Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 22 (Percikan Api Cemburu)


__ADS_3

Tanpa ada angin, tanpa ada hujan, Steffany dan Nathan datang bersamaan ke rumah Lee dan Kanaya. Hari itu hari minggu, jadi baik Kanaya maupun Lee tidak ada yang ke luar rumah, keduanya sedang menonton Netflix yang merupakan hiburan mereka di kala menghabiskan waktu bersama di akhir pekan. Meski beberapa hari yang lalu Kanaya sempat mendiamkan Lee, nyatanya kini gadis itu sudah kembali buka suara berkat Lee yang terus membujuknya. Sehingga hatinya luluh lagi dan lagi walau ingatan tentang bagaimana perihnya terluka masih kerap menghantui pikirannya.


Mendengar suara bel dan ketukan pintu dari luar, Kanaya langsung bergegas membukakan pintu untuk tamu yang tak di undangnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Steffany dan Nathan yang hampir berbarengan.


"Wa'alaikumsalam, lho ... kalian ngapain ke sini?" sahut Kanaya yang sedikit terkejut dengan kedatangan kedua tamunya tersebut di hari hari libur.


"Oh, jadi kita enggak boleh nih, datang ke sini?" ujar Steffany yang ingin membalikkan badannya lagi kalau saja Kanaya tidak menahan lengannya.


"Boleh kok, kalian boleh main ke sini kapan aja. Tadi aku cuma gak nyangka aja kalau kalian mau datang," kata Kanaya yang kemudian mempersilahkan Steffany dan Nathan untuk masuk ke dalam rumah.


"Siapa yang datang Nay?" teriak Lee yang masih menonton di ruang keluarga. Karena letak ruang keluarga tepat di sebelah ruang tamu, maka Kanaya bisa mendengar teriakkan suaminya itu dengan jelas.


"Adik kamu sama teman laki-lakinya, Mas."


Mendengar jawaban Kanaya, Lee langsung bangkit dari sofa dan melangkahkan kakinya ke ruang tamu. "Kamu siapa?" tanya Lee tanpa basa-basi seraya menatap ke arah Nathan yang duduk di sebelah Steffany dengan tatapan menyelidik.


"Dia Nath...." Kalimat Kanaya di potong cepat oleh Lee. "Naya, biar dia sendiri yang jawab. Aku kan nggak tanya sama kamu."


Nathan meneguk ludahnya susah payah, ia merasa terintimidasi oleh tatapan Lee yang sepertinya tak senang dengan kedatangannya. Pria itu merasakan aura keposesifan yang begitu kuat dari gestur Lee.


"Saya Nathan, teman satu jurusan Steffany," jawab Nathan apa adanya.


"Mau apa kalian ke sini? Menganggu waktuku sama Kanaya aja," ujar Lee sinis.


Steffany mencebikkan bibir tipisnya lalu mendekati Lee dan merangkul lengan kakak laki-lakinya itu. "Aku sama Nathan mau ajak Kak Naya untuk ikut serta dalam acara bazar amal yang diselenggarakan pihak Kampus, boleh ya?" bujuk Steffany.

__ADS_1


Lee menghela nafas panjang sebelum bertanya lagi. "Acaranya sampai jam berapa?"


Steffany tersenyum antusias, sama halnya dengan Kanaya. "Cuma sampai jam tiga sore, kok," jawab Steffany.


"Oke, Naya boleh ikut tapi aku juga akan ikut," pungkas Lee yang membuat Kanaya dan Steffany saling berpelukan karena saking senangnya.


Sedangkan Nathan merasa kurang senang karena kalau Lee ikut dia tidak bisa memperhatikan Kanaya dengan leluasa. Padahal niatnya mengajak Steffany dan Kanaya untuk berpartisipasi dalam acara bazar adalah agar ia bisa lebih akrab dengan Kanaya. Ternyata ada udang di balik batu, begitulah kata pepatah nya.


"Bentar ya, Steffy, Nathan, aku sama Lee mau ganti baju dulu," ujar Kanaya yang kemudian menggandeng lengan Lee ke kamar mereka yang ada di lantai dua.


"Naya, pokoknya sampai di tempat bazar nanti kamu nggak boleh lepasin tangan aku ya," perintah Lee dengan nada posesif yang membuat Kanaya tak bisa menyembunyikan senyumannya.


"Iya Mas, dari tadi kamu ngomongin itu terus lho," jawab Kanaya sambil memasangkan satu persatu kancing kemeja yang Lee kenakan.


