Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 47 | Hari-hari Tanpa Dia


__ADS_3

Bunyi gesekan antara sendok yang beradu dengan permukaan mangkuk sup panas, menemani keheningan seorang Kanaya. Wanita itu menunggu sup dada ayam yang ada di meja sedikit mendingin untuk bisa menikmatinya.


Kanaya duduk termangu sembari memikirkan Lee yang belum mengabarinya sejak dua hari yang lalu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Itu notifikasi pesan dari Hamzah, ya, pria itu mengajak Kanaya bertemu tetapi malah dirinya sendiri yang terlambat datang ke tempat yang sudah dijanjikan.


Ternyata Hamzah terjebak macet, Kanaya mengetahuinya dari pesan yang dikirimkan oleh pria itu. Sampai pada akhirnya di menit ke 20 sejak Kanaya menunggu, Hamzah muncul dengan senyuman dan ekspresi merasa bersalah di wajahnya.


"Maaf ya, aku telat."


Kanaya tersenyum tipis seraya menggeleng pelan, "Nggak papa, santai aja," balas Kanaya tak ingin membuat Hamzah semakin merasa tidak enak kepadanya.


Hamzah duduk di kursi yang berhadapan dengan Kanaya, pria itu merapikan kupluk di kepalanya, memastikannya tidak miring karena ia belum membenahinya sejak di sekolah tempatnya mengajar.


Kanaya mengambil buku menu dan menyerahkannya kepada Hamzah, "Pesan makan dulu nih, kalau perut udah terisi ngobrolnya bakal lebih enak," usul Kanaya.


Hamzah tersenyum lebar sambil meraih buku menu dari tangan Kanaya, "Kamu nggak mau nambah makanan?" tawarnya saat melihat di meja hanya tersaji sup ayam panas dan segelas es kelapa muda milik Kanaya.


"Nggak, ini aja, aku masih kenyang."


"Emang pagi tadi sarapan apa?" tanya Hamzah mencoba akrab.


"Nasi goreng sebakul," jawab Kanaya dengan senyuman konyol di akhir kalimatnya.


"Wow, banyak banget, aku aja belum pernah makan nasi sebakul lho."


"Aku makannya bareng-bareng sih, sama Kak Avila, Kak Robbie, dan keponakan-keponakanku juga."


"Oalah, kirain sendirian, kalau bareng-bareng kayak gitu sih, dulu aku juga sering waktu di pesantren," balas Hamzah yang teringat masa-masa nyantri di pesantren yang sama dengan Kanaya.


"Belakangan ini aku kurang nafsu kalau makan sendirian, makanya aku selalu ngajak orang buat makan bareng aku," curhat Kanaya sambil mengaduk-aduk es kelapa mudanya dengan pandangan lesu.


"Kamu udah coba minum vitamin yang aku saranin belum?" tanya Hamzah seraya menatap Kanaya dengan tatapan khawatir.


"Udah, tapi nggak ngaruh. Aku tetap kehilangan nafsu makan, bawaannya pengen tidur seharian tanpa melakukan apa-apa."


"Kayaknya pikiran kamu lagi stres deh, Nay. Aku saranin kamu buat refreshing, lupakan semua yang bikin kamu tertekan. Perbanyak sholawat dan kunjungi tempat-tempat yang bisa bikin kamu tenang. Supaya nafsu makan kamu bisa kembali normal," saran Hamzah yang mengawatirkan keadaan Kanaya sekarang.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Sejak pulang dari Korea sebulan yang lalu, Kanaya kelihatan lebih kurus dari sebelumnya. Wanita itu seperti kehilangan gairah hidup, tak pernah lagi pergi ke majelis, dan lebih sering menyendiri di rumahnya.


"Nggak, aku nggak butuh refreshing, aku cuma butuh di samping Mas David, hanya itu yang aku butuhkan. Percuma mengunjungi tempat mana pun kalau nggak sama Mas David, rasanya bakal hampa," ungkap Kanaya dengan wajah sendu menahan kerinduannya kepada sosok suami yang jauh di luar sana.


Hamzah hanya bisa tersenyum getir mendengar semua curahan hati Kanaya. Pria itu tak mampu mengeluarkan saran lagi karena sekarang ia tahu, masalahnya terdapat di hati Kanaya, dan hanya wanita itulah yang tahu persis apa solusinya.


"Aku merindukannya, Zah," ungkap Kanaya bersamaan dengan lolosnya setetes air mata yang tak bisa lagi ia kendalikan.


"Sabar ya, Nay. Aku yakin suami kamu akan segera pulang."


Menyadari dirinya telah menangis di depan pria lain, Kanaya langsung buru-buru menghapus air matanya dengan tisu yang ada di meja. Lalu ia mencoba menormalkan ekspresi wajahnya, karena tak ingin merusak suasana pertemuannya dengan Hamzah.


******


"Aku ingin meminta izin sama kamu," ujar Lee langsung ke inti pembicaraan. Ia tak nyaman berada di dekat Georgina yang tampak senang bertemu dan berbincang dengannya lagi.


"Meminta izin untuk?" tanya Georgina yang dalam hati berharap Lee meminta izin untuk menjadikannya istri kedua.


"Melakukan tes DNA dengan Hyunki, tujuanku hanya ingin mencari kebenaran. Jika memang Hyunki anak kandungku, aku akan bertanggung jawab dengan membayar semua kebutuhan hidupnya sampai ia dewasa...."


"Tapi, jika Hyunki terbukti tidak memiliki hubungan darah denganku, aku harap kita tidak akan bertemu lagi."


