
Kanaya mandi dan keramas untuk membersihkan tubuhnya agar Lee tidak uring-uringan karena mencium aroma parfum Nathan yang tertinggal di gamis yang tadi dikenakannya.
Sekedar info, Lee bukannya cemburu, tapi ia memang sensitif terhadap bau parfum yang tidak sesuai dengan seleranya. Terkadang saat di kantor pun jika ada karyawannya yang memakai aroma parfum yang mengganggu indra penciumannya, Lee langsung menegur karyawan tersebut dan memintanya mengganti parfum.
Ya, itulah Lee. Jika diuraikan masih banyak lagi yang pria itu tak suka sehingga Kanaya yang menjadi istrinya harus senantiasa mengingat hal apa saja yang tidak disukai dan disukai oleh Lee.
Jika Kanaya lupa sedikit saja Lee bisa memarahinya habis-habisan.
Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, Kanaya memakai gamis rumahannya dan pergi ke dapur untuk memasak makan malam untuk Lee serta dirinya sendiri.
Kali ini Kanaya memutuskan untuk memasak tiga menu yang mudah yaitu sup ayam, tumis kangkung, dan ikan bakar. Tak lupa ia juga menyiapkan kimchi sebagai teman makan Lee karena ia tahu suaminya itu sangat menyukai lalapan khas negeri kelahirannya, yaitu Korea Selatan.
Sebelum meracik bumbu Kanaya mengikat rambut panjangnya ke atas terlebih dahulu agar mahkota berharganya itu tidak mengganggu aktivitasnya selama masak.
Setelah itu baru Kanaya mengupas dan mengulek bumbu seperti bawang putih, bawang merah, tomat dan sebagainya. Ia lalu mengulek sambal untuk ikan bakar sembari membakar ikan yang sudah ia lumuri dengan bumbu. Kemudian ia memotong sayur kangkung yang akan ditumisnya lalu mencuci daging ayam potong sebelum memasukkannya ke dalam panci berisi air mendidih yang sudah ia bumbui.
Sangat kerepotan tapi Kanaya tak mengeluh karena ia suka memasak untuk Lee, sebagai istri ia suka diandalkan oleh suaminya itu. Ya meski terkadang Lee tak memakan hasil masakannya, bahkan seringkali suaminya itu komplain, mengatakan kalau masakannya tidak enak.
Kanaya tidak marah, ia mencoba memahami Lee lalu belajar dan belajar lagi untuk bisa menghasilkan masakan yang sesuai dengan selera lidah Lee dan sesuai dengan apa yang suaminya itu mau.
Tapi yang membuat Kanaya sakit hati adalah ketika masakannya dibanding-bandingkan dengan masakan Aisyah, wanita yang selalu ada di pikiran suaminya.
Ingin sekali Kanaya berteriak, meminta Lee agar berhenti membanding-bandingkannya, namun yang ada jika ia melakukannya ia akan berselisih dengan Lee. Dan Kanaya tidak ingin hal itu terjadi.
Itu sebabnya ia selalu mengalah dan membiarkan Lee berkata dan bertindak semaunya. Tak peduli hal itu menyakiti hatinya sekalipun, lagi-lagi ia harus melapangkan dadanya.
Setelah semua hasil masakannya matang, Kanaya menyajikannya satu persatu di meja makan. Kini ia tinggal memanggil Lee yang tengah mengobrol ria dengan burung kakatua peliharaannya di halaman belakang rumah mereka.
Sebelum keluar dari pintu belakang Kanaya memakai kerudung untuk menutupi rambutnya, takut ada tetangga yang lewat dan melihat auratnya.
Setelah memakai kerudung Kanaya membuka pintu belakang lalu berjalan mendekati Lee yang sedang asyik bercengkrama dengan burung kakaktua nya, aneh memang. Tapi kenyataannya burung kakaktua itu memang lebih dekat dengan Lee dibandingkan Kanaya yang berstatus sebagai istrinya.
__ADS_1
Lihat saja, Kanaya berdiri di sebelahnya pun Lee tidak menyadarinya, saking fokusnya pria itu dengan burung kakatua yang merupakan saingan terdekat Kanaya.
"Na ... Naya!" burung kakaktua Lee memanggil nama Kanaya saat gadis itu memelototinya dengan sebal.
Lee menoleh ke samping dan mendapati Kanaya sedang memelototi kakaktua kesayangannya. "Eh! Jangan pelototin Aira seperti itu! Nanti dia ketakutan!" tegur Lee yang membuat Kanaya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Makanan udah siap, mau makan sekarang atau habis Maghrib?" tanya Kanaya.
"Nanti aja sehabis Magrib, kalau makan sekarang nanggung, ntar sholat Maghrib nya telat lagi."
