Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 37 | Lihat, Kita Sama-sama Terluka!


__ADS_3

Ketidakpekaan Lee menjadi sumber masalah, bagaimana tidak? Pria itu mengantar Georgina sampai ke dalam apartemen. Sama sekali tidak menyadari kalau Georgina tidak benar-benar pusing melainkan berpura-pura agar dirinya masuk ke dalam perangkap yang dibuat rapih oleh wanita itu.


"Enggak mau mampir dulu, Lee?"


Bukannya menjawab pertanyaan Georgina, Lee malah mengalihkan pembicaraan, "Bodyguard kamu mana?"


"Paling masih di jalan, makanya kamu temenin aku dulu sampai bodyguard aku datang, mau ya?" pinta Georgina dengan wajah memelas.


"Aku enggak bisa lama-lama di sini, aku khawatir istri aku tahu dan dia mikir macem-macem," jawab Lee tegas.


Satu penolakan tidak akan membuat Georgina menyerah, ia pun berusaha membujuk Lee lebih keras lagi. "C'mon, David. Istri kamu enggak bakal tahu kamu ada di sini, lagi pula memangnya kamu enggak kasihan sama aku? Kamu tahu kan, dari dulu kalau kepala aku udah pusing aku bisa tiba-tiba pingsan atau kejang-kejang, terus kalau misalnya kamu pergi siapa yang akan menolongku nanti?


Lee menatap wajah Georgina dengan seksama lalu menyunggingkan senyuman smirk, ia baru menyadari kalau ternyata Georgina tidak benar-benar sakit kepala, buktinya wanita itu masih sanggup mengatakan banyak kata yang semuanya berisi bualan-bualan yang berusaha membujuk dirinya untuk tinggal lebih lama.


"Maaf aku enggak bisa! Masih untung aku mau antar kamu sampai sini," tandas Lee sambil membalikkan badannya menjauhi Georgina yang duduk di sofa ruang tamu.


"It's okey Lee, sebab aku telah mendapatkan apa yang aku mau," gumam Georgina dalam hati sembari berdiri mengejar langkah Lee, memeluk pria beristri itu dari belakang.


"I miss you, i want you spend the night with me ... David," bisik Georgina seperti rayuan iblis. Jika lelaki lain yang lemah imannya mungkin akan tergoda oleh rayuan wanita secantik dan seseksi Georgina. Namun Lee tidak, pria itu segera menyingkirkan tangan Georgina yang melingkari perut sixpack nya lalu menatap tajam wanita itu sambil menunjuk mukanya.


"Sorry ... you're so late, *****! Now I have a wife, and she's more beautiful than you! So, mulai saat ini, jangan pernah ganggu aku lagi karena aku enggak pernah sedikitpun menginginkan kamu kembali. Ingat itu!" pungkas Lee dengan tatapan tajamnya yang menusuk sampai ke ulu hati.


Setelah mewanti-wanti Georgina, Lee pun keluar dari apartemen wanita itu dan langsung masuk ke dalam lift untuk bergegas pergi dari gedung apartemen yang ditinggali mantan kekasihnya yang tak tahu malu serta pandai bersandiwara itu.


"Kayaknya aku mesti menghilangkan sedikit rasa ibaku terhadap perempuan supaya aku enggak tertipu lagi oleh bualan wanita semacam Georgina yang punya banyak tipu muslihat," gumam Lee sembari berjalan keluar dari lift yang pintunya telah terbuka tepat di lobi.


Ting.


Bunyi notifikasi pesan dari ponselnya mengalihkan perhatian Lee, pria itu segera membaca pesan yang ternyata dikirim oleh salah satu anak buahnya. Pesan itu berisi link yang membuat Lee penasaran dan tanpa ragu-ragu membukanya.


"Astaghfirullah, apa-apaan ini!" Raut wajah Lee berubah kaku.


*****


"Setelah berabad-abad kita enggak ketemu, kamu banyak berubah ya, Nay."


Kanaya mengerutkan dahinya, mencoba mencerna ucapan pria tampan berpeci yang duduk di depannya, "Maksud Ustadz Hamzah?" tanyanya tak paham dengan arti 'berubah' yang pria itu ucapkan.


"Maksud saya kamu kelihatan jauh lebih berwibawa dan dewasa dibandingkan dulu waktu kita di pesantren."


"Saya pikir sejak dulu saya udah berwibawa dan dewasa deh. Ustadz Hamzah aja yang enggak menyadari hal itu," jawab Kanaya dengan senyuman tipisnya.


