
Bismillahirrahmanirrahim....
Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
____
"Jikalau ku bisa menghentikan waktu, aku akan melakukannya saat ini," gumam Lee sambil membenahi anak rambut Kanaya yang jatuh menghalangi pipi mandu wanita itu.
"Untuk apa menghentikan waktu kalau aku bakal seterusnya di samping kamu?" Kanaya menghentikan kegiatan memotong bawangnya dan memandang ke arah Lee sembari menunjukkan senyuman manisnya.
"Kamu nggak akan pergi dari aku kan?" tanya Lee murung. Kanaya mendekat lalu menangkup rahang tegas Lee, wanita itu mengikis jarak untuk mengecup ujung hidung suaminya yang mancung itu.
"Sekarang aku tanya kamu balik, apa kamu juga nggak akan pergi dari aku lagi?" bisik Kanaya dengan tatapan sendu.
Lee terdiam beberapa saat sebelum mendekap Kanaya dan menyandarkan kepalanya di bahu wanita mungilnya itu.
"Kita berdua nggak bisa memprediksi masa depan Mas, oleh karena itu kita nggak bisa memberikan jawaban apapun."
"Maka untuk saat ini, aku minta kamu buat lupain sejenak masalah kita dan happy-happy sama aku."
Kanaya merasakan bahunya hangat, air mata Lee pasti sudah merembes menembus bajunya. Dengan lembut ia melepas dekapan Lee dan sedikit berjinjit untuk menghapus air mata suaminya itu.
"Senyum dong," pinta Kanaya dengan nada manjanya.
Lee terkekeh lalu mencubit pipi Kanaya yang semakin chubby. "Gemesin banget sih istri aku ini," balas Lee dengan senyuman yang telah kembali di wajah tampannya.
"Mau cobain macaron buatan aku nggak?" tanya Kanaya antusias.
"Boleh," jawab Lee mulai bersemangat lagi.
Kanaya bergegas membuka lemari makanan dan mengeluarkan toples berisi macaron yang ia buat sendiri dua hari yang lalu bersama Astrid. Ia membawa kue manis khas Prancis itu ke hadapan Lee, membuka tutup toplesnya dan menyuapkan kue itu ke mulut sang suami.
"Gimana enak?"
Lee mengangguk sambil mengunyah cepat macaron yang ada di mulutnya. "Yummy baby, kayaknya kamu cocok deh buka usaha bakery cake."
"Ah, masa sih?" balas Kanaya ragu.
"Iya sayang, macaron buatan kamu beneran enak, bahkan rasanya ngalahin macaron yang dijual di mall-mall itu."
"Hahaha bisa aja Mas."
__ADS_1
"Tapi sayang, kok macaron kamu ada sedikit bau bawang ya?" Lee mengerutkan keningnya ketika mencium bau bawang di akhir kunyahan.
"Astaghfirullah Mas, hahaha, itu karena aku belum cuci tangan kayaknya." Kanaya tertawa karena baru ingat ia habis mencincang bawang sebelum menyuapkan macaron ke dalam mulut Lee.
"Ya Allah, pantesan," ucap Lee sambil ikut menertawakan kekonyolan mereka berdua.
Setelah kegiatan masak sambil bercanda gurau itu berlalu, Lee dan Kanaya pergi jalan-jalan untuk menikmati kebersamaan mereka yang belakangan sulit terjadi.
Sepanjang jalan Kanaya tak henti-hentinya tertawa mendengar candaan ringan Lee yang ditujukan untuknya. Tak jarang wanita itu sampai memukul lengan suaminya karena gemas.
"Sayang, panggil aku yeobo lagi dong," pinta Kanaya yang membuat Lee tersipu.
"Malu sayang, mending baby aja."
"Jangan baby mulu, emangnya aku bayi kamu apa?" rengek Kanaya seperti balita.
"Bukan, lebih tepatnya kamu Mommy dari bayi-bayi aku nanti."
"Bayi-bayi?"
"Iya, bayi-bayi dan bayi-bayi dan bayi."
"What? Banyak banget."
"Enggak, kamu kira hamil itu enak dan melahirkan itu gampang?!" protes Kanaya jelas tak setuju, baru hamil satu anak saja ia sudah merasakan berbagai macam cobaan. Apalagi anak lima?
"Satu cukup," jawab Kanaya reflek mengusap perutnya dari balik kerudung panjang yang ia pakai.
"Dua deh, satu laki-laki, satu perempuan." tawar Lee dengan muka berseri-seri membayangkan betapa bahagianya ia jika Kanaya hamil anaknya, yang tanpa ia ketahui itu sudah terjadi saat ini.
