
Wanita itu melempar majalah ditangannya ke atas sofa tepat ketika melihat kedatangan dua orang yang paling dicarinya sejak tadi, ekspresi cemas memenuhi wajahnya. "Hei, dari mana saja kalian?!" tanyanya.
"MOMMY! I have seen my Daddy for the first time!" Tante dari anak kecil yang pintar itu pun menutup matanya seraya menghela nafas berat.
"He's not your Daddy, Hyunki," cerca sang tante dengan tatapan tak terbaca, ekspresinya menunjukkan antara marah dan sedih.
Bahu Georgina merosot, kini wanita cantik itu terkulai di hadapan putranya. "Seriously? Hyunki sudah bertemu Daddy? Di mana?" tanyanya dengan nada sendu, setengah tak percaya.
"Yes Mom, i swear! I met him on the street! He's so tall, handsome and kind, but aunty take me away from Dad! I hate it!"
"You know that i miss him more than anything, right? Hiks, hiks." Hyunki mengadu sambil menangis, bocah itu mengeluarkan semua kekesalannya terhadap sang tante kepada ibunya.
"Mina, tega sekali kamu membawanya pergi begitu saja saat Hyunki baru saja bertemu dengan ayahnya yang tak pernah ia temui selama ini?" tegur Georgina halus.
"Eonni ingin tahu alasan kenapa aku langsung membawa Hyunki pergi?"
Secara tiba-tiba mata tajam Georgina tampak berkaca-kaca. Lalu dengan lembut ia menyuruh Hyunki putranya untuk pergi ke kamar. Ia tak ingin menangis atau berdebat di depan putranya yang pintar itu.
"Apa alasannya? Katakan!" pinta Georgina sambil mengipasi matanya dengan kedua tangan. Berusaha mati-matian untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Dia ke sini bersama istrinya," jawab Mina sambil menepuk-nepuk bahu Georgina, menguatkan hati teman yang sudah ia anggap kakaknya sendiri itu.
Georgina membuang nafas kasar. "Syukurlah, dengan begitu aku jadi tak perlu berharap kalau dia ke sini untuk mencari keberadaan ku."
Tes. Air itu menetes dari ujung matanya, tak dapat lagi dibendung oleh Georgina. Dengan iba Mina mengajak wanita itu duduk di sofa.
"Aku merasa bodoh karena masih saja mengharapkan sosok lelaki yang sudah beristri... Mina, bisakah aku berhenti saja? Aku ingin hidup tenang bersama mu dan Hyunki, membesarkannya tanpa terbesit harapan apapun tentang David." Dengan tatapan sendu dan mata sembabnya Georgina menatap Mina dalam kerapuhannya.
Mina tak bisa mentolerir kesedihan yang Georgina rasakan, gadis berusia 18 tahun itu memeluk tubuh gemetar Georgina dengan erat.
"Aku yakin Eonni bisa. I know you can, i will support you till the end. Jangan khawatirkan apapun lagi mulai sekarang dan jangan memikirkan laki-laki itu lagi!"
Georgina tersenyum masam di tengah tangisnya sebelum membalas pelukan gadis Korea yang sudah seperti saudara kandungnya itu.
"Thank you, Mina."
"No problem, Eonni."
Georgina menghapus air matanya dengan cepat setelah Mina mengurai pelukannya. Lalu ia kembali menjadi Georgina yang arogan, yang tak kenal kata lemah.
"Finally! The real Georgina is back!" sambut Mina dengan senyuman lega bercampur bangga. Ketika gadis itu ingin bertepuk tangan, Georgina malah mencegahnya.
__ADS_1
"No applouse, Mina! Sebab rasa kecewa ku tidak akan terobati dengan itu!" Georgina menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"I'm so sorry, Sis. But, how about chicken wings?"
"Itu baru benar, mana? Di mana kau letakkan makanan favorit ku saat patah hati itu?" nada suara Georgina berubah antusias setelah mendengar tawaran Mina.
"Ssh, sebenarnya aku belum memesan ataupun membelinya," cicit Mina yang langsung melenyapkan raut antusias Georgina.
"Bodoh! Ku kira kamu sudah membelinya saat keluar tadi!" omelnya sambil memukul lengan Mina kesal.
"Hehehe, maaf Eonni. Aku akan pesankan chicken wings itu sekarang."
"Bagus, cepatlah! Aku mau menenangkan Hyunki dulu di kamarnya."
