Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 27 (Treat you better)


__ADS_3

"Naya, nanti buburnya di makan, ya?" Lee menaruh bubur hasil perjuangannya di dapur di atas meja pinggir tempat tidur.


Tak ada jawaban dari Kanaya, perempuan itu menutupi seluruh badannya dengan selimut, berpura-pura tidur karena enggan berbicara dengan Lee sebab ia masih marah kepada suaminya itu.


"Habis makan bubur jangan lupa minum obat ya?" Lagi-lagi Kanaya hanya diam membisu, tapi Lee mengerti kenapa Kanaya tak menghiraukannya.


"Ini obatnya aku taruh di meja. Kalau ada apa-apa tolong hubungi aku ya, Nay. Aku berangkat ke kantor dulu. Assalamu'alaikum." Lee mendekati Kanaya untuk mengecup kening istrinya yang tengah berpura-pura tidur itu.


"Aku janji bakal pulang cepat dan aku harap nanti kamu mau mendengarkan penjelasan aku soal postingan kemarin itu," sambung Lee seraya menghela nafas berat sebelum akhirnya pergi ke kantor menaiki Mercy-nya.


Setelah yakin kalau Lee sudah berangkat ke kantor, Kanaya perlahan-lahan membuka matanya lalu melirik bubur yang Lee buat susah payah untuk sarapannya. Bukan cuma bubur, Lee juga membuatkan teh hijau dan wedang jahe untuk menghangatkan badannya yang dari semalam menggigil karena masuk angin pasca kemah di puncak Bogor selama tiga hari dua malam.


"Andai kamu enggak peduli sama aku Mas, aku pasti bisa minta cerai ke kamu, tapi kamu seperhatian ini ke aku," gumam Kanaya sebelum mengambil mangkuk bubur yang ada di meja. Kemudian ia melahap bubur itu dengan perasaan sedih bercampur senang. Sedih karena Lee hanya peduli soal kesehatan fisiknya, namun juga merasa bersyukur atas hal itu.


"Andai kamu juga peduli sama perasaan aku seperti kamu peduli sama kesehatan aku. Aku pasti bahagia Mas, tapi sayangnya kamu belum bisa seperti itu."


Setelah menghabiskan bubur buatan Lee yang rasanya lumayan enak, Kanaya meminum teh dan wedang jahenya, disusul air putih dan obat tentunya. Sebetulnya, Kanaya sudah merasa mendingan dari tadi subuh, tapi karena ingin diperhatikan oleh Lee ia pun berpura-pura masih menggigil seperti semalam.


****


"Ya Allah, pak. Itu tangannya kenapa melepuh begitu?" tanya Khanza, sekretaris yang selama ini membantu meringankan pekerjaan Lee di kantor.


"Oh, ini kena panci panas pas bikin bubur buat istri saya tadi pagi," jawab Lee seadanya.


"Bu Naya sakit, pak?"


Lee menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Khanza, wajahnya terlihat murung. "Iya, Za. Dari semalam dia menggigil, rencananya saya nggak mau berangkat ke kantor dulu, mau rawat dia sampai sembuh, tapi karena hari ini ada meeting dengan klien yang udah jauh-jauh datang dari luar negeri, jadi terpaksa saya tinggalin dia di rumah."


"Semoga Bu Naya cepat sembuh, ya."


"Aamiin, makasih Za."


"Oh iya, pak. Saya ambilkan salep ya? Luka melepuh seperti itu harus segera di obati," kata Khanza yang mendapat anggukan dari Lee. Beberapa saat kemudian Khanza kembali ke ruang kerja usai mengambil salep di ruang kesehatan. Setelah itu ia menyerahkan salep tersebut kepada Lee.


"Makasih ya, Za."


"Sama-sama pak."

__ADS_1


"Ya udah, sekarang kamu beresin berkas dan dokumen yang akan di bawa, lima menit lagi kita berangkat ke tempat meeting," perintah Lee.


"Baik, pak." Setelah itu Khanza kembali ke mejanya dan melakukan apa yang tadi Lee perintahkan kepadanya dengan sigap.


"Saya udah selesai, pak."


"Oke, kita berangkat sekarang."


****


Kanaya yang sudah merasa mendingan, memutuskan untuk memasak dua menu untuk makan siang yaitu udang goreng tepung dan sayur kangkung saus tiram, ia juga membuat telur ceplok setengah matang kesukaan Lee. Rencananya ia akan pergi ke kantor, mengirim bekal makan siang untuk Lee sebagai tanda kalau dirinya mau mendengarkan penjelasan dari mulut suaminya tersebut.


Saat ia sedang menyusun hasil masakannya di rantang, suara cempreng Steffany yang memanggil namanya dari pintu depan mengalihkan perhatiannya, Kanaya bergegas membukakan pintu untuk adik iparnya yang sangat extrovert itu.


"Lho, Kak Naya udah sembuh?" tanya Steffany dengan wajah semringah. Di tangannya gadis itu menenteng satu keranjang berisi buah-buahan segar.


