
HAPPY READING, LOVE!💖
Louis Nathaniel Abrisam adalah Mahasiswa abadi jurusan Agribisnis di Universitas Bina Nusantara, pria tampan blasteran Prancis itu sudah dua kali gagal menjadi sarjana. Sebenarnya bukan karena dia bodoh, melainkan karena dia tak pernah serius belajar.
Yang Nathan lakukan setiap kali ia masuk ke Kampus hanyalah berkelahi dan membuat keributan dengan siapapun yang tak disukainya, tidak peduli itu junior atau bahkan Dosennya sekalipun.
Namun siapa sangka, Nathan yang begitu berantakan tersebut ternyata sudah lama memendam perasaan cinta kepada Kanaya, perempuan yang terkenal sholeha, cerdas, penyabar, serta memiliki kreativitas yang mengagumkan. Idola semua kaum pria di Kampus yang telah memilih David Steven Lee sebagai suaminya.
Patah hati jelas dirasakan Nathan saat ia tahu Kanaya menikah dengan pria yang dinilai serba sempurna oleh banyak orang. Nathan berpikir pantas saja kalau pujaan hatinya itu dari dulu tak pernah meliriknya, ia hanya pria pembuat onar yang sering meresahkan warga Kampus, tak ada istimewanya sama sekali.
Siang itu seperti biasa Nathan terlambat masuk kelas lagi, kali ini ia dihukum merapihkan buku-buku di perpustakaan. Tanpa protes Nathan keluar dari kelas dan pergi ke perpustakaan guna melaksanakan hukuman dari Dosennya.
Sesampainya di perpustakaan, Nathan segera membereskan buku-buku yang tidak diletakkan di tempatnya. Bukan cuma itu saja, ia juga membersihkan buku-buku tebal yang jarang terjamah oleh tangan para mahasiswa.
Saat Nathan sedang membersihkan debu-debu di rak buku, seseorang datang mendekatinya lalu dengan sengaja mengacak-acak buku yang sudah dia rapihkan.
"Apa-apaan nih?!" geram Nathan seraya menatap tajam orang yang telah sengaja mengusiknya.
"Gue cuma bantuin lo, supaya lo nggak kurang kerjaan."
Nathan tersulut emosi mendengar ejekan itu. Ia mencengkram kerah baju orang yang baru saja mengejeknya. "Kenalin, gue Galih, adik perempuan yang kemarin lo sakitin perasaannya," ucap orang yang ternyata bernama Galih itu.
BUGH!
Galih meninju wajah tampan Nathan dengan sangat keras sampai ujung bibir pria itu sobek dan mengeluarkan darah segar. Nathan terbakar emosi, ia paling benci jika ada orang yang berani melukai wajah tampan kebanggaannya.
Nathan balik meninju wajah Galih dengan kepalan tangannya yang kuat. Pria itu bahkan mengulanginya beberapa kali sampai wajah Galih bonyok sana sini. Sontak saja mahasiswa-mahasiswi yang berada di perpustakaan itu langsung berkumpul untuk menyaksikan Nathan dan Galih yang tengah baku hantam. Tak ada yang berani memisahkan mereka, sampai datanglah Atikah dan Kanaya. Atikah yang pemberani langsung meneriaki Nathan dan Galih untuk berhenti.
"Aduh-aduh, begini nih kalau otak lebih kecil daripada otot. Woy! kalian itu udah dewasa, ngapain masih berantem kayak gitu? Enggak malu apa bikin onar di tempat orang menimba ilmu?" kata-kata penuh sindiran yang keluar dari mulut Atikah itu membuat Nathan menoleh dan menatap perempuan itu dengan tatapan marah.
Namun saat Nathan menyadari keberadaan Kanaya di sebelah Atikah yang ikut memperhatikannya, ia langsung menunduk dan melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Galih lalu pergi dengan rasa malu yang menyelimuti benaknya.
"Sekalinya rusak, pasti akan terus terlihat rusak, itulah diriku," gumam Nathan sambil mengacak-acak rambutnya dengan prustasi.
******
"Nay, aku lupa kalau hari ini aku ada jadwal diskusi sama grup seminar, kamu enggak papa kan aku tinggal?"
__ADS_1
"Enggak papa kok, udah cepat sana, mereka pasti udah nyariin kamu," jawab Kanaya.
"Ya udah, bye-bye, Nay. Nanti pas jam istirahat kedua kita ketemu di kantin ya?" ujar Atikah sebelum pergi.
"Oke," sahut Kanaya yang setelahnya kembali fokus mencari buku untuk dijadikan referensi.
