Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 08 (Cemburu Tanda Cinta)


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti di depan Kanaya yang masih berdiri di halte bus menanti hujan reda. Tak lama kemudian Seorang gadis keluar dari mobil dengan memakai payung, melindungi kepala dan badannya supaya tidak basah, gadis itu ialah Davina Steffany Lee, atau yang biasa dipanggil Steffy oleh Kanaya.


"Hai Kak," sapa Steffany sambil tersenyum. Gadis itu menghampiri Kanaya.


"Steffy!! Ya Allah, kakak kangen banget sama kamu."


Kanaya memeluk Steffany dengan erat dan Steffany pun membalas pelukan kakak iparnya itu tak kalah erat. Mereka yang sudah lama dipisahkan oleh jarak antara Indonesia dan Australia kini saling melepas rindu.


"Kenapa gak ngabarin kakak kalau kamu mau pulang ke Indonesia? Kakak kan bisa jemput kamu di Bandara," ujar Kanaya setelah melepas pelukannya.


"Karena aku mau suprise-in kakak, jadi aku diem-diem aja deh."


"Aaa ... sweet banget sih kamuuu...." Kanaya mencubit kedua pipi Steffany yang agak chubby.


"Ya iya dong, aku kan adik ipar kakak satu-satunya, masa enggak sweet," timpal Steffany.


"Kak, kita lanjut ngobrolnya di dalam mobil yuk, hujannya makin deras nih," usul Steffany.


"Oke," sahut Kanaya. Steffany pun menggandeng lengannya dan mengajaknya masuk ke dalam mobil SUV miliknya.


"Kamu ganti mobil lagi?" tanya Kanaya saat menyadari mobil adik iparnya baru.


"Hehehe, iya kak. Mobil yang itu aku jual dan uangnya aku sumbangkan. Terus aku beli mobil ini deh, karena menurut aku mobil ini tuh cocok banget sama image aku," jawab Steffany dengan jujur.


Kanaya pun memberikan komentarnya. "Bagus, menurut kakak juga kamu lebih cocok pakai mobil ini dari pada pakai mobil sport yang sebelumnya itu."


"Berarti bukan aku aja ya yang ngerasa begitu?"


Kanaya mengangguk sambil tersenyum.


"Kakak mau mampir ke Kafe dulu atau langsung pulang?"


"Langsung pulang aja, Steffy. Soalnya kakak belum masak," jawab Kanaya.


"Oke, tapi lain kali mau ya pergi ke Kafe bareng aku?"


"Iya, nanti kita pergi ke Kafe bareng-bareng ... gimana kalau lusa? Lusa kan hari minggu tuh," sahut Kanaya.


"Tapi hari minggu aku ada kegiatan di gereja, kayanya gak bisa deh, kak."


"Oh iya, maafin kakak ya Steffy, kakak lupa."


"No problem kak, gimana kalau besok aja? Hari sabtu kakak sibuk nggak?" tanya Steffany.


Kanaya mengingat-ingat jadwalnya namun dia lupa jadi dia tak bisa menjawab langsung pertanyaan Steffany.


"Nanti kakak lihat lagi jadwalnya ya, kalau kakak nggak sibuk kakak bakal kabarin kamu."

__ADS_1


"Oke, semoga aja kakak ada waktu senggang ya," ujar Steffany penuh harap.


"Semoga aja ada," timpal Kanaya.


******


Kanaya masuk ke dalam rumahnya diikuti Steffany yang berjalan membuntutinya di belakang. "Assalamualaikum, Mas." Kanaya menghampiri Lee yang tengah duduk santai di sofa lalu meraih tangan suaminya itu dan mencium punggung tangannya.


"Wa'alaikumsalam."


"Naya, kamu pakai jaket siapa?" tanya Lee saat melihat jaket kulit oversize tersampir di bahu istrinya.


"I-ini, ini...."


Kanaya bingung harus menjawabnya bagaimana. Untung Steffany peka dan segera menyelamatkan kakak iparnya itu dengan cara mengambil jaketnya. "Ini jaket aku, Oppa. Tadi aku pinjamkan ke kak Naya karena dia mengeluh kedinginan, iyakan kak?"


"I-iya, benar," sahut Kanaya sambil menunduk, merasa bersalah karena telah berbohong kepada suaminya.


Lee menatap Kanaya dan Steffany dengan tatapan curiga, pria itu tak percaya jaket yang tadi tersampir di bahu mungil Kanaya itu adalah milik Steffany, sebab ia tahu betul kalau adiknya itu tak suka parfum maskulin seperti yang tercium dari jaket kulit oversize tadi.


"Kamu jangan bohong, Steffy. Jangan mentang-mentang Naya adalah kakak ipar kesayangan kamu, kamu bisa membelanya," ujar Lee.


Untuk meyakinkan kakaknya Steffany memakai jaket kulit yang ia sendiri tak tahu milik siapa jaket itu. Walaupun bau parfum yang keluar dari jaket kulit itu membuatnya sedikit mual, Steffany berusaha menahannya agar Lee percaya kepadanya.


"Oppa lihat sendiri kan, ini jaket milik ku, belakangan ini aku memang suka jaket kulit oversize seperti ini, dan ini termasuk koleksi ku."


