Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Cerai?


__ADS_3

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.🤍


Bismillahirrahmanirrahim, silahkan baca.🦋


Es krim rasa vanilla stoberi itu mulai mencair, seperti air bening yang kini mengalir dari pelupuk mata seorang wanita yang kini tengah memandang ke arah jendela berembun. Rintik-rintik hujan yang semula hanya mendung dugaan kini benar-benar tampak di mata Kanaya, sorot kerinduan tak lagi dapat ia samarkan.


Di malam yang sendu itu ia menangis, menumpahkan rindu yang menyesakkan dadanya. Sosok suami yang sangat ia butuhkan disaat dirinya sedang berbadan dua seperti sekarang malah mengirimkan secarik surat yang isinya tak pernah ingin ia baca seumur hidup.


Alih-alih mendapat surat cinta, Kanaya yang tengah merindu malah menerima surat cerai yang parahnya lagi dikirim melalui ekspedisi.


Lee menyatakan ingin berpisah dengannya tanpa menemuinya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sampai harus sekacau ini.


Bahkan lelaki itu tak berani memperlihatkan batang hidungnya sekali pun sejak kepergiannya ke Korea tiga bulan yang lalu.


"Bumil nggak baik sendirian di restoran yang mau tutup di jam segini," suara berat itu membuat Kanaya mendongak lalu dengan cepat mengusap air matanya.


"Kakak," ucapnya langsung berdiri dan memeluk sosok itu.


"You always be my little sister, and i'll be here for you, Nanay." Tangis Kanaya pecah lagi, ia mengeratkan pelukannya pada sang kakak yang jauh-jauh pulang dari Turki hanya untuk memastikan kondisinya.


Robby melingkarkan tangannya di pinggang sang adik lalu mengusap perutnya yang sudah enam bulan lalu menatap es krim di meja yang Kanaya tempati. "Kasihan es krimnya, udah meleleh, gimana kalau ternyata baby di dalem perut kamu ngiler sama es krimnya?"


Kanaya terkekeh di tengah tangisnya, "Enggak, dia udah nggak pengen, katanya udah malam, kasihan Uminya hujan-hujan makan es krim," balas Kanaya yang masih nyaman di pelukan sang kakak. Bahkan ia menggunakan jaket Robby untuk mengelap air mata serta ingusnya. Untungnya Robby tak keberatan akan hal itu karena ia tidak mungkin tega memarahi adiknya yang sedang menangis.


"Ya udah, es krimnya buat om aja ya cil, om haus, dari Bandara langsung ke sini nyusulin kamu sama umi kamu yang payah ini." Robby mengambil es krim Kanaya dan membiarkan adiknya geledotan sementara ia duduk menikmati es krim yang sudah mencair.


Lumayan makan es krim mahal gratisan, pikir Robby yang merasa dompetnya jauh lebih merisaukan dibandingkan dengan dompet Kanaya yang berisi platinum black card pemberian adik iparnya yang tak pulang-pulang seperti bang Toyib.


.


"Kakak nggak kangen sama Kak Avila?" pertanyaan itu membuat Robby mendengus.


"Ngaco kamu, jelas kangen banget lah. Pengennya sih tadi Avila yang jemput di Bandara. Eh, yang datang malah supir kamu," cerocos Robby berlagak kesal.


"Ya udah pulang ke rumah kakak yuk, aku udah lama nggak ketemu langsung sama Kak Avila, sama ponakan-ponakanku juga."

__ADS_1


"Nggak mau cerita dulu soal apa yang bikin kamu nangis begini?" tanya Robby dengan nada serius, tapi raut khawatir begitu kentara saat dirinya menatap sang adik.


"Percuma juga kalau aku tutupi, toh nantinya kakak bakal tau tentang ini." Kanaya menyodorkan surat cerai yang Lee berikan tempo hari yang baru ia buka hari ini namun belum juga ia tanda tangani sebab alasan Lee ingin berpisah dengannya belum bisa ia pahami.


"Aku harap setelah ini, nggak ada yang berubah dalam persahabatan kalian," lirih Kanaya berusaha menahan isak tangisnya.


"Brengsek!" emosi Robby langsung melonjak, ia langsung mengoyak surat cerai itu sampai tak berbentuk.


"Astaghfirullah, kakak nggak boleh ngomong kasar!"


"Nay, kasih tau aku di mana lelaki brengsek itu sekarang?!" tandas Robby yang dibalas gelengan oleh Kanaya.


