Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 16 (Agoraphobia)


__ADS_3

"Pilih mana aja yang kamu suka, nggak perlu lihat harganya."


"Oke, tapi... Mas temenin aku di sini ya? Nggak boleh ke mana-mana," pinta Kanaya dengan wajah memelas. Ia takut Agoraphobia-nya kumat jika cuma sendirian di tengah kerumunan orang.


Untungnya Lee bisa memahami kondisi mental Kanaya. "Iya Nay, aku bakal di samping kamu terus kok sampai kamu selesai belanja," jawab Lee sembari menepuk mesra puncak kepala Kanaya. Membuat istrinya itu tersenyum sampai menampakkan barisan giginya yang putih dan rapih.


Kanaya menarik tangan Lee sebelum akhirnya tangan kokoh itu balik menggenggamnya dengan erat. Tindakan kecil nan manis itu jelas menimbulkan kehangatan di hati satu sama lain. Hanya saja mereka tak bisa mengungkapkan dengan jujur tentang apa yang mereka rasakan saat sedang menghabiskan waktu bersama.


"Mas David, menurut Mas gimana? Gamis nya cocok gak sama aku?" Sesekali Kanaya meminta pendapat Lee namun jawaban suaminya itu membuatnya malas bertanya lagi.


"Bagus, semuanya cocok sama kamu." Jawaban itulah yang keluar dari mulut Lee.


Tiba-tiba ponsel milik Lee berdering, ada panggilan masuk dari Khanza, sekretaris baru nya. Lantas Lee pun meminta izin kepada Kanaya untuk mengangkat telfon sebentar karena pasti ada urusan penting yang ingin disampaikan Khanza tentang perusahaan.


"Naya, aku mau angkat telfon dari perusahaan dulu ya? Selama aku belum kembali, kamu jangan jauh-jauh dari sini, oke?"


"Jangan lama-lama ya, Mas. Aku takut jalan sendirian di Mall sebesar dan seramai ini." Sebenarnya Kanaya tak ingin ditinggal namun ia tak bisa bersikap egois dengan menahan suaminya itu untuk tidak pergi.


"Iya Naya, ya udah aku pergi dulu ya." Setelah itu Lee pergi mencari tempat yang agak sepi untuk mengangkat telfon dari sekretarisnya yang kemarin ia tugaskan untuk menyelidiki kasus penggelapan dana di perusahaannya, DSL beauty care.


"Ooh, jadi ... pelaku yang sebenarnya bukan Manajer Hendi atau pegawai perusahaan lainnya?" tanya Lee memastikan.


"Benar, pak. Manajer Hendi hanya dijadikan kambing hitam oleh pelaku. Dan sampai detik ini saya dan adik bapak masih mencari informasi tentang beberapa orang yang kami curigai serta mengumpulkan bukti yang kuat untuk menggiringnya ke kantor polisi, pak."


"Bagus, terus hubungi saya soal bagaimana kelanjutan kasus ini ya?"


"Siap, pak!"


"Oke, kalau begitu saya tutup dulu telfonnya."


"Baik, pak."

__ADS_1


Lee memasukkan ponselnya ke dalam kantong kemeja yang ia kenakan. Saat ingin berbalik ke toko pakaian dimana Kanaya sedang memilih pakaian, Lee tak sengaja melihat Aisyah mendorong troli berukuran besar sambil menggendong Dasha yang sudah berusia enam tahun di lantai satu Mall tepatnya di sebuah toko yang menjual kebutuhan rumah tangga.


Jiwa ingin membantu sang pujaan hati pun langsung keluar, Lee yang tadinya ingin kembali ke butik tempat Kanaya berada. Kini malah turun ke lantai satu lewat eskalator lalu berjalan cepat menghampiri Aisyah yang tengah kerepotan.


"Aisyah," panggil Lee.


Merasa ada yang memanggil namanya, Aisyah pun menoleh dan terkejut ketika mendapati Lee di belakangnya. "Eh, kamu Lee. Sendirian aja?" tanya Aisyah.


"Iya nih," Lee jelas berbohong. "Kamu gak sama Devano?" tanyanya.


"Devano lagi ke luar kota, dia lagi ngembangin bisnis Kafe-nya di Surabaya," jawab Aisyah sambil mengelus-elus kepala Dasha yang terus merengek meminta pulang.


"Ooh, selamat ya."


"Alhamdulillah, makasih."


"Boleh aku bantu gendong Dasha?" tawar Lee.


"Sini sayang, papa gendong. Jangan nangis lagi ya? Nanti papa beliin kamu permen," ujar Lee seraya mengambil alih Dasha ke gendongannya.


