Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 5 (Debaran hati)


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim....


Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


Kanaya termangu di depan jendela, memandangi rembulan yang malam ini tampak bersinar terang mengalahkan sinar dari lampu-lampu kota. Ditemani alunan sholawat yang merdu Kanaya menunggu kepulangan Lee dari kantor dengan sabar. Sesekali gadis itu melihat ke arah jam dinding yang jarumnya terus bergerak ke arah angka dua belas.


Sudah semalam ini, kenapa Lee belum pulang juga? batin Kanaya yang tak bisa berhenti memikirkan suaminya itu.


Kanaya bangun guna mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Lalu, ia memakai ponselnya untuk menghubungi Lee, tapi ternyata tidak aktif.


Perasaan Kanaya menjadi tidak enak, dia mulai berprasangka buruk terhadap Lee. Akhirnya daripada ia overthingking dan su'udzhon, Kanaya pun memutuskan untuk menyusul Lee ke kantornya.


Setelah mengantongi dompet dan ponsel Kanaya mengunci pintu lalu pergi menuju DSL beauty care building menaiki taksi yang dia pesan lewat online.


Dan setibanya di DSL beauty care building, Kanaya langsung masuk ke dalam lift yang langsung terhubung ke ruangan kerja Lee. Semoga saja suaminya ada di sana dan dalam keadaan baik-baik saja. Itulah harapan Kanaya yang kini sedang ketar-ketir karena takut matanya akab melihat hal yang tidak seharusnya dia lihat.


Ting.


Pintu lift terbuka dan Kanaya langsung bisa melihat pintu ruangan kerja Lee yang tertutup. Apakah suaminya itu ada di dalam? Dengan langkah pelan-pelan Kanaya mendekati pintu ruangan kerja Lee. Lalu tangan mungilnya memutar pegangan pintu dan membukanya dengan perlahan.


Mata jeli Kanaya menerawang ke depan dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang wanita tengah duduk di pangkuan Lee. Rasa marah, kecewa, dan benci membakar hati Kanaya, membuatnya hancur lebur seperti abu.


Air mata Kanaya meluncur deras membasahi pipi dan kerudungnya. Sakit yang dirasakan oleh gadis itu telah diluar batas, dengan kedua tangan yang mengepal erat Kanaya mendekati Lee dan perempuan misterius dipangkuannya itu.


"Naya, tolong...." Rintihan itu membuat Kanaya membeku. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa suaminya itu malah meminta tolong? Bukankah seharusnya meminta maaf kalau ketahuan selingkuh?


"Hei! Kamu siapa?! Menjauhlah dari suamiku!" teriak Kanaya seraya menjambak rambut perempuan yang menduduki paha Lee itu ke belakang hingga perempuan itu terjengkang dan jatuh ke lantai.


"Heh! Kasar sekali sih, kamu! Lihat rambut mahalku jadi rusak! Asal kamu tahu ya, perawatan rambut aku ini sebanding sama nilai diri kamu kalau dijual!" Perempuan yang tak lain adalah Georgina mantan kekasih Lee itu balik meneriaki Kanaya sambil menghina gadis itu.

__ADS_1


Ketika Kanaya ingin membalas perkataan Georgina, tangan kekar Lee menggenggam lengannya. Kanaya pun menoleh dan melihat Lee yang terbaring lemah di atas kursi kerjanya. Suaminya itu seperti orang yang tengah mabuk, terlihat dari tatapannya yang tidak fokus.


"Naya.... I'm so tired, wanna go home, tolong bawa aku pulang," rintih Lee sambil menatap mata Kanaya dengan tatapan sayunya.


"Enggak David! Kamu enggak boleh pulang! Malam ini kamu harus jadi milik aku!" cegah Georgina yang merasa sudah berusaha keras memaksa Lee untuk meminum air yang sudah dicampurinya dengan obat perangsang.


Ketika Georgina hendak berdiri, Kanaya menampar wajahnya dengan keras sampai ujung bibirnya sedikit sobek dan mengeluarkan darah.


"Kamu apakan suami aku sampai dia seperti ini, hah?!"


