Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 31 (Don't lie to me)


__ADS_3

Tok tok tok.


"Assalamualaikum...."


"Wa'alaikumsalam, eh. Kak Naya, ayo masuk, Kak." Steffany mempersilahkan Kanaya untuk masuk ke dalam rumah, lalu gadis itu menggandeng tangan Kanaya menuju ke kamarnya.


Kanaya merasa beruntung karena yang membukakan pintu tadi adalah Steffany, bukan ibu mertuanya. Coba saja kalau yang membuka pintu tadi adalah Nyonya Lee Nina, dia pasti sudah kena semprot, diomeli atau bahkan parahnya bisa sampai diusir. Duh, amit-amit deh!


"Ada apa Kak? Kangen ya, sama aku?" tanya Steffany sambil memilah-milah baju di dalam lemari besarnya.


Sedangkan Kanaya duduk gelisah di tepi ranjang Steffany sambil memerhatikan adik iparnya yang tengah sibuk menentukan outfitnya itu.


"Iya nih, Kakak kangen ngobrol-ngobrol sama kamu," jawab Kanaya sambil sesekali menggigit bibirnya, merasa gugup. "Kamu ada waktu enggak buat jalan sama Kakak?" lanjutnya bertanya.


"Aduh, gimana ya, Kak ... sebenarnya malam ini, aku udah ada janji sama seseorang," sahut Steffany merasa tidak enak jika menolak ajakan Kanaya, namun dirinya akan merasa sangat bersalah jika tidak menepati janjinya pada Nathan. Gadis itu benar-benar ada di posisi dilema atau serba salah.


"Ooh, jadi enggak bisa ya? Ya udah deh, Kakak pulang dulu ya?" Kanaya berdiri dari posisi duduknya, bersiap untuk meninggalkan kamar Steffany.


Namun sebelum ia pergi, Steffany terlebih dahulu mencegatnya dengan cara menarik sebelah tangannya yang tidak menenteng tas.


"Jangan dong, Kak. Kak Naya udah jauh-jauh ke sini buat temuin aku, masa langsung pulang begitu aja, sih," cegah Steffany dengan raut gelisah. Bagaimana tidak gelisah coba? Kalau sekarang ia memutuskan untuk jalan-jalan bersama Kanaya, itu artinya ia akan mengecewakan Nathan karena tidak jadi datang di acara anak Klub Futsal Kampus.


"Steffy, Kakak enggak memaksa kamu buat hangout bareng Kakak, kok," tutur Kanaya yang mengerti kalau adik iparnya tengah kebingungan antara memilih pergi dengannya atau pergi dengan Nathan.


"Emh, aku ... pergi sama Kak Naya aja deh, soalnya aku ngerasa kurang nyaman kalau kumpul sama anak-anak Futsal teman-temannya Nathan, mungkin karena enggak satu frekuensi kayak aku sama Nathan," putus Steffany yang sudah menentukan pilihannya yaitu pergi jalan-jalan bersama Kanaya.


"Kamu yakin?" tanya Kanaya yang tak ingin adik iparnya menyesal.


"Yakin, Kak. Lagian, aku jarang banget bisa hangout malam-malam sama Kak Naya, momen langka tahu enggak. Kalau sama Nathan mah, udah lumayan sering," ujar Steffany sambil tersenyum, menunjukkan gigi gingsulnya yang menambah kesan manis di wajahnya.


"Ya udah, tapi kamu mesti telepon Nathan, ya? Bilang kalau kamu enggak bisa datang supaya dia enggak nyariin kamu nantinya."


"Iya, ini aku mau hubungin dia," ujar Steffany sambil mencari nomor Nathan di kontak ponselnya.


Setelah ketemu, ia langsung mendial nomor lelaki itu dan langsung di angkat. Gercep juga si Nathan, ya?


"Halo."


"Halo, Steffy, gimana? Lo udah siap-siap?" tanya Nathan di ujung sana.

__ADS_1


"Gue ... gue kayaknya enggak bisa datang deh, ada acara keluarga nih," jawab Steffany gugup, karena ia berbohong pada Nathan. Walaupun sebenarnya tidak sepenuhnya berbohong karena Kanaya memang keluarganya, berarti jika jalan dengan Kanaya, itu termasuk acara keluarga, kan?


"Kok mendadak begitu, ya?" Nathan sepertinya mulai heran.


Steffany jadi semakin merasa bersalah kepada Nathan, pasalnya ia tidak menepati janjinya dan juga berbohong soal acara keluarga.


"Iya nih, mendadak banget, sorry banget ya, Nath."


"It's okey, gue enggak bakal marah kok sama lo. Ingat, keluarga itu lebih penting daripada segalanya, Steffy," tutur Nathan yang bersikap dewasa, walaupun lelaki itu sadar kalau Steffany tidak jujur soal alasannya.


"Ya udah, take care, ya," ucap Steffany dengan perasaan sedikit lega karena Nathan tidak marah.


"Lo juga, have a good night, Steffy."


