Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 39 | Waktu Untuk Melupakan


__ADS_3

Sebulan kemudian....


Malam itu Kanaya merasa kesepian, suami yang ditunggunya belum juga pulang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Entah apa yang tengah Lee kerjakan sampai suaminya itu bahkan tak mengangkat telepon darinya.


Dari pada berpikir yang tidak-tidak, Kanaya lebih memilih memenangkan dirinya dengan berpikir positif, ia keluar dari kamar dan membuka pintu balkonnya untuk memeriksa cuaca di malam itu. Angin berembus cukup kencang, namun tak ada tanda-tanda akan turun hujan sebab Kanaya dapat melihat bintang yang tampak bertebaran di langit, memancarkan cahaya kelap-kelip yang indah.


Dengan langkah pasti Kanaya berjalan menuju balkon lalu berdiri di belakang pembatasnya yang cukup tinggi, sebatas dadanya. Lee memang pintar memilih apartemen yang aman dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Dari balkon itu Kanaya bisa menyaksikan dengan jelas gedung-gedung pencakar langit yang berdiri di kota Surabaya, serta jalanan yang penuh dengan lampu-lampu cantik berwarna jingga, bukan itu saja, Kanaya juga dapat melihat laut meskipun dari jarak yang cukup jauh.


Pemandangan kota memang selalu memberi kesan luar biasa, itulah kenapa kini Kanaya seolah lupa dengan apa yang tadi dipikirkannya. Ia hanyut dalam kagum, hingga tanpa sadar air matanya menetes, ia teringat masa-masa sulit yang pernah ia alami semasa kecilnya. Dulu, boro-boro ia bisa melihat pemandangan seperti ini dan tinggal di apartemen berfasilitas lengkap seperti sekarang. Untuk membeli jajanan saja dia harus membantu sang ibu menjualkan gado-gado buatannya.


Tak ada alasan untuk tak bersyukur, Kanaya mengucap kalimat hamdalah berkali-kali di dalam hatinya. Bibirnya yang kering terangkat ke atas, membentuk bulan sabit yang indah. Kanaya yakin jika sejauh ini ia tak salah langkah karena dirinya selalu mengandalkan Allah dalam segala keputusan dalam rumah tangganya. Jika tidak, mungkin saja ia sudah menyerah dan menggugat cerai Lee. Tindakan yang pasti tidak disukai oleh Allah, selama pernikahan itu masih bisa diperbaiki.


Di tengah lamunannya Kanaya dikejutkan oleh kehangatan yang melingkupi punggungnya. Ternyata itu Lee, suaminya itu datang dengan membawa selimut, lalu memeluknya dari belakang. Sudut bibir Kanaya terangkat, ia senang mendapatkan perhatian kecil seperti ini dari suaminya.


"Hangat, kan?"


"He'em." Kanaya mengangguk seperti anak kecil, hal itu membuat Lee tersenyum, merasa gemas dengan istrinya itu.


"Lagi banyak angin kenapa berdiri di luar?" bisiknya dengan nada khawatir tepat di samping telinga Kanaya.


"Suntuk di kamar terus, jadi sengaja cari angin biar nggak suntuk lagi," jawab Kanaya sambil memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang Lee berikan lewat pelukan eratnya. Ia merindukan suaminya itu, sangat!


"Maaf ya, tadi aku enggak sempat angkat telepon dari kamu. Aku lagi rapat sama dewan direksi," kata Lee yang sekarang sepertinya sudah jauh lebih peka dengan kesalahan yang dilakukannya.


"Iya enggak papa."


"Kamu udah makan belum?" tanya Lee penuh perhatian.

__ADS_1


"Belum, aku nungguin Mas pulang," jawab Kanaya yang langsung membuat Lee panik.


"Udah hampir tengah malam dan kamu belum makan? Ya Allah, Kanaya. Yang benar aja, ayo masuk, kamu harus makan!" omel Lee yang membuat Kanaya tersenyum lebar. Entah kenapa ia sangat senang mendengar Lee mengomelinya seperti ini.


Tanpa melepas pelukannya Lee membalikkan badan Kanaya agar menghadap ke arahnya. "Malah senyum-senyum, senang ya bikin aku cemas kaya gini?" omelnya lagi.


Kanaya tertawa lalu menggelengkan kepalanya. "Mas David lucu kalau lagi ngomel kaya tadi," ucapnya terang-terangan.


Bibir Lee berkedut, lalu dengan kesal ia mencubit kedua pipi Kanaya yang kini lumayan chubby. "Ada ada aja sih istri ku ini," katanya sambil tersenyum. Lalu ia merangkul bahu Kanaya, mengajak istrinya itu masuk ke dalam apartemen.