"Naya nggak tau di mana Mas David sekarang kak. Bahkan dia mengirim surat cerai ini melalui ekspedisi," jawab Kanaya berurai air mata.


"Dasar pengecut! Kakak nyesel pernah menitipkan mu ke dia, Naya. Maafin kakak." Dengan tangan terkepal Robby berusaha membendung amarahnya demi sang adik yang masih butuh pelukan hangatnya.


"Aku yang minta maaf, karena gagal menjaga pernikahan ku sama Mas David, aku gagal membuat Mas David bertahan di sisiku, kak."


"Ternyata aku bukan rumah yang nyaman untuknya tinggal dalam waktu yang lebih lama...."


Robby diam seribu bahasa, ia membiarkan adiknya menumpahkan semua rasa sakit hatinya. Alhasil ia pun sangat kecewa kepada Lee, seseorang yang bisa dibilang sudah Robby anggap keluarga bahkan sebelum pria itu menikahi adiknya.


"Kamu udah memastikan kalau surat cerai ini dari suami kamu, kan?"


"Udah kak, aku melihat tanda tangan Mas David yang memakai hangul, rasanya akan sangat ditiru."


"Aku pasrah kak, kalau dalam sebulan ke depan Mas David tak juga menemuiku dan menjelaskan alasan dia menceraikanku, aku hanya menunggu kelahiran anakku, lalu bersabar menghadapi kehancuran pernikahanku," ucap Kanaya dengan mata terpejam dan kepala menyandar di bahu sang kakak.


"Jangan khawatir, kamu akan ikut kakak ke Maroko dan memulai hidup baru di sana bersama anak kamu."


💔


Rokok ditangan kurus itu hampir terbakar habis, tapi asapnya masih mengepul tebal menerpa wajah suram sang pengisap yang kehabisan cara untuk menenangkan pikiran.


Dilemparnya batang rokok itu ke atas aspal lalu diinjaknya dengan kesal. "Maafkan suamimu yang bodoh ini, sayang," ucapnya sambil duduk di pinggir jalan.

__ADS_1


"Aku tak tau cara pulang tanpa menyakitimu itu seperti apa, aku tak tau harus menghilang atau kembali mendekap mu dan melihat kamu berdarah-darah oleh panah yang ku tancapkan."


"Bukankah lebih baik menyelamatkan mu walau harus dengan perpisahan yang menyedihkan? Dari pada membunuhmu secara perlahan dengan racun yang ku bawa jika aku memilih kembali."


Tin tin tin....


"Ayo masuk, calon suamiku tak boleh keluar tanpa aku temani."


"Kenapa kamu nggak bunuh saya aja, hah?!"


"Kamu terlalu tampan untuk aku bunuh sayang, jadi lebih baik menikahlah denganku."


Lee meludah di depan Georgina yang kini berdiri di depan mobil BMW merahnya sambil menyilangkan tangan didepan dada, wanita gila itu berniat menyusulnya yang kini tak tahu arah.


"Lebih baik menduda seumur hidup dari pada menikahi perempuan perusak rumah tangga seperti kamu yang urat malunya sudah putus."


Georgina mendekati Lee yang berjalan mundur menghindarinya. "Udahlah Lee, percuma ngomong apapun, aku akan tetap bersikeras untuk menjadikan kamu suamiku."


"Kamu gila, Georgina. Aku masih jadi suami Kanaya!"


"Kamu pikir aku peduli?"


"Hahaha, secepatnya kamu resmi bercerai dan menikahi aku, kalau masih keberatan aku akan kirim foto-foto mesra kita ke Kanaya, pasti hatinya hancur banget."


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kamu mau perusahaan saya? Akan saya kasih asalkan kamu berhenti mengganggu pernikahan saya dan Kanaya."


"Aku ingin kamu Lee! Yang aku inginkan hanya kamu! Aku nggak butuh harta, yang aku butuhkan cinta kamu yang dulu kembali lagi, aku akan lakukan segala cara untuk membuat kamu jatuh cinta lagi sama aku."


Lee menarik nafas dalam-dalam, mencari letak kesabaran yang kian menipis. "Hear me, i never hate someone more then i hate you, Georgina Alexandra!" gertak Lee dengan suara rendah yang menyeramkan.


"I know you love me," jawab Georgina tak berkesinambungan.


To be continued....


Maaf ya, aku hiatus lama kemarin. But alhamdulilah part ini jadi juga. Semoga kalian selalu sabar menungguku update.

__ADS_1


__ADS_2