Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 24 (Diam-diam melindungi)


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim....


Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


___


Wajah Kanaya tak begitu senang ketika mendapatkan surat permintaan izin wali untuk kegiatan camping yang diadakan oleh kampusnya besok lusa. Kanaya pikir Lee tak akan mengizinkannya pergi secara belakangan ini banyak teror yang ia dan Lee alami dari seseorang yang tidak mereka ketahui.


Dua hari yang lalu tepatnya ketika Kanaya pergi ke toko buku di sore hari menjelang magrib, Ia dikuntit oleh seseorang yang mengendarai mobil Pajero berwarna hitam, saat Kanaya berusaha mengenali wajahnya, orang itu dengan sengaja memakai masker untuk menutupi wajahnya, bukan hanya itu ia juga memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya. Jadi Kanaya tak berhasil mengenali wajah orang itu.


Kemudian insiden tak terduga pun terjadi, orang misterius itu sengaja melajukan mobilnya ke arah Kanaya yang pada saat itu posisinya sedang berdiri di pinggir jalan tengah menunggu jemputan Lee. Kanaya yang melihat mobil itu bergerak ke arah nya pun langsung syok dan lari menghindari mobil tersebut, saat saat sedang lari kaki Kanaya tersandung batu kerikil yang berserakan di pinggir jalan tersebut. Kanaya pun panik, untungnya pada saat itu ada Jaka yang kebetulan lewat di daerah itu dan melihat Kanaya sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri dari bahaya, pria itu pun bergegas menolong Kanaya dengan cara menyeret tubuh sepupunya tersebut sehingga mobil itu tak berhasil meremukkan tubuh Kanaya.


Jaka marah mendapati Kanaya terluka, ia mengejar mobil pengemudi misterius itu untuk mengetahui siapa yang mencoba mencelakai Kanaya. Akan tetapi Jaka gagal mengejar mobil tersebut dan akhirnya ia pun kembali ke Kanaya yang sedang membersihkan darah di sikutnya yang tergores pasca ia jatuh tadi.


"Aku antar ke rumah sakit, ya?" tawar Jaka dengan ekspresi khawatir.


Kanaya menggelengkan kepalanya sebab ia merasa kalau lukanya tidak parah dan tak butuh ke rumah sakit. "Enggak usah, luka seperti ini cuma butuh dibersihkan lalu diberi antiseptik. pasti sembuh dengan cepat, lagipula aku nggak mau ngerepotin kamu, Jaka."


"Makasih ya, Jak. Kamu udah nolongin aku dari orang itu ... jujur, aku masih takut kejadian tadi bakal terulang lagi, belakangan ini aku ngerasa nggak aman. kemanapun aku pergi aku merasa seperti ada orang yang ngikutin aku dari belakang aku nggak tahu siapa orang itu."


"Apa suami kamu tahu tentang hal itu? Apa kamu udah cerita ke dia soal ketakutan kamu?" tanya Jaka serius.


Kanaya mengangguk pelan seraya menundukkan wajahnya. "Dia tahu, tapi diam aja dan seperti biasa dia sibuk sama pekerjaannya, bahkan tadi waktu aku minta di antar ke toko buku, dia bilang enggak bisa tapi katanya dia bakal jemput aku."


"Tapi sampai sekarang dia belum muncul juga, mungkin dia lupa," ungkap Kanaya sambil menahan air matanya supaya tidak menetes ke pipi. Berusaha kuat di hadapan sepupunya yang lumayan protektif.


Jaka memeluk Kanaya, mengusap puncak kepalanya. "Kalau mau nangis, nangis aja. Jangan di tahan, jangan pura-pura kuat di depan aku, Naya. Aku tahu rasanya sakit dan akan semakin sakit bila terus di pendam." Mendengar Jaka berkata seperti itu, Kanaya tak kuasa menahan air matanya, ia menangis tersedu-sedu di pelukan sepupunya itu. Sampai tak terasa air matanya telah membasahi bagian depan kaos Jaka.


"Aku enggak bisa lihat kamu terus di sakiti begini, Nay. Kalau Lee nggak mau berubah berubah juga, sebaiknya kamu cerai sama dia."

__ADS_1


Pernyataan itu membuat Kanaya terkejut dan sontak melepaskan pelukan Jaka dan menatap sepupunya itu dengan tatapan marah. "Nggak! Aku nggak mau cerai sama Mas David, aku harus bertahan di sisinya sampai kapan pun! Jak, kamu tahu kan? Dia udah baik banget sama aku dan juga keluarga aku, dia salah satu orang yang paling berjasa dalam hidup aku, waktu aku masih di pondok dia yang biayain semua keperluan aku, dia yang bayar semua biaya pengobatan aku saat pertama kali aku kena asma. Bukan cuma itu aja, yang bayar tagihan rumah sakit waktu ibu belum meninggal dunia juga dia."


"Jadi kamu nggak mau ninggalin Lee karena kamu merasa berhutang budi sama dia, begitu?" tanya Jaka dengan tatapan miris.


"Berapa banyak uang yang dia keluarin buat kamu? Kamu tanya dia nanti, aku bakal ganti semuanya asal kamu cerai sama dia," sambung Jaka yang membuat Kanaya tambah emosi karena sepupunya itu terus-menerus membahas perceraian, hal yang paling ia takuti setelah kematian.


