Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 15 (Mengukir Kenangan)


__ADS_3

HAPPY READING!


Suasana di restoran seafood yang dekat dengan laut itu terasa nyaman, walaupun pengunjungnya ramai berdatangan dan mulai memenuhi kursi-kursi dan meja-meja yang tersedia di sana. Tujuan mereka bersinggah di restoran seafood itu tak lain tak bukan adalah kulineran, begitu pun dengan Lee dan Kanaya yang datang paling awal dan sekarang duduk di pojok dekat jendela yang menghadap langsung ke pantai Ancol.


"Di sini semua masakan seafood nya pedas lho, Mas. Yakin mau ikutan makan juga?" Kanaya menatap Lee dengan raut tak yakin, pasalnya ia tahu kalau suaminya itu tidak bisa makan makanan pedas.


Mendengar penuturan istrinya Lee sempat meragu dan menimbang-nimbang lagi sambil melihat-lihat buku menu. Dalam hati ia ingin tapi ia sadar kalau lidahnya tak mampu beradaptasi dengan makanan pedas.


"Aku yakin," sahut Lee dengan ekspresi yang menunjukkan sebaliknya. Kanaya tahu suaminya itu sebenarnya takut tapi karena keinginannya kuat, maka dia memberanikan diri.


"Kalau Mas David nggak yakin, aku bisa carikan makanan yang nggak pedas di luar sana buat Mas," tawar Kanaya yang tak bisa membayangkan bagaimana nantinya kalau Lee makan makanan pedas. Ia khawatir Lee akan sakit perut seperti waktu itu.


Tapi rasa khawatir Kanaya memudar ketika Lee menggenggam tangannya yang bertumpu di meja lalu mengecupnya dengan lembut. "Sayang, makasih ya atas tawarannya. Tapi aku beneran enggak papa kok," ucap Lee kekeuh.


Kanaya menghela nafas panjang kemudian menatap wajah Lee dengan serius. "Kalau nanti kepedesan jangan dipaksain ya? Biar aku aja yang abisin," katanya berniat menguntungkan diri sendiri.


"Kalau seafood nya enak biar pedas pun aku embat, nggak akan aku kasih ke kamu," jawab Lee sembari memutar bola matanya. Melihat itu Kanaya terkekeh lalu mencubit pipi sang suami dengan gemas.


"Becanda Mas," katanya yang membuat Lee mendengkus dan spontan menggigit tangan Kanaya yang mengapit pipinya.


"Auh, aduh, apaan sih Mas! Main gigit aja, emang tangan aku ini lollipop apa?!" protes Kanaya sambil memegang bekas gigitan Lee di tangan Kanannya.


"Abis nya kamu ngeselin sih," ujar Lee yang kemudian menebus perbuatannya dengan membawa Kanaya ke ruang VIP yang lebih privat, mengingat istrinya itu mempunyai riwayat phobia akan keramaian.


"Wait..., tempat ini kok sepi banget? Jangan-jangan kamu udah sewa tempat ini, nggak mungkin iya kan, Mas?" tanya Kanaya saat menyadari kalau tak ada pengunjung lain selain Lee dan dirinya yang duduk di balkon lantai dua restoran yang menyuguhkan pemandangan pantai Ancol itu.


"Kalau iya kenapa? Kamu marah?" Lee malah balik bertanya.


Kanaya mengelus dada, tak habis pikir kenapa Lee membooking satu tempat hanya untuk makan di siang dengannya. Itu pemborosan! "Mas, menurut aku ini berlebihan, kita cuma mau makan siang, kamu gak perlu sampai menyewa tempat begini," katanya.


"Aku menyewa tempat ini karena aku khawatir sama kamu, kalau kita makan di bawah sana aku yakin kamu gak akan nyaman dan menikmati makanannya," terang Lee sembari mengusap-usap lembut tangan Kanaya yang kembali digenggam olehnya.

__ADS_1


"Sama halnya kamu yang khawatir kalau aku makan makanan pedas, aku juga khawatir tiap kali kamu berada di tengah keramaian. Itu yang dinamakan naluri suami istri yang selalu ingin melindungi satu sama lain."


Kanaya terdiam membalas tatapan Lee yang meneduhkan. Senyuman manis perlahan muncul di bibir ranumnya, saat menatap mata Lee, Kanaya bisa merasakan adanya kasih sayang yang tulus tersirat di sana. Hal itu memupuk harapan yang tumbuh di hatinya yang selama ini selalu di patahkan oleh realita bahwa Lee masih mencintai mantan calon istrinya, Aisyah.