"Alhamdulillah, Steffy. Badan kakak udah nggak panas dan menggigil kayak semalam," jawab Kanaya sambil tersenyum simpul.


"Lihat deh, aku bawa buah-buahan yang masih segar-segar buat Kak Naya. Aku itu khawatir banget pas dengar kabar dari Oppa kalau Kak Naya sakit. Makanya selesai kelas pagi aku langsung ke sini dan syukur banget ternyata Kak Naya udah sembuh," ungkap Steffany dengan penuh perhatian.


"Kamu enggak papa kan makan siang sendirian?" tanya Kanaya sembari memegang bahu Steffany yang duduk sambil makan di sofa ruang tengah.


"Memangnya Kak Naya mau ke mana?" tanyanya.


"Kakak mau antar bekal makan siang buat Oppa kamu," jawab Kanaya dengan wajah berseri-seri.


Steffany menggeleng-gelengkan kepalanya tidak setuju."Janganlah Kak, biar aku aja yang antar ke sana, ya? Kak Naya kan baru sembuh," cegah Steffany keberatan karena ia mengkhawatirkan kondisi kesehatan Kanaya yang baru saja membaik.


"Steffy, tolong izinin Kakak ya? Soalnya Kakak bukan cuma mau antar makanan aja, Kakak juga mau bicara serius sama Oppa kamu." Kanaya memohon setengah memaksa. Akhirnya dengan berat hati Steffany menganggukkan kepalanya, memperbolehkan Kanaya pergi ke kantor kakaknya.


"Tapi aku antar pakai mobil ya?" ucap Steffany yang di balas anggukan setuju oleh Kanaya. Daripada nantinya Steffany khawatir kepadanya mendingan iyakan saja.


****


"Maaf Bu, Pak David baru saja pergi sama sekretarisnya. Mereka mau meeting sama klien dari luar negeri, Bu."


"Ooh begitu ya," balas Kanaya tak bersemangat, matanya melirik ke arah rantang yang ia bawa jauh-jauh dari rumah. Rasanya ia telah menyia-nyiakan waktunya untuk memasak dan membawa bekal makan siang itu ke mari.

__ADS_1


"Bu Naya mau menunggu Pak David di ruangannya? Saya bisa hantarkan ke sana," tawar resepsionis dengan sopan.


Kanaya menggeleng pelan sambil tersenyum canggung. "Enggak usah, saya mau pulang lagi aja," jawab Kanaya yang kemudian berbalik hendak pergi meninggalkan lobby kantor suaminya tersebut.


"Kanaya!"


Merasa terpanggil, Kanaya pun menoleh dan mendapati Aisyah melambaikan tangan kepadanya. Kanaya tersenyum manis lalu berjalan mendekati Aisyah yang juga tengah berjalan ke arahnya. Wanita itu tampak elegan dan berwibawa dengan setelan jas putih dan celana panjang berwarna senada.


"Hey, kamu apa kabar?" tanya Aisyah dengan tatapan teduhnya.


"Baik-baik aja, Mbak. Mbak Aisyah gimana?"


"Alhamdulillah, aku baik juga," jawab Aisyah.


"Kata Kak Avila, Mbak Aisyah lagi program hamil anak kedua, ya?" tanya Kanaya memastikan kabar yang ia dengar.


"Alhamdulillah, iya nih. Doakan semoga berhasil, ya. Kak Devano udah nggak sabar mau punya bayi lagi, katanya dia mau tahu rasanya gendong bayi," jawab Aisyah dengan aura bahagia yang memancar lewat senyuman di wajahnya.


"Wah, aku turut senang, semoga rencananya berhasil dan lancar, ya."


"Aamiin, makasih ya, Nay." Kanaya mengangguk seraya tersenyum, walaupun Lee sering membandingkan dirinya dengan Aisyah, Kanaya tak pernah sedikitpun membenci wanita yang menjadi panutannya itu. Karena letak kesalahan bukan terdapat di Aisyah, melainkan terdapat di suaminya yang mungkin sampai detik ini masih menyimpan perasaan untuk wanita yang telah menjadi ibu dari anak pria lain itu.


"Kamu ke sini mau mengantar bekal buat Lee, ya?" tebak Aisyah setelah melihat rantang di tangan Kanaya.


"Iya nih, Mbak. Tapi ... kata resepsionis Lee lagi keluar buat meeting, kemungkinan sekalian makan siang sama kliennya," sahut Kanaya membenarkan.


"Ya udah, jangan sedih. Makan siang bareng aku aja yuk? Mau nggak?" ajak Aisyah penuh harap.


"Mau Mbak, tapi di mana, ya?"


"Di ruang kerja aku aja gimana?" usul Aisyah.


"Oke," jawab Kanaya setuju.


Bersambung....


Penasaran sama lanjutannya? Ayo like, vote, share dan komentar yang banyak supaya aku semangat nulisnya. Oke? :* :)

__ADS_1


__ADS_2