
"Alhamdulillah kenyang," ucap Kanaya bersyukur setelah menghabiskan makanan yang dimasak khusus oleh suaminya.
"Syukurlah kamu suka sama masakan aku." Lee menimpali sambil mengusap rambut Kanaya.
"Aku baru sadar kamu potong rambut," ujar Lee saat dirinya memperhatikan Kanaya dari jarak yang sangat dekat.
"Padahal udah lumayan lama lho aku potong rambut, kenapa? Kamu nggak suka ya?" raut Kanaya berubah khawatir.
Lee tersenyum lembut sembari mengelus rambut halus nan indah milik Kanaya yang hanya diperlihatkan kepadanya saja. "Nggak, aku suka kok sama penampilan baru kamu, cuma sayang aja sama rambutnya, kasihan dipotong terus dibuang, padahal cantik."
"Berarti sekarang aku jelek ya?"
Lee terkekeh dan Kanaya langsung cemberut mendengar kekehan suaminya itu yang seolah mengiyakan pertanyaannya barusan. Sebelum Kanaya semakin salah paham, Lee mendekatkan wajahnya hingga hidung mancungnya bertemu dengan ujung hidung mungil Kanaya. "Hei, mana pernah sih kamu kelihatan jelek? Mau rambut kamu panjang, mau rambut kamu pendek, acak-acakan, ataupun tertutup rapat sekalipun kamu itu selalu cantik di mata aku, Naya."
Secara alami pipi Kanaya bersemu merah mendengar pujian dari mulut suaminya. Ia sungguh tak terbiasa dengan itu karena dulu Lee jarang memujinya.
Lee mengecup ujung hidung Kanaya dan keningnya baru setelah itu ia menyandarkan kepalanya di bahu mungil Kanaya yang bersandar nyaman di sofa.
"Sebenarnya aku nggak mau potong rambut tapi rambut ini bikin aku kesulitan," keluh Kanaya yang sedih mengingat awal-awal hamil yang dimana dirinya gampang sekali muntah-muntah. Itu sebabnya Kanaya memutuskan untuk memotong rambut agar jika muntah rambutnya tidak ikut kotor.
"Kesulitan gimana? Coba ceritain ke aku?"
"Nggak ah Mas, nanti aja ceritanya sekarang aku mau tidur, ngantuk."
"Besok kamu terbang jam berapa?" tanya Kanaya sebelum menutup matanya.
"Jam satu-an sayang, kamu mau nganter aku ke Bandara kan?"
"Nggak mau ah Mas, nanti aku malah narik tangan kamu biar gagal pergi."
Lee terkekeh sambil memejamkan matanya. "Bagus dong, kalau kamu halangi aku nggak akan pergi."
"Aww!" teriak Lee tiba-tiba saat mendapat jeweran dari Kanaya.
__ADS_1
"Aku tuh mau kamu selesaikan tuntas masalah kamu di sana, kalau udah beneran selesai kamu dan aku juga bakal lebih tenang, Mas."
"Iya sih, aku juga mikirnya gitu. Beruntung banget sih aku punya istri pengertian kayak kamu gini."
"Tapi jangan sampai ya, kamu malah manfaatin sikap pengertian aku dan bohongi aku. Awas aja kamu!"
Lee menggeleng kuat lalu menatap mata Kanaya. "Aku janji nggak akan pernah seperti itu. Sebisa mungkin aku nggak akan kecewakan kamu lagi," katanya sungguh-sungguh.
"Sholat hajat berjamaah yuk?" Kanaya mengganti topik pembicaraan mereka menjadi lebih berfaedah.
Lee mengangguk setuju dan menggandeng tangan istrinya menuju kamar mereka. Secara bergantian Lee dan Kanaya mengambil air wudhu di kamar kecil yang berada di sebelah kamar mereka. Sementara Lee berwudhu Kanaya menggelarkan sajadah untuk suaminya itu tepat di depan sajadahnya. Kemudian ia memakai mukenanya sambil berdiri di depan cermin meja rias.
"Udah siap istriku?" Lee kembali dari kamar kecil dengan rambut yang basah, wajahnya tidak hanya terlihat tampan melainkan juga bersahaja dan menyejukkan mata Kanaya yang memandangnya.
"Tentu suamiku," jawab Kanaya sembari tersenyum manis.