Lee mengambil kantong plastik yang tadi ia letakkan di meja dapur, lalu ia membawanya ke hadapan Kanaya yang duduk di kursi meja makan. Setelah itu ia letakkan kantong plastik tersebut di meja makan, lalu mengambil mangkuk yang ada di rak untuk dijadikan wadah. "Tadi aku mampir di warung bakmi yang waktu itu kamu bilang enak rasa bakminya."


"Serius?!" Mata Kanaya langsung berbinar menanti Lee menghidangkan makanan favoritnya.


"Aku yakin rasa bakminya masih sama kayak yang kemarin kamu makan," ucap Lee sambil memindahkan bakminya ke dalam mangkuk dan menggesernya ke hadapan Kanaya.


"Selamat makan istriku." Kanaya tersipu mendengar ucapan Lee yang menghangatkan hatinya.


"Sengaja, aku lagi diet," jawab Lee yang membuat sebelah alis Kanaya terangkat, senyuman geli muncul di bibir wanita itu.


"Apaan sih kamu diet diet, nggak usahlah."


Lee terkekeh salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. "Enggak, bukan diet, lebih tepatnya begini lho, lihat kamu makan bakmi itu dengan lahap aja udah bikin aku kenyang. Jadi, aku memutuskan untuk beli satu aja."


"Ya Allah, kamu ada-ada aja sih, Mas! Mana ada orang lihat orang lain makan terus perutnya tiba-tiba kenyang! Yang ada malah ngiler sama kelaparan!" cetus Kanaya sambil memukul lengan Lee. Sedangkan yang dipukul hanya tertawa, menyadari kekonyolannya barusan.


"Kamu benar, maka dari itu cepat dihabiskan, kalau enggak aku bisa lapar dan merebut sumpit dan bakmi itu dari tangan kamu," canda Lee masih dengan tawa renyahnya yang menggema, menghangatkan suasana.

__ADS_1


"Dih, Mas beli bakmi ini kan buat aku, enak aja mau direbut dan dimakan sendiri. Tapi kalau mau sumpitnya aja nih, aku kasih," balas Kanaya seraya meletakkan sumpit di tangan Lee yang terbuka. Lalu wanita itu berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan meja makan.


"Eh, sayang! Aku cuma bercanda kok! Lagian siapa sih yang mau sumpitnya aja?" Lee mengejar Kanaya dan menaruh sumpit yang tadi Kanaya berikan kepadanya di mangkuk bakmi yang Kanaya bawa.


"Hehehe, yakin enggak mau?" tanya Kanaya seolah meragukan ucapan Lee.


"Ya iyalah! Memang kamu mau suami kamu mati karena menelan sumpit?"


Bibir Kanaya berkedut dan tak lama kemudian wanita itu tertawa kencang sampai suaranya menggema di ruangan itu. Lalu tangannya yang tak memegang mangkuk refleks memukul lengan Lee lagi. Tapi kali ini pukulannya cukup kuat sehingga membuat Lee meringis dan langsung mengasihani lengannya dengan usapan lembut.


Melihat ekspresi menderita Lee usai mendapat pukulan darinya membuat Kanaya merasa bersalah. "Makan bareng yuk?" ajaknya iba.


"Giliran aku udah kesakitan aja baru ditawari makan bareng," sindir Lee yang membuat Kanaya terdiam sejenak dengan senyuman masam yang nampak sekilas muncul di wajah ayunya.


"Kamu juga seperti itu Mas, giliran aku udah keseringan sakit hati aja kamu baru perhatian banget sama aku," gumamnya sepelan angin.


"Hah? Apa sayang? Aku enggak dengar kamu bilang apa barusan," tanya Lee penasaran dengan apa yang Kanaya katakan.


"Enggak, itu kayaknya di luar anginnya makin kencang deh," jawab Kanaya asal.


"Ooh, kirain apa." Mimik wajah Lee terlihat lega. Kemudian pria itu duduk di sofa ruang tengah. Kanaya pun mengikutinya, ia duduk di sebelah Lee dan meletakkan mangkuk bakminya di meja yang berada di depan sofa.


"Ayo makan, nanti bakminya keburu dingin, nanti enggak enak lagi," ujar Kanaya mengajak Lee untuk segera menghabiskan bakminya bersama-sama.


Lee mengangguk sebagai jawaban lalu ia dan Kanaya secara bergantian memakai sumpit yang sama untuk makan bakmi tersebut. Tak ketinggalan, mereka juga menyalakan televisi dan menonton acara komedi agar suasananya tetap hangat dan ceria meskipun sudah malam.


Bersambung....

__ADS_1



Part ini enggak ada yang nangis-nangis, Kanaya juga happy, Lee juga kelihatan perhatiannya. Maaf banget, aku baru up sekarang dan cuma bisa segini. Thanks yang udah bertahan menantikan update cerita ini, love you all!😍❤️🌹🌹🥰🥰


__ADS_2