aja nggak!" protesnya.


Pria yang menyeret Steffany seketika tersenyum smirk. Itu pemandangan yang cukup menyebalkan bagi Steffany, ia muak apabila ada pria yang mencoba mengintimidasinya.


Karena pria itu tak mau menjawabnya, Steffany memilih untuk pergi karena menurutnya akan sia-sia jika ia menghabiskan waktunya untuk meladeni pria tak jelas itu. Tapi saat ia ingin menarik gagang pintu, tangannya kembali dicengkeram oleh pria tadi.


"Shit," umpat Steffany sebelum menghempaskan tangan pemuda yang mencengkram tangannya dengan kasar.


Raut pemuda itu berubah mengerikan, seperti ada dendam yang yang membara di balik tatapannya yang tajam dan penuh kebencian. Steffany bingung, bagaimana bisa seseorang yang tidak dikenal atau mengenalnya membencinya sebesar itu? Huh, Steffany merasa kesal karena dimana-mana ia pasti mendapatkan musuh.


"Kamu pasti pacarnya Nathan, iyakan?!" tuduh pria itu yang membuat Steffany tertawa terbahak-bahak. Ia merasa lucu dengan kesalahpahaman yang terjadi karena ia memakai jaket bertuliskan nama Nathan.


"Kalau iya memang kenapa? Kamu naksir sama Nathan?" ledek Steffany yang tak kenal takut.


"Kalau kamu suka sama dia mendingan lupain aja," ucap Steffany yang kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga pria itu. "Karena Nathan straight, dia gak akan mau sekalipun kamu cinta mati sama dia," lanjut Steffany lalu cekikikan. Ia mengabaikan ekspresi pria marah pria yang diledeknya.


"ADUH!" Steffany terkejut ketika rambutnya ditarik ke belakang alias dijambak oleh pria yang baru saja ia ledek.


"Kamu salah paham, Nona. Aku tidak menyukai Nathan, aku malah sangat-sangat membencinya, aku ingin menghancurkan hidupnya."


Steffany terhenyak, kata-kata yang dilontarkan pria itu sama persis dengan kata-kata yang dilontarkan mantan pacarnya dulu saat ia memutuskannya.


"Berhubung kamu pacarnya, aku akan menyakiti kamu dulu, supaya saat dia melihat kamu tersakiti, dia akan ikut merasakan sakitnya."

__ADS_1


"Dasar brengsek! Lepaskan cengkraman tangan kamu dari rambutku!" teriak Steffany yang tengah mati-matian menahan sisi iblisnya agar tidak keluar dan menguasai dirinya karena bisa-bisa pria itu akan masuk UGD karenanya.


"Ya, aku memang brengsek," timpal pria itu dengan senyuman smirk yang tersungging di bibir penuhnya.


"Lepasin dia!" teriak seseorang yang ternyata adalah Nathan. Pria itu masuk ke dalam ruangan yang di mana musuhnya sedang menyakiti seorang gadis.


"Hahahaha, datang juga lo."


Nathan menatap musuhnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue tahu lo bajingan, tapi gue enggak bisa mentolerir kalau lo sampai berani nyakitin cewek, sekarang lepasin dia!" gertak Nathan dengan rahang mengeras menahan emosi yang bergejolak di dadanya.


"Bukannya lo juga suka nyakitin cewek? Atau jangan-jangan lo lupa kalau lo itu lebih bajingan dari gue, lo sering banget nyakitin perasaan kakak gue, padahal kakak gue gak punya salah apa-apa sama lo."


Nathan mengepalkan kedua tangannya. "Kakak lo jelas salah, dia salah karena terlalu terobsesi sama gue! Andai lo ada di posisi gue juga lo bakal risih, Galih!" teriak Nathan yang sudah tak dapat menahan emosinya lagi. Pria itu menonjok rahang Galih dengan spontan sampai Galih melepaskan cengkeramannya di rambut Steffany.