Lee balik tersenyum seraya memakai kopiah hitam yang telah disiapkan sang istri. Kemudian sebelum ia mulai mengimami shalat sunnah dua rakaat itu, ia menoleh ke belakang dan menatap Kanaya sekali lagi dengan tatapan teduhnya. Setelah itu barulah ia membaca niat dan menggumamkan takbir diikuti oleh Kanaya yang menjadi makmum sejatinya.
Kanaya menitihkan air mata di akhir kalimat doanya yang tulus. Ia membiarkan Lee mengusap air matanya ketika pria itu membalikkan badan ke arahnya. Lee dengan hati yang terharu mengusap air mata Kanaya menggunakan ujung surban yang ia kenakan. Meskipun ia tak tahu doa apa yang telah Kanaya panjatkan, tapi ia merasakan ketulusan wanita itu yang seakan mengalir ke relung hatinya, membuat jiwanya sejuk dan tentram.
"Kita lanjut baca Al-Qur'an seperti biasa kan?"
"Tentu istriku." Lee mengambil Al-Qur'an di lemari khusus lalu diletakkan kitab suci itu dimeja yang ada ditengah-tengah dirinya dan Kanaya.
"Al-Kahfi, kita harus senantiasa istiqomah membacanya, bila perlu setiap habis sholat fardhu."
"Iya istriku, di zaman yang sudah semakin mendekati akhir ini kita harus mengamalkan Al-Kahfi dan selalu berpegang teguh pada ajaran-ajaran Islam."
******
"Aku dengar Steffy sama Nathan segera menikah, lebih tepatnya kapan ya? Kamu kan kakaknya, pasti tahu."
__ADS_1
Lee mengelap bibirnya setelah meminum segelas susu yang Kanaya berikan. "Kenapa nggak tanya langsung sama Steffy?" orang yang ditanya malah balik bertanya.
"Udah, dan dia bilang tanggalnya masih rahasia, iseng banget emang anak itu," jawab Kanaya dengan muka masam. Lee tersenyum dan mengusap bahu Kanaya, "Kayaknya dia sengaja bilang begitu supaya kamu penasaran dan minta ketemu sama dia," jawab Lee menghibur.
"Bukannya aku nggak mau ketemu sama dia, aku cuma nggak berani datang ke rumah mama."
"Naya, kamu kan bisa minta dia buat ketemuan sama kamu di luar rumah, di restoran atau kafe misalnya."
"Seandainya kamu tahu Mas, kalau belakangan ini Mama kamu selalu halangi Steffy buat ketemu sama aku, apalagi membantuku," batin Kanaya sedih menyadari betapa tak disukainya ia sebagai menantu di mata mama mertuanya. Meski demikian tak pernah ada rasa benci di hati Kanaya karena ia tahu mama Lee hanya belum bisa membuka hati untuknya.
"Naya? Kenapa kamu diam? Apa perlu aku telfon Steffy buat ke sini temui kamu?"
"Nggak perlu Mas, biar aku aja nanti, kamu siap-siap aja ya, setelah ini kamu harus cepat-cepat berangkat ke Bandara."
"Maaf ya, aku jadi ninggalin kamu lagi," ujar Lee dengan tatapan sendu. Kentara sekali kalau pria itu sebenarnya enggak pergi meninggalkan sang istri seorang diri.
"Mas, bagiku kamu enggak pernah ke mana-mana, kamu selalu ada di sini...." Kanaya meletakkan tangan Lee di atas tempat yang di mana tangan itu bisa merasakan detak jantungnya.
"Sejauh apapun kaki kamu melangkah."
"Ingatlah satu hal Mas ... doaku selalu mengikuti ke mana pun kamu pergi."
"Jadi tolong bulatkan tekad kamu, buktikan ke aku kebenaran itu, jangan sembunyikan apapun dari aku, terkadang kejujuran itu memang menyakitkan, tapi aku bisa belajar untuk memahaminya."
"Walaupun rasanya aku tak bisa kalau harus menerimanya."
Di akhir kesempatan Lee memeluk tubuh Kanaya erat. Menyampaikan betapa besar cinta yang ia miliki untuk istrinya itu, pelukan itu membuat Kanaya merasa sangat dicintai hingga ia percaya Lee akan kembali padanya dengan kabar gembira.
"Semoga saja."
Bersambung....
Bertepatan dengan Maulid nabi Muhammad Saw, saya selaku penulis ingin mengajak kalian membaca shalawat sebanyak-banyaknya kepada beliau : "Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad."
__ADS_1
Semoga kita semua mendapat syafaat dari beliau di akhirat nanti. Aamiin Ya Rabbal Alamin.🤍🌙✨