"Nah, itu dia yang aku cari!" Kanaya tampak senang saat menemukan buku yang ia cari sejak tadi. Namun sedetik kemudian wajah gadis itu berubah lesu karena tangannya tak dapat menjangkau buku tersebut.
"Yah, kalau begini aku harus cari kursi."
Ketika Kanaya hendak mengambil kursi, sebuah tangan kokoh dengan suka rela mengambilkan bukunya. Ternyata tangan itu milik Nathan yang sejak tadi memperhatikan Kanaya dari balik rak buku.
"Ini bukunya." Nathan memberikan buku itu pada Kanaya yang dengan senang hati menerimanya.
"Terimakasih banyak ya," ucap Kanaya formal seraya tersenyum simpul.
"Sama-sama," balas Nathan dengan gugup karena ini pertama kalinya ia berbicara langsung dengan Kanaya, wanita idamannya.
"Kalau begitu saya duluan ya ... permisi," ujar Kanaya yang kemudian berjalan melipir melewati Nathan lalu keluar dari perpustakaan. Wanita itu sangat menjaga batasan dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
Meskipun hanya beberapa kata yang terucap, Nathan sudah sangat bahagia, pria itu tak henti-hentinya mengukir senyuman di bibir penuhnya.
******
Di taman belakang Kampus, Kanaya sedang sibuk mengerjakan tugasnya, tangan kanannya mencatat materi di atas buku tulis sedangkan tangan kirinya bergerak lincah di atas keyboard laptop.
"Sibuk banget, udah sempat makan siang belum?" dalam sekejap suara itu mampu mengalihkan dunia Kanaya. Gadis itu menoleh ke sumber suara dan mendapati suaminya sudah duduk di sebelahnya.
"Mas David? Kok bisa ada di sini?" Kanaya penasaran kenapa Lee datang ke Kampusnya.
Lee mengedikkan bahunya sambil tersenyum lalu menunjukkan kotak makanan yang sebelumnya ia sembunyikan di balik punggung tegapnya. "Lihat apa yang aku bawa untuk kamu," katanya.
"Pizza?" tebak Kanaya seraya mengambil kotak makanan yang dibawa Lee.
"No, itu makanan yang lebih istimewa. Kesukaan kamu juga," jawab Lee sambil tersenyum penuh arti.
Kanaya yang penasaran langsung membuka kotak makanan itu dan melihat isinya yang ternyata adalah iga bakar dan nasi putih yang masih hangat. Kanaya terharu, ia memeluk Lee sebagai tanda terimakasih untuk suaminya itu.
"Ayo dimakan, mumpung masih hangat." Lee menginterupsi Kanaya untuk segera menyantap makanan yang ia bawa dari kantor.
__ADS_1
"Kamu beli dimana nih?" tanya Kanaya setelah menelan gigitan pertamanya.
"Itu enggak dapet beli, Nay."
"Ooh, jadi ini kamu yang masak sendiri?"
"Bukan juga."
"Terus ini dari mana?" tanya Kanaya bingung.
"Dari Aisyah... Gimana? Enak kan?" Kanaya mengangguk, wajahnya seketika berubah datar tanpa ekspresi.
"Pasti enak ... masakan Aisyah itu dari dulu enggak pernah enggak enak, suatu hari aku pernah dikirimin nasi goreng sama telor ceplok, dan kamu tahu Nay? Rasanya itu enak banget, ngalahin nasi goreng mahal yang dijual di restoran." Lagi lagi Lee tak sadar ucapannya itu melukai perasaan Kanaya sebagai istrinya.
Kanaya memaksakan bibirnya untuk tersenyum, menghargai kata-kata suaminya yang menyanjung wanita lain. Rasa iri terbesit di hatinya karena ia belum pernah menerima sanjungan seperti itu, padahal hampir setiap hari dirinya memasak makanan untuk Lee.
"Terus aja sanjung mantan calon istri kamu itu di depanku Mas, aku rela sakit hati kalau itu bisa membuat kamu senang." Kanaya membatin sembari melahap makanannya dengan cepat, takut tak bisa mengendalikan perasaan sedihnya.
Bersambung....
Hayo... Gimana nih perasaan kalian? Kesel enggak? Kalau aku lumayan kesel sama Lee.
Jangan lupa untuk support novel ini ya. Kalian masih ingat kan caranya?
•Like
•Komentar
•Vote novel ini
•Bagikan link novelnya ke teman-teman kalian
yang suka baca
•Kasih rate lima
•Dan follow profil aku
Oke?
__ADS_1