
"Mas enggak marah?" tanya Kanaya sesampainya di rumah. Lee merangkul bahunya lalu tersenyum hangat.
"Kenapa aku harus marah? Aku udah dengar penjelasan dari kamu bahwa kamu sama Steffany sama sekali enggak sengaja ketemu Nathan di Kafe itu. Jadi, enggak ada alasan buat aku marah sayang," jawab Lee dengan santai.
"Aku senang kamu percaya sama aku, Mas," ucap Kanaya yang di balas kecupan di kening oleh Lee.
"Tidur yuk, udah ngantuk nih," ajak Lee sambil menuntun Kanaya ke kamar mereka.
"Sebenarnya aku mau kamu temenin aku nonton film horor, tapi kamu udah ngantuk banget ya?" cicit Kanaya sambil menatap Lee yang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Nonton film horor itu enggak baik buat psikis kita sayang, mendingan film komedi atau yang lain," saran Lee sambil memejamkan matanya. Jujur, tubuhnya sangat letih. Namun demi menuruti keinginan Kanaya, ia pun bangkit dari posisi rebahan-nya lalu turun dari kasur menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya agar tidak mengantuk.
"Gimana kalau drama romantis komedi?" usul Kanaya.
"Terserah kamu sayang, aku mah ikut aja," sahut Lee dari dalam kamar mandi.
Kanaya tersenyum semringah lalu masuk ke dalam walk in closet untuk mengganti bajunya dengan daster rumahan yang nyaman untuk dipakai saat tidur. Setelah itu ia menuju ke dapur guna mengambil snack dan minuman yogurt yang sehat untuk dijadikan teman nonton berdua bareng suami tercinta.
"Sayang kamu di mana?" tanya Lee mencari-cari Kanaya yang tidak ada di kamar. Rupanya pria itu sudah selesai mencuci muka dan menggosok giginya. Kini giliran Kanaya yang bersih-bersih sebelum akhirnya naik ke atas tempat tidur.
"Aku di dapur, Mas. Lagi siapin cemilan buat kita nonton," jawab Kanaya sedikit mengencangkan suaranya agar Lee bisa mendengarnya.
Tak lama kemudian Lee muncul di dapur dan menghampiri Kanaya, "Aku bantu bawa ya?" tawarnya perhatian.
"Enggak usah Mas, ini semua cuma snack, ringan banget," jawab Kanaya yang merasa tidak memerlukan bantuan dari Lee.
"Sayang, meskipun snack-snack ini enggak berat. Bungkus-bungkusnya yang besar ini pasti akan merepotkan kamu, jadi boleh ya, aku bantu kamu?"
Kanaya menghela nafas panjang lalu mengangguk sambil tersenyum. "Ya udah, kamu bawa aja semua snack ini sendirian, oke? Bisa?"
Lee meneguk ludahnya sendiri lalu tersenyum kecut, "Bisa kok, bisa banget sayang," jawabnya sambil terkekeh garing.
Kanaya mengulum senyum, menahan tawa melihat ekspresi wajah Lee yang menurutnya lucu, "Ayo kita balik ke kamar," ajak Kanaya yang kemudian berjalan mendahului Lee yang membawa semua cemilan di belakangnya.
*****
__ADS_1
Ketika waktu subuh tiba, tumben sekali Lee bangun lebih cepat daripada Kanaya, biasanya malah ia yang selalu telat bangun dan diomeli oleh istrinya itu.
Mungkin karena semalam Lee ketiduran di awal film. Jadi, pas waktu subuh tiba ia sudah tidak mengantuk lagi. Semalam, ia benar-benar tidak sanggup menemani Kanaya bergadang menonton drama bergenre komedi romantis itu sampai tamat sebab badannya sangat letih.
"Naya ... bangun sayang, udah subuh, sholat berjamaah sama aku yuk!" Lee mengguncang pelan bahu Kanaya, berharap istrinya itu segera bangun.
Kanaya menggeliat, menyingkirkan tangan Lee yang memegang bahunya, "Emh, lima menit lagi ya, Mas," gumamnya masih dengan mata terpejam.
"Eh, enggak boleh menunda-nunda sholat, apalagi sholat subuh itu waktunya pendek, lho."
Sebagai suami yang baik Lee berusaha menasehati istrinya.
"Ya udah, tapi gendong ya?" pinta Kanaya manja.
