Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 18 (Anyone else but you)


__ADS_3

Dengan penuh kasih sayang Avila menyuapi Kanaya yang merupakan adik iparnya, ia tak menyangka kalau sejauh ini Lee tega menyakiti Kanaya, padahal Lee yang ia kenal dulu adalah pria yang selalu menghargai dan menyayangi wanita. Saking penyayang nya ia pun sampai pernah jatuh hati pada pria yang kini menjadi suami adik iparnya itu.


Kalau ada yang bertanya, dari mana Avila tahu? Jawabannya bukan dari Kanaya melainkan dari Steffany yang diam-diam membongkar kelakuan kakaknya yang sering menyakiti hati Kanaya dengan membanding-bandingkan Kanaya dengan mantan calon istrinya, Aisyah. Padahal setiap wanita punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.


"Kamu harus makan yang banyak supaya cepat sembuh," ujar Avila sambil mengusap sisa bubur yang menempel di sudut bibir Kanaya.


"Kak Avi, makasih ya udah datang jenguk aku," ucap Kanaya dengan suara lemah.


Avila tersenyum tulus. "Kamu kan adik kakak, kalau kamu sakit udah kewajiban kakak buat ngerawat kamu."


"Jadi, kamu enggak perlu bilang makasih ke kakak," lanjut Avila yang kembali menyuapi Kanaya dengan bubur yang dibuatnya sendiri.


"Tapi ... aku pasti ngerepotin Kak Avi, iyakan? Bagaimana pun Kak Avi lagi hamil," cicit Kanaya merasa tidak enak.


"Nggak, kamu itu nggak merepotkan sama sekali, kakak malah senang bisa merawat kamu. Walaupun seharusnya tugas ini adalah tugas suami kamu," pungkas Avila yang sengaja tak menyebutkan nama Lee karena ia tahu mungkin Kanaya masih enggan mendengarnya.


Kanaya terdiam, tiba-tiba ia memikirkan Lee, bertanya-tanya apakah suaminya itu sudah pulang?


"Kak Avi ... apa Mas David udah pernah pulang ke rumah ini selama aku sakit?" tanya Kanaya dengan ekspresi sendu yang kentara di wajah ayunya.


Dengan berat hati Avila menjawab pertanyaan Kanaya dengan sejujur-jujurnya. "Suami kamu itu belum pulang selama dua hari ini. Bahkan nomornya tidak aktif saat beberapa kali dihubungi."


Kanaya mengulum senyuman getir di bibirnya. Ia berusaha menahan air bening yang dihasilkan oleh kelenjar air matanya agar tidak jatuh ke pipi. Ia tak mau Avila tahu betapa menyedihkannya dia.


Kanaya tak mau menceritakan kekejaman Lee terhadap dirinya kepada Avila yang merupakan istri dari kakak kandungnya, Robbie. Karena ia tak mau Lee terlibat masalah dengan kakaknya yang lumayan protective. Selain itu sebagai istri sudah seharusnya ia menutupi aib suaminya dari orang lain maupun keluarga.


"Kak, kira-kira apa yang terjadi sama Mas David? Soalnya tumben dia nggak pulang selama itu," kata Kanaya mengkhawatirkan keadaan suaminya.


Tiba-tiba Steffany muncul sembari membawa segelas air hangat dan botol berisi obat asma untuk diberikannya kepada Kanaya. "Aduh ... aduh, ngapain sih khawatirin suami jahat kayak Oppa?" celetuk Steffany yang ikut kesal dengan kelakuan Lee, kakaknya sendiri.


Setelah meletakkan segelas air hangat dan botol obat di atas meja yang terletak tepat di samping ranjang. Steffany duduk di tepi kasur tempat Kanaya berbaring lalu menatap wajah sendu kakak iparnya itu dengan tatapan hangat. "Kakak gak perlu khawatir, di sini ada aku dan Kak Avi yang akan merawat kakak sampai kakak sembuh. Jangan pikirin Oppa Lee, dia pasti baik-baik aja. Lagian nggak perlu lah mikirin orang yang jahat kayak dia," tukas Steffany yang telah dibuat kecewa oleh perilaku kakaknya yang dulu sempat ia jadikan panutan.