Steffany memanfaatkan kesempatan itu untuk menjauh. Gadis itu memeluk Nathan dengan modus ketakutan, padahal ia tidak takut sama sekali. Ya sekali-kali ia ingin manja, apalagi manjanya sama pria ganteng seperti Nathan.


"Lo nggak papa?" tanya Nathan sambil menatap mata Steffany dengan tatapan teduhnya yang membuat gadis itu terpesona.


"Hei, lo nggak papa kan?" tanya Nathan sekali lagi sambil menepuk pelan pipi Steffany untuk menyadarkan gadis itu.


Steffany mengedip-edipkan matanya lucu. "Ng-nggak, gak papa kok," jawabnya salah tingkah.


"Dia. Bukan. Siapa-siapa gue," tandas Nathan yang tak lantas membuat Galih mempercayainya.


"Boleh juga cewek lo, lain kali gue pinjem ya?" Sebelum pergi Galih mengedipkan sebelah matanya kepada Steffany, membuat gadis itu bergidik ilfeel.


"Lo mau gue anterin ke Unit Kesehatan Kampus?" tawar Nathan yang dibalas gelengan oleh Steffany.


"Nggak usah, mendingan anterin aku ke ruangan Mrs. Geraldine, soalnya aku gak tahu dimana ruangannya. Maklum, anak pindahan."


"Ooh, jadi lo mahasiswi pindahan?"


Steffany mengangguk sambil tersenyum. "Iya, kenalin gue Steffany, biasa dipanggil Steffy," ujar Steffany sembari mengulurkan tangannya.


Dengan senang hati Nathan menyambut uluran tangan Steffany. "Hai, Steffy. Gue Nathan, salam kenal."


"Salam kenal juga," balas Steffany sambil menyertakan senyuman manisnya yang jarang ia tampilkan di depan orang lain.


"Steffy."

__ADS_1


"Heum?"


"Gue boleh lihat jaket lo?" tanya Nathan yang curiga kalau jaket yang dikenakan Steffany adalah jaket yang pernah ia berikan kepada Kanaya.


"Me-memangnya kenapa?" Jujur Steffany jadi gugup. Perlahan ia mulai menjauh dari Nathan yang berjalan mendekatinya.


"Nggak papa, gue cuma mau mastikan sesuatu," jawab Nathan.


"Maaf, tapi aku kebelet pipis! Iya, kebelet pipis!" alibi Steffany yang sebenarnya hanya ingin kabur dari Nathan.


"Bye! Nanti kita ketemu lagi ya!" Steffany berlari keluar ruangan. Dalam hati ia sibuk merutuki dirinya yang tak pikir panjang sebelum mengenakan jaket yang bertuliskan nama orang lain yang tak lain adalah Nathan.


"Hei," sapa seorang gadis berambut sebahu menghampiri Steffany dan menepuk pundaknya.


Steffany terjengit kaget, lalu mengelus dadanya. "Hai, aku Steffy."


"Gue Astrid, gue sahabat Kanaya, kakak ipar lo." Gadis berambut sebahu itu mengenalkan dirinya.


"Oh My God, sekarang mana Kak Naya?" tanya Steffany seraya celingukan ke sana kemari.


"Kanaya izin, katanya suaminya nggak ngebolehin dia berangkat kuliah dulu. Makanya karena dia nggak berangkat, dia nyuruh gue buat nemenin lo selama di Kampus," jawab Astrid.


"Wah, baik banget sih Kak Naya," gumam Steffany.


"Makasih ya Kak Astrid," ucapnya.


"Jangan panggil gue Kak, panggil gue Astrid aja, kita kan masih seumuran."


"Oke, Astrid."


Bersambung....


Hai, jujur aku kangen sama kalian, readers.🥺❤️🥺❤️


Ayo mention kota asal kalian di kolom komentar dong.😊😊


Author : Planet mimpi☺️😅


Kalian :....

__ADS_1


Jangan bosen-bosen untuk terus mendukung karyaku, ya.🥰🥰🥰


__ADS_2