
"Kalian ini kenapa sih?" tanya Nek Yuna dengan nada khawatir melihat cucu dan cucu menantunya saling diam dengan ekspresi datar.
"Enggak papa Nek, kami cuma ribut soal kepulangan aku ke Indonesia," jawab Kanaya yang terpaksa harus berbohong karena tak mungkin ia membawa-bawa Nenek Lee ke dalam urusan rumah tangganya yang rumit.
"Lho? Kamu mau pulang sayang?" ekspresi kaget muncul di wajah keriput itu.
"Iya Nek, makanya Lee diemin aku," jawab Kanaya sendu. Di dalam hati ia merasa bersalah, namun ia memang berencana untuk pulang ke Indonesia meskipun belum membicarakannya dengan Lee.
"Kamu enggak betah ya di sini?" tanya Nek Yuna sedih. Baru saja ia bertemu dengan cucu menantunya itu, masa harus berpisah dan mungkin tak bisa bertemu dalam waktu dekat lagi.
Air bening seketika menggenang di pelupuk mata Kanaya, ia tak tega melihat Nek Yuna sedih. Didekatinya wanita tua itu lalu dipeluknya dengan erat, rasanya hangat sampai ke lubuk hati.
"Maafin Naya ya, Nek. Naya harus pulang karena sebentar lagi Naya mau sidang wisuda. Naya harus mempersiapkan segalanya."
Nek Yuna mengusap-usap punggung Kanaya dengan penuh kasih. "Pintarnya cucu menantu Nenek. Kalau begitu belajarlah yang rajin ya, sayang. Buat Nenek bangga. Nenek nggak masalah kamu pulang ke Indonesia. Asalkan nanti sering-sering video call Nenek, ya?"
"Pasti, Nek. Pasti Naya bakal sering-sering video call Nenek. Makasih ya, Nek. Udah sayang banget sama Naya," ucap Kanaya sambil berderai air mata.
Nek Yuna mempererat pelukannya, beliau juga menangis karena sebenarnya berat melepas Kanaya pulang di saat mereka sedang dekat-dekatnya.
"Naya juga sayang banget sama Nenek. Naya janji kalau semuanya udah selesai, Naya bakal balik ke sini buat jenguk Nenek," ikrar Kanaya yang membuat Nek Yuna tersenyum di tengah kesedihannya.
"Nenek akan selalu menunggu kedatangan kamu, sayang."
BRAK.
Bunyi gebrakan itu membuat Kanaya dan Nek Yuna terkejut, membuat pelukan mereka sontak terlepas. Dengan kompak mereka memandang ke arah Lee yang pergi setelah menggebrak meja makan dengan emosi.
"Ya tuhan, anak itu keterlaluan sekali. Bagaimana bisa dia menggebrak meja di hadapan istri dan neneknya."
"Biar aku bicara sama Lee ya, Nek."
Nek Yuna mengangguk dengan tatapan khawatir. Beliau khawatir Kanaya akan mendapat bentakan kasar dari cucunya. Semoga saja Lee dapat mengontrol emosinya.
Kanaya berdiri lalu berjalan keluar rumah mencari keberadaan suaminya yang tadi mengamuk. Rupanya Lee sedang berbaring di rerumputan taman yang sekelilingnya di tanami bunga mawar oleh neneknya. Pria itu tampak menyedihkan dengan lelehan air mata di pipinya.
Dengan langkah berat Kanaya mendekat, lalu ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Lee tanpa memperhatikan reaksi suaminya itu. Mata beningnya menerawang ke atas, menatap bulan yang tampak tak senang melihat mereka bertikai.
"Kayaknya kita udah sama-sama capek deh, Mas."
__ADS_1
Lee langsung menolehkan kepalanya menghadap ke Kanaya, menatap wajah istrinya itu dengan raut tak suka. "Maksud kamu apa ngomong kayak gitu?"
"Maksud aku kita berdua butuh waktu buat istirahat, Mas. Istirahat dari semua hal yang bikin kita capek menjalani rumah tangga ini."
