Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 32 (Tiga Sekawan)


__ADS_3

"Eh, ini kenapa ada balon-balon warna pink sih? Ada yang ulang tahun? Aneh banget, katanya acara anak futsal, masa ada balon-balon begini."


"Gue juga enggak tahu, Nath. Tapi denger-denger, Azkia, primadona kampus kita mau nembak cowok yang ditaksirnya di sini malam ini juga, katanya sih, cowok itu anak futsal, jadi iri gue sama cowok itu," jawab Santoso, teman satu tongkrongan Nathan yang menggantikan Steffany menemani Nathan ke acara anak kampus yang ternyata cuma akal-akalan dari Azkia supaya dirinya datang ke acara tersebut.


"Kalau begitu, gue balik lagi deh," pungkas Nathan yang merasa tertipu.


"Jangan Nath, lo udah sampai sini masa balik lagi, nggak seru lo, minimal kita icip-icip makanan dulu lah," sergah Santoso yang di balas gelengan keras oleh Nathan.


"Lo aja deh, gue beneran mau pulang," kata Nathan bersikeras, karena ia sudah punya feeling kalau Azkia akan menyatakan cintanya di depan teman-teman sekampus mereka.


"Lo kenapa sih? Jangan-jangan, lo cemburu lihat primadona Kampus kita pacaran sama cowok pilihannya, iya kan? Ngaku lo?" goda Santoso sambil menyeringai usil.


"Apa-apaan sih, lo? Mana ada gue cemburu, gue itu cuma kasihan aja sama Azkia, jadi cewek kok nembak duluan, kesannya jatuhin harga diri di depan cowok yang dia suka," komentar Nathan yang pedasnya hampir menyamai komentar netizen julid.


"Eh, mulut lo ada cabe rawitnya ya? Pedes banget kalau ngatain orang," kata Santoso


"Terserah gue, mulut-mulut gue! Kalau lo masih mau di sini, silahkan. Gue bisa cabut sendiri," balas Nathan sambil menghidupkan mesin motor sportnya.


"Oke, kalau lo mau pergi. Silahkan aja, Men, gue enggak bakal nahan lo lagi, tapi jangan nyesel kalau enggak dapet makanan gratis yang enak," canda Santoso sambil menepuk pundak Nathan.


"Gue. Enggak. Bakal. Nyesel! Ingat itu!" kesal Nathan yang kemudian tancap gas, pergi meninggalkan lokasi Kampus. Santoso hanya mengedikkan bahunya, tak terlalu memikirkan kekesalan Nathan tadi.


Di jalan Nathan terus menggerutu, hatinya dongkol karena merasa tertipu. Hampir saja ia masuk ke dalam jebakan Azkia yang terobsesi untuk menjadi pacarnya.


"Kayaknya gue mesti mampir ke Kafe nih, buat tenangin hati gue," gumam Nathan seraya melajukan motornya ke arah utara, menuju salah satu Kafe yang terkenal mempunyai kopi dan makanan yang sangat enak.


Setibanya di depan Kafe, Nathan langsung memarkirkan motornya. Setelah itu ia berjalan menuju pintu masuk Kafe sambil mengecek ponselnya yang terus bergetar menerima ratusan pesan dari teman-teman futsalnya.


"Berisik banget ini bocah-bocah, gue silent aja deh," gumam Nathan yang kemudian mematikan ponselnya dan memasukkan benda pipih itu ke dalam kantong celananya. Mengabaikan semua pesan yang rata-rata menyuruhnya untuk datang ke Kampus.


"Nathan, sini!" panggil seseorang yang dari suaranya saja Nathan bisa tahu siapa orang tersebut.


Orang itu adalah Kanaya, cinta pertamanya. Namun yang membuat Nathan penasaran dan tertarik ingin mendekat bukanlah Kanaya, melainkan gadis cantik yang duduk di hadapan Kanaya.


"Lho, kalian ... di sini?" tanya Nathan yang sama sekali tidak menduga kalau ia akan bertemu dengan Steffany yang katanya ada acara keluarga. Ternyata acara keluarga yang di maksud gadis itu adalah hangout dengan Kanaya. Ya ampun, kenapa sih tidak jujur saja kalau mau jalan sama kakak ipar?


"Nath, gue bisa jelasin kok. Maksud gue...."


"Udah, enggak perlu dijelasin, gue ngerti kok," potong Nathan sambil tersenyum manis. Saking manisnya, Steffany sampai terkesima.


"Lo ... hm, lo enggak marah sama gue karena gue enggak jujur sama lo?" tanya Steffany yang sepertinya ingin memastikan kalau Nathan memang tidak marah.

__ADS_1


"Harus bilang berapa kali supaya lo percaya kalau gue enggak marah sama lo?" Nathan malah bertanya balik sehingga membuat Steffany gelagapan.


"I-iya deh, gue ... gue percaya," jawab Steffany terbata-bata.


Sedangkan Kanaya mengulum senyum melihat adik iparnya salah tingkah dengan sikap Nathan yang begitu perhatian.


"Apa urusan kalian berdua udah selesai?" tanya Kanaya memecahkan keheningan diantara Nathan dan Steffany yang kini sama-sama canggung untuk mengobrol santai seperti biasanya.


"Udah sih," jawab Steffany yang mulai rileks.


