Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 36 | Hanya Pura-pura


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim....


Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


___


Dengan langkah terburu-buru Nathan mengejar Azkia yang berjalan menyusuri koridor Kampus di jarak sekitar lima meter darinya. Azkia tidak peka kalau di belakangnya ada Nathan karena ada earphone yang menyumbat telinganya sehingga perempuan itu hanya fokus mendengarkan lagu sambil sesekali menggumamkan lirik lagu yang sedang ia dengar.


Begitu dekat Nathan langsung mencolek bahu Azkia, membuat perempuan itu terkejut bukan main mendapati Nathan berjalan di sebelahnya, sesegera mungkin ia melepas earphone yang menyumpal pendengarannya.


Sungguh, Azkia terheran-heran melihat Nathan melempar senyum ke arahnya seolah-olah mereka berdua akrab. Bukan cuma itu, tapi Nathan juga menyapanya dengan hangat. "Eh, kenapa bengong? Dengar enggak tadi gue manggil nama lo?"


Perubahan cara Nathan memperlakukannya itu membuat hati Azkia berbunga-bunga, benar-benar seperti mimpi melihat Nathan dengan suka rela menghampiri dan menyapanya. Namun terbersit kecurigaan di dalam hatinya, oleh karena itu Azkia bertekad untuk mencari tahu sendiri alasan di balik perubahan sikap Nathan terhadap dirinya. Syukur-syukur alasan Nathan berubah adalah karena pria itu jatuh cinta kepadanya.


"Kia, lo nggak jawab pertanyaan gue?" tegur Nathan seramah mungkin.


"Oh, i-iya, g-gue enggak dengar lo manggil nama gue ... soalnya t-tadi gue ... lagi dengerin musik pakai earphone, maaf ya."


"Oh, oke ... nggak masalah kok," balas Nathan sambil tersenyum.


"Ikut gue ke kantin yuk?" ajak Nathan dengan tatapan serius.


Seperti terhipnotis, Azkia spontan mengangguk dan membiarkan Nathan menggandeng tangannya menuju Kantin yang terletak di belakang Kampus


"Lo mau pesan apa?" tanya Nathan seraya menatap lembut ke arah Azkia yang tengah nervous di sebelahnya.


"Bakso sama jus mangga kayaknya enak," jawab Azkia dengan ekspresi gugup yang begitu kentara.


Nathan tersenyum sekilas lalu menggeser kursi dan membimbing Azkia untuk duduk di kursi tersebut, hati siapa yang tidak meleleh jika diperlakukan semanis itu oleh pria setampan Nathan.


"Oh my god, ini gue lagi mimpi apa enggak sih?" jerit hati Azkia yang kepalang happy mendapat perlakuan romantis dari pria yang selama ini selalu mengacuhkannya.


Masih tak percaya dengan apa yang terjadi, Azkia menepuk-nepuk pipinya beberapa kali hingga ia sadar kalau yang dialaminya sekarang adalah nyata, bukan mimpinya yang semu.


"Bu Ijah, baksonya dua, jus mangganya dua!" seru Nathan pada penjaga Kantin yang siap melayani pesanannya.


"Siap Mas, tunggu sebentar ya."

__ADS_1


"Iya bu."


Gerak-gerik Nathan tak lepas dari perhatian Azkia, perempuan itu terus mengamati perubahan ekspresi Nathan dari dekat, seperti sedang mencari tahu sesuatu yang membuatnya curiga.


"Tumben lo ajak gue makan bareng, ada apa?" tanya Azkia sambil memandangi wajah Nathan yang semakin lama dipandang akan semakin tampan.


Sudut bibir Nathan terangkat, membentuk senyuman manis yang baru kali ini dapat Azkia lihat dari dekat. "Gue ... gue mau minta maaf, selama ini gue selalu kasar sama lo," ujar Nathan serius. Mimik wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang dalam, membuat hati Azkia luluh dalam sekejap.


"Yang lalu biarlah berlalu, Nath. Gue udah maafin lo kok, gue enggak pernah dendam sama lo seberapa buruk pun lo memperlakukan gue, karena di hati gue, cuma lo yang terbaik."


Perkataan Azkia membuat Nathan yang sedang berpura-pura jadi merasa bersalah, ia sedikit menyesal telah menyetujui ide dari Steffany yang membuatnya harus memberi harapan palsu pada Azkia yang mengejarnya dari jaman SMA dulu. Ia terpaksa menipu perempuan itu demi menghapus video curhatan Kanaya yang ada di ponsel perempuan itu.


"Makasih ya, lo udah ngertiin gue, gue merasa beruntung dimaafin sama lo," ucap Nathan sambil mengusap lembut tangan Azkia yang bertumpu di meja.


Azkia tersenyum malu lalu membalas usapan Nathan di tangannya. "Gue enggak nyangka hari ini bakal tiba, hari di mana lo melunak sama gue, Nath. Asal lo tahu, udah lama banget gue nungguin hari ini tiba," ungkapnya dengan sumringah.


"Permisi, Mas, Mbak, ini bakso dan jus mangganya. Silahkan di nikmati," sela Bu Ijah sembari memindahkan dua mangkuk bakso dan gelas berisi jus yang semula di atas nampannya ke atas meja yang ada di hadapan Nathan dan Azkia.


"Makasih ya bu," ucap Nathan, sedangkan Azkia hanya menyunggingkan senyum ke arah Bu Ijah sebelum penjaga Kantin itu pergi meninggalkan meja mereka.


*****


Astrid langsung paham ketika Kanaya merentangkan kedua tangannya, ibu dari anak satu itu pun segera memeluk Kanaya erat sembari mengusap-usap punggungnya.