"Papa, aku mau es krim," pinta Dasha dengan manja karena sudah lama gadis kecil itu tak berjumpa dengan Lee.


Sebelum mengiyakan permintaan putri angkatnya Lee menoleh terlebih dahulu ke arah Aisyah dan wanita itu menggelengkan kepalanya. "Jangan, nanti dia demam lagi," larangnya.


"Gimana kalau permen kapas aja?" tawar Lee membujuk Dasha untuk membeli makanan selain es krim.


"Boleh, asalkan makannya bareng papa. Papa mau kan?" sahut Dasha dengan wajah penuh harap.


"Mau dong," ujar Lee dengan senang hati.


"Makasih ya, Lee." Aisyah merasa tak enak dengan Lee yang sejak dulu selalu membantunya di kala ia kesusahan.

__ADS_1


Lee menampilkan senyuman tulusnya. "Sama-sama, Aisyah," katanya penuh makna.


Lee tak tahu Kanaya melihat apa yang dilakukannya. Pria itu tak sadar telah membuat hati Kanaya terluka lagi, bukannya Kanaya melarang Lee untuk membantu Aisyah. Hanya saja ia juga membutuhkan Lee di sisinya, ia takut kalau Agoraphobia-nya tiba-tiba menyerang saat tak ada Lee yang bisa menenangkannya.


"Kenapa kamu lebih memilih membantu istri orang dibandingkan melindungi istri kamu sendiri, Mas?" batin Kanaya miris, menatap Lee dari kaca lantai dua.


Air bening mulai menetes dari pelukan mata Kanaya ketika ia melihat Lee menggendong Dasha sambil tertawa. Hatinya cemburu melihat itu, ia juga ingin punya anak, tapi sejak awal menikah Lee tak pernah sekalipun menyentuhnya. Mungkin pria itu merasa cukup dengan hanya memberikannya materi. Tapi sesungguhnya yang dibutuhkan seorang istri seperti Kanaya bukan cuma itu, melainkan nafkah batin juga.


"Di sini aku membutuhkan kamu, Mas. Sementara di bawah sana kamu malah tertawa bersama istri dan anak orang lain. Apakah ini bukti kalau aku tidak penting untuk kamu?"


Kanaya kembali ke dalam toko pakaian, tak sanggup melihat Lee bersama wanita lain.


"Mas, please kembali ke sini, aku takut...." Kanaya memanggil Lee dalam hati saat ia mulai merasa cemas melihat orang-orang berdatangan ke toko pakaian tempatnya berdiri sekarang. Maklum, namanya juga di Mall, pasti banyak orang yang ingin membeli pakaian.


"Please, angkat telfon aku, Mas." Kanaya membatin sambil terus menghubungi Lee, beberapa saat kemudian ia kembali ke kaca yang bisa melihat ke area lantai satu Mall. Namun nihil, sekarang matanya tak dapat menemukan keberadaan sang suami yang tadi membantu Aisyah.


"Jangan-jangan kamu ninggalin aku kayak waktu itu? Kalau sampai iya, itu artinya kamu jahat banget, Mas!" Kanaya berusaha menetralisir rasa cemasnya. Namun gagal, gadis itu melihat ke sekelilingnya lalu berjongkok di lantai dan menangis ketakutan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Kanaya merasakan mual pada perutnya di saat itulah Lee datang menghampirinya lalu ikut berjongkok dan memeluknya dengan erat, seolah memberikan perlindungan yang tak terbatas kepadanya, meskipun itu terlambat.


"It's okey sayang, kamu baik-baik aja, mereka gak akan nyakitin kamu. Kamu gak perlu takut berada ditengah-tengah mereka, ingat! Mereka juga manusia, bukan robot yang nggak punya hati dan pikiran.


"Nggak ada yang perlu kamu takuti selain Allah SWT, selagi aku masih ada disini, aku akan melindungi kamu dan memastikan kamu selalu aman," ucap Lee sambil mengusap-usap lembut punggung Kanaya dengan tangan kokohnya. Seketika itu pun ekspresi sedih di wajah Kanaya menghilang, di gantikan dengan senyuman berbunga-bunga. Walaupun perih masih menyelimuti hatinya.


Bersambung....


Hai say, jangan lupa klik jempol dan komentar sebanyak-banyaknya ya. πŸ‘βŒ¨οΈπŸ₯°


Kalau komentar part ini mencapai 20 nanti malam aku update lagi.πŸ˜€πŸ˜€


Yang mau lihat spoiler part selanjutnya silahkan follow Instagram aku : @asyiahmuzakir πŸ₯°

__ADS_1


Selain ada spoiler, di Instagram aku juga sering posting quote yang penuh motivasi. Silahkan di follow ya.☺️☺️


__ADS_2