"Terus kamu juga harus manggil aku sayang," pinta Lee yang membuat Kanaya ingin tertawa karena heran dengan permintaan suaminya yang sangat tak biasa itu.


"Kamu kenapa sih, Mas? Kesambet ya?" canda Kanaya sambil berjinjit dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Lee. Tapi Lee malah menarik tangannya sehingga Kanaya kehilangan keseimbangan dan menabrak dada bidang Lee. Waktu seakan terhenti saat mata Kanaya dan Lee saling mengunci, menyelami perasaan satu sama lain lewat tatapan yang dalam dan penuh kejujuran.


"Ekhem." Lee mengalihkan fokus matanya ke arah lain, tapi tangannya masih merengkuh pinggang Kanaya, membuat istrinya itu salah tingkah.


"A-aku, aku mau pakai lip gloss dulu ya." Kanaya melepaskan tangan Lee dari pinggangnya lalu berjalan cepat ke meja riasnya, dengan gugup ia mengambil lip gloss lalu mengoleskannya secara asal di permukaan bibir ranumnya.


Lee tersenyum smirk di tengah kegugupannya. Perlahan ia mendekat ke arah Kanaya dan membalikkan badan istrinya itu agar menghadap ke arahnya. Lalu jemari kokohnya bergerak mengusap bibir Kanaya, membuat lip gloss yang baru saja di pakai gadis itu menghilang.


Kanaya terdiam, mengamati tindakan Lee sembari mengagumi ketampanan rupa suaminya itu dari dekat. Ia hanya akan menanti apa yang selanjutnya di lakukan oleh Lee. Tak di sangka Lee mengecup ujung hidung mungilnya.


"Jangan pakai lipstik, aku nggak mau laki-laki di luar sana memandangi kamu, kecantikan kamu hanya milik aku, nggak boleh ada laki-laki lain yang menikmatinya selain aku," ujar Lee yang terkesan sangat posesif, sorot kecemburuan juga terlihat jelas di matanya. Membuat Kanaya merasa dicintai.

__ADS_1


"Tapi Mas, yang aku pakai tadi itu bukan lipstik, tapi lip gloss, beda."


"Mau lip gloss mau lipstik, aku nggak peduli. Pokoknya kamu jangan pakai produk yang bisa bikin bibir kamu jadi kelihatan segar kayak tadi!" omel Lee yang membuat Kanaya terkekeh geli melihat suaminya yang uring-uringan hanya karena masalah lip gloss.


Di ruang tamu Steffany dan Nathan menunggu dengan gelisah, sudah setengah jam Kanaya dan Lee belum juga keluar dari kamar mereka, sebenarnya mereka cuma ganti baju atau ngapain sih. Kok lama sekali?


"Mereka lagi ngapain sih? Masa cuma ganti baju aja lama banget, aku tengoklah ke kamar mereka," kata Steffany yang segera dicegah oleh Nathan.


"Jangan, kita tungguin aja di sini, takutnya malah ganggu mereka," ujar Nathan yang sudah berpikiran jauh.


Tak lama setelah itu Kanaya dan Lee keluar bersamaan dengan pakaian rapih berwarna senada yang sesuai dengan permintaan Lee.


"Wow, kalian serasi banget ya," puji Nathan yang langsung mendapatkan pelototan tak suka dari Lee.


"Makasih ya, Nathan," ucap Kanaya sebagai balasan.


Lee melirik istrinya dengan muka masam. "Jangan ladeni dia," bisiknya memperingati.


Kanaya menghela nafas panjang lalu mengangguk patuh. Ia berharap keposesifan Lee adalah tanda kalau suaminya itu diam-diam mulai mencintainya.


"Oppa, cemburu itu boleh, tapi sewajarnya aja, jangan terlalu posesif, nanti Kak Kanaya bisa nggak nyaman lho," sindir Steffany menegur kakaknya.


"Diam kamu! Jangan ikut campur," pungkas Lee yang membuat Steffany cemberut tapi kemudian tersenyum karena Nathan menggenggam tangannya.


Bersambung....


Hai, hai, bagaimana reaksi kalian setelah baca part ini? Pliss kasih tahu aku di kolom komentar. Dan terima kasih buat kalian yang kemaren udah kasih saran ke aku, so jangan lupa like, komentar, vote, dan share cerita ini ke teman-teman kalian yang juga suka baca.😘😘🙏🙏

__ADS_1


And see you next time!🤗❤️🥰


Assalamualaikum.🤗


__ADS_2