Tak lama setelah memesan makanan, dua orang waiters menghampiri meja Lee dan Kanaya, mereka membawa dua panci seafood dan dua gelas jus jeruk sebagai minumannya serta ada kerak telor yang merupakan desert/makanan penutup.


"Silahkan dinikmati Mas, Mbak."


"Terimakasih," sahut Kanaya ramah, sedangkan Lee hanya menganggukkan kepalanya saja karena ia tidak mau ramah kepada orang yang tidak dikenalnya. Sebab Lee punya pengalaman yang tak mengenakkan, dulu ia ramah kepada semua orang sehingga banyak perempuan-perempuan yang naksir dan baper karena keramahannya. Oleh karena itu ia tak mau lagi bersikap ramah ke sembarang orang.


"Mas, ayo makan, kamu pimpin doa sebelum makan, ya?"


Lee langsung menengadahkan tangannya lalu membaca doa sebelum makan, diikuti oleh Kanaya yang mengaminkan doanya.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Kanaya sebelum memasukkan potongan cumi-cumi berlumur saus dan kari ke dalam mulutnya.


"Eumh, so yummy!" komentar Kanaya jujur setelah menelan cumi-cumi saus kari tadi.


"Terlalu pedas gak, Nay?" tanyanya ingin tahu bagaimana rasanya sebelum mencicipi sendiri.


Merasa namanya di sebut oleh Lee, Kanaya pun menoleh dan menggelengkan kepalanya sambil menatap sang suami yang kelihatan ragu.


"Nggak, pedas nya masih biasa aja kok, Mas. Coba deh, aku suapin ya?"


Lee pasrah saja ketika Kanaya menyuapinya sepotong cumi-cumi berlumur saus kari ke dalam mulutnya. Saat mengunyah Lee kaget merasakan kelezatan dan kelembutan dari daging cumi yang bercampur saus kari tersebut. Rasanya benar-benar enak dan meledak di mulut karena pedas!


"Huah! Pedas Nay! Minum mana minum!" Lee panik begitu selesai menelan cumi saus karinya. Pria itu megap-megap sambil mengipasi mulutnya dengan kedua tangan walaupun sebenarnya tindakan itu tak berpengaruh.


Dengan cekatan Kanaya mengambil jus jeruk dan menyodorkan minuman itu ke depan mulut Lee sehingga suaminya itu bisa langsung minum dan meredakan rasa pedas yang tertinggal di mulutnya.


Mata Lee berair, Kanaya kasihan sekaligus ingin tertawa melihat keadaan suaminya itu. Padahal ia sudah mengingatkan Lee agar tidak usah memaksakan diri untuk makan makanan pedas. Tapi suaminya itu ngeyel ingin tetap makan, maka rasakan sendiri akibatnya.

__ADS_1


"Jangan diterusin ya, Mas. Kamu itu gak kuat makan pedas," ucap Kanaya seraya memindahkan panci seafood Lee ke hadapannya.


Lee cemberut, pria itu ternyata belum kapok dan ingin terus makan makanan laut berbumbu pedas itu. "Aku masih pengen, jangan pindahin punya aku, Naya." Lee merengek seperti anak kecil.


Kanaya tersenyum lalu diusapnya keringat yang muncul di dahi Lee, lalu ditatapnya wajah sang suami yang amat dicintainya itu dengan penuh kelembutan. "Kamu ganti makanan aja ya, biar aku yang masakkin langsung buat kamu, mau?" tawarnya yang berhasil membuat mata Lee berbinar.


"Mau banget, tapi bumbunya harus kari juga ya?" sahut Lee.


"Sesuai permintaan. Tunggu sebentar ya."


Setelah itu Kanaya berkutat di dapur restoran bersama para koki di sana yang sesekali memberi arahan kepadanya agar rasa seafood nya sama persis dengan yang di buat para koki di restoran tersebut.


Bersambung....


Hai guys! Jangan lupa untuk vote cover yang di atas ya. Kalian tulis aja mana cover yang menurut kalian paling bagus.🥰🥰


Makasih udah support aku sampai sejauh ini.😘 Jangan lupa terus support dengan cara :


1. Like 👍✔️


2. Komentar yang banyak ⌨️✔️


3. Vote dan kasih bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐


5. Bagikan link novel ini ke teman-teman kalian ➡️🙋✔️


6. Follow akun NT aku✔️


7. Follow Instagram aku @asyiahmuzakir✔️ (Karena aku sering upload seputar novel-novel aku di sana, ada trailer novel ini juga lho).


Oke, segini dulu, insyaallah besok update lagi karena aku libur, see you tomorrow! Assalamualaikum....🥰☺️🖐️

__ADS_1


__ADS_2