Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 30 (Misi Pertama Kanaya)


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim....


Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala alihi sayyidina Muhammad.


___


Setelah merasa tenang Kanaya keluar dari kamar mandi dan ia sangat terkejut melihat Lee berdiri tepat di depan pintu kamar mandinya.


"Mas, sejak kapan kamu berdiri di sini?" tanyanya dengan raut tegang, takut Lee mendengar pembicaraannya dengan Azkia di telepon tadi.


"Sejak satu menit yang lalu."


Jawaban itu cukup meragukan bagi Kanaya, namun ia memilih untuk diam, tidak lanjut menanyai Lee karena ia takut suaminya itu akan mencurigai gelagatnya.


"Kamu kenapa? Kenapa muka kamu pucat begitu?" tanya Lee dengan nada khawatir.


Kanaya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum sekilas, "Aku enggak papa kok, cuma pusing sedikit," jawabnya lemah.


"Kalau kamu pusing, mendingan kita pulang aja ya? Supaya kamu bisa istirahat dengan nyaman," saran Lee mengajak Kanaya pulang, padahal pekerjaannya di kantor masih banyak yang belum diselesaikan.


Kali ini giliran Kanaya yang mengusulkan, "Pekerjaan kamu kan masih banyak, Mas. Jadi, aku pulang sendiri aja, ya? Kamu tetap di kantor? Oke?"


Lee mengangguk pasrah walaupun hatinya resah karena mengkhawatirkan Kanaya. "Aku antar sampai lobi, ya?" tawar Lee perhatian.


Kanaya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "Jangan lupa nanti kalau kamu pulang bawa rantang aku, ya?" pesan Kanaya sebelum berjalan mendahului Lee.


"Padahal, aku nggak ikut makan makanan yang ada di dalam rantang kamu itu," celetuk Lee yang membuat Kanaya menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arahnya.


"Salah sendiri, kamu telat."


Lee terkekeh lalu meraih tangan Kanaya untuk digenggamnya, "Aku ikut pulang aja, ya? Masih lapar nih, mau makan nasi goreng buatan kamu, hehe."


Kanaya menyunggingkan senyuman manisnya sebelum mengiyakan permintaan Lee, "Ya udah, kalau kamu memang mau pulang, aku nggak bakal larang kamu."


"Nanti kamu masak nasi goreng buat aku, ya?" pinta Lee dengan nada membujuk.


"Iya, hubby. Tenang aja, aku bakal masak nasi goreng yang enak banget buat kamu, hitung-hitung sebagai ganti daging sapi teriyaki yang aku habiskan tadi, hehe," jawab Kanaya di sela tawanya.


"Makasih, sayang."

__ADS_1


"Sama-sama, hubby."


Setelah itu Lee menggenggam tangan Kanaya lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju lift yang akan membawa mereka ke basement tempat mobil Lee terparkir. Semua mata tertuju ke arah Lee dan Kanaya saat mereka lewat di depan karyawan-karyawan yang bekerja di bawah naungan perusahaan DSL Beauty Care.


Mereka semua tak menyangka kalau ternyata Lee juga bisa bersikap romantis kepada istrinya. Tidak seperti rumor yang telah lama beredar di kantor bahwasanya Lee hanya bisa perhatian dan romantis kepada Aisyah, wanita yang beberapa tahun lalu hampir dinikahinya. Seketika rumor jelek soal ketidakharmonisan rumah tangga pemilik DSL Beauty Care itu pun lenyap tak berbekas.


*****


"Eh, lo jadi mau temenin gue ke acara anak futsal nanti malam?" tanya Nathan sambil melirik Steffany yang duduk santai di atas motor sportnya.


"Jadilah," jawab gadis itu tegas. "Tapi, gue bukan anak futsal, emang nggak papa kalau gue ikutan acaranya?" lanjutnya bertanya kepada Nathan.


"Enggak papa, lo kan teman gue. Kalau sampai ada di antara mereka yang berani ngomong macem-macem sama lo, bakal gue tonjok mulutnya," jawab Nathan yang kini berubah banyak bicara setelah kenal dekat dengan Steffany. Entah kenapa Nathan merasa klop dengan Steffany, sehingga kepribadiannya yang hangat muncul kembali.


"Serem amat, bang. Neng jadi takut nih," canda Steffany yang bagi Nathan tidak ada lucu-lucunya sama sekali, yang ada candaan itu terdengar menggelikan saat masuk ke dalam telinganya.


"Nanti malam itu acaranya apa sih? Main bola bareng-bareng gitu, cowok sama cewek?"