Nathan menaikkan sudut bibirnya melihat Steffany yang sudah tenang, "Lo minum apa itu?" tanyanya sambil menunjuk gelas kopi milik Steffany.


"Moccha Latte, kayak biasa," jawab Steffany singkat.


"Karena lo udah ada di sini, mendingan lo ngopi-ngopi sambil ngobrol bareng kita, nggak papa kan, Kak?" Steffany melirik Kanaya dengan maksud meminta persetujuannya.


"Enggak papa dong."


Setelah mendapat persetujuan dari Kanaya, Nathan mengambil kursi di meja lain lalu meletakkannya di sebelah Steffany. Kemudian ia duduk manis di kursi tersebut.


"Kebetulan banget lo ada di sini, Nath. Sebenarnya gue sama Kak Naya lagi butuh bantuan lo," kata Steffany yang ingin segera memberitahu Nathan soal permasalahan Kanaya dengan Azkia, si primadona Kampus yang berubah jadi jahat karena obsesinya sendiri.


"Mendingan kamu pesan minuman dulu deh, biar enak kita ngobrolnya," usul Kanaya. Nathan pun memanggil seorang waiters untuk memesan minuman.


"Mau pesan apa Mas?"


"Saya mau pesan Cappucino-nya satu sama kentang goreng ukuran jumbonya satu," jawab Nathan menyebutkan satu-persatu yang diinginkannya.


"Baik Mas, tunggu sebentar ya."


"Oke Mbak."


"Kalian mau gue bantu apa? Cepetan kasih tahu, gue udah kepo banget nih," desak Nathan yang sudah kepalang penasaran.


"Gue sama Kak Naya mau minta tolong lo buat ambil hp punya Azkia, soalnya di hp itu ada video yang mesti gue hapus."


Muka Nathan langsung pias mendengar permintaan Steffany dan Kanaya yang tidak mungkin bisa dilakukan olehnya, "Maksudnya kalian nyuruh gue nyolong hp Azkia, gitu?" tanyanya ngeri.


"Bukan mencuri kok, lebih tepatnya meminjam. Nanti pasti dibalikin lagi," jawab Kanaya memperjelas maksudnya.


"Tapi ... gimana caranya?" tanya Nathan dengan muka cengo, seperti orang bego.

__ADS_1


Steffany menepuk pipi pria itu sedikit lumayan kuat, "Azkia itu bucin banget sama lo, maka dari itu kita berdua minta bantuan lo buat ambil hp-nya tanpa dia sadari."


"Ya gimana caranya?"


"Ih, lo tanya mulu sih! Caranya ya ... ajak dia makan, jalan-jalan ke mall atau ke mana gitu. Intinya bikin dia happy sampai dia lupa sama gawainya. Baru deh, selanjutnya gue yang bertindak," papar Steffany cepat.


"Enggak ada cara lain? Susah banget cara itu, gue enggak bisa dekat-dekat sama dia, gue risih sama dia, kalau misalnya gue ajak dia makan atau jalan, dia pasti mikirnya gue mulai suka sama dia. Padahal aslinya never!" sela Nathan keberatan dengan ide yang Steffany paparkan.


"Emang lo punya cara lain selain deketin dia?" tanya Steffany yang seketika membuat Nathan terdiam sambil berpikir keras mencari ide lain yang sesuai dengan kemauannya.


Akan tetapi, pikirannya seakan buntu, tidak menemukan jalan lain. Ia menghembuskan nafas kasar, lalu kembali menatap Steffany.


"Gue turuti apa kata lo aja deh, pusing gue enggak nemuin cara lain," katanya menyerah dalam artian ia harus rela berdekatan dengan Azkia yang membuatnya ilfeel.


"Anak pintar," puji Steffany dibarengi kekehan mengejek.


"Makasih ya, Nath. Kamu mau bantuin kita atau lebih tepatnya bantuin aku mengatasi masalah aku sama Azkia," ucap Kanaya yang sedari tadi hanya diam menyimak percakapan Nathan dan adik iparnya, Steffany.


"Sama-sama, Nay. Gue senang kalau bisa bantu," balas Nathan sambil tersenyum tulus.


"Ekhem! Kok, kopi pesanan lo belum datang juga ya, Nath? Mana sih, Mbak waitersnya?" sela Steffany dengan gelagat cemburu. Namun sayang, Nathan tidak peka terhadap hal itu.


"Iya nih, padahal pesannya dari tadi," timpal Nathan.


"Sepertinya kamu enggak butuh kopi," sahut suara yang Kanaya tahu betul itu siapa.


Seketika bulu kuduknya berdiri, itu suara milik suaminya, milik Lee! Kini giliran Kanaya yang mengambil buku menu untuk menutupi wajahnya. Lee pasti berpikir kalau ia berbohong dan jalan bertiga dengan Nathan juga. Aduh gawat!


Bersambung....


Kemarin-kemarin Steffany yang tertangkap basah. Sekarang Kanaya juga?


Jangan lupa like, 👍komentar, ✍️vote, 💛dan share 🤳cerita ini ke teman-teman kalian ya. Bye-bye! 😽😻


Love you all❤️


follow my media sosial here ↙️


Instagram : asyiahmuzakir


Facebook : Zzahraa All Khoirr

__ADS_1


__ADS_2