Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 49 | Kembali Tuk Sesaat


__ADS_3

Kanaya, Hamzah, dan Astrid yang membawa anak tertuanya yang berusia 7 tahun, berjalan beriringan di lantai dua sebuah Mall di pusat kota.


Tadinya mereka tidak kepikiran untuk mengunjungi pusat perbelanjaan itu, sebab tujuan pertama mereka adalah ke panti asuhan. Tetapi anak Astrid malah merengek dan meminta bundanya untuk membeli beberapa mainan untuk teman-temannya di panti. Astrid pun setuju sekaligus terharu dengan permintaan mulia anaknya.


Kebetulan juga Kanaya mengidam gelato yang di jual di salah satu store yang terkenal di Mall tersebut. Jadi, mereka semua memutuskan untuk ikut ke dalam Mall.


"Zah, kamu temenin Naya beli gelato ya, biar aku sama anakku yang pilih-pilih mainan buat anak panti."


"Iya Mbak, nanti ketemu lagi di kasir ya?"


"Iya, titip Naya ya, jagain dia sebentar," sahut Astrid yang paham betul kalau Kanaya tak bisa ditinggal sendirian di tengah keramaian. Meskipun tak sering terjadi, perempuan itu masih mengidap Agoraphobia yang bisa kambuh kapan saja.


"Seumur hidup juga boleh, Mbak," celetuk Hamzah yang membuat Kanaya menoleh ke arahnya dengan mimik kaget.


"Hush, nggak boleh! Inget, Kanaya masih punya suami," balas Astrid mengingatkan, yang diingatkan hanya tersenyum malu.


"Apa-apaan sih kalian berdua?!" cela Kanaya yang agak risih mendengar percakapan di antara kedua temannya itu.


"Bercanda Nay, kita cuma bercanda, iya kan Mbak Astrid?"


"Nggak tuh, aku beneran nyuruh kamu buat jagain Naya sementara aku sama anak aku ke kids store."


"Mbak! Aku bukan anak kecil, aku bisa kok beli gelato sendirian," protes Kanaya sambil mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit, usia kandungannya sudah memasuki 13 minggu.


"Terus gunanya dia di sini buat apa kalau bukan buat jagain kamu?" Astrid menunjuk Hamzah dengan jempolnya sedangkan sebelah tangannya ia gunakan untuk menahan tubuh sang anak yang tak sabar ingin berlari ke kids store.


"Iya Nay, jangan bikin aku nggak berguna ya, nanti aku sedih, apalagi kamu lagi hamil, perlu penjagaan yang ketat," timpal Hamzah membenarkan ucapan Astrid.


Kanaya pun membuang nafas, dadanya agak sesak menerima kenyataan kalau bukan Lee yang menjaganya. Tapi pada akhirnya ia hanya manut apa kata kedua temannya karena bagaimanapun itu bentuk kepedulian terhadap dirinya yang sedang berbadan dua.


"Maaf ya, aku nggak bisa bayar kamu, Mas bodyguard," canda Kanaya sesaat setelah ia dan Hamzah terpisah dari Astrid.


Hamzah tertawa renyah, "Nggak butuh bayaran, ukhti. Saya ikhlas membantu ukhti dengan sepenuh hati," balasnya mendramatisir.


"Kalau begitu sekalian bayarin gelato buat saya ya?" pinta Kanaya sedikit tak tahu diri memang.


Hamzah pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Wah kok jadi ngelunjak ya, ukhti?" protesnya dengan mimik lucu.


"Tadi katanya ikhlas mau bantuin aku? Kalau ikhlas jangan setengah-setengah dong," ujar Kanaya dengan seringai jahilnya.


"Ya udah iya-iya, untung ane bawa ini," Hamzah mengeluarkan dompet dari saku baju kokonya dan untuk berjaga-jaga, ia melihat isi dompetnya dulu, untungnya ia punya uang yang sepertinya cukup untuk membayar dua gelato atau lebih.


"Aku nggak serius kok, aku bakal bayar sendiri," ucap Kanaya yang peka terhadap keuangan lelaki yang sudah berteman dengannya sejak kecil itu.


"Hih, ucapan kamu udah nggak bisa ditarik ya! Aku memang nggak sekaya suami kamu, tapi kalau cuma gelato, aku bisa kok bayarin kamu," kekeuh Hamzah sembari merapikan sedikit letak sarungnya sebelum berjalan membuntuti Kanaya yang bergerak lebih dulu menuju ke toko es krim yang sangat khas itu.

__ADS_1


"Mbak, saya mau yang rasa almond sama...." Kanaya menoleh ke arah Hamzah seolah menanyai pria berpeci itu.


"Matcha," jawabnya singkat.


"Sama yang rasa matcha nya satu ya, Mbak," imbuh Kanaya yang langsung ditanggapi dengan cepat oleh pelayan toko gelato itu.


"Zah, aneh tahu," ujar Kanaya sambil mengelus perutnya.


"Apanya yang aneh?"


"Selera aku, sebelumnya aku nggak suka rasa kacang almond, tapi pas hamil kok aku malah kepengen ya?"


"Debay kali yang minta," jawab Hamzah sambil cengar-cengir.


"Mungkin iya kali ya, haha. Aku jadi nggak sabar pengen ketemu dia secara langsung."


"Enam bulan lagi Nay, sabar," ujar Hamzah dengan senyuman hangatnya.


Setelah mendapatkan apa yang mereka pesan, Hamzah membayar sedangkan Kanaya lebih dulu pergi menghampiri Astrid yang ternyata sudah duduk menunggunya di stand all you can eat.