"Steffy, tapi kakak benar-benar mengkhawatirkan kakak kamu. Apa kamu tahu di mana Mas David sekarang?" tanya Kanaya dengan gelisah. Cintanya kepada Lee terlalu besar sehingga mampu merobohkan dinding kebencian di hatinya dalam sekejap.

__ADS_1


"Palingan dia di kantor, sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaannya sampai lupa dengan tugasnya sebagai suami," jawab Kanaya asal. Padahal gadis itu juga tidak tahu keberadaan kakaknya saat ini.


"Perasaanku dari tadi nggak enak, aku harap Mas David beneran nggak kenapa-napa," lirih Kanaya dengan ekspresi cemas yang begitu kentara.


"Udahlah Naya, jangan memikirkan orang yang belum tentu memikirkan kamu juga. Lebih baik kamu istirahat, mengisi energi kamu agar kamu kuat saat dia kembali," saran Avila yang agak kesal karena Kanaya tetap mengkhawatirkan Lee yang sudah berkali-kali menyakiti hatinya.


"Eh, eh, sebelum istirahat jangan lupa minum obat dulu," peringat Steffany sembari mengambilkan obat beserta air hangat yang tadi diletakkannya di atas meja kemudian memberikannya kepada Kanaya.


"Sekali lagi aku ucapin makasih sama kalian berdua yang udah mau repot-repot ngurusin aku. Makasih ya," ucap Kanaya setelah meminum obatnya.


Avila dan Steffany tersenyum lalu membungkuk untuk mengecup kening Kanaya yang masih agak panas. "Sama-sama Naya," balas Avila.


"Sama-sama, Kak Nay," timpal Steffany dengan senyuman tulus yang terukir di bibir plumnya.


******


BRAKK!


Lee menggebrak mejanya saat Khanza sekretarisnya memberitahu kalau pabrik milik DSL beauty care yang memproduksi kosmetik di Sukabumi, mengalami kebakaran hebat. Tanpa pikir panjang Lee langsung meminta supirnya untuk mengantarnya ke Sukabumi saat itu juga. Pikirannya benar-benar kalut mendengar kabar kalau pabrik yang ia dirikan dari nol itu di lahap si jago merah. Perasaan sedih dan marah bercampur menjadi satu.


"Sabar, pak! Sabar!"


"Persetan dengan sabar! Pabrik saya kebakaran pak!" teriak Lee seperti orang stres.


"Istighfar, pak! Istighfar! Pabrik itu ladang harta dan harta hanyalah titipan Allah, jika Allah mengambilnya kembali, maka bapak harus ikhlas!" peringat supir Lee yang berusaha menenangkan pikiran Bosnya yang sedang kalut.


"Astaghfirullahaladzim. Ampuni hamba, Ya Allah," gumam Lee yang kemudian menangis, meluapkan emosinya.


Sesampainya di Sukabumi Lee sudah jauh lebih ikhlas ketika melihat langsung pabrik nya hancur. Api memang sudah berhasil dipadamkan namun tetap tak ada yang tersisa dari pabrik, hanya dindingnya yang masih berdiri kokoh. Untungnya hanya ada dua puluh orang karyawan yang masuk rumah sakit, selainnya baik-baik saja karena bisa segera keluar saat tanda bahaya berbunyi.


Lee duduk terkulai sambil menatap sisa bangunan pabrik yang dulu ia bangun dengan kerja kerasnya sendiri. Waktu itu dia masih kuliah dan mengumpulkan uang dari hasil kerjanya sebagai freelancer dan manajer di Kafe ayahnya.


"Selamat tinggal hasil awal jerih payahku, terimakasih sudah menjadi ladang usaha untuk aku dan semua karyawan yang bekerja di sini," ucap Lee dengan ikhlas.