"Oke, kalau begitu nanti Mas hangatkan lagi aja ya, makanannya."
Lee mengerutkan keningnya. "Kenapa enggak kamu aja?" tanyanya heran.
"Aku mau ke rumah kak Avila dan sholat Maghrib di sana," jawab Kanaya.
"Nggak boleh!" larang Lee.
"Malam ini kamu nggak boleh kemana-mana, kalau kamu kangen sama Avila mending Vidcall-an aja."
"Bisa Mas kasih tahu aku alasannya kenapa?" tanya Kanaya yang mulai mencium adanya ketidakberesan.
"Nggak ada alasan apapun, Naya. Aku melarang kamu hanya untuk melindungi kamu, aku nggak mau kalau kamu sampai ketemu lagi sama laki-laki bernama Nathan itu," jawab Lee yang sebenarnya masih punya alasan lain.
"Mas, kamu enggak percaya sama aku?" tanya Kanaya dengan perasaan kecewa karena Lee terkesan meragukan kesetiaannya.
"Naya, aku ini tipe laki-laki yang sulit percaya kalau tidak melihat sendiri faktanya. Kamu tau kan?"
Kanaya menatap Lee dengan tatapan nanar, kekecewaan menyelimuti hatinya. "Walaupun kamu begitu, kamu harus mempercayai aku Mas, karena aku ini istri kamu, aku cinta sama kamu, nggak mungkin bagi aku buat menduakan kamu!" terangnya.
"Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin, Naya. Semuanya bisa aja terjadi, sekarang iya kamu bisa bilang seperti itu, tapi nanti-nanti kamu bahkan nggak tahu kan?"
__ADS_1
Kanaya tertawa miris, miris melihat Lee meragukan kesetiaannya. "Aku tahu Mas. Dan yang aku tahu yaitu hati aku nggak akan berpaling dari kamu, selamanya. Kamu tahu kenapa aku bisa memprediksinya? Karena kamu adalah orang yang tak pernah bisa ku benci sekalipun kamu menyakiti hatiku berulang kali. Yang ada di hatiku cuma cinta, cinta yang besar untuk kamu, cinta yang selalu mengalahkan segala egoku untuk meninggalkan kamu, Mas," ungkap Kanaya yang berhasil membungkam mulut Lee. Pria itu tak lagi bicara dan hanya mematung sambil menatap Kanaya dengan tatapan dinginnya.
Tak memperdulikan tatapan Lee, Kanaya masuk ke dalam rumah lalu pergi ke kamar dan membenamkan wajahnya di kasur, ia menangis sekencang-kencangnya, melampiaskan rasa sakit akibat tidak dipercayai oleh suaminya sendiri hanya karena sebuah kebaikan kecil yang pria lain berikan padanya.
"Kamu jahat Mas! Kenapa kamu nggak percaya sama istri kamu yang sangat mencintai kamu ini?!" batin Kanaya menjerit.
Sementara Lee mulai menyadari kesalahannya, berangsur-angsur ia berpikir bahwa tak seharusnya ia mengatakan hal tadi kepada Kanaya. Istrinya itu pasti sangat terluka karena dia tak mempercayainya, padahal jika dipikir-pikir lagi memang tak mungkin rasanya Kanaya selingkuh dengan pria lain.
Lee tahu istrinya berbeda dengan wanita lain, tapi nasi sudah menjadi bubur, ia sudah terlanjur mengecewakan Kanaya dengan ucapannya.
"Maafin aku, Naya." Hanya itu yang keluar dari mulut Lee, selalu seperti itu setiap kali ia menyakiti perasaan Kanaya.
Entah sadar atau tidak, Lee mulai tak tahu cara meminta maaf yang benar itu bagaimana. Bodoh memang!
"Aira, kembali ke kandang, aku nggak mood lagi bercanda sama kamu," ujarnya pada kakaktua yang bertengger di bahu tegapnya.
"Minta maaf, minta maaf!" Aira si burung kakaktua menyuruh Lee meminta maaf, burung itu memang lebih pintar daripada majikannya.
Bersambung....
Hai readers, aku penasaran dari daerah mana aja kalian, tolong mention dari mana asal kalian ya? (Author lagi kepo nih)ππ€βΊοΈ
Btw, gimana part kali ini? Emosi kah kalian?
Me : Emosi plus sedih.
Jangan lupa untuk : Like, komentar, vote, share cerita ini ke teman-teman kalian yang suka baca, dan follow juga akun NT aku, oke?
Yang penasaran sama trailer novel ini, cuss follow Instagram aku : @asyiahmuzakir. Aku sering share-share yang berkaitan tentang novel aku di sana.
Bye, sampai jumpa lagi pembaca setia novelku.
__ADS_1
Assalamualaikum....