Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 45 | Kenapa Harus Kamu?


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim....


Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


___


"Naya? Apa kamu bahagia menikah sama cucu Nenek?" Jujur Kanaya kaget saat mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut Yuna (Nenek kandung Lee). Sampai ia gugup dan bingung ingin menjawab seperti apa sebab selama ini tak ada satupun orang yang pernah menanyakan padanya hal yang serupa.


"Naya? Kenapa malah bengong?"


"Eh iya, Maaf Nek. Tadi aku cuma memastikan, benar nggak sih aku bahagia. Dan ternyata tidak diragukan lagi, aku bahagia, Nek." Bohong, batin Kanaya berteriak lantang. Tapi gadis itu membungkamnya dengan senyuman palsu. Ia memang sudah berbaikan dengan Lee dan memaafkan segala kesalahannya di masa lalu. Tapi untuk menutup setiap luka yang pernah ditorehkan oleh sang suami, Kanaya belum bisa seratus persen melakukanya, ia butuh waktu.


"Maaf ya kalau Lee punya salah, dulu dia itu pernah jadi anak broken home yang tak punya apa-apa, sering diejek sana-sini. Batin dan mentalnya sempat terluka...."


"Sampai akhirnya Tuhan mengirimkan seorang ayah baru yang benar-benar peduli padanya. Dulu waktu ia remaja, ia sempat mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaannya. Maka dari itu Nenek khawatir kamu terluka karena tak mampu memahaminya."


Mendengar cerita masa lalu Lee membuat Kanaya dirundung pilu, tak bisa terbayangkan dalam pikirannya melihat Lee disakiti orang-orang. Hatinya ikut merasakan nyeri, tak disangka Lee juga punya masa kecil pahit seperti yang pernah dialaminya, yang membedakan ialah walaupun kekurangan keluarganya dulu tetap harmonis. Dengan wajah sendu Kanaya menatap Nenek Yuna dan berkata sungguh-sungguh. "Aku akan berusaha semampuku untuk memahaminya Nek, tak peduli bagaimana pun dia memperlakukan aku, aku akan setia padanya."


"Nenek percaya sama kamu, Lee beruntung memiliki seorang istri seperti kamu, Nenek bisa merasakan cinta itu lewat mata kamu, Naya, begitu tulus, itu membuat Nenek yakin bahwa kamu memang wanita yang tepat untuk Lee."


"Makasih, Nek. Aku memang mencintai Lee lebih besar dari apa yang dia tahu, aku senang Nenek bisa melihat kebenarannya."


"Ah, cucu menantuku memang luar biasa...."


"Nenek juga luar biasa," balas Kanaya tak mau kalah.


"Kamu ini ada-ada aja, apa yang luar biasa dari seorang wanita yang udah renta sepertiku ini?"


"Kepekaan dan kepedulian Nenek terhadap orang-orang yang Nenek sayangi. Itu yang menjadikan Nenek luar biasa," jawab Kanaya apa adanya.


"Kamu bisa aja sih," balas Nek Yuna malu-malu.


"Annyeong! Lagi ngapain kalian? Hayo? Pasti lagi ngomongin aku ya?" Tiba-tiba Lee nimbrung di tengah percakapan istri dan neneknya.


"Kepedean kamu, Mas. Orang aku sama Nenek lagi ngomongin soal masakan, iyakan Nek?"

__ADS_1


"Bohong itu, Kanaya tadi bilang kalau dia itu sayang banget sama kamu," celetuk Nek Yuna jujur. Kejujuran itu membuat pipi Kanaya memanas. Aduh, sudah pasti merona kalau begini.


Cup. Tanpa malu-malu, di depan neneknya Lee mengecup pipi kanan Kanaya yang memerah seperti udang rebus. Kanaya refleks memukul bahu Lee dan menyembunyikan mukanya di dada bidang suaminya itu. Ah, ia malu sekali!


"Wah, kalian mesra banget ya, kayak pengantin baru. Nenek harus pergi nih. Bahaya kalau Nenek sampai iri," goda Nek Yuna yang setelahnya melangkah guna memberi ruang untuk kedua sejoli yang masih dimabuk cinta.


"Tuh 'kan, Nenek jadinya pergi jauhin kita. Kamu sih!" Kanaya mencubit perut rata Lee sampai pria itu kaget dan meringis. Bukan sakit, tapi malah geli.


"Udahlah biarin aja, Mm, jalan-jalan yuk sayang. Kamu pasti bosen kan di dalam rumah Nenek terus dari kemaren?"


"Bukan bosen sih, lebih tepatnya kurang kerjaan kali ya?" koreksi Kanaya.


Lee terkekeh pelan, "Jadi mau dong jalan-jalan sama aku mengelilingi kota Daegu?"


Bibir Kanaya melengkung indah, gadis itu menganggukkan kepalanya pertanda ia mau.


"Asyik, kalau begitu siap-siap dulu yuk?" ajak Lee yang kemudian mengiring Kanaya ke kamar mereka untuk berganti pakaian. Tak mungkin kan mereka keluar jalan-jalan menggunakan piyama tidur?


*****


Musim semi di Korea memang terbilang sangat menakjubkan, bunga-bunga Sakura yang bermekaran di sepanjang jalan sangat menarik untuk dipandang.


"Tunggu," jeda Lee ketika Kanaya hendak memotret dirinya sendiri menggunakan ponsel Lee.


