Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 3 (Tempat Tuk Bersandar)


__ADS_3

Seusai mendirikan sholat isya, Kanaya merasa pusing, nafasnya juga mulai tak beraturan, sehingga ia tak sanggup meneruskan muroja'ah yang biasa ia lakukan setiap selesai sholat lima waktu.


Lee yang baru pulang dari studio terkejut melihat istrinya sedang kambuh. Dengan cekatan pria itu menggendong tubuh Kanaya dan membaringkannya di atas kasur.


Kemudian Lee mencari inhaler milik Kanaya di laci meja rias istrinya itu, begitu menemukannya, Lee langsung mendekatkan inhaler itu ke hidung Kanaya agar Kanaya bisa menghirupnya.


"Aku telfon Dokter ya?" Kanaya menggelengkan kepalanya. "Jangan Mas, aku cuma butuh perawatan dari kamu, itu juga kalau kamu gak keberatan," ujarnya.


Lee menatap mata Kanaya dalam lalu mengecup kening istrinya itu lama. "Oke, kali ini kamu beruntung." Lee naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya di sebelah Kanaya.


"Boleh peluk?" tanya Kanaya sambil menatap wajah Lee yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya.


"Boleh dong," jawab Lee yang kemudian memeluk tubuh Kanaya, memberikan kehangatan untuk istrinya yang sedang sakit itu.


"Maafin aku ya, seharusnya aku enggak membanding-bandingkan kamu sama Aisyah," gumam Lee sambil mengelus surai panjang milik Kanaya.


"Lupain aja Mas, aku enggak mau bahas yang udah terjadi," sahut Kanaya yang hampir terlelap.


Lee memejamkan matanya, membawa kepala Kanaya ke dada bidangnya agar istrinya itu bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang yang ia curahkan.


*****


"Udah jam sembilan kok belum siap-siap berangkat kerja, Mas?" tanya Kanaya yang sedang makan bubur ayam sambil menonton siaran Netflix di televisi.


"Aku lagi pengen di rumah aja, jagain kamu," jawab Lee yang membuat hati Kanaya langsung berbunga-bunga.


"Aku udah sembuh kok, Mas."


"Alhamdulillah kalau begitu."


Lee menghampiri Kanaya dan duduk di sofa yang sama dengan istrinya tersebut. "Kamu nggak bosen berulangkali lihat film itu?" tanyanya dengan kerutan heran yang muncul di dahinya.


Kanaya yang hobi sekali mengulang film berjudul The Chronicles of Narnia Prince Caspian itu pun menggeleng. "Justru semakin sering aku tonton ulang, semakin aku candu sama filmnya Mas," jawabnya dengan enteng.


"Coba kamu senyum," pinta Kanaya.


Lee mengernyitkan dahinya sebelum menuruti permintaan Kanaya. "Seperti ini?" tanya Lee yang kemudian melengkungkan ujung bibirnya ke atas membentuk senyuman boxy yang terlampau menggemaskan.


Untuk beberapa detik Kanaya diam terpesona. "Jadi lebih candu mana? Senyuman aku atau film itu?" tanya Lee yang membuat bibir Kanaya berkedut menahan tawa.


"Jujur, lebih candu film itu sih, soalnya pemeran laki-lakinya ganteng-ganteng, Mas."


Seketika wajah tampan Lee berubah masam. Kanaya tak bisa menahan tawanya lagi, gadis itu tergelak dihadapan suaminya. "Mas lucu deh kalau lagi ngambek," katanya yang terdengar seperti olokan.


Tangan Lee mengambil remote lalu mematikan televisi yang masih menayangkan pangeran-pangeran tampan kesukaan Kanaya.


"Lha? Kok dimatiin Mas?!"

__ADS_1


"Abisnya kamu lebih suka sama mereka daripada aku!" sewot Lee yang lagi-lagi membuat Kanaya ingin tertawa sekeras-kerasnya.


"Lucu banget sih kamuuu...." Tangan Kanaya mencubit pipi kanan Lee dengan gemas. Sedangkan Lee mencoba untuk tidak tersenyum.


"Sakit Naya," keluh Lee seraya menyingkirkan tangan Kanaya yang mencubit pipinya.


"Hehehe, abis gemes banget sih."


"Nayaaa."


"Apa?"


"Jalan-jalan yuk?" Tiba-tiba Lee ingin mengajak Kanaya ke suatu tempat.


"Kemana?" tanya Kanaya antusias.


"Ke pantai."


"Serius Mas?!" Saking senangnya Kanaya hampir berteriak.


"Serius lah Nay, masa bercanda," jawab Lee.


"Yeay! Ya udah aku siap-siap dulu ya Mas," ucap Kanaya berdiri dari sofa lalu pergi ke kamar untuk mengganti baju dan kerudungnya.


