
"Laa yukalifullahu nafsan illa wus'aha, sesungguhnya Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya. Maka jangan berputus asa jika masalah datang, tanamkan sabar dalam hati kita, dan ingat Allah selalu bersama kita."
Kanaya menyimak baik-baik ceramah dari Ustadzah Halimah lalu teringat akan Lee, suaminya itu tak pernah menghubunginya lagi sejak memberitahukan kabar melegakan kalau tes DNA yang asli membuktikan bahwa Hyunki bukan anak kandungnya.
"Ke mana perginya kamu, Mas?" batin Kanaya merasa sedih ditengah kumpulan muslimah yang menghadiri kajian majelis taklim mingguan itu.
Setelah kajian selesai, Kanaya digandeng Astrid ke rumahnya. Kanaya pun manut saja, ia tahu sahabat yang juga ia anggap kakak itu tak mau membiarkannya kesepian bila langsung pulang ke rumahnya yang kini terasa suram sejak kepergian Lee ke Korea.
"Sebenarnya Mas David ke mana ya, Mbak? Kenapa dia enggak pernah menghubungi aku lagi? Apa dia udah lupa sama istrinya ini?" tanya Kanaya bertubi-tubi sambil mengusap perutnya yang kian membesar. Raut murung tak bisa enyah dari muka beningnya.
Astrid merangkul bahu Kanaya sambil mengiring bumil itu ke dalam ruang tamunya yang cukup luas namun agak berantakan karena mainan anaknya yang berserakan.
"Mungkin suami kamu itu lagi sibuk aja, Nay. Dia belum ada waktu buat hubungi kamu. Atau bisa jadi hp nya hilang atau kecopetan? Kita nggak tahu kan? Kamu jangan mikir macem-macem dulu, ya?"
Kanaya duduk di sofa panjang lalu menyandarkan punggungnya. "Tapi udah sebulan lho Mbak, dia kayak hilang ditelan bumi. Kalau hp nya ilang, dia kan bisa hubungi aku lewat telepon umum atau apa pun itu! Hiks." Pecah sudah tangisan Kanaya, cukup selama ini ia menahan semua kekhawatiran dan kesedihannya.
"Satu yang aku sesalkan sekarang, aku ... aku belum kasih tahu dia tentang kehamilan ini," lirih Kanaya sambil memperhatikan pergerakan di perutnya yang membuncit. Calon bayinya itu seolah mendengar perkataan ibunya dan merespon agar sang ibu tenang.
Astrid tak tahu harus menanggapinya seperti apa, ia hanya bisa meminjamkan bahunya untuk sandaran Kanaya agar adik angkatnya itu bisa meluapkan tangisnya sampai lega.
"Everything will be okay, Nay. Insyaallah. Kamu jangan kepikiran terus ya, kasihan anak di perut kamu, doakan yang terbaik untuk suami kamu."
Kanaya mengangguk pelan lalu mengusap air matanya dengan tisu yang selalu ada di saku abayanya. Benda tipis itu tak pernah ketinggalan karena Kanaya masih sering mual dan muntah-muntah di mana pun.
Dengan mata yang masih merah sembab, Kanaya mengangkat kepalanya dari bahu Astrid dan menatap haru wanita yang lebih dewasa dari dirinya itu, "Makasih ya, Mbak, udah bersedia jadi tempat curhat aku selama ini."
"Ngapain pakai bilang makasih, aku juga sering lho curhat ke kamu," elak Astrid sambil tersenyum lembut.
"Udah sekarang jangan sedih-sedih lagi, sebentar lagi kan kamu dijemput sama Mas Robbie. Ntar dia curiga kalau liat muka kamu sedih kayak gini."
"Eh iya, aduh untung Mbak ingetin, aku nggak mau kalau sampai Kak Robbie tahu masalah aku sama Mas David. Soalnya dia pasti bakal marah banget sama Mas David, nanti malah tambah runyam." Kekhawatiran jelas terlihat di wajah ayu Kanaya yang masih sembab.
"Iya aku tahu, sebelum Mas Robbie datang, mendingan kamu cuci muka terus make up dikit deh, wajah kamu kelihatan sembab banget soalnya."
"Ya udah, pinjam toilet ya, Mbak."
__ADS_1
"Apaan sih kamu, pakai izin segala, kayak rumah siapa aja."
Kanaya tertawa lalu berjalan menuju ke belakang untuk ke toilet membenahi mukanya agar kembali terlihat fresh. Tak lama kemudian ia keluar dan menghampiri Astrid yang sedang menggendong anak bungsunya yang menangis usai berebut mainan dengan anak sulungnya.
"Gini nih, kalau udah punya anak, ada baby sitter juga kalau lagi nangis tetap maunya digendong sama Umanya," ujar Astrid yang membuat Kanaya tak sabar ingin melihat bayinya lahir dan tumbuh besar. Ia membayangkan betapa bahagianya saat ia menggendong dan menimang buah hatinya nanti bersama sang suami.
"Nay...."
"Naya."
"Nay!"
"Eh, apa Mbak?" Kanaya tersadar dari alam khayalnya lalu menatap Astrid dengan raut bingung.
"Itu kakak kamu udah ada di depan, Mbak suruh masuk nggak mau, katanya nunggu di luar aja."
"Oalah, ya udah kalau gitu aku pamit pulang dulu ya, ntar kapan-kapan main ke sini lagi."
"Ya udah sana."