Georgina menanggapinya dengan senyuman licik. "Tidak aku apa-apa kan kok, aku hanya memberinya kecupan cinta yang mungkin masih dia butuhkan dariku," jawabnya tanpa rasa malu.


Tes.


Air mata Kanaya menetes semakin deras, jawaban yang keluar dari mulut Georgina benar-benar meluluhlantakkan perasaannya. Kini tubuhnya ikut gemetar sebab menahan pedih dihatinya yang seperti ditusuk oleh ribuan belati.


"Mendingan kamu pergi deh! Jangan ganggu suami kamu memadu kasih denganku, wanita yang masih dicintainya."


"Naya ... aku mau pulang sama kamu, bawa aku pulang sekarang juga." Lee memohon kepada Kanaya dengan suara Husky nya yang berubah serak.


Kanaya berusaha memusatkan perhatiannya pada Lee, ia membantu suaminya itu berdiri lalu memapahnya keluar. Sampai di pintu, Georgina menghalanginya, tapi untung saja Security kantor segera datang dan menyeret tubuh Georgina agar tak menghalangi jalan Kanaya dan Lee.


"Terimakasih pak." Kanaya mengucapkan terima kasih kepada bapak-bapak Security yang barusan dengan sigap membantunya menangani Georgina.


"Sama-sama, Nyonya."


******


Sesampainya di rumah, Lee semakin kepanasan. Mungkin obat perangsang yang diberikan Georgina semakin bereaksi dalam tubuhnya dan membuat hormonnya naik.

__ADS_1


Kanaya tak tahu harus melakukan apa, dia langsung mencari tahu di internet setelah membaringkan tubuh Lee di atas kasur tempat tidur mereka.


"Naya ... panash," rengek Lee dengan tatapan sayu yang membuat Kanaya langsung ambyar.


"Iya, tunggu ya, Mas. Naya lagi cari solusinya nih," ujar Kanaya sembari mengelus-elus rambut Lee yang basah karena keringat.


Tangan Kanaya bergerak lincah di keyboard ponselnya, mengetik 'Cara meredakan panas yang disebabkan oleh obat perangsang'.


"Caranya mandi air dingin," gumam Kanaya membaca salah satu artikel.


"Ayo mandi Mas," ajak Kanaya dengan spontan.


"Sama kamu?" tanya Lee sambil menatap manik mata bening milik Kanaya dengan tatapan sayunya.


"Enggak, kamu aja yang mandi. Kan cuma kamu yang kepanasan," ucap Kanaya sambil mengusap pipi Lee dengan tangan lembutnya yang membuat hati pria itu bergetar mengisyaratkan sesuatu.


Tiba-tiba tangan kokoh Lee melingkari pinggang Kanaya yang duduk di sampingnya lalu dalam sekejap mendudukkan istrinya itu di pangkuannya.


Deg.


Jantung Kanaya seakan mau melompat keluar dari dadanya, begitupun dengan hatinya yang sudah ketar-ketir antara merasa gugup dan malu.


"Naya ... sebagai suami kamu, aku mau melakukannya bersama kamu, bolehkah aku...." Lee menggantung kalimatnya dan mulai mendekatkan wajah tampannya ke wajah Kanaya yang sudah merona seperti bunga sakura.


"Mas David, aku...." Kanaya terlalu gugup untuk melanjutkan ucapannya. Kini wajah tampan Lee berada di jarak lima sentimeter dari wajahnya.


"Ya Allah, apakah malam ini akan menjadi malam ibadah pertama dalam pernikahan ku?" batin Kanaya.


"Enggak! Sadarkan diri kamu Naya! Suami kamu ada di bawah pengaruh obat terlarang, kamu enggak boleh menyerahkan mahkota kamu di saat dia tak begitu sadar seperti saat ini!" Sisi lain dari Kanaya mengingatkan gadis itu untuk tidak terhanyut dalam perasaan.

__ADS_1


Tapi wajah Lee semakin mendekat dan kini bibir suaminya itu bahkan sudah mendarat di pipinya.


"Ya Allah, aku harus bagaimana?" tanya Nesya dalam hati.


__ADS_2