Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 21 (Kualitas Cinta)


__ADS_3

Keesokkan harinya Kanaya bangun dari tidur tanpa menemukan Lee di sisinya, ia menghela nafas panjang lalu bergegas ke kamar kecil untuk membersihkan diri sekaligus mengambil air wudhu. Setelah berpakaian rapih Kanaya menggelar sajadah, memakai mukenah nya lalu menunaikan sholat subuh dua rakaat sendirian, tanpa adanya sosok suami yang menjadi imam sholatnya.


Usai sholat Kanaya pergi ke dapur, tapi sebelum itu ia mengoleskan conciller ke sekitar matanya yang membengkak karena semalaman ia menangis. Pagi itu Kanaya hanya membuat sereal untuk sarapan karena suasana hatinya belum sepenuhnya membaik, ia jadi malas melakukan rutinitas hariannya. Bisa dibilang Kanaya sedang terkena dampak patah hati sehingga ia tak bersemangat menjalani aktivitasnya. Tanpa memperdulikan Lee yang masih tertidur di sofa ruang tengah, Kanaya memakan sarapannya sendiri.


Setelah menghabiskan semangkuk sereal campur susu, Kanaya mengupas buah apel lalu memasukkannya ke dalam blender, ia juga menambahkan susu kental manis dan es batu. Setelah itu ia menuangkan jus apel yang sudah jadi ke dalam gelas dan meletakkan gelasnya di atas meja di samping mangkuk berisi sereal yang sama persis dengan yang ia makan tadi. Kemudian Kanaya menulis di sebuah note 'Ini sarapan buat kamu, jangan lupa dihabiskan'.


Selesai melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri, Kanaya berangkat ke kampus bersama Astrid yang pagi itu secara kebetulan lewat di jalan komplek rumahnya. "Kok kamu bisa lewat jalan komplek ini, kak? Kamu kan gak tinggal di sini," tanya Kanaya yang saat ini duduk di jok belakang motor Astrid.


"Aku abis ngirim orderan katering ke pelanggan. Itu lho ... Mas Jeno, kamu tau kan?"


Jelas saja Kanaya tahu siapa Mas Jeno, bahkan ia masih ingat kalau seminggu yang lalu ia pernah menyuruh Lee meminjam motor pria ramah itu untuk ke supermarket.


"Ya tahu lah, yang istrinya lagi hamil kan?" sahut Kanaya.


"Iya, ngomong-ngomong Mas Jeno itu orangnya humble banget ya? Beruntung deh yang jadi istrinya," ucap Astrid dengan nada iri. Maklum secara suaminya adalah pria dingin yang arogan, sebelas dua belas dengan Lee. Namun bedanya suami Astrid tidak pernah menyakiti istrinya, tidak seperti Lee yang sering kali tak sadar telah membuat Kanaya sakit hati akibat perkataan dan perilakunya.


Setibanya di Kampus, Kanaya dan Astrid berjalan beriringan menuju kelas. Hari ini Kanaya memakai kaca mata yang lumayan gelap. Namun Astrid sangat teliti sehingga ia dengan cepat mengetahui kalau Kanaya menyembunyikan mata bengkaknya.


"Nay...," panggil Astrid.


Kanaya menoleh ke arah Astrid yang jalan di sampingnya. "Heum?" sahutnya menanggapi.


"Aku baru ngeh kalau mata kamu bengkak. Kamu kenapa? Pasti habis nangis lagi? Dia nyakitin kamu lagi ya?" tanya Astrid sembari menarik tangan Kanaya dan mengajaknya duduk di bangku koridor kampus yang lumayan sepi.


Kanaya menundukkan kepalanya lalu melepas kacamatanya, menampakkan mata bengkak akibat menangis semalaman. Kanaya tak bisa menyembunyikan masalahnya dari Astrid sebab dari mereka masih tinggal di Asrama pesantren, ia sudah terbiasa berbagi cerita dengan sahabat sejatinya itu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Nay?" tanya Astrid dengan ekspresi khawatir. Kanaya sudah seperti adik baginya, ia tak bisa membiarkan gadis itu bersedih.


"Aku ... aku kecewa banget sama Mas David, kak. Aku benar-benar kecewa sama dia," adu Kanaya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Astrid langsung memeluknya, menyandarkan kepala sahabatnya itu ke bahunya yang tertutup hijab syar'i. "Rasanya aku mau nyerah, tapi aku berada di posisi yang nggak memungkinkan, Kak. Kalau aku memutuskan untuk menggugat cerai Mas David, bukan hanya aku yang akan terluka. Kak Robbie sama Kak Avila juga pasti kecewa dan marah banget sama Mas David, bisa jadi persahabatan mereka bakal rusak. Di tambah lagi aku belum memiliki penghasilan sendiri, dari mana nantinya aku membayar biaya kuliah dan kebutuhan makan sehari-hari seandainya aku cerai sama Mas David," ungkap Kanaya.


Astrid pun tak segan memberikan nasehatnya. "Maka dari itu kamu harus pertahankan pernikahan kamu sama dia, memang rasanya sulit. Tapi percayalah, Allah akan menguatkan hati kamu sehingga kamu bisa menjalaninya dengan baik."