"Eh, bentar." Kanaya mendekat ke arah Maira, anak bungsu Astrid lalu menciumi pipi gadis cilik yang basah terkena air matanya itu.
"Beneran ya? Nanti anteu kalau ke sini bawa es krim. Awas kalau lupa, satu es krim aja nggak papa kok, anteu kan cantik," tuntut Maira yang membuat Kanaya tertawa lalu mencubit gemas pipi tembam anak itu.
"Anak baik, kamu itu masyaallah, bikin anteu nggak mau pulang."
"Udah sana, kasihan Mas Robbie nungguin," tegur Astrid menyudahi kegiatan Kanaya yang tengah asyik bercanda dengan putrinya.
"Iya Mbak... Ya Allah, padahal aku masih kangen sama Maira," keluh Kanaya sambil menoel pipi anak sahabat karibnya itu hingga membuatnya tertawa.
Astrid menghela nafas panjang, "Insyaallah besok-besok kan bisa ketemu lagi," katanya mengisyaratkan agar Kanaya segera pulang.
Akhirnya Kanaya menurut, wanita itu pergi hingga melewati pintu sambil melambaikan tangannya. Lalu dihampirinya sang kakak yang setia menunggu di emperan rumah dengan helm yang masih terpasang di kepalanya.
"Lama banget sih, dek. Gue udah haus nih," keluh Robbie sambil menyodorkan satu helm lagi untuk Kanaya. Kanaya mendengus sebal lalu menerima dan memasang helm yang kakaknya berikan.
__ADS_1
"Ribet, kenapa enggak pakai mobil aja sih?" protes Kanaya saat kesulitan mengaitkan retention pada helmnya.
"Ck, mobil gue dibawa Avi sama anak-anak, mau healing katanya," jawab Robbie yang turun tangan membantu sang adik mengaitkan retention helm dengan kuat.
Wajah Kanaya langsung cemberut, "Healing kok nggak ngajak-ngajak sih, tega betul Kak Avi," ungkapnya iri.
"Ajakin aja suami kamu itu, biar hidupnya nggak ngurusin kerjaan terus. Udah kaya juga," sindir Robbie yang tahunya Lee ke Korea itu untuk berbisnis bukan untuk tes DNA.
Bibir Kanaya semakin mengerucut, "Kok larinya ke suami aku sih! Jangan bawa-bawa Mas David deh!" jawab Kanaya jutek.
"Kamu lagi marahan sama dia?" Kali ini nada suara Robbie melembut. Ia menatap adiknya intens seperti alat pendeteksi.
"Ng-nggak, nggak kok, cuma sebel aja kalau ingat dia terlalu sibuk sama kerjaannya," sangkal Kanaya berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Lee menghilang, itulah fakta yang mungkin akan membuat Robbie terkejut sekaligus marah terhadap suaminya. Dan ia tidak ingin melihat kekacauan antara dua orang yang telah bersahabat sejak lama.
"Sabar aja, gue percaya sesibuk apapun Lee, dia tetap akan peduli sama istrinya, apalagi istrinya segemas adik gue ini dan nggak mungkin dia bisa cuek sama calon bayi yang ada di dalam sini," ujar Robbie penuh keyakinan sembari mengusap perut buncit Kanaya dengan sayang. Air mata haru merembes ke pipi Kanaya disertai senyuman bahagia bercampur sedih yang tak mampu dijelaskan oleh kata-kata.
Andai saja Robbie tahu kalau selama masa kehamilannya ia sering sendirian bahkan selalu kesepian tanpa ada Lee yang menemani suka dukanya. Andai saja kakaknya itu tak bekerja di luar negeri, dia pasti tak akan kesepian lagi karena ia punya pundak ternyaman kedua untuk melepas kesedihannya.
"Kamu ... nangis? Kenapa dek? Ada yang salah ya sama omongan kakak?" saat Robbie bertanya seperti itu Kanaya langsung mengelap air matanya dan merentangkan tangan.
Robbie yang peka langsung mendekap tubuh mungil adiknya itu dengan penuh kasih sayang. "Maafin kakak ya, belakangan ini kakak jarang hubungi kamu, bahkan untuk menengok kamu kakak nggak ada waktu. kakak jahat ya?"
Ucapan Robbie jelas membuat hati Kanaya miris. Kakaknya lebih tahu cara meminta maaf dengan benar dibandingkan dengan suaminya yang kini malah menghilang. Ia menenggelamkan wajahnya di dada sang kakak saat tangisannya makin kuat.
"Kakak memang bukan kakak yang sempurna, tapi sebisa mungkin kakak akan berusaha memberikan yang terbaik di saat kamu membutuhkan kakak," ungkap Robbie tulus sambil mengecup puncak kepala Kanaya. Sementara adiknya itu masih meluapkan kerisauan hatinya lewat tangis yang terdengar menyakitkan.
"Naya? Bang Robbie?"
Dekapan erat itu lepas seketika, dua-duanya menoleh ke sumber suara dan keduanya tampak terkejut.
Kira-kira siapa yang manggil Kanaya sama Robbie? ayo tebak di kolom komentar!🤗 Yang benar aku doain sukses.😊🤲🏻🥰
BTW tanggal cantik nih, komentar yang banyak dong. Hehe sekali-kali author nuntut.🤭
Bersambung....
__ADS_1
Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
Subhanallah, walhamdulillah, walailahailallah, allahu akbar!