Sedangkan Lee pergi ke garasi untuk memanaskan mesin mobilnya sebelum dipakai jalan-jalan.


*****


Kanaya dan Lee baru tiba di pantai lima menit yang lalu. Kini mereka berdua berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.


"Aku udah lama gak ke pantai, sekalinya ke pantai, rasanya kok lama banget perjalanannya."


"Ya kan emang jaraknya jauh dari rumah kita, Naya." Lee menimpali.


"Perasaan dulu deket deh," cetus Kanaya yang masih mempertanyakan soal jarak ke pantai.


"Itukan cuma perasaan kamu aja, Nay."


"Kita duduk di sana yuk?" ajak Lee sambil menunjuk area pasir putih yang terlihat masih bersih.


"Ayok!" sahut Kanaya.


Kemudian Lee dan Kanaya duduk berdampingan di pasir putih pantai dengan beralaskan sendal jepit yang semula mereka pakai sebagai alas kaki.


"Subhanallah, indahnya ciptaan Mu Ya Allah," gumam Kanaya menatap senja di ufuk barat dengan tatapan penuh kekaguman.


Lee mengamati wajah Kanaya yang berkali-kali lipat lebih cantik apabila dilihat dari jarak dekat. Tanpa sadar Lee mendekatkan wajah tampannya ke wajah cantik Kanaya, membuat istrinya itu menoleh dan langsung terperangah karenanya.

__ADS_1


"M-mas, mau ngapain?" Kanaya kesusahan berbicara karena terlalu gugup.


Cup.


Kecupan hangat mendarat di ujung hidung mungil nan mancung milik Kanaya, membuat muka gadis itu memerah seperti senja.


"Cantik," puji Lee sambil merangkul pinggang Kanaya dengan mesra.


Baru kali ini Kanaya merasa diperlakukan seromantis ini oleh Lee, sebab biasanya Lee selalu bersikap datar kepadanya.


"Happy anniversary, Naya. Aku bersyukur atas kehadiranmu di dalam hidupku, aku menyayangimu, semoga pernikahan kita langgeng sampai kita tutup usia," ungkap Lee benar-benar dari hatinya.


Kanaya langsung terharu, hatinya berdebar kencang dan jantungnya berdetak tak karuan. Air mata bahagia mengalir dari sudut mata indahnya.


"Happy anniversary too Mas David. Aku bersyukur banget punya suami seperti kamu, aku harap pernikahan kita akan baik-baik saja sampai maut menjemput kita...."


"Aku mencintai kamu Mas, aku ingin kamu membalas cintaku," ungkap Kanaya dengan berlinang air mata.


Lee semakin erat mendekap tubuh mungil Kanaya, tangan kokoh pria itu mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi sang istri.


"Aku akan berusaha, aku akan berusaha keras untuk mencintai kamu, Naya."


"Makasih Mas."


******


"Kamu kenapa sih senyam-senyum mulu?" tanya Atikah, teman kuliah Kanaya.


"Tau enggak, dia mulai bersikap romantis ke aku," jawab Kanaya dengan senyuman yang tak kunjung luntur dibibirnya.


"Suami kamu yang gantengnya sangat estetik itu?" tebak Atikah yang dibalas anggukan kecil oleh Kanaya.


"Cie, selamat ya ... akhirnya kamu bisa menaklukkan hatinya," ucap Atikah turut bahagia melihat Kanaya bahagia.


"Makasih... Oh iya tik, temenin aku ke perpustakaan yuk, mau cari buku buat dijadiin referensi nih."


"Oke, ayok!"


Setelah itu Kanaya dan Atikah pergi ke perpustakaan Kampus dan sesampainya di sana mereka malah disuguhkan pemandangan dua orang laki-laki yang sedang baku hantam.


"Aduh-aduh, begini nih kalau otak lebih kecil daripada otot! Woy! Kalian itu udah dewasa, ngapain masih berantem kayak gitu? Kalian enggak malu apa bikin onar di tempat orang menimba ilmu?" tandas Atikah yang membuat salah satu pria yang berkelahi tak terima dan menatapnya marah.


Namun ketika mendapati Kanaya berdiri di sebelah Atikah, pria itu langsung pergi dari perpustakaan dengan ekspresi wajah yang sulit dimengerti. Sebenarnya siapa pria itu? Kenapa dia seperti tak berani menatap wajah Kanaya?


Bersambung....


Gimana? Penasaran? Pasti dong ya?

__ADS_1


Maafin aku update nya lama, udah tiga hari ini aku sakit, badan panas dingin, aduh... Minta doanya ya teman-teman, semoga aku cepat sembuh... Aamiin.


__ADS_2