
"Na ... than, ooh Nathan." Steffany mengeja sablonan nama yang ada di belakang jaket kulit yang diambilnya dari Kanaya.
"Tunggu, Nathan ini siapa ya?"
"Jangan overthingking dulu, lebih baik tanya Kak Naya nya."
Steffany pun mengambil iPhone nya dan menghubungi nomor Kanaya. Panggilan di angkat, suara batuk-batuk terdengar dari seberang telfon, membuat Steffany khawatir.
"Halo Kak, Kak Naya kenapa? Sakit?"
"Enggak kok, Steffy. Kakak cuma batuk karena tadi abis makan gorengan." Kanaya berbohong. Sebenarnya ia batuk karena baru usai menangis.
"Aduh, jangan sering-sering makan gorengan kak, gak baik buat kesehatan. Ya meskipun rasanya enak dan bikin nagih."
"Iya Steffy, makasih ya atas nasehatnya."
"Sama-sama kak. Oh iya, sebenarnya aku mau tanya soal jaket, ini punya siapa ya, kak?" tanya Steffany dengan hati-hati.
"Ooh, itu punya teman sekampus kakak, waktu kakak kedinginan di halte kampus dia ngasih jaketnya karena kasihan sama kakak, pedahal dia bukan orang yang kenal dekat sama kakak."
"Ooh gitu, ya ampun, gara-gara aku yang telat jemput Kak Naya, Kak Naya jadi kedinginan deh."
"Nggak, itu bukan gara-gara kamu, Steffy. Kakak yang salah, udah tahu mau turun hujan masih aja nungguin dan berharap kakak kamu datang menjemput."
"Ya tuhan, Oppa Lee lama-lama pengin aku HIH! Kenapa sih dia lebih sering mentingin kerjaan daripada kakak istrinya?"
"Tenang aja kak, nanti aku omelin Oppa Lee habis-habisan, kalau perlu sampai dia muak sama omelan aku."
"Ngomongin soal kakak kamu Kak Naya jadi lupa kalau suami kakak itu belum di kasih makan, kita lanjutin ngobrolnya di lain waktu ya? Nggak papa kan?"
"Nggak papa, santai aja kak. By the way, jaketnya buat aku aja ya, kak? Boleh kan?"
"Boleh, Sweetie."
"Makasih kak, bye."
__ADS_1
"Bye, bye."
Setelah mematikan panggilannya Steffany langsung melompat kegirangan. Fix, sekarang jaket bertuliskan nama Nathan itu adalah miliknya. Steffany sangat terobsesi dengan benda-benda unik termasuk jaket yang Nathan berikan kepada Kanaya.
"YEAH! Akhirnya jaket ini resmi jadi milikku, besok akan aku pakai ke Kampus baru."
"Tapi bagaimana jika pemilik pertamanya meminta jaketnya dikembalikan?"
"Ah, tinggal bayar aja jaketnya terus pergi deh."
"Itulah kenapa aku suka dollar," ungkap Steffany terdengar seperti gadis matre. Hm, memang kenyataannya seperti itu sih. But, jangan salah paham dulu, Steffany matre dengan uang yang dia hasilkan sendiri, bukan uang dari orang tua ataupun uang orang lain.
"Aku masih ting~ting dijamin masih ting~ting. Belum berpengalaman." Steffany itu mukanya saja yang bule dan sedikit kekorea-korean, lagu kesukaannya tetap dangdut yang sangat lokal alias Indonesia banget. Bahkan gadis cantik itu sering menyanyikan lagu-lagu dangdut tanpa sadar karena sering mendengarkannya.
"Aku harap di Kampus yang baru aku mendapatkan teman yang sefrekuensi denganku, yang suka dangdut, suka makan Indomie, pokoknya yang begitu deh."
Setelah bosan berceloteh sendirian Steffany pun tertidur di kasurnya dengan posisi terlentang. Di sebelahnya ada laptop yang masih menyala, salah satu kebiasaan buruk Steffany yang sulit dihilangkan yaitu membiarkan laptopnya menyala sepanjang malam.
Keesokkan harinya Steffany bangun tepat pada pukul enam pagi, ia segera mandi lalu memakai produk skincare untuk wajahnya agar tetap terawat dan semakin cantik. Setelah itu ia makeup tipis-tipis agar tidak terlihat pucat seperti orang sakit.
