
Malam itu Kanaya datang bulan dan seperti biasanya ia mengalami sakit perut yang luar biasa. Setelah makan malam Kanaya langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia tak kuat duduk berlama-lama di atas kursi.
Lee yang baru pulang dari Masjid panik begitu melihat Kanaya kesakitan. "Kamu kenapa sayang?" tanya Lee dengan cemas.
Kanaya menunjuk perutnya sambil meringis. "Aku datang bulan, sakit banget, Mas," adu Kanaya dengan ekspresi kesakitan yang membuat Lee bertambah cemas.
"Tunggu sebentar, aku mau rebus air hangat buat kompres perut kamu."
Setelah itu Lee berlari ke dapur, mengambil panci yang ada rak lalu mengisinya dengan air. Kemudian ia merebus air itu sampai mendidih. Usai itu ia mengambil baskom lalu mencampurkan air panas dari panci dengan air dari keran.
"Sepertinya cukup."
******
"Gimana sayang? Apa sakitnya berkurang?" tanya Lee sembari mengusap keringat yang bercucuran di dahi Kanaya dengan jemarinya.
"Masih Mas."
"Mas, aku pengen makan ramyun, beli ramyun ke Alfamei, yuk?" ajak Kanaya yang selalu sama setiap kali ia menstruasi pasti bawaannya mau makan yang pedas-pedas.
Lee yang sudah paham pun tersenyum lalu membantu Kanaya bangun dari tempat tidur dan mempersiapkan segala sesuatu untuk istrinya itu seperti sandal dan kerudung karena mereka ingin keluar rumah.
"Perut kamu gak tambah sakit kalau makan ramyun?" tanya Lee ragu.
Kanaya menggelengkan kepalanya. "Enggak, malah menurut aku kalau makan ramyun pas mens itu bikin mood aku membaik dan sakitnya pun ilang dengan sendirinya," terang Kanaya meyakinkan suaminya.
"Oke, ayo kita berangkat, kamu mau jalan kaki atau pakai mobil?"
"Aku gak mau dua-duanya," jawab Kanaya polos.
"Lho? Terus maunya naik apa?" tanya Lee kebingungan.
"Mau naik motor, kamu pinjem motor tetangga ya," pinta Kanaya aneh-aneh saja.
"Tetangga kita emang ada yang punya motor?"
__ADS_1
Setahu Lee tetangga di sekitar rumahnya rata-rata mengendarai mobil, ia jarang sekali melihat motor melintas di jalan komplek rumahnya kecuali motor milik mang-mang ojek online yang sering mengantarkan barang maupun makanan.
"Ada mas, namanya Kang Jeno, yang rumahnya dekat sama masjid Al-anshar itu lho," jawab Kanaya.
"Oalah, si Jeno? Mas juga kenal sama dia, dulu dia yang bantu Mas nyari tanah di komplek ini," ujar Lee yang ternyata mengenal sosok Jeno yang Kanaya sebutkan tadi.
"Ooh, ya udah, berarti kamu bisa dong pinjem motornya sekarang juga?"
Dengan ragu Lee menganggukkan kepalanya, bagaimana caranya meminjam motor pada Jeno itu urusan nanti, yang penting turuti dulu permintaan Kanaya agar istrinya itu tidak semakin badmood.
"Kalau gitu aku ke rumah Jeno dulu ya, kamu tunggu di depan rumah kita aja, nanti aku samperin kamu," ujar Lee.
"Oke, Mas suami, semoga berhasil!" sahut Kanaya sembari menyemangati Lee.
Sesampainya di rumah Jeno, Lee melihat istri Jeno sedang menjemur baju. "Assalamualaikum," ucap Lee memberi salam kepada istri jeno.
Wanita itu menoleh dan tersenyum ramah ketika mendapati Lee datang ke rumahnya. "Wa'alaikumsalam, Mas David. Ada apa gerangan datang ke sini? Apa ada yang mesti saya bantu?" tanya Mina, istri Jeno yang tengah hamil anak pertama mereka.
"Hm, Jeno nya ada?" tanya Lee.
"Jadi begini Mbak Mina, istri saya kepengen naik motor, tapi berhubung kami cuma punya mobil, jadi boleh nggak kami pinjam motor kalian? Enggak lama kok, cuma ke Alfamei aja." Lee mengutarakan niatnya datang ke rumah Jeno dan istrinya.
Mina tersenyum simpul. "Boleh banget lah, tapi sekarang motornya lagi dipake sama Mas Jeno, mungkin setelah dia kembali ke sini motornya bisa Mas David pinjam."
"Terimakasih ya, Mbak Mina. Semoga kandungannya sehat selalu sampai melahirkan nanti."