"Oke."
Saat Georgina tiba dikamar yang didapatinya adalah Hyunki yang tertidur sambil memeluk foto Lee yang sejak kecil menemani hari-hari bocah itu.
"Maaf, maafkan Mommy nak. Mommy bahkan tidak dapat memastikan kalau dia benar-benar Daddy mu. Maafkan Mommy ya," gumam Georgina yang menyangka kalau Hyunki benar-benar tertidur. Padahal bocah itu masih terjaga, hanya saja ia sengaja memejamkan matanya agar sang ibu merasa tenang.
Dengan perlahan Georgina mengelus surai lembut buah hatinya dan tak lama kemudian, wanita itu mulai bersenandung kecil, menyanyikan lagu kesukaan Hyunki.
*****
"Hahahaha, tidak kena! Kau memang payah dalam menangkap sesuatu dengan tanganmu itu!" ejek Lee saat memergoki Georgina sedang berusaha menangkap seekor anak anjing berbulu lebat berwarna cokelat kehitaman.
Georgina mengabaikan ejekan Lee, ia berusaha membuktikan kepada pria itu kalau ucapannya barusan tidaklah benar.
"Sini, biarkan aku yang menangkapnya," ujar Lee yang pada akhirnya terjun membantu sang kekasih mendapatkan apa yang diinginkannya.
GUK. GUK. GUK.
Anak anjing itu pada awalnya tampak tak akrab. Namun setelah Lee menjentikkan jarinya, secara ajaib anak anjing itu mendekat. Lee mengambil kesempatan itu untuk menangkap lalu menggendongnya sambil dielus-elus sebelum di serahkan kepada Georgina.
"Thank you, Dave."
"Sudah kubilang beberapa kali, jangan panggil aku Dave, itu bukan namaku, Gina." Lee mengerucutkan bibirnya, membuat Georgina tersenyum senang.
"Panggil aku David, Lee, atau bahkan Beib mungkin."
"Oke, opsi ke tiga... Beib."
__ADS_1
"N-nah, ini lebih baik dari yang tadi."
"Yeah, oke, sekarang aku tanya, apa kau punya rekomendasi nama untuk anak anjing yang menggemaskan namun kesepian ini?"
"Yunki, namai saja dia dengan nama Yunki. Itu terdengar menggemaskan, setuju?"
"Tentu aku setuju, aku selalu menyukai seleramu dalam hal apapun."
"Bagus, kamu memang kekasih yang penurut."
"Penurut? Ah, jujur ya, kata itu sedikit menjengkelkan!" sarkas Georgina pelan namun setajam anak panah.
"Salahnya orang yang mengucapkan kata menjengkelkan itu adalah kekasih yang sangat kamu cintai," ujar Lee sembari mengacak-acak rambut Georgina gemas.
"Mom, please wake up! I need a milik!" rengek Hyunki yang langsung membuat Georgina terbangun dari mimpi indahnya yang merupakan cerminan dari kenangannya bersama Lee saat mereka masih duduk di bangku SMA dulu.
"Oh, my little boy. Wait for a second, oke? Mom akan buatkan susunya untuk kamu."
"Oke Mom, thank you."
"Anytime, sayang."
*****
"Sayang, kayaknya kita harus ke Daegu deh," ucap Lee memberitahu Kanaya saat mereka hampir saja menyewa hotel di Seoul.
"Kenapa mendadak harus ke sana?" tanya Kanaya dengan raut kebingungan dan juga lelah karena sedari tadi ia dan Lee berjalan kaki.
"Nenek bilang dia udah di Daegu, dia udah pulang dari Seoul."
"Ooh begitu, ya udah ayok kita pesan tiket kereta ke Daegu."
Setibanya di Stasiun, Lee menggenggam erat tangan Kanaya karena keadaan Stasiun sore itu cukup ramai. Pria itu takut Kanaya akan hilang ditelan keramaian.
Ketika tiba gilirannya masuk ke dalam kereta, Lee dan Kanaya dikejutkan oleh keberadaan seorang wanita yang mereka kenal sedang duduk diantara penumpang yang lain sambil memangku seorang bocah tampan yang beberapa jam lalu tak sengaja menabrak kaki Lee.
"Anak itu lagi?" firasat Kanaya tak enak.
Bersambung....
Malam ini update cepat, alhamdulilah. Yuk diramaikan kolom komentarnya!🥰😍🥰😍
__ADS_1