"Kenapa?" tanya Kanaya dengan raut kebingungan. Lee tersenyum sembari memetik salah satu bunga sakura berwarna merah muda lalu menyelipkannya disela-sela hijab Kanaya, membuat sang istri tersipu malu.


"Ooh, ternyata Pak Suami mau nambahin properti?" katanya riang, Lee membalasnya dengan tawa renyah.


"Habisnya tadi bunga sakura itu minta di sandingkan sama yang lebih cantik daripada dia," goda Lee yang membuat hati Kanaya berdesir tak karuan.


"Mulai deh, gombal!"


"Nggak tuh, yang aku bilang tadi itu real. Diantara bunga-bunga sakura yang ada di sini, tetap kamu yang paling cantik. Pesona kamu mengalahkan keindahan mereka. Sampai aku heran, kok bisa bidadari kayak kamu turun ke dunia dan jatuh cinta sama laki-laki brengsek kayak aku?"


Kanaya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap mata Lee dengan intens. Kemudian ia meletakkan kedua tangannya di bahu Lee. "Jangan berlebihan, Mas. Sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, begitu juga pujian terhadap mahluk biasa seperti ku. Kalau Mas mengagumi aku cukup katakan 'Masyaallah, Maha Mulia Allah yang telah menciptakanku sebagai tulang rusuk dan belahan jiwamu. Aku lebih senang mendengarnya," bisiknya lembut dan sarat akan nasihat.

__ADS_1


"Masyaallah," puji Lee yang setelah itu langsung mengecup kening Kanaya dengan rasa syukur yang teramat besar di kalbunya.


Kruuk.


Suara itu sontak membuat Lee dan Kanaya tertawa dan memisahkan diri. Lee menepuk perutnya yang payah. Tidak bisa diajak kompromi di saat momen romantis tengah berlangsung. Ini sih definisi rasa lapar kontra dengan pikiran.


"Cacing dalam perutnya ngajak makan ya, Mas?" ledek Kanaya sembari menepuk-nepuk perut Lee.


"Iya nih, pengen topokki katanya."


"Hahaha, ya udah kita cari warung topokki pinggir jalan, aku juga lapar sekaligus penasaran gimana rasa topokki buatan asli ahjuma-ahjuma Korea."


"Ayo sayang!" teriak Lee semangat sekali, ia menggandeng tangan Kanaya dan mereka pun pergi ke salah satu gerai makanan pinggir jalan yang lumayan banyak pembelinya.


Ketika sedang mengantri, seorang anak kecil berlari ke arah Lee dan memeluk kakinya dengan erat. Hal itu membuat Lee dan Kanaya kaget bukan main, apalagi sebelumnya mereka pernah bertemu anak itu dua kali.


"Daddy, finally i meet you again! Apa Daddy merindukanku dan ingin membelikan topokki untukku?"


"Ahjussi bukan Daddy kamu, jadi tolong lepaskan pelukan kamu ya?"


"No! You're my Daddy! Mommy told me that you are my Daddy!" Anak kecil itu ngotot mengakui Lee sebagai ayahnya. Sementara Kanaya yang masih berdiri di samping Lee hanya bisa menyaksikan tanpa melakukan apa-apa.


Hatinya tiba-tiba kebas saat ujung matanya menangkap siluet perempuan berlari menghampiri mereka. Perempuan itu tak lain adalah Georgina, perempuan yang pernah atau bahkan masih mengisi ruang penting di hati suaminya.


Pikiran-pikiran negatif mulai menenggelamkan Kanaya, membuat dirinya tak sanggup berdiri di samping Lee lagi. Seakan-akan ada yang menyuruhnya untuk lari menjauh, melindungi hatinya agar tidak berdarah lagi. Tapi rasa penasarannya membuat kakinya terpaku, tak bisa lari kemana-mana.


Georgina membentak anaknya, "Hyunki! Dia bukan ayah kamu lagi!" Kemudian wanita itu menyeret anaknya menjauh dari Lee.


"Maaf mengganggu waktunya," ucap Georgina sebelum akhirnya pergi tanpa meninggalkan penjelasan apapun perihal mengapa anaknya bisa menganggap Lee sebagai ayahnya. Padahal mereka baru saja bertemu beberapa hari yang lalu.


Setelah kepergian Georgina dan anaknya. Kanaya langsung melempar tatapan sinis penuh selidik ke arah suaminya. "Bocah tapi beneran anak kamu sama perempuan itu ya, Mas?" tanyanya langsung menohok.


"Bukanlah! aku nggak pernah tidur sama dia, nggak mungkin dia hamil anak aku, Nay!"


"Tapi wajah anak itu seperti perpaduan western-korean, persis seperti kamu kalau sama dia."

__ADS_1


"Ooh, jadi kamu mau nuduh aku punya anak di luar nikah, begitu? Tega kamu." Kekecewaan tampak jelas di mata Lee, hati Kanaya seperti diremas ketika melihatnya. Wanita itu mencengkeram tasnya sambil menggigit bibir, menyesali tuduhan tanpa buktinya terhadap Lee. Sedangkan Lee memilih untuk diam sampai akhirnya topokki yang mereka pesan jadi. Namun keduanya malah kehilangan nafsu makan dan memutuskan untuk pulang agar bisa menjernihkan pikiran.


Bersambung....


__ADS_2