Lee tertawa serak mendengar permintaan istrinya yang jarang sekali bersikap manja seperti itu. "Iya sayang, sini aku gendong ke kamar mandi," jawabnya sambil menyelipkan kedua tangannya di antara kedua ketiak Kanaya guna membopong tubuh istrinya itu yang ternyata lumayan berat juga walaupun kelihatannya ramping.
"Hehehe ... makasih ya, Mas David," ucap Kanaya setelah Lee menurunkan tubuhnya di ubin kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka.
"Sama-sama, sayang. Sekarang kamu bisa langsung bersih-bersih sekalian ambil air wudhu. Aku tunggu di musholla ya?" ujar Lee. Mushola yang dimaksud Lee ialah sebuah ruangan khusus untuk sholat yang berada tepat di sebelah kamarnya dengan Kanaya.
"Siap Mas," sahut Kanaya sembari mendorong pelan tubuh suaminya keluar dari kamar mandi kemudian menutup pintu kamar mandinya rapat-rapat.
*****
"Gimana sayang? Bacaan aku udah mulai fasih kan?" Lee meminta pendapat Kanaya yang setiap subuh berganti profesi menjadi guru ngajinya.
"Masya Allah, udah lumayan fasih, Mas. Akan tetapi, kamu harus banyak belajar lagi ya, terutama belajar ilmu tajwid. Supaya bacaan kamu benar," kata Kanaya sambil tersenyum bangga melihat perkembangan suaminya yang kini sudah bisa membaca Al-Qur'an dengan baik meskipun masih belum sempurna.
"Alhamdulillah, aku akan terus belajar sampai aku bisa membaca Al-Qur'an dengan sempurna, dari segi tajwid maupun makhrajnya."
"Masya Allah, aku bangga punya suami seperti kamu Mas, yang mau terus belajar mendalami agama Islam," ucap Kanaya dengan senyuman bangga yang terpatri di wajah anggunnya yang selalu memukau walau tanpa riasan.
Untuk beberapa saat Lee terdiam, mengagumi keelokan rupa dan hati bidadari bumi yang dinikahinya. Memandang wajah Kanaya membuatnya paham apa itu keindahan cinta yang hakiki. Hanya bersama gadis itu ia merasakan bagaimana indahnya mencintai dan dicintai kembali oleh orang yang ia cintai.
"Because of you, Nay. Karena kamu yang menjadi istriku, coba istriku bukan perempuan seperti kamu, mungkin aku tidak se-religius ini," balas Lee sambil menatap lekat kedua mata Kanaya.
__ADS_1
"Thank you for being my wife, yang selalu bersabar dalam menghadapi ku, yang selalu menyayangiku setulus hati...."
"Thank you for making my life so much better than before, Nay. I love you too much," ungkap Lee yang tanpa sadar telah menitikkan air matanya di depan Kanaya.
"Aku hanya melakukan yang terbaik, yang bisa aku lakukan untuk kamu, Mas. And you know that I love you the most," tutur Kanaya sambil menatap mata Lee yang tengah menyelami matanya. Kanaya tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan saat ini, seperti ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di perutnya, yang jelas ia sangat bahagia karena pada akhirnya ia dan Lee bisa saling terbuka mengungkapkan perasaan masing-masing.
"Sarapan bubur di depan komplek yuk?" ajak Kanaya tiba-tiba.
"Ayok," sahut Lee diiringi senyuman manis, semanis gula jawa.
Lee pun berdiri, menaruh Al-Qur'an yang sudah selesai ia baca di atas lemari kaca yang tingginya setara dengan bahunya. Kemudian ia menunggu Kanaya melipat mukenah-nya dan memakai kerudung instan berwarna biru pastel.
"Udah siap, sayang?" tanya Lee seraya mengulurkan tangannya di depan Kanaya.
Dengan senang hati Kanaya menyambut uluran tangan Lee, ia menggenggam tangan kokoh milik suaminya itu dengan erat, "Udah nih," jawabnya sambil tersenyum.
"Let's go!" teriak Lee senang.
"Eh, jangan keras-keras ngomongnya, masih pagi lho, Mas."
"Biarin aja, biar pada bangun buat sholat subuh."
Bersambung.....
Bagaimana, bun? Senang bukan lihat Kanaya sama Lee mulai so sweet?π₯Ίπ»
Jangan lupa like, komentar, vote, sama share cerita ini ke teman-teman kalian ya? Aku mohon bantuan dukungannya supaya aku semangat buat garap cerita ini.π½π½ππ
Love you allβ€οΈ
follow my media sosial here βοΈ
Instagram : asyiahmuzakir
Facebook : Zzahraa All Khoirr
__ADS_1