"Mas... Aku... Aku, hm, nggak jadi deh."
"Kamu mau ngomong apa sayang? Ngomong aja, jangan bikin aku penasaran lho."
Yang sebenarnya ingin Kanaya katakan ialah jujur soal kehamilannya, tapi ia masih ragu untuk memberitahu Lee. "Nggak, aku cuma kepikiran pengen ke laut, tapi kayaknya kejauhan deh. Iya kan?"
"Nggak juga, kamu beneran mau ke laut?"
"Iya, pengen lihat deburan ombak sama sunset, seru kayaknya."
"Ya udah kita main ke private beach papa aja."
__ADS_1
"Serius Mas?"
"Iya, di sana kamu bakal lebih nyaman karena tempatnya jauh lebih privasi."
"Yeay! Ayo Mas buruan ke sana!" Kanaya bukan main excited-nya. Hati Lee sampai menghangat dibuatnya.
Sesampainya di lokasi Kanaya benar-benar terperangah melihat hamparan pasir putih pantai dan laut biru dengan ombak tenang. Ia tak menyangka tempat seindah ini ada di Indonesia dan hanya di datangi oleh turis-turis khusus yang punya relasi dengan papa mertuanya. Ia sempat pusing memikirkan sekaya apa keluarga suaminya?
"Ayo main ke sana." Lee menggenggam tangan Kanaya dan menariknya lembut mendekat ke arah pantai. Kanaya tersenyum lebar begitu kakinya bersentuhan langsung dengan pasir putih yang halus.
Angin pantai berhembus lembut menerpa wajah Kanaya yang sumringah. Angin itu juga membuat ketampanan seorang David Steven Lee bertambah berkali-kali lipat, rambut halus yang sempat menutupi dahi paripurnanya tersapu ke atas, menampakkan ketampanan yang membuat Kanaya tak bisa berkata-kata dan hanya terpaku menatapnya.
"Masyaallah," gumam Kanaya yang jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
"Kanaya Fitria Afna, i love you for the rest of my life!" teriak Lee mengungkapkan perasaannya sambil memandang bergantian ke arah laut dan Kanaya yang berdiri di sampingnya.
"I want you know that i love you more, Mas David!" balas Kanaya dengan mata berkaca-kaca, dalam hatinya ia berharap bisa terus ada dalam momen bahagia ini bersama pria yang dalam sekejap bisa membuatnya merasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia ini.
"Mas David, dengan kamu begini aku ngerasa kayak i'm the happiest woman in the world," ungkap Kanaya sambil melingkarkan tangannya di leher kokoh Lee yang tengah menatapnya lembut.
"Dan aku merasa kalau aku lelaki paling bahagia dan beruntung bisa memeluk bidadari secantik kamu seperti ini," balas Lee dengan senyuman yang melelehkan hati Kanaya sehingga perempuan itu tak dapat lagi menyembunyikan rona merah di pipinya.
Semakin lama semakin jelas alunan piano terdengar dan kaki Lee mulai bergerak mengajak Kanaya menari bersamanya mengikuti irama dan perasaan mereka yang saling bertautan.
Momen manis yang terjadi di siang menjelang sore itu akan selamanya melekat di benak Lee maupun Kanaya. Mereka akan terus mengingatnya bila perlu sampai mereka menua bersama.
"Kanaya."
"Heum?"
"Kamu lihat batu karang itu?" Lee menunjuk sebuah batu yang berdiri kokoh di tengah lautan.
Kanaya yang sedang menulis namanya di atas pasir langsung menoleh dan mengikuti arah jari telunjuk Lee. "Ada apa sama batu karangnya?" tanyanya bingung.
"Aku ingin pernikahan kita sekuat karang itu, tetap bertahan dan tak pernah hancur meskipun ombak dan badai terus menghantamnya sepanjang waktu," ujar Lee penuh penghayatan.
Kanaya menatap lekat wajah suaminya lalu tersenyum dengan air mata yang diam-diam menetes mengenai kerudungnya. "Insyaallah kita bisa sekuat itu Mas. Pokoknya kita bismillah aja ya," tutur Kanaya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Lee yang sangat nyaman untuknya bersandar.
Lee mencium tangan Kanaya yang ada di genggamannya cukup lama lalu berganti menatap kedua mata perempuan yang menjadi pusat dunianya itu dengan penuh cinta sekaligus kesedihan.
"Besok aku harus kembali ke Korea untuk mendapatkan hasil tes DNA-nya...."
__ADS_1
...Bersambung.......
Part ini full happy kan? Gimana menurut kalian? Komen di bawah ya.😉