"Sini, di makan dulu gelatonya, aku juga lagi pesan sushi," kata Astrid sembari memangku anaknya.


"Mau makan sushi nggak?" tawarnya pada Kanaya yang sedang menikmati gelatonya.


"Nggak ah, aku nemenin Mbak aja sambil ngabisin gelato ini," tolaknya halus.


"Kayaknya dia lagi beli sesuatu deh," jawab Kanaya tak acuh.


"Nay."


Mendengar nada suara Astrid yang serius, Kanaya pun memusatkan pandangannya ke arah wanita yang sudah ia anggap sebagai kakak itu.


"Apa?"


"Kamu yakin nggak mau kasih tahu suami kamu soal kehamilan kamu ini?" tanya Astrid serius.


"Bukan nggak mau kasih tahu, aku cuma ngerasa kalau waktunya belum tepat, Mbak. Aku khawatir berita kehamilan aku akan menghalangi jalan Mas David untuk menemukan kebenaran tentang anak itu," terang Kanaya sendu.


Wajah cantiknya yang ceria langsung berubah murung kalau sudah membahas apapun yang berkaitan dengan suaminya yang kini jauh di mata.


"Tapi gimana pun juga kamu harus kasih tahu dia secepatnya, Nay. Ingat, dia ayah dari bayi yang sekarang ada di perut kamu, dia yang akan bertanggung jawab atas bayi kamu," saran Astrid dengan tatapan khawatir.


******


Penciuman Kanaya terganggu oleh wewangian lembut nan segar yang amat dikenalinya. Mata bening itu perlahan terbuka dan melihat ke arah tangan kekar yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


"Aaaaa!"


"Syuuut, ini aku yeobo," bisik Lee sambil meletakkan telunjuk panjangnya di bibir Kanaya, menghentikan teriakan kaget istrinya itu.


"Astaghfirullah, kamu nakutin aku aja sih! Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau pulang!" omel Kanaya dengan air mata yang sudah merembes dari ujung matanya. Saat ini perasaan syok, bahagia, sedih, bercampur menjadi satu melihat Lee ada di depannya.


"Maaf ya, yeobo, lagian kalau ngasih tahu dulu yang ada nggak dibolehin sama kamu," ucap Lee sambil mengedipkan kedua matanya. Aduh, mana boleh menggemaskan seperti itu di saat hati Kanaya sedang dibombardir kerinduan yang amat sangat dalam.


Lee duduk lalu merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum manis. "Wanna hug me?"


Bibir Kanaya bergetar menahan tangis. Ia merangsek ke dalam dekapan hangat Lee lalu mencubit punggung lebar suaminya itu sebagai bentuk kekesalannya menunggu sampai menahan rindu selama ini.


"Hyaa! Kenapa selama di Seoul kamu seringkali susah dihubungi, hah?!" protes Kanaya marah.


"Sayang cuaca di Seoul lagi kurang bagus, maaf ya," jawab Lee beralasan.


"Maaf terus, bosen dengernya tahu nggak!"


"Yang penting kan sekarang aku udah pulang, kamu udah bisa meluk aku kayak gini."


"Jangan jauh-jauh dari aku bisa nggak sih?" pinta Kanaya sambil menitihkan air matanya. Membuat kaos yang Lee pakai mulai basah.


"Tunggu sayang, sebentar lagi ya, setelah hasil tes DNA itu keluar, aku pasti akan terus di sini sama kamu," janji Lee sambil mengusap lembut puncak kepala Kanaya dan mengecupnya berkali-kali.


"Kalau hasilnya dia benar anak kamu gimana?" tanya Kanaya seakan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.


"Aku akan tetap mencintai kamu Nay, aku akan tetap di sini untuk kamu, nggak akan ada yang berubah, aku janji."


Kanaya mendongak menatap wajah tampan suaminya, mata tajam yang selalu menatapnya dengan sorotan lembut itu membuat hati Kanaya semakin jatuh ke dalam lautan cinta berbalut duka. Akankah ia mampu melepas pria itu? Jawabnya jelas tidak mampu.


"Tapi kamu harus bertanggung jawab sebagai ayahnya Mas, sedangkan aku nggak sanggup jika harus merawat anak yang kamu dapat dari wanita lain."


Lee terdiam sambil terus menatap mata bening Kanaya yang menampakkan riak kesedihan dan keputusasaan. Lalu tak terduga pria itu menangis tersedu-sedu sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Kanaya.


"Aku nggak mau kehilangan kamu, Nay. Kamu terlalu berarti dalam hidupku, kamu nggak bisa digantikan atau ditukar dengan apapun."


"Seandainya Hyunki benar anak kandungku, aku lebih memilih berjauhan dengannya daripada harus meninggalkan kamu!" tangisan Lee terus berlanjut hingga pria itu kelelahan sampai Kanaya harus menidurkannya sambil mengusap pipinya yang basah terkena air mata.


"Aku nggak tahu kedepannya bakal kayak gimana, Mas. Yang jelas sulit untuk pergi dari kamu, membayangkannya saja hatiku jadi remuk," gumam Kanaya sambil mengusap air matanya sendiri. Kemudian ia ikut berbaring di samping Lee dan terus memandang ke arah wajah tampan suaminya itu.


Ting.


Mendengar notifikasi masuk di ponsel Lee, insting Kanaya menuntunnya untuk membuka layar kunci ponsel suaminya itu dan mengecek pesan dari siapa pukul 3 dini hari begini.


Georgina

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2