"Bukan, cuma acara berbequan aja kok, buat merayakan anniversary ke sembilan belas tahun tahun Klub Futsal Kampus kita," terang Nathan.


Steffany manggut-manggut lalu nyeletuk, "Berati Klub Futsal Kampus kita umurnya udah seumuran sama gue, ya?"


"Nanti mau gue jemput atau pergi sendiri?"


"Hari ini lo pulang sore, nggak?" Steffany malah balik menanyai Nathan.


"Kayaknya iya deh, soalnya gue ada kelas tambahan," jawab Nathan sambil membuka bungkus rokok yang akan dihisapnya.


"Ngerokok lagi, mau mati muda ya, lo?" tegur Steffany yang tak suka apabila melihat Nathan merokok, bukan apa-apa, ia hanya mengkhawatirkan kesehatan pemuda itu.


"Bawel banget sih, lo? Padahal gue beli rokok pakai uang sendiri, bukan pakai uang lo," bantah Nathan seraya menyalakan ujung rokoknya lalu menghisapnya dengan santai.


Melihat itu Steffany jadi kesal dan turun dari motor sport Nathan. Kemudian ia menghampiri pemuda itu dan merebut rokoknya, tanpa diduga Steffany menyelipkan rokok itu di mulutnya, membiarkan asapnya mengepul mengenai wajah cantiknya.


"Lo ngapain? Balikin rokok gue, lo itu cewek, nggak boleh ngerokok!"


Nathan berusaha menyingkirkan rokoknya dari mulut Steffany, namun tangan gadis itu menghalanginya sehingga ia merasa kesal. "Steffany, gue paling nggak suka lihat temen cewek gue ngerokok! Maka gue minta, lo buang rokok itu sekarang juga," titah Nathan tak main-main. Muka yang tadinya kalem kini berubah sangar.


Tak mau kalah, Steffany menatap wajah Nathan dengan tajam. "Kenapa gue harus nurutin apa kata lo?" tantangnya ngeyel.

__ADS_1


"Karena gue temen dekat lo, gue berhak ngingetin lo mana yang baik dan mana yang buruk," jawab Nathan dengan sekali tarikan nafas.


Steffany menunjukkan seringai khasnya, "Kalau lo berhak ngingetin gue, berarti gue juga berhak ngingetin lo, Nath."


"Gue bakal buang rokok ini asalkan lo janji mau berhenti ngerokok," lanjutnya.


"Oke, deal, sekarang singkirkan rokok itu dari mulut lo," pungkas Nathan yang akhirnya sepakat dengan Steffany.


Steffany tersenyum puas lalu membuang rokok itu ke tanah lalu diinjaknya sampai hancur tak berbentuk. Nathan cuma bisa menatap rokoknya dengan pasrah.


****


"Gimana? Enak enggak nasi gorengnya?" tanya Kanaya sambil memegang kedua bahu Lee yang sedang menyantap nasi goreng bikinannya.


"Enggak perlu diragukan lagi, rasanya enak banget, sayang. Kamu memang cocok jadi istri aku yang doyan makan masakan rumahan," jawab Lee memuji hasil masakan Kanaya yang aslinya memang lezat.


"Alhamdulillah, ya udah ... kamu habiskan nasi gorengnya, ya?"


"Iya sayang, makasih ya."


"Sama-sama, Mas. Oh iya, Mas. Aku izin mau hangout berdua sama Steffany boleh, ya?"


"Cuma berdua kan? Enggak ada yang ketiga?" tanya Lee memastikan, takutnya Steffany mengajak Nathan ikut serta.


"Iya Mas, cuma aku sama Steffany," ujar Kanaya memperjelas.


"Boleh, tapi kalau udah jam sembilan kamu harus pulang, oke?"


Kanaya berpikir sejenak kemudian mengangguk setuju dari pada nantinya ia kena omel Lee.


"Kalau gitu aku ganti baju dulu, ya. Bye-bye," ujar Kanaya sebelum masuk ke kamarnya, bersiap-siap membujuk adik iparnya yakni Steffany supaya pergi dengannya dan tidak jadi menghadiri acara anak futsal yang diadakan di Kampus mereka.


Mudah-mudahan saja berhasil.


Bersambung....


Kira-kira Kanaya berhasil nggak ya? Gimana menurut kalian?🤔🤔


Jangan lupa support cerita ini dengan cara like, komentar, vote, dan share cerita ini ke teman-teman kalian yang suka baca, oke?🤗😊🥰🙃👍✨🌹💞

__ADS_1


__ADS_2