Mina mengelus perutnya dengan gerakan lembut. "Aamiin, makasih atas doanya ya, Mas David," katanya sambil tersenyum lebar.
"Udah berapa bulan, Mbak?" tanya Lee penasaran melihat perut Mina yang tadinya rata kini sedikit buncit.
"Tiga hari lagi empat bulan. Oh iya, nanti kalau saya ngadain acara syukuran empat bulanan diusahakan datang ya, ajak juga Kanaya, siapa tahu nanti dia hamil juga," jawab Mina sedikit menyindir Lee.
'Bagaimana bisa Kanaya hamil jika selama ini aku tidak pernah menyentuhnya.' Lee membatin.
Tak lama setelah itu Jeno datang dengan motor Nmax nya. "Eh ada Mas David, ada apa Mas?" tanya Jeno sembari mengangkat gas yang baru dibelinya dan membawa bahan bakar itu ke dapur. Kemudian pria itu kembali ke depan rumah dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan Lee.
__ADS_1
"Ada apa Mas?" tanya Jeno to the point.
"Boleh nggak aku pinjam motor kamu, cuma sebentar kok," jawab Lee mengungkapkan tujuannya.
"Ooh, kirain ada apa, ya udah sok, pinjam aja sepuasnya, lama juga nggak papa. Lagian abis ini aku sama istri mau di rumah aja kok." Jeno mengizinkan motornya dipinjam oleh Lee, sebagai tetangga memang sudah seharusnya saling memudahkan satu sama lain, iyakan?
"Makasih ya, Jeno ... Mina," ucap Lee yang kemudian menerima kunci dari Jeno dan membawa motor Nmax milik tetangganya itu ke rumahnya.
Di depan gerbang rumah, Kanaya sudah stand by menunggu Lee dan ketika ia melihat suaminya itu berhasil meminjam motor untuknya, wajahnya pun berubah sumringah.
"Besok kita beli motor kayak gini ya," ucap Lee yang tiba-tiba tertarik untuk membeli motor jenis Nmax seperti milik Jeno yang sekarang ditungganginya.
"Beneran Mas? Dulu katanya kamu gak suka sama motor, gak nyaman mengendarai motor dan bla bla bla," kata Kanaya mengingatkan Lee kepada dirinya yang dulu sangat tak suka menaiki motor, entah kenapa rasanya tidak nyaman pada waktu itu, tapi sekarang ia malah tertarik untuk menjadikan motor sebagai kendaraan pulang pergi ke kantornya.
"Itu kan dulu, Nay. Sekarang beda, gara-gara kamu nyuruh aku pinjam motor Jeno aku jadi tertarik sama motor."
"Bisa aja kamu Mas," timpal Kanaya yang kemudian naik di belakang Lee sambil berpegangan pada bahu lebar suaminya itu.
"Mas, naik motornya pelan-pelan aja ya," pesan Kanaya sebelum Lee menarik gas.
"Iya, sayang."
Setelah itu barulah Lee menarik gas dan melajukan motornya dengan pelan sesuai permintaan Kanaya. Namun tiba-tiba hujan turun dan membuat Lee mempercepat laju motornya. Sementara Kanaya yang membonceng di belakang mulai melingkarkan tangannya di perut Lee supaya tidak hilang keseimbangan dan berakhir jatuh.
"Berasa jadi Milea," cicit Kanaya yang sampai ke telinga Lee. "Kalau kamu Milea, berarti aku Dilan nya?" tanya Lee menanggapi ucapan istrinya.
"Bukan, kamu bukan Dilan nya, karena Dilan adalah kisah manis yang hanya sementara sedangkan aku mau kamu jadi kisah manis yang bertahan selamanya," jawab Kanaya yang berhasil membuat Lee tersenyum malu.
"Di kisah Dilan, Dilan yang suka gombalin Milea, kalau di kisah David, Kanaya yang suka gombalin David," celetuk Lee beberapa saat kemudian.
Kanaya terkekeh mendengar pernyataan suaminya. "Sebenarnya yang aku bilang tadi bukan cuma sekedar gombal, aku benar-benar serius mau kamu jadi kisah manis selamanya buat aku," ungkap Kanaya seraya menyandarkan kepalanya di punggung kekar Lee dan mempererat pelukannya di perut suaminya itu.
Senyuman seakan tak mau memudar dari bibir Lee, hatinya menghangat setiap kali Kanaya memeluknya, setiap kali Kanaya mengatakan kalau dirinya selalu ingin bersamanya.
Perlahan Lee menyentuh tangan Kanaya yang melingkar di perutnya lalu mengelus lembut tangan halus milik gadisnya itu. Lee merasa hatinya berbunga-bunga namun ia tak menyadari kalau dirinya sudah jatuh cinta pada Kanaya.
__ADS_1
Bersambung....