Hamzah terkekeh sebentar lalu menatap wajah Kanaya dengan tatapan teduh. Dalam benaknya tersimpan rindu yang tak mungkin diungkapkan. Ia tak menyangka dapat bertemu kembali dengan sosok wanita idamannya yang telah lama menghilang.


"Ustadz apa kabar?" tanya Kanaya. Seketika itu Hamzah langsung sadar dan menundukkan pandangannya.


"Alhamdulillah ... saya baik-baik aja. Kalau kamu?"


Embusan nafas kasar terdengar dari mulut Kanaya, "Alhamdulillah ... kabarku juga baik," jawabnya dengan nada ragu.


"Syukurlah kalau begitu," timpal Hamzah kaku.


"Jadi, kalian berdua ini pernah belajar di pesantren yang sama toh?" celetuk Astrid yang sejak tadi hanya menyimak obrolan Kanaya dan Hamzah.

__ADS_1


"Iya Mbak," jawab Kanaya dan Hamzah berbarengan.


"Aduh kompak banget ya kalian berdua," canda Astrid yang kemudian mendapat senggolan kecil dari Kanaya.


"Apaan sih, Mbak!" bisik Kanaya halus namun penuh tekanan.


"Santai ... aku cuma ingin mencairkan suasana kok," balas Astrid yang ditanggapi senyuman lebar oleh Hamzah dan Kanaya.


Suara dering telepon memusatkan perhatian Kanaya dan Hamzah ke arah Astrid yang tengah merogoh ponselnya di saku gamis yang ia kenakan.


"Bentar ya, aku angkat telepon dulu," ujar Astrid sambil menekan tombol hijau di layar ponselnya.


"Assalamualaikum... Ada apa Ayah?"


"Wa'alaikumsalam Bun, Bunda bisa pulang enggak? Anak kita dari tadi nangis mulu nih, kayaknya dia nyariin Bunda." Astrid bisa mendengar suara tangisan anaknya di dalam telepon, hatinya pun jadi khawatir dan memutuskan untuk pulang.


"Ya udah, Bunda akan pulang sekarang juga," jawab Astrid yang kemudian pamit kepada Kanaya dan Hamzah.


"Aduh, padahal belum pesan makanan, tapi aku mesti pulang nih, di rumah anak aku lagi nangis nyariin aku, sorry ya," kata Astrid yang sebenarnya tak enak harus meninggalkan Kanaya dan Hamzah.


"Enggak papa, pulang aja, kasihan ponakan aku nangis terus nungguin Bunda-nya," timpal Kanaya dengan senyuman teduhnya.


"Iya, benar kata Kanaya, lagi pula aku dan Kanaya juga sebentar lagi akan pulang kok, iya kan Nay?" Hamzah melempar pertanyaan kepada Kanaya dan Kanaya hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Makasih ya, kalau begitu aku pulang duluan... Assalamualaikum," pamit Astrid seraya bangkit dari kursinya dengan terburu-buru.


Kanaya pun menjawab salam Astrid, "Wa'alaikumsalam...."


"Wa'alaikumsalam warahmatullah." Hamzah ikut menimpali salam yang barusan Kanaya lontarkan kepada Astrid.


Tak butuh waktu lama, kopi pesanan Kanaya dan Hamzah datang. Mereka pun mengucapkan terimakasih kepada waiters yang mengantarkannya. Setelah itu Kanaya dan Hamzah mulai membuka topik pembicaraan mengenai kehidupan mereka masing-masing, mereka juga sedikit bernostalgia dengan menceritakan ulang masa-masa di mana mereka tumbuh bersama hingga menuntut ilmu di pesantren yang sama pula.


"Ustadz ingat enggak waktu pertama kali kita dikirim ke pesantren?" tanya Kanaya sambil senyam-senyum.


Hamzah terkekeh geli mengingat masa itu, "Ingat banget, aku sama kamu nangis-nangis sambil makan es krim selama perjalanan menuju pesantren. Waktu itu aku pikir aku sama kamu mau diasingkan ke tempat yang jauh banget dan enggak akan bisa pulang ke rumah lagi."


"Hahaha ... pikiran ku juga begitu lho, ada-ada aja ya kita," timpal Kanaya sambil tertawa renyah.


Hamzah pun ikutan tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kembali detail kenangan masa lalu mereka yang lucu.


"Yang kocaknya lagi, sesampainya di pesantren kita enggak mau turun dari mobil dan malah sembunyi di kursi paling belakang," lanjut Hamzah masih diselingi canda tawa.


"Sampai akhirnya kita berdua dibujuk keluar dari mobil sama orang tua kita dengan diiming-imingi uang jajan," pungkas Kanaya yang kini sudah kembali ceria, melupakan masalahnya dengan Lee yang menghimpit dadanya hingga sesak.