Untuk sarapan, Steffany bukan tipe orang yang ribet, baginya cukup ada roti, salad dan segelas susu putih jika ada. Yang penting mengandung banyak serat dan tentunya no lemak karena ia benci apabila melihat berat badannya naik.
"I hope your happy but don't be happier," gumam Steffany menyanyikan lagu yang belakangan ini booming sembari mengoles selai coklat di atas rotinya.
Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Ternyata Kanaya yang datang ke apartemen Steffany. Gadis itu ingin mengajak adik iparnya berangkat bersama.
Namun belum sempat Steffany membuka pintu, tangan Kanaya ditarik oleh Lee. Kanaya ingin memprotes tapi tidak jadi karena ia melihat darah dilengan Lee.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Kanaya dengan cemas.
Lee malah membungkam mulut Kanaya dan menyeret istrinya itu agar menjauh dari apartemen adiknya.
Kanaya pasrah saat Lee memasukkan dirinya ke dalam mobil dan pergi dari gedung apartemen Steffany.
"Bajingan itu nggak boleh tahu tempat tinggal Steffany," gumam Lee.
__ADS_1
Kanaya masih tak paham dengan siapa yang dimaksud oleh suaminya itu. "Bajingan siapa Mas? Dan itu kenapa ada darah di lengan kamu?" tanya Kanaya khawatir sekaligus kebingungan.
"Seseorang yang tak dikenal menyerangku saat aku menyusul kamu ke sini, Naya. Orang itu sepertinya sudah lama mengikutiku sehingga dia paham kapan aku lengah, tapi untungnya kamu tidak sampai terluka," ungkap Lee sambil mengusap pipi Kanaya dengan jemari kokohnya.
"Kamu adalah orang pertama yang mesti aku lindungi karena aku tahu kamu lemah, tidak seperti adik aku yang kubiarkan melawan bajingan itu."
"Nggak Mas! Lindungi Steffy juga! Kalau memang bajingan itu mengikuti kamu berarti Steffy dalam bahaya!"
"Jangan khawatir, adikku itu sudah terbiasa dalam bahaya, dia pasti bisa menanganinya."
"Mas, jangan begitu, Steffy itu perempuan, dia juga butuh dilindungi," sela Kanaya.
"Dia berbeda, Kanaya. Dia malah tidak suka dilindungi oleh kakaknya, percayalah. Dia hanya butuh laptop kesayangannya untuk melindungi dirinya sendiri dari bahaya yang mengintai."
Mau tak mau Kanaya harus percaya dengan apa yang dikatakan Lee karena dia tidak ingin terus berdebat dengan suaminya yang kini sedang dalam keadaan terluka itu.
Lee memasangkan sabuk pengaman untuk Kanaya sebelum menjalankan mobilnya menuju DSL beauty company dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Pria itu khawatir orang yang tadi menyerangnya masih membuntutinya.
Hati Kanaya tersentuh melihat usaha Lee untuk melindungi dirinya. Pria itu bahkan rela terluka, apa Lee melakukannya hanya karena rasa tanggung jawab sebagai seorang suami? Atau bolehkah Kanaya berharap kalau suaminya itu mulai mencintainya?
Tak lama setelah Kanaya dan Lee pergi Steffany keluar dari apartemennya dengan muka ceria. Padahal ia baru saja berkelahi dengan Bajingan yang mencoba menculiknya. Sekarang malah Bajingan itu yang menjadi tawanan Steffany. Ya, setelah berhasil mengalahkannya Steffany memborgol tangan Bajingan itu serta mengikat kakinya dengan rantai baja. Tak main-main bukan?
Dari luar Steffany memang kelihatan imut, ceria, menggemaskan, seperti gadis manis yang polos. Tapi di sisi lain gadis itu sangatlah berbahaya, berkharisma, dan sedikit kejam terhadap orang-orang yang memusuhinya.
Kini ia punya misi dari Lee untuk menyelidiki apa motif di balik teror yang diterima kakak kandungnya tersebut.
Bersambung....
Dengan hadirnya Steffany cerita ini akan....
A. Tambah seru
B. Semakin menarik
C. B aja
__ADS_1
Isi sesuai pendapat kalian.