__ADS_1


Kemudian ia kembali ke mobil dan meminta supirnya untuk ke rumah sakit tempat karyawan-karyawannya di rawat. Sebagai CEO perusahaan yang bertanggung jawab, Lee menanggung biaya rumah sakit dan memberikan uang ganti rugi yang lumayan besar untuk karyawan-karyawannya. Lee merasa hari itu adalah hari terberat dari sekian banyaknya hari yang telah ia lewati.


******


Ketika Kanaya sedang asyik mengobrol dengan Steffany dan Avila, tiba-tiba terdengar suara seperti ada orang yang masuk ke dalam rumah. Steffany pun pergi mengeceknya sementara Avila tetap di kamar untuk menjaga Kanaya. Ternyata yang masuk adalah Lee yang baru pulang entah dari mana sebab penampilannya lusuh, bukan seperti orang yang baru pulang dari kantor. Steffany sampai heran menatap penampilan kakaknya. Pakaian lusuh, mata sembab dan rambut acak-acakan. Sebenarnya ini memang kakaknya atau orang gila yang kebetulan mirip kakaknya sih? pikir Steffany bingung.


"Ke mana Kanaya? Kenapa bukan dia yang menyambut kepulangan saya?" tanya Lee dengan nada putus asa.


Steffany menatap Lee dengan tatapan miris lalu tanpa menjawab pertanyaannya, gadis itu menampar wajah sang kakak dengan keras. Membuat Lee terkesiap lalu menatap adiknya dengan marah.


Kemudian Lee mencengkram kuat bahu Steffany, namun suara Kanaya tiba-tiba mengalun ditelinganya sehingga pria itu melepaskan tangannya dari bahu sang adik dan menoleh ke arah Kanaya yang berdiri di pintu kamar seraya merentangkan tangan, menyambutnya dengan senyuman hangat, siap memberikan pelukan sebagai pengobat lelah sekaligus pelipur laranya.


"Mas David," panggil Kanaya yang membuat Lee berlari ke arahnya, menerjang tubuh mungilnya dengan pelukan yang membuat jiwa dan raga mereka saling menyatu.


"Aku tak henti-hentinya mengkhawatirkan kamu, Mas. Syukurlah sekarang kamu udah pulang," ungkap Kanaya seraya menitihkan air mata rindunya di bahu Lee.


"Hiks, maafkan aku Naya, tolong maafkan aku." Lee meminta maaf sambil terisak-isak. Kanaya menepuk-nepuk punggung kekar suaminya itu guna menenangkannya.


"It's okey, Mas. It's okey..., aku udah memaafkan kamu jauh sebelum kamu meminta maaf. Yakinlah Mas bahwa semuanya akan baik-baik aja," ujar Kanaya sembari mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami yang masih menangis tersedu-sedu di ceruk lehernya.


Avila dan Steffany ikut terbawa suasana, mereka terharu menyaksikan betapa besarnya hati Kanaya yang mau berkali-kali memaafkan Lee yang sering menyakiti hatinya dan tetap rela menjadi tempat bersandar di kala suaminya itu merasa kalut.


Lee terus dibayang-bayangi wanita yang dia inginkan sampai dia tak sadar kalau sebenarnya hanya Kanaya lah yang ia butuhkan dalam hidupnya.


Bersambung....


**Ramaikan kolom komentar dong. Seberapa baper kalian setelah baca part ini?


Menurut kalian sebenarnya Lee itu udah ada perasaan cinta belum sih sama Kanaya?


Komentar ya?


Jujurly, nulis part ini aku sambil mewek. Kalau kalian yang baca gimana? Sedih gak sih....πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί

__ADS_1


Oh iya jangan lupa like, komentar, vote, share cerita ini ke teman-teman kalian yang suka baca juga. Oke?πŸ˜Šβ˜ΊοΈπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ₯°πŸ₯°


See you soon, Assalamualaikum**.


__ADS_2