"Apa syaratnya?"


"Kamu harus selalu ada untuk Hyunki selama menunggu proses dan hasil tes DNA-nya keluar."


"Oke, aku menyanggupi syarat itu. Asalkan kebenaran cepat terungkap dan aku bisa kembali ke pelukan Kanaya dan merasakan kasih sayangnya lagi," pungkas Lee yang sudah lelah bernegosiasi dengan Georgina.


"Daddy?!"


Lee menoleh dan menemukan Hyunki berdiri di hadapannya sambil tersenyum lebar, mata beningnya mengisyaratkan keceriaan saat menatapnya. Hal itu membuat hati Lee terenyuh. Meskipun nanti anak itu ternyata bukan anaknya, Lee akan menyayangi anak itu meski harus berhadapan dengan Georgina. Lee terlanjur iba kepada anak yang terus menganggapnya sebagai sosok ayah tersebut.


"Daddy, do you miss me?" tanya Hyunki dengan tatapan polosnya. Sebelum menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut bocah itu, Lee mengangkat tubuh mungilnya ke pangkuan dengan tangan kokohnya.


"Yes, i miss you, little good boy," jawab Lee dengan tatapan teduhnya. Ia mengusap rambut halus Hyunki yang kini menenggelamkan diri di pelukan hangatnya.

__ADS_1


Georgina yang menyaksikan betapa perhatiannya Lee terhadap putranya pun tak bisa menahan rasa harunya. Ia meneteskan air mata bahagia, satu persatu keinginannya sejak dulu mulai terkabul.


Secara diam-diam, Georgina mengabadikan momen manis di antara Lee dan Hyunki menggunakan kamera ponselnya. Lalu ia memposting foto itu di sosmed pribadinya dengan caption : Finally, Hyunki meet his Dad.


Sontak saja pengikut Georgina yang berjumlah ribuan langsung heboh mengetahui siapa ayah Hyunki yang sejak dulu disembunyikan identitasnya oleh Sang Bintang.


Mereka yang mengetahui bahwa David Steven Lee sudah mempunyai istri berbondong-bondong mengkritik tindakan Georgina yang mereka anggap tidak menghargai perasaan istri pria tersebut yakni Kanaya. Namun Georgina tak memperdulikan semua kritikan yang datang kepadanya. Ia terlampau senang dunia akhirnya tahu siapa ayah dari anak yang di kandungnya.


*****


Tangan lembut Astrid menggenggam tangan lemah Kanaya yang tengah syok melihat screenshot dari salah satu teman kampusnya yang mengikuti sosial media Georgina. Hatinya remuk, jiwanya yang lelah berlanjut pasrah. Ingin mendengar penjelasan dari Lee namun tangannya terasa berat untuk menghubungi pria yang masih berstatus suaminya itu.


"Aku nggak nyangka, setelah kepergian ku, kamu malah tambah dekat sama dia, apa kehadiran ku selama di sana memang tak pernah kamu inginkan Mas? Apa tujuanmu ke sana sebenarnya adalah untuk menemui dia?Apa kamu lebih bahagia kalau nggak sama aku? Apa kamu masih mencintainya? Apa lebih baik jika kita berpisah seperti ini?" batin Kanaya nyeri.


Dua orang yang belakangan ini selalu ada untuk Kanaya yakni Hamzah dan Astrid, menatapnya dengan tatapan iba. Hati mereka ikut sedih melihat Kanaya yang kini hanya bisa terdiam tanpa kata-kata, tanpa isak tangis, namun sebenarnya ia tengah menjerit merasakan sakit yang menyiksa batinnya.


"Baca istighfar, Nay," bisik Astrid memberikan motivasinya.


"Astaghfirullah, Astaghfirullahaladzim," gumam Kanaya terus menerus.


"Insyaallah kamu kuat, Kanaya. Ingat, Allah nggak akan ngasih cobaan ke kamu melampaui batas kemampuan kamu," nasihat Hamzah mencoba menyemangati Kanaya.


"Kamu benar, Za. Aku juga yakin sama hal itu. Sebisa mungkin aku akan berusaha menghadapi semua masalah ku dengan pikiran tenang."


"Itu baru perempuan yang tegar dan bijak, aku yakin kamu bisa melewati ini semua dengan baik, Naya," timpal Astrid bangga sambil membawa Kanaya ke pelukan hangatnya.


"Supaya kamu nggak sedih lagi gimana kalau kita mulai bikin kue di rumah kamu?" usul Astrid yang merupakan sebagian dari tujuannya bertemu dengan Kanaya dan Hamzah. Mereka bertiga berencana ingin membuat kue yang banyak untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak penghafal Al-Qur'an di pondok pesantren.


"Ya Allah, iya juga, sampai lupa sama tujuan kita ketemu, maaf ya Mbak."


Astrid melepas pelukannya lalu membantu Kanaya merapikan kerudungnya. "Nggak papa, kalau ada masalah itu lebih baik di sharing sama sahabat ketimbang dipendam sendiri, ntar malah jadi penyakit."


"Iya, benar kata Astrid, Nay. Kalau ada hal yang menggangu pikiran kamu, cerita aja ke kita, walaupun kita nggak punya solusi, setidaknya kita bisa dengerin dan nenangin kamu," ujar Hamzah menimpali.


Bersambung....

__ADS_1


Hadeh, lelah ya jadi Kanaya?😢


Kalau kalian ada di posisi Kanaya apa yang bakal kalian lakuin? Tulis di bawah ya!


__ADS_2