"Tapi Kak, rasanya benar-benar menyakitkan, dua tahun menikah dengannya aku selalu diperlakukan seperti ini, aku tidak dianggap, tidak dihargai, apalagi di cintai. Aku selalu di bandingkan dengan mantan calon istrinya yang sudah menikah juga." Kanaya tak melanjutkan kalimat nya lagi. Ia takut ada orang selain Astrid yang mendengarkan curahan hatinya. Dia benar-benar tak ingin orang-orang tahu kalau pernikahannya dengan Lee tak berjalan bahagia seperti pasangan lain.


"Kak, ke kelas yuk. Kurang nyaman kalau curhat di sini," ajak Kanaya yang tiba-tiba merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya dari kejauhan.


"Eh, lo ngapain di situ?!" tegur Steffany yang melihat Nathan bersembunyi di balik dinding koridor Kampus.


"Syuuut, jangan berisik."


"Heh, menguping itu termasuk pelanggaran privasi lho, gue laporin ke mereka nih," ancam Steffany serius. Nathan mencekal tangan Steffany saat gadis itu hendak menghampiri Aisyah dan Astrid guna melaporkannya.


"Lepasin tangan gue," pinta Steffany yang tak digubris oleh Nathan, pria tampan itu malah membawanya ke rooftop Kampus yang di sana tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua.


"Apa-apaan sih, lo?! Kenapa lo bawa gue ke sini?" tanya Steffany terheran sekaligus penasaran. Jangan-jangan Nathan ingin mengungkapkan perasaanya, pikir Steffany sok tahu.


"Gue mau tanya sesuatu yang penting sama lo."


Steffany tambah penasaran dan sedikit gugup mengira Nathan akan menyatakan perasaan kepadanya. "Apa? Tanya aja langsung, cepetan!" katanya tak sabar.

__ADS_1


"Apakah pernikahan Kanaya dan Kakak lo selama ini berjalan dengan baik?" Pertanyaan Nathan yang terkesan terlalu kepo itu membuat Steffany mengerutkan keningnya, merasa heran kenapa Nathan bisa bertanya seperti itu.


"Maaf gue gak bisa jawab pertanyaan lo, gue menghargai privasi Kakak gue dan Kak Naya. Lagian juga keadaan pernikahan mereka itu bukan urusan lo," jawab Steffany dengan bijaksana.


******


Para tamu undangan yang hadir memandang ke arah Lee dan Kanaya yang baru saja memasuki aula gedung utama. Mereka tertegun melihat kecantikan Kanaya yang sebelumnya selalu digosipkan kurang menarik hingga Lee jarang sekali membawanya ke acara-acara yang bersifat publik.


Kanaya berjalan di sebelah Lee sambil tersenyum kaku menanggapi sapaan kolega-kolega mertuanya. Lee yang sadar kalau istrinya sedang gugup pun segera mengambil tindakan, pria itu meraih tangan Kanaya lalu digenggamnya, menyalurkan sebuah kehangatan yang membuat Kanaya cukup tenang.


Satu hal yang Kanaya dan publik tidak tahu tentang alasan kenapa Lee jarang sekali mengajak Kanya ke acara-acara besar ialah karena pria itu khawatir Kanaya tidak bisa mengendalikan rasa cemas dan panik karena riwayat Agoraphobia-nya.


Kedatangan Lee dan Kanaya di acara syukuran peresmian rumah sakit baru itu disambut oleh Lee Jung Hoon, ayah kandung Lee. Pria paruh baya yang berkepribadian hangat itu langsung memeluk Kanaya begitu melihat menantu kesayangannya itu menghampirinya. Berbanding terbaik dengan perlakuan sang ibu mertua yang menatap Kanaya dengan tatapan sinis. Bukannya menyambut Kanaya, beliau malah sengaja menggandeng tangan Georgina, perempuan yang sempat menjadi kekasih Lee di jaman putih abu-abu.


Saat acara makan malam keluarga besar tiba, Kanaya duduk di sebelah Lee, namun beberapa saat kemudian ia di suruh pindah oleh Lee Ni Na, ibu kandung Lee. Akhirnya karena tidak ingin ada perdebatan, Kanaya langsung menuruti perintah ibu mertuanya tersebut. Lagi pula Lee tampaknya kurang nyaman bila ia duduk di sampingnya. Mungkin karena persoalan kemarin.


Ternyata bukan hanya menyuruh Kanaya pindah tempat saja, Nyonya Lee Ni Na juga menyuruh Georgina duduk di samping Lee, menggantikan posisi Kanaya. Siapapun akan merasa sakit hati bila ada di posisi Kanaya. Untungnya papa Lee segera angkat bicara, membela menantu kesayangannya yang sedang di dzolimi istrinya.


"Nina, apa-apaan kamu ini?! Yang jadi istri anak kamu itu Kanaya, bukan Georgina, kenapa kamu malah menukar posisinya?!"


"Karena ku rasa Georgina lebih pantas berada di posisi Kanaya. Dia lebih berkarismatik," jawab Lee Ni Na tanpa pikir dulu.


Kanaya yang mencium bau bau pertengkaran pun segera menenangkan ayah mertuanya. "Udah pa, Naya gak papa kok," ujarnya dengan tegar. Setelahnya ia melirik ke arah Lee yang hanya diam dan sibuk dengan ponsel di tangannya. Suaminya itu benar-benar tidak memperdulikannya.


Bersambung....

__ADS_1


Yuk yuk ramaikan kolom komentarnya! Jangan lupa like, vote cerita ini, dan bagikan ke teman-teman kalian yang suka baca, oke?


Sekian dulu, dada! Assalamualaikum.😊🤍✨


__ADS_2