"Aku NGGAK CAPEK, Nay! NGGAK! Selagi menjalaninya sama kamu aku nggak akan pernah capek!"
"Tapi aku capek, Mas! Aku yang capek! Dua tahun lho, Mas. Kamu bikin aku tersiksa, memaafkan kamu memang udah aku lakuin. Tapi melupakan rasa sakit itu nggak semudah yang kamu pikir! Belum lagi sekarang masalah terus berdatangan. Aku beneran udah capek, Mas."
Menyaksikan Kanaya memperlihatkan luka karena ulahnya. Lidah Lee seakan kelu, hatinya nyeri seperti dihujani ribuan sembilu. Dadanya sesak seperti dilempari batu. Di saat ia ingin memeluk tubuh Kanaya, tangan perempuan itu menghalaunya.
Dengan segenap kekuatan, Kanaya balik menghadap Lee, kini mereka saling berpandangan. Namun dengan perasaan yang sama-sama sesak. Air mata yang jatuh dari pelupuk mata Kanaya menunjukkan kalau perempuan itu benar-benar lelah. Seolah ingin berhenti, menyudahi semuanya yang membuat hatinya menderita.
"Aku tahu aku banyak salah, Nay. Dan aku kehabisan cara untuk meminta maaf. Tapi aku mohon sama kamu, jangan pernah tinggalin aku, Nay. Aku nggak bisa tanpa kamu. Sebab kamu satu-satunya orang yang paling mengerti aku."
"Sekali lagi aku mohon jangan tinggalin aku, Nay," pinta Lee dengan cucuran air mata. Ia benar-benar takut untuk kehilangan Kanaya di hidupnya yang tak berarti tanpa adanya wanita itu.
Bukannya menjawab, Kanaya hanya diam membisu. Matanya diam-diam menelisik ke dalam mata Lee yang berlinang seperti batu yang dilumuri tinta emas. Berusaha mencari rahasia yang masih disembunyikan darinya, namun gagal ia temukan.
"Nay, aku yakin kamu masih bisa, kita berdua pasti bisa melewati segala rintangan dalam pernikahan kita."
"Dulu aku percaya kata-kata itu, tapi belakangan ini aku mulai meragukannya, Mas. Mungkin karena aku udah ngerasa capek banget."
"Just let me break, Mas. Aku butuh space untuk bernafas lega, untuk menutup semua luka supaya jangan lagi-lagi menganga. Sebulan, biarkan aku aku sendiri selama sebulan ke depan," pinta Kanaya yang kali ini dengan tegas menyatakan tekadnya untuk menenangkan pikiran. Agar ia bisa mengambil keputusan yang benar untuk kelanjutan pernikahannya dengan Lee.
Hembusan nafas berat Lee cukup menandakan kalau pria itu sebenarnya menolak keinginan Kanaya untuk berpisah sementara waktu dengannya. Namun karena ia merasa terlalu banyak menyakiti istrinya itu, akhirnya dengan terpaksa ia menyetujui permintaan Kanaya.
"Baik, kalau kamu maunya begitu, silahkan. Besok aku antar kamu ke Bandara. Untuk sementara waktu aku akan menemani Nenek di sini, kalau aku ikut pulang ke Indonesia. Aku nggak mungkin bisa biarin kamu sendirian. Aku pasti akan terus menemui kamu. Apa kamu udah yakin sama keputusan kamu ini?" Dalam hati Lee berharap Kanaya berubah pikiran dan memeluknya sambil mengatakan TIDAK.
Namun yang terjadi tak sesuai dengan yang Lee harapkan. Dengan senyuman sendu Kanaya mengangguk seraya menitikkan air matanya. Hal itu membuat Lee tak sanggup untuk tak memeluk erat istrinya itu. Takut kehilangan itulah perasaan yang sekarang tengah menyiksanya mati-matian.