"You too, Nath," balas Steffany dengan senyuman semringah yang perlahan muncul di bibirnya.


"Gimana? Nathan enggak keberatan, kan?" tanya Kanaya penasaran karena tadi ia tidak bisa mendengar dengan jelas percakapan Steffany dan Nathan.


"Enggak dong, dia kan cowok pengertian," jawab Steffany sambil senyam-senyum, kelihatan sekali kalau gadis itu tengah kasmaran.


"Iya kan aja deh, dari pada pawangnya Nathan ini ngamuk," goda Kanaya sambil mengusap bahu Steffany.


"Ih, Kak Naya apa-apaan sih... Memangnya Nathan hewan buas ada pawangnya?" Pipi Steffany yang agak berisi langsung merona saat Kanaya menyebut dirinya sebagai 'pawang' Nathan.


"Bercanda, Steffy."


"Kakak bercandanya jangan bawa-bawa Nathan, lah. Kasihan dia," ujar Steffany sambil mencebikkan bibirnya.


"Iya, iya."


"Ya udah, aku mau mandi sama ganti baju dulu ya, Kak Naya tunggu di kamar ini aja, enggak usah samperin Mama, lagi mode sangar soalnya, nanti Kak Naya malah kena marah, lagi," pesan Steffany mewanti-wanti Kanaya untuk tidak menemui ibunya.


"Baiklah, tuan putri," sahut Kanaya yang kemudian merebahkan badannya di atas kasur yang setiap malam Steffany tiduri. Sambil menunggu adik iparnya itu bersiap-siap, Kanaya melihat-lihat dekorasi kamarnya yang unik.


Dari situ dia teringat kalau Steffany mempunyai keahlian IT yang sangat mumpuni, bahkan adik iparnya itu pernah menjadi hacker yang ditugaskan oleh pemerintah kota untuk menyelidiki kasus korupsi yang marak di tahun lalu.


"Kenapa aku baru ingat sekarang?" gumam Kanaya merasa bodoh.


*****

__ADS_1


"Wah, enggak bisa dibiarkan tuh, Kak. Bagaimana pun caranya kita harus hapus video itu dari Hp Azkia," ujar Steffany setelah Kanaya menceritakan masalahnya dengan Azkia yang membuatnya sangat terbebani, apalagi ia harus menuruti perintah wanita yang tergila-gila dengan Nathan.


Kanaya berpikir keras sambil menyesap jus mangga dalam gelas bening yang ada di depannya. Helaan nafas berat terdengar dari mulut Kanaya, ia benar-benar blank soal cara mengambil ponsel Azkia untuk menghapus videonya.


"Gimana kalau kita suruh Nathan buat ambil Hp Azkia secara diam-diam? Soalnya Azkia itu bucin banget sama Nathan, dia pasti enggak akan sadar kalau Nathan ambil Hpnya," usul Steffany setelah menemukan ide cerdasnya.


Awalnya Kanaya sempat ragu, tapi karena dia tidak punya cara lain. Maka ia setuju dengan usulan adik iparnya itu.


"Tapi... Apa Nathan mau bantuin kita?" tanya Kanaya yang masih belum yakin.


"Pasti mau, kalau enggak mau pun, aku bakal bujuk dia sampai mau. Pokoknya Kak Naya jangan risau lagi, aku ini jago dalam hal yang berkaitan sama daring begitu. Percayakan saja sama ahlinya," jawab Steffany sambil membangga-banggakan kemampuannya.


"Iya deh, Kakak percaya seratus persen sama kamu," balas Kanaya sambil tersenyum lebar.


"Nah, begitu dong, senyum lagi. Aku kan jadi happy lihatnya," timpal Steffany yang ikut tersenyum melihat kakak iparnya ceria lagi.


Di menit berikutnya, mata Steffany melotot kaget melihat Nathan masuk ke dalam Kafe tempat ia dan Kanaya mengobrol sekarang. Secara spontan tangannya menggapai buku menu untuk menutupi wajahnya agar Nathan tidak mengenalinya. Sedangkan Kanaya yang tidak tahu kalau Steffany berbohong kepada Nathan malah memanggil pria itu.


"Nathan, sini!"


"Lho, kalian ... di sini."


Wajah Nathan tampak kebingungan sementara Steffany sibuk mengumpat di dalam hati.


Bersambung....


Kalau kalian ada di posisi Steffany gimana? Atau gimana kalau kalian ada di posisi Kanaya?


Komen di bawah ya.πŸ˜…


Author minta maaf banget, belakangan ini suka telat update karena memang lagi banyak jadwal. Mohon dimaklumi, ya?πŸ˜’πŸ“–πŸ˜­


Jangan lupa komentar yang banyak sama like, vote, dan share supaya Author greget mau cepetan nulis buat part selanjutnya.


Bye-byeπŸ€—πŸ€—πŸ˜πŸ˜πŸ˜˜πŸ˜˜


Love you all❀️


follow my media sosial here ↙️

__ADS_1


Instagram : asyiahmuzakir


Facebook : Zzahraa All Khoirr


__ADS_2