"Terkadang aku ingin kembali ke masa-masa itu, saking kangennya," ungkap Hamzah sejujurnya.


Kanaya tersenyum lembut, sudah lama sekali ia tidak bergurau seperti ini dengan Hamzah, sahabat masa kecilnya yang telah lama lost contect dengannya. Kalau boleh jujur Kanaya pun rindu.


"Aku juga kangen sama masa-masa itu, tapi sayangnya kita enggak akan bisa memutar waktu untuk kembali ke sana," ucap Kanaya realistis.


"Oh iya, Ustadz...."


"Jangan panggil aku Ustadz, panggil Hamzah aja sama kayak dulu, lagian kita seumuran lho, cuma beda lima bulan," potong Hamzah ketika Kanaya kembali memanggilnya dengan sebutan Ustadz.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong soal panggilan, dulu kamu itu sering dipanggil 'ndut' karena badan kamu gempal, sekarang boleh enggak aku panggil kamu Hamzahrus," ujar Kanaya.


"Kok Hamzahrus? Artinya apa tuh?" tanya Hamzah dengan ekspresi bingung.


"Artinya Hamzah kurus, karena sekarang kamu udah enggak gendut kayak dulu lagi," canda Kanaya sambil terkekeh. Hamzah pun ikut terkekeh mendengar candaan Kanaya yang sudah lama tak menyapa gendang telinganya.


Mas David, kali ini saja aku mohon, izinkan aku tertawa meski bukan kamu yang membuatku tertawa.....


Izinkan aku tersenyum meski bukan kamu yang menjadi alasan aku tersenyum....


Sebab, aku lelah jika otakku terus berpusat memikirkan mu, aku letih dengan semua masalah yang tak henti-hentinya menyerangku....


Oleh karena itu aku ingin rehat sejenak dari luka yang yang kau torehkan....


Aku ingin keluar sejenak dari duniamu yang mengerikan....


Dari kejauhan Lee hanya bisa terpaku melihat Kanaya tertawa lepas bersama pria lain. Kakinya seakan menyatu dengan lantai sehingga tak mampu digerakkan untuk menghampiri Kanaya.


Miris, itulah yang dirasakan Lee karena sebagai suami dia belum bisa membuat Kanaya tertawa selepas itu. Bahkan ia belum pernah melihatnya, timbul rasa cemburu di benak Lee saat pria yang bersama Kanaya mengeluarkan candaan yang kembali membuat istrinya itu tertawa. Tangannya mulai mengepal, matanya mulai memerah menahan rasa cemburu yang membuatnya marah.


Namun mengingat gossip miring yang tersebar di media tentang dirinya, Lee memilih untuk diam dan memperhatikan Kanaya dari kejauhan. Membiarkan pria lain menghibur istrinya itu asal tidak berlebihan. Sebisa mungkin Lee menahan rasa panas yang membakar hatinya setiap kali melihat ke arah Kanaya dan pria yang tak dikenalnya itu.


Bodoh, aku memang bodoh Nay. Kurasa kamu yang paling tahu tentang hal itu....


Tanpa ku sadari aku melukai hatimu lagi....


Tanpa ku duga aku mengecewakanmu lagi.... Tanpa ku ketahui aku diperdaya sehingga pada akhirnya aku menyakiti perasaan kamu lagi....


Namun ada satu hal yang belum kamu ketahui bahwasanya aku melakukannya diluar kendali ku sendiri.


Kini aku biarkan kamu tertawa di depannya, meski ribuan jarum melayang ke arah ku, berlomba-lomba menusuk hatiku. Sakit, meski darahnya tak terlihat. Perih, meski lukanya tak tampak.


Bersambung....


Satu kata buat Kanaya ➡️


Satu kata buat Lee➡️


Satu kata buat Ustadz Hamzah ➡️


Kalian pilih kubu mana antara :


Kanaya×Mas David alias Lee atau Kanaya×Hamzah?


Alhamdulillah, akhirnya part yang panjang ini selesai juga.😊 Jujur, awalnya bingung mau nulis part ini, soalnya takut feel nya kurang dapet. Udah mah sekarang aku jarang update. Hiks, 😢mudah-mudahan part ini bisa mengguncangkan hati pembaca.🥰


See you next time, my ridys💗


Jangan lupa like, komentar, vote, sama share cerita ini ke teman-teman kalian ya? Aku mohon bantuan dukungannya supaya aku semangat buat garap cerita ini.😽😽🙏🙏


Love you all❤️


follow my media sosial here ↙️

__ADS_1


Instagram : asyiahmuzakir


Facebook : Zzahraa All Khoirr


__ADS_2