"Hiks, nanti gimana, sayang? Aku nggak tahu harus hidup kayak gimana tanpa kamu di sisi aku," tangis Lee pecah. Pria itu meraung sambil mendekap tubuh mungil Kanaya yang bergetar karena menangis juga.
"Aku yakin kamu pasti bisa, Mas. Kita hanya akan istirahat untuk beberapa waktu, biar kita merasakan dan sama-sama tahu gimana cara menyelesaikan masalah yang ada di dalam rumah tangga kita."
"Aku janji akan segara mencari tahu dan membereskan masalahnya," ikrar Lee sambil mempererat pelukannya.
*****
Keesokkan harinya, usai berpamitan dengan Nek Yuna, Kanaya pergi ke Bandara diantar oleh Lee. Selama perjalanan menuju Bandara Internasional Incheon, Kanaya dan Lee memilih untuk saling bungkam. Karena sulit untuk membuka pembicaraan yang normal di saat perpisahan sudah di ambang mata mereka.
__ADS_1
Setelah tiba di Bandara, Lee turun duluan dari mobilnya untuk membuka bagasi dan mengeluarkan koper Kanaya. Sementara perempuan itu keluar sendiri dari mobil suaminya sambil menyeka air mata yang merembes keluar dengan ujung pashmina yang dikenakannya.
"Apa aku batalin aja ya?" batin Kanaya sempat meragu.
"Enggak!" elaknya kemudian sembari mengencangkan urat wajahnya agar terlihat tegar di depan Lee.
"Lima menit lagi kamu bakal pulang tanpa aku. Lima menit lagi jarak akan membawa kamu pergi jauh dari jangkauan aku. Lima menit lagi...." Lee menjeda kalimatnya untuk mengatur nafasnya yang tersendat-sendat. Bukan main sesak dadanya melepas Kanaya pergi.
Greb.
Kanaya membawa Lee ke dalam dekapan hangatnya dan langsung dibalas oleh lelaki itu dengan segenap rasa. Cinta Kanaya terlalu besar untuk mengabaikan Lee yang terpuruk karena ditinggalkan olehnya.
"Insyaallah, kita bisa," hanya tiga patah kata itu yang mampu keluar dari mulut Kanaya. Selainnya perempuan itu simpan untuk nanti di saat ia dan Lee bertemu lagi.
"Jaga diri kamu baik-baik di sana ya, jangan terima bantuan dari laki-laki lain. Kalau butuh apa-apa telfon aku aja."
"Aku lupa kasih tahu kamu, kemungkinan kita bakal jarang komunikasi. Karena kalau sering itu artinya kita nggak backstreet."
"Ya udah terserah kamu! Yang penting jaga diri baik-baik! Jaga kesehatan juga! Awas aja kalau sampai aku tahu penyakit kamu kambuh, aku samperin kamu ke Indonesia tanpa peduli sama 'permintaan istirahat' kamu lagi."
"Iya-iya."
Dengan keberatan Lee melepaskan dekapannya di tubuh Kanaya karena pesawat akan segera take off.
"Satu pesan aku, jangan pernah tinggalin sholat sama ngaji!"
"Siap, Bu ustadzah."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Entar kalau udah sampai kabarin aku ya," pinta Lee dengan ekspresi tersiksa.
"Insyaallah kalau ingat!" teriak Kanaya seraya berjalan cepat menuju pesawat dengan menggeret koper yang nantinya akan dimasukkan ke dalam bagasi pesawat.
Tanpa sepengetahuan Lee, Kanaya menangis tersedu-sedu ketika hendak memasuki pesawat, karena wanita itu menoleh ke belakang dan menemukan Lee yang masih berdiri sambil melambaikan tangannya dari kejauhan.
"Semoga kita akan bersama kembali, dengan keadaan yang jauh lebih baik, Mas," gumam Kanaya di sela-sela tangisannya. Dalam hati ia tak henti-hentinya memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dimudahkan segala urusannya.
__ADS_1
Bersambung....