Lee menatap wajah Steffany sambil menaikkan satu alisnya seperti meragukan pengakuan adiknya tersebut. "Ooh begitu ... oke, Oppa percaya kalau selera fashion kamu bisa berubah sedrastis itu. Tapi Oppa enggak percaya kalau selera parfum kamu juga bisa berubah, Steffy," cetus Lee sambil sesekali melirik ke arah Kanaya yang tak berani melihat wajahnya.


"Oppa percaya sama kamu ... sekarang pulang sana, Oppa mau berduaan sama istri Oppa yang cantik ini." Lee mengusir Steffany sambil merangkul pinggang Kanaya dan mengecup kening istrinya itu dengan lembut.


"Ish, Oppa jahat banget deh, udah ngusir bikin aku iri pula!" gerutu Steffany yang kemudian keluar dari rumah Lee sambil mencak-mencak.


"Makanya cari pacar biar nggak iri!" teriak Lee yang dibalas cibiran oleh adiknya.


Setelah Steffany pergi suasana rumah kembali tegang, sorot tajam mata Lee membuat Kanaya ketar-ketir, ia tahu suaminya itu tak akan percaya begitu saja.


Kaki Kanaya melangkah mundur ketika Lee mendekatkan diri kepadanya. "Kenapa kamu bohongin aku, Nay?" tanya Lee sambil terus berjalan maju mendekati Kanaya yang tampak sangat gugup.


"Aku, aku nggak bohong, Mas."


Lee menggelengkan kepalanya sambil tersenyum miring. "Nggak! Kamu bohong, aku tahu persis gerak-gerik kamu kalau lagi bohong," selanya.


"Sekarang kamu ngaku, itu jaket punya siapa dan kenapa bisa dipakai sama kamu?"


Kanaya menggelengkan kepalanya, tak mau menjawab pertanyaan Lee sebab ia tahu suaminya itu akan mengancam siapapun laki-laki yang mencoba berteman baik dengannya.


"Siapa Naya?!" bentak Lee yang membuat Kanaya tersentak kaget.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa Mas, jaket itu memang punya Steffany."


Kesabaran di hati Lee kian terkikis apalagi saat dia mencium aroma rokok dari bahu Kanaya. Api amarah dalam dadanya tersulut, Lee memepetkan tubuh Kanaya ke tembok lalu merangkum wajah cantik Kanaya dengan jemari kokohnya.


Saat mata Kanaya beradu pandang dengan matanya, Lee merasakan adanya ketakutan di dalam diri istrinya tersebut. Seketika Lee menarik nafas dalam-dalam, mencoba meredam kemarahannya supaya Kanaya tidak takut lagi menatapnya.


"Naya, aku ini suami kamu, jangan tutupi apapun dariku, ceritakan saja yang sebenarnya."


"Sebelum aku cerita, aku mau tanya dulu, Mas percaya nggak sama aku?"


Lee menganggukkan kepalanya. "Mas percaya sama kamu," jawabnya dengan lembut.


"Oke, jadi jaket itu milik Nathan, teman sekampus aku yang kasihan ngeliat aku kedinginan di halte Bus. Tadinya aku menolak saat dia memberikan jaket itu, tapi dia memaksa dan menyampirkan jaketnya di bahuku."


Lee menyimak penjelasan Kanaya sambil menyelami mata bening milik istrinya itu. Kini tak ada lagi gelagat kebohongan dari Kanaya sehingga Lee dapat mempercayainya.


"Apa bau rokok ini berasal dari jaket itu?" tanya Lee sambil mengendus bahu Kanaya.


Pipi Kanaya memerah saat hidung mancung milik Lee menyentuh bahunya yang masih tertutup baju panjang.


"Jawab aku Naya," bisik Lee lirih, membuat tubuh Kanaya menegang. Gadis itu menggigit bibirnya lalu menarik wajah Lee agar menjauh dari bahunya. "A-aku nggak tahu, Mas," jawabnya dengan gugup.


Bibir Lee melengkung ke atas, membentuk boxy smile yang selalu membuat Kanaya terpesona kepadanya.


"Kamu menggemaskan, lain kali jangan bohong lagi, ya."


Kanaya mengangguk-anggukan kepalanya dengan patuh.


"Aku nggak akan marah kok kalau kamu mau jujur meskipun terkadang jujur itu menyakitkan," ujar Lee sambil mengelus pipi Kanaya yang agak chubby.


Kanaya memberanikan diri untuk melingkarkan lengannya di leher kokoh milik Lee yang badannya jauh lebih tinggi darinya.


"Gumawo, Oppa," ucapnya dengan suara imut yang membuat Lee gemas. Dia mengangkat tubuh mungil Kanaya dengan spontan, membuat istrinya itu terpekik kaget.


Tak sampai di situ Lee juga memutar-mutar tubuhnya, membuat Kanaya tertawa sekaligus pusing.


"Mas, stop, stop! Turunin aku sekarang," pinta Kanaya sambil menguatkan kaitan lengannya di leher Lee.


"Nggak mau," sela Lee menolak permintaan Kanaya dan malah menggendong istrinya itu ke dalam kamar.


Bersambung....


Cerita dong apa yang kalian rasakan setelah baca part ini.


Dan jangan lupa terus support aku dengan cara : like, komentar, vote dan follow profil aku.


Share juga cerita ini ke teman-teman kalian yang suka baca, ya?

__ADS_1


Kalau kalian ada yang kepo sama trailer Novel ini bisa follow akun Instagram aku : @asyiahmuzakir


Sampai sini dulu, bye, Assalamualaikum.😊


__ADS_2