"Cukup Jak! Cukup! Walaupun kamu udah ganti semua uang yang Mas David kasih ke aku, aku tetap nggak mau pisah sama dia, aku nggak mau cerai sama dia sebab aku cinta sama dia," ungkap Kanaya sambil mengusap air matanya yang kian deras mengalir, membentuk sungai dari pipi hingga dagunya.


Jaka tertawa, namun bukan jenis tawa yang senang, melainkan tawa sumbang yang terdengar suram di telinga yang mendengarnya. "Kamu bodoh, Naya! Cinta kamu itu yang menjadikan kamu bodoh! Apa waktu dua tahun itu tidak cukup membuat kamu jera? Ingat Naya, dia memang baik dan nggak pernah mukulin kamu, tapi dia selalu menusukkan pisau di lubuk hati kamu!" sela Jaka yang berusaha membuat Kanaya sadar kalau kesabarannya menghadapi Lee selama ini adalah kebodohan.


"Kalau kamu terus bersamanya dan dia masih belum berubah jadi suami yang baik, mental kamu yang akan terganggu, Naya. Aku nggak mau sampai itu terjadi."


"Hidup sama orang yang toxic itu bisa membuat mental kamu jadi down," imbuhnya khawatir.


"Mas David bukan orang yang toxic, sebenarnya dia baik dan mulai mencintai aku. Tapi dia belum menyadari perasaannya," koreksi Kanaya yang tak mau suaminya dinilai buruk.


Tiiin.


"Naya, apa kamu baik-baik aja?" tanyanya dengan nafas tak beraturan, seperti habis melakukan sesuatu yang menguras tenaga.


Belum sempat Kanaya menjawab pertanyaan Lee, sebuah pukulan mendarat di wajah Lee, membuat bibirnya robek sedikit dan mengeluarkan darah segar. Bahkan saking kerasnya pukulan itu, hidung Lee ikut mengeluarkan darah.


"JAKA! Apa yang kamu lakukan?!" bentak Kanaya sambil menatap Jaka dengan tatapan nanar. Kemudian gadis itu menghampiri Lee yang sempat terhuyung, menyentuh wajah suaminya itu sambil berlinang air mata.


"Astaghfirullah, hidung sama bibir Mas, berdarah Mas, kita pulang ya. Nanti aku obati di rumah," ujar Kanaya sambil menangis. Lee menggenggam tangan Kanaya yang ada di pipinya lalu tersenyum lembut.


"Aku berhasil menangkap penjahat yang menguntit kamu dari kemarin-kemarin, Naya. Aku berhasil, tadi aku membawanya ke kantor polisi," kata Lee yang membuat Kanaya dan Jaka sedikit terkejut karena tak menyangka kalau Lee diam-diam peduli.


"Bagus deh, udah seharusnya seorang suami itu bertindak kalau ada yang ingin mencelakai istrinya," celetuk Jaka yang kemudian pergi dengan taksi yang di pesannya secara online.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana bisa Mas? Kamu kan baru aja tiba di sini beberapa detik yang lalu?" tanya Kanaya bingung.


Lee melingkarkan lengannya di pinggang Kanaya, menarik tubuh istrinya itu supaya lebih dekat dengannya. "Sebenarnya aku sampai di sini pas Jaka lagi ngejar mobil penguntit brengsek itu, akhirnya aku memutuskan untuk ikut mengejarnya pakai mobil dan... Alhamdulillah, penguntit itu berhasil aku taklukan. Sekarang dia ada di kantor polisi," jelas Lee dengan detail.


"Maaf ya sayang, aku terlambat. Kamu pasti ketakutan ... maaf juga karena tadi aku lebih fokus kejar penguntit itu dari pada menghampiri kamu yang terluka." Lee menatap Kanaya dengan rasa bersalah. Kanaya mengusap darah yang mulai mengering di sudut bibir Lee.


"Kamu terluka gara-gara aku, Mas. Kenapa kamu malah bilang maaf?" tanyanya sambil terisak.


Melihat Kanaya tak henti-hentinya menangis, hati Lee seperti teriris, ia pun mendekap tubuh mungil Kanaya yang tingginya hanya mencapai dada bidangnya.


"Udah seharusnya aku minta maaf, sayang. Luka di wajah ku ini enggak ada apa-apanya dibandingkan sama kesalahan aku yang udah terlalu sibuk kerja sampai lupa dengan kewajiban aku sebagai suami yaitu melindungi kamu," tutur Lee sambil mengusap lembut kepala Kanaya yang tertutup kerudung panjang berwarna hitam.


"Aku maafkan Mas, aku selalu memaafkan semua kesalahan kamu, baik itu yang dulu maupun yang sekarang atau bahkan nanti," ujar Kanaya serak, suaranya mau habis karena terus menangis.


"Makasih ya, sayang. Makasih banyak. Aku janji akan berubah jadi suami yang lebih baik untuk kamu, aku janji akan belajar mencintai kamu."


Kanaya membatin. "Sebenarnya kamu itu udah cinta sama aku Mas, cuma kamu belum menyadari perasaan itu."


"Kita pulang yuk, sebentar lagi waktunya sholat maghrib." Kanaya mengajak Lee pulang agar ia bisa mengobati luka dan memar di wajah Lee secepatnya.


Bersambung....


Satu kata buat Lee :🤔


Satu kata buat Kanaya :🤔


Satu kata buat Jaka :🤔


Please tulis di kolom komentar, makasih.❤️

__ADS_1


Love you guys!❤️😍


__ADS_2