"Be patient, Naya ... enggak semua berita di sosial media itu benar, aku sarankan kamu menanyakan sendiri ke suami kamu bagaimana kejadian sebenarnya," saran Astrid dengan bijak.


"A-aku ... aku terlalu takut untuk menanyakannya," jawab Kanaya parau, air bening lolos dari matanya, meluncur membasahi pipinya yang putih pucat.


Astrid melepas pelukannya di tubuh Kanaya lalu beralih menggenggam tangan sahabatnya itu sambil berkata, "Kamu harus tegas Nay, kamu enggak boleh takut, tanyakan ke suami kamu apakah berita itu benar? Apabila benar kamu harus tegar dan apabila hanya kesalahpahaman kamu harus bersyukur. Bagaimana pun Lee harus mengkonfirmasi kebenaran berita itu ke kamu, karena kamu adalah istrinya."


"Apakah aku masih bisa tegar bila ternyata berita itu benar? tanya Kanaya gamang. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu mengembuskan sisanya ke udara. Sesak di dadanya tak kunjung lega, malah berubah menjadi luka yang tak kasat mata.


"Andai wanita itu bukan mantan kekasihnya, mungkin aku enggak akan se-over thinking ini sama dia," gumam Kanaya sambil memejamkan matanya dengan maksud menghentikan bulir-bulir bening yang terus jatuh ke pipinya.


Mengerti bagaimana sakitnya berada di posisi Kanaya Astrid pun kembali memeluk gadis rapuh itu, ia ingin berbagi luka dengan Kanaya, agar gadis itu tidak merasakan sakitnya seorang diri.


"Aku akan selalu ada buat kamu Nay, kamu udah seperti adik aku sendiri, jika kamu sedih, aku pun akan ikut merasakannya. Mungkin aku enggak bisa membereskan masalah kamu, tapi sebagai gantinya aku akan hadir sebagai pelipur lara buat kamu. Please be strong, Naya," tutur Astrid menenangkan hati Kanaya.

__ADS_1


"Makasih Mbak, udah selalu ada di saat aku terluka. Aku beruntung banget punya sahabat kayak Mbak," ucap Kanaya tulus dari hati.


Astrid tersenyum lalu mengurai pelukannya dan menggandeng tangan Kanaya menuju Bus yang berhenti di depan Halte. "Ayo ke pengajian, biar hati kamu tenang," ajaknya.


Kanaya tersenyum tipis lalu mengangguk dan mengikuti langkah Astrid yang membawanya memasuki Bus yang di dalamnya tidak terlalu ramai penumpang.


Setibanya di tempat pengajian Kanaya dan Astrid mengambil tempat paling depan. Begitu ustadz yang mengisi pengajian itu datang, Kanaya terkejut melihatnya sebab ia mengenal dengan baik siapa ustadz itu.


*****


"Eh, Nath, aku ke mau toilet sebentar ya, tolong jaga tas aku," titip Azkia tiba-tiba.


"Oh, iya-iya." Nathan bersorak dalam hati karena sudah tiba saatnya ia mengambil ponsel Azkia dan menghapus video curhatan Kanaya di ponsel perempuan itu.


Setelah yakin Azkia sudah pergi, Nathan memanggil Steffany yang bersembunyi di balik meja pantry. Steffany pun keluar dengan waspada, ia tak ingin sampai ketahuan oleh Azkia.


"Ini handphone-nya ... silahkan lo hapus video itu dan gue bakal jaga di depan pintu masuk Kantin, gue bakal wanti-wanti kalau Azkia udah balik dari toilet," kata Nathan dengan nada gugup. Sebab seumur-umur ia belum pernah melakukan hal semacam ini.


"Oke, ya udah sana, jagain pintu akses Kantin, jangan sampai cicit penyihir itu masuk di saat gue lagi pegang gadgetnya," ujar Steffany sambil mendorong pelan tubuh Nathan ke arah pintu masuk Kantin.


"Kira-kira password iPhone si cicit penyihir ini apa ya?" pikir Steffany sembari memutar otak dan mencoba membuka kunci layar iPhone milik Steffany dan berkat kemampuan hack-nya Steffany berhasil membuka password iPhone Steffany dalam hitungan ke sepuluh segera mungkin ia menghapus video curhatan Kanaya yang tersimpan di galeri. Namun sayang sekali, di luar dugaan Nathan dan Steffany, Azkia kembali ke Kantin lebih cepat. Perempuan itu masuk melalui pintu dapur Kantin yang jarang diakses Mahasiswa.


"Lagi ngapain, Steff?" bisik Azkia yang sontak membuat Steffany terlonjak kaget.


"Percuma, video curhatan itu udah gue sebar ke mana-mana, karena momennya pas banget sama kabar perselingkuhan kakak lo," lanjut Azkia dengan enteng. Tak ada rasa bersalah sedikit pun dari ekspresi wajahnya. Memang licik!


Bersambung....


Hola....


Udah lama banget nggak nyapa para pembaca. Eh, masih adakah yang baca cerita ini? Hiks ... kalau masih ada, yuk absen! πŸ₯²πŸ˜Š


Jangan lupa like, komentar, vote, sama share cerita ini ke teman-teman kalian ya? Aku mohon bantuan dukungannya supaya aku semangat buat garap cerita ini.πŸ˜½πŸ˜½πŸ™πŸ™


Love you all❀️


follow my media sosial here ↙️

__ADS_1


Instagram : asyiahmuzakir


Facebook : Zzahraa All Khoirr


__ADS_2